Skip to main content

Full text of "Diplomasi Revolusi Indonesia Di Luar Negeri M Zein Hassan Lc"

See other formats


. ZEIN HASSAN Lc. Lt. - DIPLOMASI REVOLUSI DI LUAR NEGERI 


Diplomasi 
Revolusi Indonesia 
di 

Luar Negeri 

M. Zein Hassan Lc. Lt. 








DIPLOMASI REVOLUSI INDONESIA 
DI LUAR NEGERI 


i 




KARANGAN dan TERJEMAHAN M. ZEIN HASSAN, Lc.Lt 
Yang diterbitkan oleh Penerbit ”BULAN BINTANG 

1. Diplomasi Revolusi Indonesia Di Luar Negeri (Kr.) 

2. Syari’at Islam dan Hukum Internasional Umum (judul aslinya: Asy- 
Syari’atul Islamiyyatu wal Qanunud Dauliyyu Al-’Am), oleh Prof Dr. 
Ali Ali Mansur. (Terj.) 

... ■ - 

3. Hubungan-hubungan Internasional Dalam Islam (judul aslinya: Al- 

’Alaqatud Dauliyyah fil Islam), oleh Prof. Dr. M. Abu Zahrah. (Terj.) 



M. ZEIN HASSAN, Lc. Lt. 


DIPLOMASI 

REVOLUSI INDONESIA 

DI LUAR NEGERI 

( PERJOANGAN PEMUDA/MAHASISWA INDONESIA 
DI TIMUR TENGAH ) 


YASMVAKtf* 

WEL.M m. ArAbPt«KW|WU*t 

Ttmmmmmam mtrtm m* w## 
umm» +*«$ 


pLi i rww** 



PENERBIT & 



JAKARTA 


Kiamat Kwitang 1/8 Tdp. 342883-346247 



1 

1 



Cetakan pertama - 1980 




♦ -,f 'i # 

I#^ v -•»'* .jf 1 !** 
-*.•**£ .j** 1 *** 1 

*»'• • j *'*» 1 

J*. «w- KarnW& 



DAFTAR ISI 


Halaman 

PRAKATA . 7 

SAMBUTAN MOHAMMAD HATTA . 11 

SAMBUTAN MOHAMMAD NATSIR . 13 

SAMBUTAN ADAM MALIK . 16 

SAMBUTAN A.H. NASUTION . 17 

* DIPLOMASI REVOLUSI DI LUAR NEGERI. 19 

PRA PROKLAMASI . 22 

PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945 49 

CAMPUR TANGAN INGGRIS . 72 

SOAL INDONESIA DI DEWAN KEAMANAN . 94 

PENGAKUAN DE FACTO KEDAULATAN REPUBLIK 

INDONESIA . 114 

DELEGASI R.I. PERTAMA KE LUAR NEGERI DI KAI¬ 
RO .. 130 

17-8-1946 ULANG TAHUN PERTAMA KEMERDEKAAN 

INDONESIA . 147 

LIGA ARAB DAN SOAL INDONESIA . 161 

DELEGASI R.I. DI TIMUR TENGAH .. 197 

TIMUR TENGAH DAN AKSI MILITER BELANDA .226 

BULAN MERAH MESIR dan BULAN MERAH INDO¬ 
NESIA . 251 

SAUDI ARABIA dan PROKLAMASI . 258 

PERKEMBANGAN PERWAKILAN R.I. DI TIMUR TE¬ 
NGAH .:.266 

SERBA-SERBI DIPLOMASI REVOLUSI .273 

PENUTUP 

HASIL-HASIL TERPENTING DIPLOMASI REVOLUSI 
DI LUAR NEGERI .. 290 
























Memori: 


Buku ini terbit bertepatan dengan usia 70 tahun 
penulisnya. (Th. 1910 - 1980). 



PRAKATA 


Buku yang saya persembahkan ini kepada penggemar se¬ 
jarah, terutama yang bertalian dengan revolusi besar Indonesia 
yang berpangkal pada Proklamasi 17 Agustus 1945, 
sesuai dengan namanya ”DIPLOMASI REVOLUSI INDONESIA 
DI LUAR NEGERI,” merupakan sikap, langkah, tindakan dan 
hubungan-hubungan serta usaha-usaha di luar negeri selama re¬ 
volusi fisik di Indonesia, tanpa terikat oleh basa-basi diplomasi 
konvensionil Tujuannya ialah membela dan mempertahankan 
kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia yang diumumkan itu, 
menghancurkan rantai kepungan diplomatik yang dibentangkan 
Belanda dan sekutu-sekutunya sekeliling Republik Indonesia 
yang masih muda belia itu. Demikian, dengan memobilisasi pen¬ 
dapat umum dunia supaya mendesak Belanda dan Sekutu-se¬ 
kutunya menarik tentara mereka dari bumi Indonesia, dan men¬ 
desak negara-negara yang telah merdeka dan menjadi anggota 
Perserikatan Bangsa Bangsa supaya mengakui Republik Indonesia 
sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. 

Saya berusaha sejauh mungkin dan sepanjang dokumen- 
dokumen yang ada pada saya, menyusun buku ini sedemikian 
rupa sehingga merupakan suatu gambaran lengkap dari rangkaian 
sikap, langkah, tindakan dan hubungan-hubungan serta usaha- 
usaha di atas itu, yang telah memungkinkan PANITIA (KOMITE) 
PEMBELA KEMERDEKAAN INDONESIA di Timur Tengah 
mencapai puncak kemenangan perjoangannya menjelang ulang 



tahun kedua Proklamasi tahun 1947. Demikian, dengan penga¬ 
kuan negara-negara Arab dan Afghanistan terhadap Republik 
Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, 
penyapuan ranjau-ranjau kepungan diplomasi Belanda dan Se¬ 
kutu-sekutunya dan pembukaan pintu seluas-luasnya bagi wakil 
Indonesia resmi untuk memasuki gedung Perserikatan Bangsa 
Bangsa. 

Hasrat hendak menulis buku ini telah lahir ketika saya 
kembali ke Indonesia pada tahun 1954, dan saya rasakan bahwa 
sedikit sekali masyarakat umum Indonesia mengetahui perjoangan 
pemuda/mahasiswa dan warga Indonesia umumnya di luar negeri 
selama revolusi fisik. Meskipun bahan-bahan dokumen berke¬ 
kurangan, tetapi rangkaian kejadian-kejadian masih hidup waktu 
itu dalam ingatan. Dalam pada pengolahan ingatan itu, seorang 
teman seperjoangan di luar negeri memberitahukan bahwa Ko¬ 
lonel (Jenderal) A. Haris Nasution yang pada masa itu diistirahat¬ 
kan sedang mengumpulkan bahan-bahan dari teman-teman yang 
sudah kembali ke Indonesia untuk dibukukan. Saya sendiri 
akhirnya dihubunginya. 

Ketika saya kembali lagi ke Jakarta pada tahun 1961 sesudah 
bertugas di luar negeri. Jenderal Nasution telah aktif kembali 
dalam tentara dan bahan-bahan yang dikumpulkannya itu belum 
pula dibukukan. Teman-teman mendesak saya supaya menulis 
sendiri, akan tetapi suasana umum waktu itu ditandai oleh segala 
’ terpimpin’ dan kemudian ’nasakomisasi,’ bahkan juga dalam 
menulis sejarah harus disesuaikan dengan ’selera’ pimpinan. 
Suasana ini telah mematahkan hati untuk menulis. 

Ketika perkembangan baru terjadi di Indonesia, sebagai 
akibat pengkhianatan komunis pada bulan September 1965, 
saya sedang berada di Rabat, Maroko, sebagai Duta Kuasa Usaha 
R.I. Hasrat di atas kembali hidup dalam ingatan. Kesempatan 
pertemuan para kepala perwakilan R.I. di Afrika dan Timur 
Tengah yang diadakan di Kairo pada bulan Maret 1967 saya 
pergunakan untuk mengumpulkan bahan-ba/ian dari teman- 



teman yang masih ada di sana dan dokumen-dokumen yang 
masih terselip-selip pada sekretariat perhimpunan mahasiswa 
yang telah sundut-bersundut itu , 

Menghadapi genap seperempat abad Kementerian Luar Ne¬ 
geri pada tahun 1970, pada Departemen tersebut terbentuk 
satu panitia guna membukukan kegiatan diplomasi luar negeri 
Indonesia semenjak Proklamasi. Dari teman-teman yang dekat 
dengan panitia itu saya ketahui bahwa perjoangan warga Indo¬ 
nesia di luar negeri selama revolusi fisik tidak termasuk dalam 
pemikiran panitia tersebut. Semenjak itu saya merasa berkewa¬ 
jiban memperlengkap sejarah revolusi besar Indonesia itu. Sebagai 
langkah pertama saya menulis dalam majallah Departemen Luar 
Negeri sendiri berturut-turut ”Suara Baru” dengan judul ”.Empat 
lima di Luar Negeri,” sebelum panitia resmi itu memulai tugas¬ 
nya. 

Diplomat-diplomat muda yang menghafal ’Vppenheim’s 
Internasional Law” atau ”Satow’s Guide to Diplomatic Practice” 
dan sebagainya, mungkin akan tersenyum melihat pemakaian 
istilah-istilah diplomatik yang terdapat dalam buku ini. Tetapi 
demikianlah sifat ”gerilya politik” di luar negeri waktu itu, 
yang hanya berpedoman pada pencak nasionalnya : bertahan 
sambil menyerang, berharap sambil mendesak, dan kalau perlu 
menyerbu tanpa memikirkan akibat. Dalam revolusi kadang- 

kadang tujuan menghalalkan cara . dengan kesadaran, dan 

bukan seperti diplomasi gedungan (dengan e bukan a), yang 
menyesuaikan hafalan dengan tindakan. 

Kekurangan dalam penyempurnaan dokumen-dokumen ada¬ 
lah disebabkan oleh kehilangan sebagian dokumen-dokumen itu 
(1945—1946), yaitu masa yang terpenting dalam diplomasi 
revolusi Panitia-panitia di luar negeri, terutama surat-surat ma¬ 
suk dan guntingan surat-surat-kabar, ketika kantor Panitia Pu¬ 
sat di Kairo digeledah polisi Mesir, karena difitnah berhaluan 
komunis. Apalagi potongan nama panitia adalah pula ”P.K.I.” 




suatu hal yang memudahkan bagi Kedutaan Belanda disana 
untuk memfitnah. 

Terkadang-kadang terdapat dalam buku ini kata-kata ter¬ 
kurung seperti (alm), (Dr.) dan sebagainya di pangkal nama- 
nama. Kata-kata terkurung itu menunjukkan status atau gelar 
yang bersangkutan sesudah perjoangan selesai. 

Kepada semua pihak yang turut menyempurnakan buku 
ini, terutama H.M. Jaafar Zainuddin, Ketua Panitia cabang 
Saudi Arabia, yang telah menyerahkan sebagian dokumen-do¬ 
kumen yang masih ada. Haji M. Mastur Jahri, (M.A.) seorang 
anggota Panitia yang aktif, yang telah bermurah hati mengirim¬ 
kan dari Banjarmasin guntingan-guntingan surat-kabar surat-kabar 
(1947-1949) beserta foto-foto bersejarah yang aiperlukan dan 
Ahmad Hasyim Amak, Sekretaris Panitia Pusat, dan lain-lain 
bekas pejoang di Timur Tengah yang telah membantu mengingat¬ 
kan dengan lisan kejadian-kejadian yang telah lama berlalu itu 
serta meminjamkan foto-foto pelengkap. Kepada mereka saya 
mengucapkan terima kasih banyak. 

Demikian pula saya berterima kasih kepada yang mulia 
pemimpin-pemimpin revolusi Indonesia yang telah bermurah hati 
menyumbangkan sepatah dua kata pengantar bagi buku ini . 

Harapan terakhir, mudah-mudahan buku yang sederhana 
ini akan dapat ikut menyumbang bagi penyempurnaan sejarah 
revolusi besar Indonesia. 

Muhammad Zein Hassan 

Jakarta, 17 Agustus 1970. 1J 


1). Oleh karena sesuatu hal, buku ini terlambat terbitnya dari maksud semula. 



SBPATAH KATA SAMBUTAN-, 


Setelah Iclta membaca buka Saudara Mohaaad Bondan 
"Genderang Proklamasi di luar negeri”, yang menguraikan 
hal-hal yang mengenai perjuangan bangsa Indonesia di 
Australia setelah mendengar berita Proklamasi Indonesia 
Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, baik pula kita 
baca buku kenang-kenangan Saudara Muhammad -Zein Hassan 
yang menceritakan perjuangan pemuda Indonesia di Timur 
Tengah. 

Apabila yang berjuang di Australia adalah bekas 
orang buangan yang di-internir Pemerintah Kolonial Be¬ 
landa di So-ren Digul dan kemudian setelah Jepang me¬ 
nyerbu ke Indonesia dipindahkan ke AUstralai, yang 
berjuang di Timor Tengah asalnya mahasiswa Indonesia 
yang kebanyakan belajar di Kairo. 

Buku Saudara Muhammad Zein Hassan ini memaparkan 
berturut-turut kisah perjuangan mereka sebelum Perang 
Dunia II, kesulitan yang mereka hadapi selama Perang 
Dunia II dalam berhadapan dengan perwakilan Belanda, 
perjuangan mereka sesudah Proklamasi Indonesia Merdeka 
dengan melepaskan diri mereka dari Perwakilan Belanda 
dinegara-negara Arab. Kemudian mereka berusaha supaya 
berturut-turut negara-negara Arab mengakui Indonesia 
Merdeka de facto dan de jure. Waktu kemudian Menteri 
Luar Negeri Republik Indonesia, almarhum Haji Agus Salin 
mengunjungi dunia Arab dalam tahun 1947 untuk memperoleh 
pengakuan itu secara resmi, jalan beliau kesana sudah 
diratakan oleh gerakan mereka, yang bersatu dalam ikatan 
Panitia Pusat Pembela Kemerdekaan Indonesia di Timur 
Tengah. 



2 


Sejak pertengahan tahun 1947, sebelum Indonesia 
diakui oleh dunia internasional sebagai Negara yang 
merdeka dan berdaulat Saudara Muhammad Zein Hassan sudah 
menyerahkan tenaganya kepada Kementerian dan Departe¬ 
men Luar Negeri, ditempatkan diluar negeri dan dalam 
Departemen. Sejak beberapa waktu ia sudah menjadi orang 
pensiunan. Catatan dan pengalamannya dilukiskannya dalam 
buku menggambarkan kembali dimuka kita sebagian yang 
penting dalam sejarah kita. 



Mohammad Hatta. 



MOHAMMAD NATSIR 
JALAN H.O.S. COKROAMINOTO NO. 46 
JAKARTA - TELP. 43282 


Jakarta, 




SAMBUTAH 

1. Pada bulan Agustus 1972, di Menteng Raya 31, yaitu 
dalan gedung yang sudah dikenal penuh dengan kenangan -2 
mengenai peristiwa-2 zaman Revolusi Kemerdekaan kita te¬ 
lah diadakan satu pameran oleh suatu Panitya, untuk me¬ 
nyegarkan ingatan kita kembali kepada perlstlwa2 penting 
baik dalam tehun2 Revolusi itu sendiri ataupun sebelumnya. 

Usaha menyelenggarakan pameran semacam itu patut se¬ 
kali kita hargakan. 

Hanya, «aktu itu yang menarik perhatian banyak dian- 
tara pengunjung, ialah Justru baglan2 yang tidak ke¬ 
lihatan dalam pameran itu sendiri» Utltu i tidak adanya be¬ 
kas 2 atau dokumentasi dari partisipasi fihak uamat Islam 
Indonesia dalam Revolusi Kemerdekaan yang berkecamuk sela¬ 
ma S tahun itu, baik dimedaa perang fisik, ataupun dlbl - 
dang perang propaganda dan dipapan catur diplomasi. 

Dengan rasa terharu lantaran "melihat" apa yang tak- 
tampak itu - kabarnya - Saudara Muaaffa Basjir, Sekjen PHI 
Pimpinan Majallah KIBLAT, sa'at itu lekas2 pulang kerumah¬ 
nya mengambil sebuah buku tulisan A. Ehsjay , yang berjudul: 
"Aceh Modal Revolusi", diantarkannya sendiri kepada Panitya 
penyelenggara Pameran, dengan maksud agar buku tersebut da¬ 
pat kiranya dislslp-kan dlantara kenangan2 yang dipamerkan 
itu. Hanya satu naskah buku Itulah yang dapat dlkejarfcan 
waktu itu untuk disumbangkan. 

Bukan maksud kita hendak mengecam atau menyesali Pa¬ 
nitya penyelenggara tersebut semata-mata. Kita ingin ber - 
balk-sangka, bahwa waktu persiapannya terlalu pendek, se - 
hingga kollekslnya tidaklah dapat dikatakan lengkap. 




- 2 - 


2. Dai «u» pada itu. Benang haru» kita akui, bahwa kita, 

sebagai bangsa Indonesia pada umumnya, khususnya Unaat Islam 
anat lemah dihidang apa yang disebut dokumentasi. Banyak se¬ 
kali bahan2 peringatan kepada peristiwa2 penting yang menen¬ 
tukan dalam sejarah Revolusi Kemerdekaan kita dibiarkan hi¬ 
lang, atau dilupakan. Dan kalau masih ada, masih berserakan 
dimana2. 

Kelalaian ini tidak syak lagi merupakan kelemahan kita 
selama ini dan bisa merugikan. Antara lain, dalam kekosongan 
dokumentasi itu mudah sekali timbul apa yang disebut pemal¬ 
suan sejarah, disengaja atau tidak, akan tetapi tetap bera¬ 
kibat negatif. 

3. Dalam rangka inilah maka, buku «Diplomasi Revolusi», 
karya Saudara Mohd. Zein Hassan kita harus nilai sebagai 
satu sumbangan yang amat berharga untuk mengisi satu keko¬ 
songan yang kita rasakan selama ini. Baik untuk generasi ki¬ 
ta yang akan datang ataupun untuk generasi kita sekarang ini 
yang biasanya lekas "pelupa". 

Saya percaya bahwa dengan mengungkapkan kissah perjuang¬ 
an para pelajar dan mukimin Indonesia di Timur Tengah sebelum 
dan sesudah revolusi Kemerdekaan itu dimana penulis sendiri 
tidak kurang memainkan peranan-nya sebagai mahasiswa dan se¬ 
lanjutnya sebagai petugas R.I. di Timur Tengah - tidaklah di¬ 
maksud sebagai menepuk dada atau yang semacam itu. Akan teta¬ 
pi ibarat kata orang, "agar genderang bertingkah,dandang ber - 
sahut".Agar kita sama2 merasakan bahwa benar2 kemerdekaan 
Tanah Air kita ini adalah sebagaimana yang di*egaskan oleh 
M ukaddimah OCD 1645 kita s adalah kumia Ilahy. 



- 3 - 


.Satu kurnia Ilahy yang pada lahirnya berlandaskan 
perpaduan keku*tan2 moril dan materil dari selurub bangsa 
dan nusantara didalam dan diluar negeri tanpa diskriminasi. 
Masing2 telah menyumbangkan apa yang mereka dapat sumbang¬ 
kan menurut keadaan dan waktu dimana mereka berada. 

Khususnya kepada generasi muda kita saya ingin mengan¬ 
jurkan agar jangan tidak membaca karya Saudara Mhd.Zein 
Hassan ini. sekurang-kurangnya untuk penyegaran jiwa dari 
rasa tak berdaya, bahkan untuk pendorong melanjutkan esta¬ 
fet perjuangan membangun bangsa dan negara kita menuju ke- 
ridlaan Ilahy. 

Kita mengharapkan pula agar Sdr2 pejuang kemerdekaan 
lainnya yang masih hidup akan menyusuli menuliskan apa-2 
yang diketahui dan dialami mereka selama Sewolusi kita 
itu, beserta prolog ataupun epilognya guna memperlengkapi 



T4SV-SYAKU* 

KEt-Hj». **■#. AtmsfCffmiMM 

TewOA «i HV» WMTAWO 

******* '<o, -«j* m-mst r etm 



MENTERI LUAR NEGERI 
REPUBLIK INDONESIA 


"SJHIiH-IAIi" 


Assalanru'alaikum w.w. 

Sungguh merupakan suatu kehormatan dan kegembiraan 
bagi saya yang telah mendapat kesempatan untuk menyampai¬ 
kan sepatah dua patah kata dalam menyambut diterbitkannya 
buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri ( Perju¬ 
angan Pemuda Indonesia di Timur-Tengah ). 

Kegembiraan tersebut bukan saja oleh karena setiap 
pen-dokumentasian detik2 bersejarah revolusi kita memang 
patut disambut dengan hangat, akan tetapi bagi saya priba¬ 
di kegembiraan tersebut bersumber pada kenyataan bahwa sa¬ 
ya berkesempatan dapat mengikuti perjuangan Pemuda2 Indo¬ 
nesia yang pada waktu itu sedang berada diluar negeri, 
khususnya di Timur Tengah. Sumbangan yang sangat berharga 
telah mereka berikan terhadap suksesnya perjuangan bangsa 
Indonesia. 

Harapan saya semoga dengan terbitnya buku ini para 
rekan lainnya tergugah hatinya untuk juga menyumbangkan 
karyanya guna lebih memperkaya perbendaharaan dokumentasi 
perjuangan bangsa Indonesia baik yang terjadi didalam ma¬ 
upun diluar negeri, agar dengan demikian semangat perjua¬ 
ngan mereka dapat diwariskan pada generasi2 yang akan da¬ 
tang dalam rangka membangun negara dan mengisi kemerdekaan 
yang tflbh^l&t&'perjuangkan bersama. 

mKHWlMMMF -K* 4."* „-Jr 

Wassalamu'alaikum w.w, . 





DJENDERAL ABDUL HABIS NASUTION 
KETUA MADJEL1S PERMUSJAWABATAN RAKJAT SEMENTARA 
REPUBLIK INDONESIA 

S A M B U m 


Karja Saudara Jf. Zein Hasan, buku "Diplomasi Hevolusi", sebagai 
uraian perdjuangan "45" di luar negeri, chususnja di Timur Tengah, 
merupakan suatu sumbangan jang berharga bagi generasi mendatang dalam 
mengenali perdjuangan kemerdekaan. 

Setjara pribadi saja lanjak berdialoog dengan pedjuang-2 "45" kita 
di luar negeri dalam usaha saja menjusun sedjarah perang kemerdekaan. 

Pemuda-2/peladjar-2 Indonesia telah membela Proklamasi 17 Agustus 
1945 di negara-2 Arab terhadap politik Inggris - Belanda dewasa itu de¬ 
ngan amat giat : dengan membentuk perwukilan-2 El, dengan menggerakkan 
pemerintah-2 dan tokoh-2 Arab, dan dengan mengorbankan berbagai kepen¬ 
tingan pribadi. 

Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu 
mengakui El dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan 
jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di 
luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori penga¬ 
kuan de jure El bersama Afghanistan dan Iran beserta Turki mendukung El. 

Fukta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. 

Dan simpati terhadap El jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah meru¬ 
pakan modal, perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk 
perdjuangan jang ditentukan oleh UUD '45 i "ikut melaksanakan ketertiban 
dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial" 

Karena itulah pula sewadjamja dimasa 50-an dan awal 60-an BI, dan 
terutama TNI memberikan dukungin-2 dan bantuan-2 kepada perdjuangan na¬ 
sional/kemerdekaan di Timur Teng.th, walaupun Indonesia sendiri sedang 
menghadapi berbagai operasi militer. 

Insja Allah buku ini dapat ikut mengsedjurahkun perdjuangan kemer¬ 
dekaan Indonesia sebaik-baiknja,- 

Djakarta, 10 Agustus 1972.- Wassalam, 



A.H. NASUTION 



HALAMAN-HALAMAN BERGAMBAR 


Halaman 

1. Anggota Pimpinan Perhimpunan Indonesia Raya . 28 

2. Janan Tayib bersama Perhimpunan Indonesia Raya di Holland. . 29 

3. Pimpinan Panitia Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia. 55 

4. Pimpinan Panitia Cabang Irak . 59 

5. Panitia Pembela Indonesia di Timur Tengah . 67 

6. Mufti Besar Palestina Syekh Amin Husaini. 68 

7. Panitia Pembela Indonesia bergambar bersama Mr. Ibrahim Ma, 

Konsul Cina Nasionalis yang pro RI .. 69 

8. Panitia Pembela Indonesia bergambar dengari PM Suria dan 

Habib Borgouba dari Tunis . 70 

9. M. Zein Hassan sedang menyampaikan pidato . 128 

10. Misi Suwandi di Kairo .:. 140 

11. Misi Suwandi bergambar bersama Prof. Lutfi Sayid Pasya .... 141 

12. Bergambar bersama Mustafa Nahas Pasya .. 143 

13. Bergambar bersama A.M. Badar Bey. 144 

14. Bersama anggota Delegasi Vietnam . 145 

15. Pferingatan HUT Proklamasi di Baghdad . 156 

16. Resepsi pengakuan Mesir atas kemerdekaan dan kedaulatan RI .. 157 

17. Resepsi HUT Proklamasi Pertama . 158 

18. Daftar Menu Makanan dalam resepsi .'... 159 

19. Misi Haji Revolusi RI Pertama . 174 

20. Misi Haji Revolusi RI Kedua . 175 

21. Bung Syahrir bersama dengan Duta Besar Afganistan . 190 

22. Delegasi RI ke Timur Tengah . 198 

23. Penandatanganan Perjanjian Persahabatan antara RI dan Mesir 

Tahun 1947 .'.... 200 

24. H. Agus Salim bersama pimpinan cabang Panitia di Baghdad . . . 201 

25. Teks Perjanjian Persahabatan antara RI dan Mesir -dalam bahasa 

Perands ..216,217 

26. Surat PM Mesir kepada H. Agus Salim dalam Bahasa Peran cis . 218 

27. Pertemuan Pertama antara Delegasi RI dengan PM Mesir .... 219 

28. H. Agus Salim bersama Syekh Hasan Banna . .. 220 

29. Bung Syahrir lolos dari kepungan Belanda . 228 

30. Misi Kesehatan Mesir ke Indonesia . 256 

31. Bung Syahrir singgah di Kairo sekembali dari New York . 276 

32. Bung Syahrir bersama Hasan Banna .. 277 

33. Muso dalam satu pertemuan dengan para mahasiswa .. 282 

34. Bung Hatta bersama pembesar-pembesar Liga Arab. 286 

35. Bung Hatta bersama pimpinan-pimpinan Arab . 287 

36. Bung Hatta bercakap-cakap dengan PM Suria . 288 

37. Penulis sedang menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kebu¬ 
dayaan Pertama antara RI dengan Mesir . 295 


































DIPLOMASI REVOLUSI DI LUAR NEGERI 


Kenapa ”Diplomasi Revolusi ?” 

Duta Besar Letnan Jenderal G.P.H. Jatikusumo pernah 
mengatakan kepada saya : ”Pak Zein ’kan pernah menjalankan 
diplomasi revolusi.” Kemudian dalam satu surat resmi kepada 
Menteri Luar Negeri R.I. mengenai diri saya, beliau mengatakan 
pula : "Semasa revolusi fisik, semenjak hari-hari pertama Prokla¬ 
masi, ia telah berhasil menjalankan diplomasi revolusi di luar ne- 
geri.”(No. 53/R/KAN/66 tgl. 3/12/1966). 

Ketika saya memikirkan judul apa yang akan saya berikan 
kepada sejarah perjoangan pemuda/mahasiswa di luar negeri, 
terutama di Timur Tengah, selama revolusi fisik yang sedang 
saya tulis ini, saya teringat kepada perkataan 'diplomasi 
revolusi’ yang dilekatkan Duta Besar Jatikusumo kepada 
saya pada dua kejadian di atas itu. 

Maka sesuai dengan b e n t u k ’ yang diberikan kepada 
perjoangan itu oleh seorang diplomat penilainya sebagai Duta 
Besar R.I. itu, saya berikanlah kepada buku saya ini judul ”D i - 
plomasi Revolusi di Luar Negeri (Ti¬ 
mur— Tengah).” 

”D iplomasi Revolusi” 

Yang dimaksud dengan rangkaian dua perkataan di atas ini 
(diplomasi revolusi), ialah usaha-usaha dan hubungan-hubungan 


19 



dengan pihak-pihak dan negara-negara yang telah merdeka, yang 
sekiranya dilakukan pada masa damai dapat bersifat "diplomatik,” 
tetapi selama revolusi fisik di Indonesia itu dijalankan oleh warga 
Indonesia yang waktu itu berada di luar negeri "secara" revolusi. 

Perkataan "diplomasi” berasal dari bahasa asing diplomacy 
(Inggris) atau "diplomatie” (Perancis). Demikian pula perkataan 
"revolusi” berasal dari "revolution” (Inggris dan Perancis). Dalam 
buku "Pedoman Tertib Diplomatik dan Tertib Protokol" jilid I 
hal. 138 yang diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri R.I., 
perkataan ’diplomacy’ diartikan menurut Encyclopeadia Bri- 
tanica, yaitu : 'Pembinaan urusan-urusan luar negeri atau Pelak¬ 
sanaan politik luar negeri.’ Sementara itu kamus Perancis ’Nou- 
veau Petit Larousse’ mengartikan ’revolution’ dengan ’change- 
ment brusque et violent dans la structure economique, sodale 
ou politik d’un etat,’ yang berarti perobahan cepat dan keras 
pada bentuk ekonomi, sosial atau politik dari suatu negara. 'Me¬ 
ngenai fungsi perwakilan diplomatik,’ buku Pedoman itu, yang 
katanya ’dipungut dari perkembangan sejarah politik luar negeri 
kita sendiri,’ mengatakan : ’Di masa perjoangan kemerdekaan 
politik, tugas (functioning) perwakilan-perwakilan diplomatik 
kita merupakan usaha integral dari pada perjoangan kemerdekaan. 
Tugas perwakilan R.I. pada masa itu berusaha untuk memperoleh 
pengakuan-pengakuan de facto ataupun de jure dari negara-negara 
lain’ (hal. 139). 

Akan tetapi untuk mengusahakan pengakuan-pengakuan 
de facto atau de jure dari negara-negara lain itu, Republik Indone¬ 
sia selama hampir dua tahun (Agustus 1945 — April 1947) belum 
mempunyai perwakilan di luar negerh Yang berjoang untuk 
itu selama masa itu adalah Panitia-panitia yang lahir dan terbentuk 
langsung sesudah Proklamasi secara spontan dan simultan oleh 
warga Indonesia yang kebetulan pada masa itu berada di luar 
negeri. Panitia-panitia itu dapat diumpamakan dengan kelompok- 
kelompok bersenjata yang lahir dan dibentuk oleh rakyat Indo¬ 
nesia di seluruh kepulauan kita ini sesudah pengumuman kemer- 


20 



dekaan (Proklamasi), dengan tujuan merebut de facto kekuasaan 
di wilayah ini dari tentara pendudukan Jepang dan kemudian 
untuk mengusir tentara Sekutu yang dibuntuti tentara Belanda 
yang berusaha mengembalikan penjajahan ke tanah-air kita ini. 

Maka dari pengertian di atas itu, dapat dikatakan bahwa 
’diplomasi revolusi’ yang dijalankan Panitia-panitia di luar itu, 
termasuk Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Timur 
Tengah yang merupakan de facto perwakilan R.I. di luar negeri 
selama dua tahun itu, adalah: ”usaha untuk memperoleh pengaku¬ 
an-pengakuan de facto ataupun de jure dari negeri lain terhadap 
Republik Indonesia, dengan cepat dan mendesak, dan dengan 
menempuh semua jalan dan cara yang akan menghasilkan usaha 
itu, tanpa menghiraukan prosedur-prosedur diplomatik biasa atau 
konvensionil.” Itulah kiranya yang dimaksud Duta Besar Jati- 
kusumo, ketika memberi nama ’diplomasi, revolusi’ kepada kegiat¬ 
an-kegiatan dan usaha-usaha Panitia-panitia di luar negeri itu. 



21 



PRA PROKLAMASI 

Gema peijoangan dalam Negeri 

Perjoangan di luar negeri adalah gema dari perjoangan dalam 
negeri. Maka bila ’revolusi fisik’ dalam negeri mfeledak setelah 
melalui beberapa tahap (phase), demikian juga, 'diplomasi revo¬ 
lusi’ lahir setelah warga Indonesia di luar negeri berjoang untuk 
kemerdekaan tanah air mereka dengan melalui beberapa tahap 
peijoangan pula. 

Jauh semenjak permulaan abad ke 19, pemuda Indonesia 
telah mulai menuju ke Timur Tengah untuk menuntut ilmu. 
Pertama sekali ke Mekkah, Saudi Arabia dan kemudian pada 
permulaan abad ke 20 mereka mulai menyusup ke Kairo, Mesir, 
Baghdad, dan Irak. Semenjak mereka meninggalkan tanah air, 
mereka tidak pernah melupakannya. 

Meskipun perjoangan di luar negeri merupakan gema dari 
pergerakan dalam negeri, tetapi perkembangannya menunjukkan 
bahwa ia itu mempunyai sedikitnya dua ciri-ciri khas, yaitu : 

a- berpegang teguh pada dasar tak-kerjasama (non-ko- 
operasi) dengan penjajah, dan 

b — kesadaran keserumpunan bangsa antara Indonesia dan 
Malaya. 

Ciri pertama (a) itu disebabkan kenyataan bahwa mereka yang 
belajar di Timur Tengah - demikian juga di India - semuanya 
beragama Islam. Agama ini melarang dan menentang dengan keras 


22 



dan tegas mewalikan orang kapir (Belanda dan Inggris) atas orang 
Muslimin. Maka ketika di Indonesia pernah mundur dari tuntutan 
"Indonesia merdeka sekarang" kepada "Indonesia ber-Parlemen,” 
mahasiswa di Timur Tengah tetap menuntut kemerdekaan penuh 
bagi Indonesia. Demikian juga ketika ada suara minta "milisi” 
bagi rakyat Indonesia, di Timur Tengah diperdengarkan "tidak ada 
milisi tanpa kemerdekaan.” Suara-suara ini tidak saja mengeru- 
tu di lingkungan perhimpunan-perhimpunan mereka, tetapi di¬ 
umumkan di surat-surat kabar dan disampaikan kepada 
perwakilan asing setempat. Adapun ciri-ciri kedua (b), terbukti 
dari nama-nama organisasi mereka. Di Mesir dengan nama Per- 
pindom (Persatuan Pemuda Indonesia-Malaya), di Saudi Arabia 
Pertindom (Persatuan Talabah Indonesia-Malaya), dan di Irak 
Makindom (Majlis Kebangsaan Indonesia-Malaya). Demikian 
pula di India bernama Persindom (Persatuan Indonesia-Malaya) 
dan di Ceylon Keris (Kesatuan Rakyat Indonesia-Semenanjung), 

Tahap-tahap perjoangan pemuda/mahasiswa Indonesia di 
Timur Tengah pra-Proklamasi dapat dibagi atas tiga masa : 

a — sebelum perang dunia pertama, 

b — sesudah perang dunia pertama dan 

c — selama perang dunia kedua. 

Sebelum Perang Dunia Pertama 

Dari permulaan abad ke XIX sampai belasan pertama abad 
ke XX, pemuda/mahasiswa Indonesia baru terkumpul di Saudi 
Arabia (Mekkah). Pada tahap ini perjoangan bangsa Indonesia 
ditandai oleh perlawanan bersenjata terhadap penjajahan Belanda 
yang telah menyusup ke kepulauan khattulistiwa ini, dan kemudi¬ 
an oleh penyusunan kekuatan nasional melalui partai politik. Ma¬ 
ka perhatian pemuda/mahasiswa kita di Saudi Arabia (Hejaz) wak¬ 
tu itu ditandai pula oleh dua perkembangan di atas. Misalnya keti¬ 
ka berkobar gerakan Padri di Minangkabau melawan penyusupan 
penjajahan Belanda, terdapat dalam pimpinannya nama tiga 
panglima yang tadinya belajar di Mekkah dan kemudian pulang 


23 



untuk memimpin bersama Imam Bonjol peperangan fisabilillah 
melawan Belanda. Mereka itu adalah Haji Miskin, Haji Piabang 
dan Haji Sumanik. 

Ketika rakyat Indonesia buat pertama kali menyusun satu 
partai politik dalam usaha membebaskan Indonesia dari penjaja¬ 
han dengan nama Serikat Islam, Belanda mempergunakan seorang 
Arab dari Jatipetamburan, Jakarta, guna menulis satu buku yang 
bertujuan melarang Ummat Islam memasuki partai itu dengan 
nama ” Kafful Awwam ’An Syarikatil Islam" (Melarang Rakyat 
Umum memasuki Serikat Islam). Untuk menentang buku yang 
beracun itu, pada tahun 1912 seorang guru besar berasal dan 
Bukit Tinggi, Sumatera Barat, bernama Syeikh Ahmad Khatib, 
yang oleh karena keahliannya dalam Agama Islam diangkat oleh 
Syarif Mekkah menjadi Imam dan Khatib Masjidil Haram - 
menulis sebuah buku dengan judul ” Hassul ’Awwam Alad Du- 
khuli fi Syarikatil Islam’’ (Menghasung Rakyat Umum Memasuki 
Serikat Islam). Buku yang ditulisnya dalam bahasa Melayu itu 
sangat besar pengaruhnya di Indonesia waktu itu, mengingat 
kedudukan pengarangnya di Indonesia dan Alam Islami, sehingga 
dalam waktu pendek, partai tersebut berkembang dengan pesatnya 
dan menjadi partai politik nasional pertama yang meliputi seluruh 
kepulauan Indonesia. Pengaruhnya menakutkan Belanda, sehing¬ 
ga terpaksa dalam masa perang dunia pertama itu memberi janji 
akan memenuhi hasrat nasional Indonesia sesudah perang itu. 
Tetapi janji itu dimungkirinya sesudah Sekutu menang. Sementara 
itu murid-muridnya yang berdatangan dari Indonesia (ke Tanah 
Suci itu dipupuknya dengan) semangat Islam yang berjiwa mer¬ 
deka, sehingga sekembali mereka ke tanah air banyak yang 
meninggalkan jasa-jasa besar dalam perkembangan kesadaran 
nasional, seperti alm. Kiyai H. Ahmad Dahlan dengan gerakan 
Muhammadiyahnya dan Dr. Abdulkarim Amrullah (ayah Prof 
Dr. Hamka) dengan gerakan Sumatera Thawalibnya, yang sebelum 
perang dunia kedua oleh pengadilan kolonial Belanda dijatuhi 
hukuman buangan ke Boven Digul dan oleh protesan rakyat di- 
robah ke Sukabumi, Jawa Barat. Demikian pula ketika berkobar 


24 



peperangan jihad melawan Belanda di Aceh, seorang ulama besar 
lainnya yang mengajar di Masjidil Haram, yaitu Teuku Abdul 
Wahab Aceh, menyerukan kepada murid-muridnya : Wahai murid- 
muridku yang setia, mati syahid melawan kapir di negerimu 
lebih baik dari pada bermukim dan menuntut ilmu di Mekkah 
ini ! Dalam menghadapi ’Kapir’ ini, Syeikh Ahmad Khatib 
menulis satu buku lagi dengan judul Assuyufu wal Khanajiru 
'Ala Riqabi man Yad’u lil Kafiri” (Pedang dan Parang pemenggal 
Kuduk Orang Yang Memihak Kepada Orang Kafir). Semangat ke- 
bangsaan yang berjiwa Islam yang dihembus-hembuskan Ulama- 
ulama besar dari Mekkah itu telah mempengaruhi Haji Agus Salim 
yang waktu itu ditempatkan Belanda di Mekkah sebagai Konsul 
Muda. Beliau demikian tertarik sehingga mempelajari bahasa Arab 
dan Agama Islam dengan mendalam dan meninggalkan jabatannya. 
Sekembali ke Indonesia beliau langsung memasuki partai Serikat 
Islam dan akhirnya menjadi pemimpin terkemuka dan diplomat 
ulung yang telah mengikuti perjoangan bangsanya dari semula 
sampai kepada kemenangan. 

Kegiatan ulama Islam di Mekkah yang telah memberi hasil- 
hasil positif pada pergerakan kemerdekaan yang dipimpin Serikat 
Islam itu mengkhawatirkan pemerintah kolonial Belanda. Maka 
diusahakannya memecah ummat Islam dari Mekkah pula. Demi¬ 
kian dengan mengirim orientalis Belanda terkenal Christian 
Snouck Horgronje ke Mekkah dengan menyamar sebagai muslim. 
Dengan pengetahuan yang mendalam dalam Agama Islam dan 
bahasa Arab, ia mengetahui soal-soal khilafiah yang terdapat 
dalam fiqih Islam. Melalui soal-soal khilafiah yang sebenarnya 
tidak mengenai dasar dan pokok Islam itu, ia dapat mempenga¬ 
ruhi ulama-ulama tanggung dan mengadu domba mereka dengan 
ulama-ulama besar itu dan mendapatkan fatwa-fatwa dari mereka 
yang sampai mengkafirkan ulama-ulama besar merdeka di Indo¬ 
nesia, seperti Dr. Abdulkarim Amrullah dan kawan-kawan. Akibat 
tipu daya orientalis itu yang diteruskan oleh murid-muridnya 
sampai kepada Van der Pias, pada akhir hayat penjajahan Belanda 
di Indonesia, masih dirasakan pahitnya oleh ummat Islam sampai 


25 



sekarang. Kiranya itulah sebabnya maka Syeikh Ahmad Khatib 
menulis kitabnya yang kedua itu. 

Sesudah Perang Dunia Pertama 

Dengan kekalahan Turki di Timur Tengah, negara Sekutu 
termasuk Belanda — mendapat kedudukan istimewa (privileges) 
di sana. Belanda yang mendapat angin di Saudi Arabia mulai 
menekan warga Indonesia di sana, seperti terbukti dengan penang¬ 
kapan 11 haii Indonesia di Mekkah disebabkan fitnahan Kedu¬ 
taan Belanda yang menuduh mereka komunis. Demikian pula 
larangan kegiatan politik bagi warga Indonesia. Sementara itu 
pemuka-pemuka Indonesia mulai menyusup ke Mesir. Pada 14 
September 1923 organisasi mereka pertama berdiri dengan nama 
”A1-Jamiyatul Khairiyatul Jawiyah” (Perhimpunan Kebaktian Ja¬ 
wa) di bawah pimpinan (alm) Janan Thaib. Nama Indonesia waktu 
itu belum dikenal orang dan nama ’Jawa’ meliputi seluruh wilayah 
Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaya, Siam dan Pilipina. 
Perhimpunan ini meskipun dalam surat izin berdirinya no. 323 
hanya bagi kegiatan-kegiatan sosial, tetapi ia tidak pernah mem¬ 
batasi dirinya pada kegiatan itu saja. Mereka tidak saja mulai 
memperkenalkan tanah air dan tuntutan-tuntutan nasionalnya, 
tetapi juga ikut mendorong rakyat Indonesia untuk memenangkan 
tuntutan-tuntutan itu seperti mereka kumandangkan pada majal- 
lah-majallah mereka ”Seruan Al-Azhar,” "Pilihan Timur,” ”Mer- 
deka” dan "Usaha Pemuda.” Majallah-majallah ini terbit silih ber¬ 
ganti, setiap kali peredarannya dilarang di Indonesia dan Malaya 
oleh kekuasaan Belanda dan Inggris. Pada permulaan tiga puluh¬ 
an lahir di Mesir organisasi yang semata-mata guna kegiatan po¬ 
litik dengan nama "Perhimpunan Indonesia Raya” di bawah 
pimpinan (Prof.) Abdulkahar Muzakkir. Sebenarnya nama 'In¬ 
donesia’ telah mulai dikenal di Timur Tengah pada pertengahan 
tahun dua puluhan, seperti terbukti dari nama ”Madrasah Indo¬ 
nesia” yang didirikan Janan Thaib di Mekkah, sekembalinya dari 
melawat ke Eropa, dan menetap di Tanah Suci itu. Adapun 
”A1-Jamiyatul Khairiyatul Jawiyah” telah ditukar namanya men- 


26 



jadi ”Perpindom” (Persatuan Pemuda Indonesia-Malaya) pada 
pertengahan tahun tiga-puluhan. 

Hubungan-hubungan dengan pemuda Indonesia di bagian 
dunia lainnya, seperti Eropa dan India, telah dimulai semenjak 
tahun dua puluhan. Pada tahun 1926 Ketua Al-Jamiyatul Khai- 
riyatul Jawiyah, Janan Thaib, telah diutus ke negeri Belanda 
menemui (Dr.) Muhammad Hatta, Ketua Perhimpunan Indonesia, 
dalam rangka koordinasi peijoangan Indonesia di luar negeri. De¬ 
mikian pula hubungan-hubungan dalam lapangan internasional. De¬ 
ngan usaha mereka, pada tahun 1926 Indonesia diundang ke Kon¬ 
ferensi Islam di Kairo, yang diwakili oleh Dr. H. Abdul Karim Am- 
rullah dan Dr. Abdullah Ahmad. Pada tahun 1929 Indonesia diwa¬ 
kili pada Konferensi Buraq (Islam) di Palestina oleh Abdulkahar 
Muzakkir (Indonesia) dan Abubakar Asy’ari (Malaya). Dalam 
konferensi-konferensi Islam dan lain-lainnya itu diutamakan 
memperkenalkan bangsa dan aspirasi-aspirasi nasional Indonesia. 

Madrasah Indonesia di Mekkah telah banyak menolong me¬ 
ngembangkan rasa kesadaran berbangsa pada ribuan waiga Indo¬ 
nesia—Malaya yang bermukim di sana. Mereka yang tadinya di¬ 
pecah-pecah oleh soal-soal khilaflah dan perbedaan suku yang 
dihembus-hembuskan agen-agen kedutaan-kedutaan Belanda dan 
Inggris di Jedah, sedikit demi sedikit telah dapat disadarkan 
akan bahaya fitnahan-fitnahan agen-agen kolonial itu, sehingga 
pada pertengahan tahun tiga-puluhan mereka telah dapat dihim¬ 
pun dalam satu ikatan dengan nama ”Pertindom” (Persatuan 
Talabah Indonesia-Malaya). 

Semenjak pertengahan tahun tiga-puluhan pemuda Indonesia 
Malaya mulai berdatangan ke Baghdad, Irak. Semenjak itu pusat 
kegiatan pemuda Indonesia-Malaya bertambah lagi — sesudah 
Mekkah dan Kairo — di Baghdad dengan nama ”Makindom” 
(Majlis Kebangsaan Indonesia-Malaya). Perkataan ’kebangsaan’ 
pada nama ini dan perkataan ’Indonesia Raya’ pada nama teman¬ 
nya di Kairo, memberi gambaran yang jelas akan perkembangan 
kesadaran berbangsa dan berserumpunan bangsa di kalangan pemu¬ 
da Indonesia-Malaya di Timur Tengah. 


27 




Anggota Pimpinan "Perhimpunan Indonesia Raya” bergambar pada bulan 
Agustus 1933. Duduk dari kiri ke kanan: Darwis Amini, A. Kahar Muzakkir, 
Farid Maaruf, Hussein Yahya, A. Jalil Hassan. Berdiri dari kiri ke kanan: 
Taher, Ilyas Moh. Ali, Maani Salih, Ali Nahrawi, Dasuki. 




29 


Janan Tayib (duduk) bersama-sama pimpinan "Perhimpunan Indonesia” di 
Holland, dari kiri Mr. Sunaryo, Mr. Sartono, Dr. Muhammad Hatta, Mr. Wir- 


Maka sebelum perang dunia kedua, peijoangan pemuda 
Indonesia di Timur Tengah telah membuahkan hasil-hasil posi¬ 
tif, antara lain : 

a — dikenalnya pergerakan kemerdekaan dan aspirasi nasio¬ 
nal Indonesia di Timur Tengah, 
b — m,eratanya kesadaran nasional di kalangan mereka, 
c — terwujudnya persatuan nasional yang tadinya terpecah- 
pecah — terutama di Saudi Arabia — oleh kedaerahan 
dan soal-soal khilafiah. 


Selama Perang Dunia Ke dua atau Perlawanan dibawah tanah 

Tahap ini yang juga dinamakan tahap ’perlawanan di bawah 
tanah,’ karena kegiatan-kegiatan kami waktu itu terpaksa dija¬ 
lankan dengan diam-diam di bawah hukum militer Inggris yang 
menguasai Timur Tengah, dapat dibagi dalam dua bagian : 

a — perlawanan pasif, dan 

b — perlawanan aktif di bawah tanah. 

Pembagian ini ditentukan oleh perkembangan perang sendiri, 
yaitu masa yang dimulai oleh pengumuman perang pada Septem¬ 
ber 1939 dan putusannya hubungan Indonesia — Timur Tengah 
serta jatuhnya Holland ke bawah pendudukan Jerman, dan masa 
pendudukan Indonesia oleh Jepang tahun 1942 sampai pengu¬ 
muman kemerdekaan atau Proklamasi pada 17 Agustus 1945. 

Pada masa pertama itu kami menghadapi tekanan hidup 
yang pahit sekali, karena perhubungan dengan keluarga di Indo¬ 
nesia telah terputus dan Kedutaan Belanda tidak mau memberi 
bantuan. Untuk menarik perhatian umum, di Mesir warga Indo¬ 
nesia menduduki Kedutaan Belanda di Kairo. Tujuan itu berhasil, 
karena dengan campur tangan polisi Mesir — atas permintaan 
Kedutaan Belanda sendiri —, beritanya tersiar dan pendapat 
umum mencela Belanda yang tidak membantu itu. Ia terpaksa 
memberi bantuan, tetapi disesuaikannya pula dengan siasatnya 


30 





di Indonesia, yang mentarafkan penghidupan rakyat Indonesia 
dengan sebenggol sehari, yaitu dengan memberi bantuan keuang¬ 
an 3 (tiga) piaster sehari D. Bantuan Belanda yang demikian kecil 
itu kami gunakan buat mengungkapkan politik Belanda di tanah 
air yang mentarafkan penghidupan bangsa Indonesia sebenggol 
sehari itu. Dengan keputusan rapat umum, kami menolak bantuan 
itu berupa 'pemberian’ tetapi menerimanya sebagai ’hutang’ 
dengan meneken kwitansi. Dasar pertimbangan ialah bahwa 'pem¬ 
berian’ akan memberi ’kedudukan’ bagi Kedutaan Belanda, sedang 
’hutang’ akan memberi ’kebebasan’ bagi kami buat bertindak. 
Pertimbangan ini ternyata tepatnya ketika kami menjalankan 
diplomasi revolusi sesudah Proklamasi. Kesulitan hidup ini tidak 
menyebabkan kami menghentikan sama sekali kegiatan-kegiatan 
penerangan mengenai perkembangan situasi politik di tanah air, 
seperti telah saya katakan di atas mengenai soal ’Indonesia. ber- 
Parlemen,’ ’milisi’ dan lain-lain. 

Dengan kejatuhan Belanda ke bawah telapak Jerman dan 
pendudukan Indonesia oleh Jepang, timbul pertanyaan apakaih 
Belanda akan kembali lagi ke Indonesia. Belanda dan kaki-tangan- 
nya sudah tentu menjawab ’ya,’ tetapi kami di Timur Tengah 
dengan tegas mengatakan ’tidak.’ 

Mulanya ’tidak’ kami itu berupa penolakan pasif saja, 
yaitu tidak mau mendengar rayuan-rayuan agen-agen Belanda, 
seperti (Duta) Mr. Musa — masyarakat Indonesia di Timur Tengah 
membacanya Musang -, Tarbidin, Abdurrahman Al Musawa - 
dibaca pula Masawi, artinya tumpukan kejahatan —, dan lain- 
lain yang sudah mulai merayap ke sana-sini di Saudi Arabia, Kai¬ 
ro dan Irak, di mana terdapat ribuan warga Indonesia dan Malaya. 
Misalnya, ketika Mr. Musa datang ke Kairo dan mengundang 
para mahasiswa ke jamuan makan dengan maksud tertentu, 
kami menerima, tetapi diputuskan pula tidak akan memberi ke¬ 
sempatan kepadanya buat berbicara politik. Demikianlah, ketika 
ia mulai menyinggung hubungan Indonesia—Belanda, ketua 

1). Satu found sterling = 97,5 piaster Mesir. 


31 



rapat mengetok meja, memperingatkannya tidak boleh berbicara 
politik. Ini mungkin pertama kali seorang Indonesia mengetok¬ 
kan palu melarang seorang Belanda atau alat Belanda berbicara 
politik. Karena yang terjadi selama ini di Indonesia ialah sebalik¬ 
nya. Tetapi setelah Belanda meningkatkan usahanya dengan men¬ 
datangkan Pangeran Bernard, suami (Ratu) Juliana ke Timur 
Tengah, tibalah saatnya bagi kami untuk meng-aktifkan ’tidak 
kami itu. Terutama setelah harian Kairo berbahasa Perancis, 
Le Journal d’ Egypte, yang rapat hubungannya dengan pihak 
Sekutu, menyiarkan bahwa rakyat Indonesia di luar negeri telah 
menyatakan tekad akan sama-sama rakyat Belanda ’membebaskan 
Indonesia dari pendudukan Jepang. 

Hampir seluruh warga Indonesia di Timur Tengah menolak 
kerjasama dengan Belanda dan menentang usaha mereka hendak 
kembali ke Indonesia. Janji Ratu Wilhelmina pada tahun 1942, 
yang menjanjikan akan memberikan kemerdekaan kepada In¬ 
donesia, di saat Belanda sendiri telah kehilangan tanah-airnya, 
bagi kami lebih rendah nilainya dari pada janjinya pada akhir 
perang dunia pertama yang tidak pernah dipenuhinya itu. Tetapi 
agen-agen dan trompet-trompet Belanda itu tidak dapat dibiar¬ 
kan tanpa tantangan. 

Berita dan gambar yang disiarkan Le Journal d Egypte 
itu saya gunting dan perlihatkan kepada (alm. Kuasa Usaha) Ismail 
Banda yang waktu itu menjadi Ketua Perpindom. Setelah ber¬ 
bicara kira-kira dua jam lamanya, di dapat kesepakatan untuk 
tidak membiarkan kegiatan-kegiatan Belanda itu tanpa tantangan 
yang aktif dan mengumpulkan beberapa orang yang kiranya akan 
lebih mudah bertukar fikiran buat maksud itu. Enam orang 
dapat dikumpulkan, yaitu Ismail Banda (M.A.) dari Sumatera 
Timur, Ahmad Hasyim Amak (M.A.) dari Sumatera Selatan, Ab- 
dulrahman Ismail (M.A.) dari Kalimantan, (Tan Sri) Abduljalii 
Hasan dari Malaya, Muhammad Dawam dari Sumatera Selatan, 
dan saya sendiri dari Minangkabau. Kami merasakan beratnya tugas 
menantang itu, apalagi seluruh Timur' Tengah di bawah hukum 


32 



militer Sekutu - termasuk Belanda - dan sekiranya secara 
terbuka tentu mudah digilas kekuasaan militer itu. Kami 
memutuskan orang enam itu menjadi satu badan kabur (invisible), 
tidak bernama dan tidak berbentuk organis (tanpa ketua dan 
sebagainya). Dalam buku ini akan saya sebut saja Panitia Enam. 
Kerahasiaannya dapat diamankan sampai Proklamasi, meskipun 
kegiatannya dipikul oleh seluruh masyarakat Indonesia-Malaya 
di Mesir. 

Oleh karena kegiatan agen-agen Belanda meliputi seluruh 
Timur Tengah, maka dirasa perlu menggiatkan perlawanan di 
seluruh wilayah itu pula. Maka untuk Saudi Arabia kami hubungi 
(anggota MPRS) Jaafar Zainuddin dan untuk Irak (anggota MPRS) 
Imron Rosyadi (S.H.), karena kedua teman itu memang dikenal 
aktif dalam masyarakat setempat masing-masing dan dapat di¬ 
andalkan kewibawaan mereka. Untuk melancarkan hubungan-hu¬ 
bungan antara ketiga pusat perlawanan itu (Kairo, Mekkah dan 
Baghdad), Kedutaan Irak di tempat masing-masing telah bermurah 
hati mempergunakan kantong diplomatiknya untuk hubungan-hu¬ 
bungan surat-menyurat kami. Dengan demikian terjamin pula 
kerahasiaannya. Terima kasih tetap diucapkan kepada (alm) 
Jenderal Tahsin Askari, Duta Irak di Kairo, seorang pejoang 
kemerdekaan Irak yang menaruh simpati kepada perjoangan 
ummat Islam, termasuk Indonesia, yang telah membukakan 
fasilitas-fasilitas itu bagi kami. 

Tugas Panitia Enam hanya merencanakan dan mengko- 
ordinasi kegiatan-kegiatan perlawanan itu, sedang pelakunya 
adalah seluruh warga Indonesia-Malaya setempat yang sama tinggi 
suhu semangat kebangsaannya. Cara kami bekerja adalah membagi 
masyarakat Indonesia-Malaya dan masyarakat negara setempat 
beserta partai-partai politik, organisasi-organisasi massa dan mass- 
medianya kepada enam bagian dan masing-masing keenam kami 
bertugas mendekati terus-menerus tiap-tiap bagian itu dalam 
menyalurkan rencana dan tindakan yang akan diambil. Dalam 
tugas ini masing-masing kami mencari pembantunya dari teman- 
teman sehari-hari terdekat, tanpa ia mengetahui bahwa kegiatan- 


33 



kegiatannya dipimpin oleh badan kabur itu. Di Mesir umpamanya, 
kepada saya ditugaskan mendekati 32 mahasiswa Indonesia yang 
selama ini memang mempunyai hubungan pribadi dan penger¬ 
tian yang baik dengan saya. Demikian pula dalam masyarakat 
Mesir, kepada saya diwajibkan mendekati terus Partai Al-Wafd, 
organisasi massa Jam’iyah Syubban Muslimin dan mass-media 
harian Al-Ahram. Dalam masyarakat Indonesia—Malaya diusaha¬ 
kan menguasai langsung organisasinya yang bersifat sosial atau 
oleh teman-teman sepengertian. Adapun yang bersifat politik, 
adalah mutlak keharusan menguasainya. Cara demikian ternyata 
sangat effektif dan hasil-hasil hubungan-hubungan demikian de¬ 
ngan masyarakat Arab setempat ternyata pula sangat berfaedah 
sesudah Proklamasi. Terutama Proklamasi itu sendiri sesuai dengan 
apa yang selalu kami sampaikan kepada mereka selama perlawa¬ 
nan di bawah tanah itu mengenai pergerakan kemerdekaan In¬ 
donesia dan aspirasi-aspirasi nasionalnya. 

Tujuan perjoangan di bawah tanah itu adalah : 

a — menggagalkan usaha Belanda mengumpulkan warga 
Indonesia di luar negeri guna sama-sama 'membebaskan’ 
Indonesia dari pendudukan Jepang, atas dasar pidato/ 
janji Ratu Wilhelmina tahun 1942, dan 

b — memengertikan dunia Arab khususnya dan dunia inter¬ 
nasional umumnya bahwa perjoangan bangsa Indone¬ 
sia semenjak puluhan tahun itu adalah buat membe¬ 
baskan bumi Indonesia dari penjajahan Belanda. 

Adapun usaha-usaha untuk mencapai tujuan-tujuan itu, ada¬ 
lah antara lain dengan : 

a — mengembangkan pendirian non-kooperasi dengan Be¬ 
landa dan sekutu-sekutunya, dalam masyarakat Indo¬ 
nesia—Malaya. 

b - mendekati mereka yang sudah terlanjur supaya jangan 
turut melaksanakan tindakan-tindakan yang akan me¬ 
rugikan perjoangan bangsa Indonesia di dalam negeri. 


34 



dan menganjurkan supaya menggabungkan diri kepada 
bangsa sendiri di saat-saat yang menentukan. 

c — mendekati klasi-klasi dan pelayan-pelayan Indonesia— 
Malaya yang bekerja pada kapal-kapal Sekutu yang ber¬ 
labuh di pelabuhan-pelabuhan Timur Tengah baik 
secara langsung atau dengan siaran-siaran, supaya sadar 
akan siasat Belanda yang sebenarnya terhadap Indone¬ 
sia. 

d — menerbitkan brosur-brosur dan majallah stensilan ”Sua- 
ra Perpindom ” guna menentang majallah Belanda ber¬ 
bahasa Indonesia, yaitu ”Bintang Timur” dari London 
dengan pimpinan (Duta Besar) T.Maimun Habsyah dan 
”Penyuluh” dari Australia dengan pimpinan ex-Di- 
gulis P.N.I. Burhanuddin, dan 

c — mengungkapkan tabir kepalsuan janji-janji Belanda dan 
menerangkan kepada masyarakat setempat sepak- 
terjang pergerakan kemerdekaan Indonesia dengan 
brosur-brosur, ceramah-ceramah dan siaran-siaran di 
harian-harian dan majallah setempat. 

Pimpinan majallah ”Suara Perpindom” diserahkan kepada saya 
dan pekerjaan saya sebetulnya hanya menulis tajuk rencananya, 
sebagai reaksi-terhadap tajuk-tajuk rencana majallah Belanda di 
atas itu. Selainnya diisi dengan tulisan-tulisan yang dikutip dari 
tulisan-tulisan yang tersiar dalam majallah-majallah Indonesia 
yang kami terima sebelum perang, berupa sejarah, politik, ke¬ 
budayaan dan lain-lain, sehingga dengan demikian para pemba¬ 
canya kami bawa kembali ke alam tanah air mereka yang jauh 
itu. 

- Hasil usaha-usaha kami itu adalah memuaskan. Meskipun 
menghadapi tekanan dan ancaman dari Kedutaan Belanda, di 
Saudi Arabia umpamanya, dari 4000 lebih warga Indonesia, hanya 
— 200 orang yang tertipu. Itupun mereka menyesal setelah diberi 
penerangan. Orang-orang terkemukanya, seperti (Duta Besar) 
Iskandar Ishak dan lain-lain berjanji akan memberi pengertian 


35 



kepada kawan-kawannya, sehingga di saat-saat yang menentukan 
mereka akan memihak kepada bangsanya. Dari Mesir hanya dua 
orang yang diam-diam mengikuti Belanda, yaitu (Duta Besar) 
T. Maimun Habsyah dan. Fudail Abdulhamid. Dari Irak seorang- 
pun tidak ada. (Duta Besar) Alfian Yusuf Helmi, menolak men¬ 
diskusikan pendiriannya, ketika singgah di Kairo dalam perjala¬ 
nannya dari Turki ke Australia. Mansur Abu Makarim yang bekerja 
pada Kedutaan Belanda di Kairo, dapat kami jadikan kawan dan 
informan, sehingga kami dapat mengetahui gerak-gerik Belanda 
di Timur Tengah dan maksud-maksudnya. Sesudah Proklamasi 
ia langsung masuk staf Sekretariat Komite Kairo. Demikian juga 
kami mempunyai informan pada kedutaan Belanda di Jeddah 
dan pada kantor-kantor pos Jeddah dan Mekkah untuk mensen- 
sur surat-menyurat Kedutaan tersebut. Dalam satu kawat kepada 
Kedutaan itu disebutkan bahwa lada hitam tidak ada didatangkan 
lagi ke Saudi Arabia. Sebelum kawat itu sampai kepada alamatnya, 
pihak kita (Saleh Ibrahim Padang) telah membeli semua lada 
hitam yang ada di pasar dan kemudian menjualnya dengan harga 
tinggi dan labanya sebagiannya digunakan buat kegiatan-kegiatan 
perlawanan. Para klasi dan pelayan Indonesia pada kapal-kapal 
Sekutu yang berlibur di pelabuhan-pelabuhan Iskandariyah, 
Port Said dan Suez, kami dekati. Selain memberi penerangan 
kepada mereka, juga membagikan ”Suara Perpindom, dengan 
ketentuan sesudah dibaca akan dibagi-bagikan mereka pula 
kepada teman-temannya, di Inggris, Australia, Colombo, Bombay 
dan lain-lainnya berganti-ganti. Masih hidup dalam ingatan saya 
pertemuan yang kami adakan di sebuah hotel murah di Iskandari¬ 
yah dengan empat puluh pekerja kapal itu, pada bulan Juli 1945, 
yaitu hanya sebulan sebelum Proklamasi. Pertemuan yang menge¬ 
sankan itu berlangsung dari jam 22 sampai jam 1 dini hari dan di¬ 
akhiri dengan mengangkat sumpah dengan nama Allah bahwa me¬ 
reka tidak akan memihak atau membantu Belanda sekiranya jihad 
fi sabilillah yang kami katakan akan dilakukan rakyat Indonesia 
itu memang terjadi. Mereka juga beijanji akan menarik teman-te¬ 
man mereka di mana saja berada supaya berpendirian yang sama 



Kepada mereka juga kami nasehatkan supaya menabung, karena di 
saat terjadinya jihad itu, mereka harus meninggalkan kapal-kapal 
mereka supaya jangan dimakan sumpah atau dikutuk Tuhan. 
Mereka yang pada hidupnya sehari-hari tidak demikian menuruti 
tuntunan-tuntunan Agama, dan tidak memperhatikan soal tanah 
air, tetapi ternyata pada saat-saat yang sungguh, mempunyai 
kegairahan Agama dan tanah air yang tinggi. Ini terbukti dari 
kenyataan bahwa besoknya pagi-pagi buta, tiga orang perutusan 
mereka datang menemui kami. Mereka menanyakan bila jihad 
di Indonesia sudah dimulai selagi mereka dalam pelayaran, apakah 
pekerjaan di atas kapal — sebelum mendapat kesempatan mening¬ 
galkannya - seperti memasak, menyapu dan sebagainya termasuk 
pekerjaan menolong kapir (Belanda) yang menyebabkan mereka 
melanggar sumpah atau terkutuk. Dapat saya ceritakan bahwa 
dua bulan sesudah Proklamasi, dua orang klasi Indonesia sampai 
di Kairo dengan berjalan kaki dari Tunisia. Ketika kami tanyakan 
kenapa mereka berjalan kaki sejauh itu, dijawab bahwa mereka 
menerima fatwa yang dibawa teman-teman mereka bahwa haram 
bekerja dengan orang kapir yang memerangi kaum Muslimin, 
bangsa mereka di Indonesia. Berita Proklamasi mereka ketahui 
ketika kapal mereka berlabuh di Tunis. Meskipun tidak mempu¬ 
nyai uang cukup, mereka memutuskan meninggalkan kapal itu 
dan berjalan kaki menuju Mesir, karena di sanalah berada warga 
Indonesia terdekat. 

Sebagai contoh kegiatan majallah ”Suara Perpindom,” 
saya kutip di sini satu tajuk rencana sebagai balasan kepada sa¬ 
lah satu tajuk rencana majallah-majallah yang dikendalikan Belan¬ 
da itu dan sanggahan terhadap pernyataan Mr. Musa di ’Tacific 
Conference” tahun 1944 sebagai diriwayatkan kepada kami 
oleh (alm) Abdulrahman Siddiqi, pemimpin harian ”Morning 
News” di Bombay, yang hadir pada Konferensi itu sebagai 
wakil Muslim League, bahwa bangsa Indonesia belum matang 
untuk merdeka dan masih harus mendapat bimbingan dari Belan¬ 
da. Dengan judul "Indonesia Cakap Mengurus Diri Sendiri,” 
’Suara Perpindom’ No. Juni 1945 tahun ke II, yaitu tiga bulan 
sebelum Proklamasi, antara lain menegaskan (menurut ejaan baru): 


37 



”Sedari waktu itu banyak kita dengar dan kita baca perka¬ 
taan dan tulisan yang semuanya itu berlawanan dengan kemauan 
dan cita-cita bangsa Indonesia sendiri. Sebagai contoh, kita mende¬ 
ngar seorang yang mengakui dirinya 'wakil’ Indonesia di "Pa¬ 
cific Conference” di U.S.A., berkata . . . t bangsa Indonesia tidak 
hendak bercerai dengan penjajahnya yang lama, tidak hendak 
merdeka dan kalau ada pergerakan yang bertujuan kemerdekaan, 
itu hanya pergerakan sebagiart kecil dari kaum atasan. Di samping 
itu kita baca pula dalam satu 'majallah' yang menjadi trompet 
boneka-boneka yang tidak berjiwa itu, yang mengatakan bahwa 
bangsa Indonesia belum sanggup merdeka, belum matang, masih 
berkehendak kepada 'asuhan dan pimpinan’ penjajahnya yang 
lama yang mempunyai kwaliteit dan capaciteit (ketinggian dan 
kecakapan).” 

"Kedua ’dongengan’ ini sebenarnya tidak baru lagi bagi 
telinga bangsa Indonesia, karena ia itu sudah lama didengung- 
dengungkan oleh kaum penjajah sendiri di Indonesia. Hanya 
yang baru adalah keluarnya dari lidah yang mengakui dirinya 
’manusia’ dari Indonesia dan mengaku pula sebagai suara dari 
Indonesia. Kedustaan pertama yang keluar dari lidah boneka 
yang tidak bertulang itu tidak perlu kita perdulikan lagi, karena 
sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia yang sudah hampir 
setengah abad lamanya itu cukup untuk menggunting lidah yang 
terkutuk itu, cukup membuktikan berkobarnya jiwa kemerde¬ 
kaan dalam tubuh bangsa Indonesia dan cukup menyatakan 
bahwa partai-partai yang silih berganti telah dapat mempenga¬ 
ruhi rakyat umum, seperti S.I., P.K.I., P.N.I., P.I.I. dan Parindra 
serta lain-lainnya adalah tersusun dari segala lapisan rakyat.” 

"Adapun kedustaan kedua, meskipun ia itu tidak lebih dari 
satu ’dongengan’ yang sekarang dicoba mendendangkannya oleh 
orang yang merasa dirinya bangsa Indonesia, padahal Indonesia 
berlepas diri dari mereka, baik kita nyatakan di sini bahwa ke¬ 
tinggalan Indonesia dalam soal kemiliteran, perekonomian dan 
diplomasi, tidak sama sekali satu alasan benar untuk mengatakan 


38 




bahwa Indonesia belum bisa merdeka dan masih berhajat kepada 
pimpinan orang lain. Karena soal ini adalah soal ’hak’ yang tak 
dapat ditawar-tawar. Tetapi pula kalau alasan boneka ini, sebagai 
iseng-iseng saja kita terima, tentu akan kita dapati satu atau 
dua negeri saja yang baru berhak merdeka. Peperangan dunia 
sekarang cukup memberi bukti bahwa negeri-negeri Belanda, 
Perancis, Belgia, Grik, Yogoslavia, Poland, dan lain-lain, artinya 
hampir semua bangsa di Eropa belum bisa mempertahankan 
kemerdekaannya dengan kekuatan militer sendiri. Apakah boneka 
itu akan turut berkata yang bangsa-bangsa itu jangankan akan 
mendakwa berhak ’memimpin’ lain bangsa malah masih berke¬ 
hendak kepada pimpinan ?? Akan urusan ekonomi, boneka- 
boneka itu mengerti bahwa yang melemahkan perekonomian 
Indonesia adalah kaum 'pemimpin ’ (baca penjajah) sendiri. Politik 
pintu terbuka, pelarangan perniagaan export dan import bagi 
rakyat Indonesia, aturan monopoli (ihtikar), pajak-pajak yang 
lebih dari penghasilan rakyat dan ratusan aturan-aturan lagi, 
tidakkah semuanya itu racun yang mematikan perekonomian 
rakyat ??? Tentang urusan politik (diplomasi), hendaklah boneka- 
boneka yang disuapi mulutnya itu mengerti pula bahwa hak bang¬ 
sa Indonesia dan batas-batas tanah airnya terang benderang laksa¬ 
na sang surya di tengah hari tepat. Selain itu harus diketahuinya 
pula bahwa negeri Indonesia tidak sekali-sekali berniat hendak 
merampas hak orang lain. Maka kecakapan dan keimanan pe¬ 
mimpin-pemimpin Indonesia sekarang sampai cukup untuk menja¬ 
ga dan mempertahankan hak-hak dan batas-batas Tanah Air 
yang terang bersuluh matahari itu.’ 7 

”Soal yang pertama bagi kita ialah soal hak kita atas Tanah 
Air kita. Adapun soal kecakapan, bangsa Indonesia tidak berke¬ 
hendak kepada pimpinan siapapun. Masa tigaratus tahun yang lalu 
telah menyatakan kepalsuan ’kwaliteit dan capaciteit’ kaum 
penjajah dan membuktikan pula bahwa 'pimpinan’ itu hanyalah 
suatu belenggu yang erat sekali mengikat tangan kecakapan bangsa 
Indonesia.” 


39 



'1 


"Kemerdekaan penuh hanya satu-satunya peluang dan ke¬ 
sempatan untuk menyatakan kecakapan itu sebagai ternyata 
di zaman Sriwijaya dan Majapahit, ketika kaum-kaum penjajah 
masih tidur nyenyak dalam selimut kebodohan dan kemunduran.” 

Dalam laporan Panitia Pusat pertama kepada Pemerintah 
R.I. Agustus 1946 antara lain dikatakan : 

"Pada tiap-tiap terjadi kongres atau konferensi-konferensi 
dari Negara-negara Sekutu di Teheran (Iran), di Kairo (Egypt), 
di Yalta (Rusia), di San-Fransisco (Amerika) yang terjadi selama 
perang terjadi, pergerakan kita di luar negeri mengambil kesem¬ 
patan-kesempatan penting ini untuk mengemukakan soal tanah- 

air.Teristimewa di Timur Dekat, di mana negeri- 

negeri Arab dan Islam; maka ditiap-tiap terjadi konferensi-konfe¬ 
rensi dari negeri-negeri itu, kita senantiasa mengemukakan masalah 
Indonesia agar menjadi perhatian mereka bahwa di sana di Timur 
jauh ada 70 juta Kaum Muslimin Indonesia sebagai saudara mereka 
yang terikat dalam agama dan ketimuran sedang berjoang menun¬ 
tut kembali kedudiikan mereka di antara negeri-negeri yang hidup 
merdeka.” 

"Sebagai contoh, pada 6 September 1944, Radio Berlin ber¬ 
bahasa Arab menyiarkan 'ucapan selamat’ mufti Besar Palestina 
Amin Al-Husaini (melarikan diri ke Jerman pada permulaan 
perang dunia kedua) kepada Alam Islami, bertepatan 'pengakuan 
Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio 
tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan 
harian "Al Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan. 
Harian ini yang memang tugas saya selama ini menggarapnya, 
kebetulan dipimpin (alm) Abdul Hamid Al-Ghamrawi, wartawan 
Mesir yang selalu berbaju hitam dan berdasi hitam, alamat ber¬ 
kabung disebabkan pendudukan Inggris di Mesir, sangat simpati 
terhadap gerakan kami, sehingga dari saat itu kami tidak lagi 
bergiat sembuni-sembuni. Kedutaan Belanda di Kairo memban¬ 
tah berita itu di harian ”Le Journal d’ Egypte,” dengan menga¬ 
takan baru berupa ’janji’ dari Jepang, tetapi harian besar seperti 
”A1-Ahram” itu berdiri di samping kami, bantahan itu tidak di- 


40 




perhatikan rakyat Timur Tengah yang memang anti-Sekutu, 
termasuk Belanda 

”Suatu kebetulan yang sangat berharga, bahwa pada saat 
berita itu tersiar, Kongres Pan Arab yang kemudian menjelma 
menjadi Liga Arab mengadakan kongresnya yang pertama di 
Iskandariyah. Rapat umum Perpindom memutuskan mengutus 
Ismail Banda dan saya untuk menghubungi para peserta yang 
terdiri dari para Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Nega¬ 
ra-negara itu untuk menyampaikan nota menuntut : 

a - pengakuan atas kemerdekaan Indonesia, 

b — jaminan kesatuan Indonesia seperti sebelum pendudu¬ 
kan asing dengan tidak dibagi-bagi, dan 

c - ikut serta wakil-wakil Indonesia yang sebenarnya dalam 
menentukan soal-soal perdamaian sesudah perang. 

Nota yang kami majukan atas nama ”Perhimpunan Indone¬ 
sia Raya” itu mendapat perhatian para peserta. Perdana Menteri 
Irak J.M. Hamdi Al Bahjahji Pasya mengizinkan menyiarkan 
pernyataannya seperti berikut ini : 

”Indonesia harus merdeka. Karenanya ia itu satu bangsa, 
beragama satu dan mempunyai hak buat merdeka menurut At¬ 
lantic Charter dan tidak boleh dikembalikan kepada Belanda. 
Harapan besar bahwa negara-negara Sekutu akan membantu 
bangsa Indonesia mengkenyataankan aspirasi-aspirasi mereka. Ada¬ 
pun negara-negara Arab, kewajiban mereka ialah menyokong 
Indonesia guna mencapai kemerdekaannya.” 

Nota panjang yang memaparkan juga sejarah pergerakan kemerde¬ 
kaan itu, telah kami siarkan pada majallah ”Suara Perpindom” 
No. April 1945 untuk diketahui seluruh warga Indonesia yang 
berada di luar negeri. Pada mukaddimahnya kami katakan (de¬ 
ngan merobah ejaan) antara lain : 

”Diketika tuan-tuan berkumpul untuk memperbincangkan 
soal ’Pan Arabia’ dan di waktu kami bermohon kepada Tuhan 
Yang Maha Kuasa agar segala usaha tuan-tuan itu mendapat tau- 


41 



fik untuk keselamatan bangsa Arab terutama dan Kaum Muslimin 
seanteronya, diketika saat yang berbahagia ini, kami pemuda 
Indonesia yang berlindung di bawah "Perhimpunan Indonesia 
Raya” mengambil kesempatan untuk menyampaikan kepada 
tuan-tuan satu 'memorandum’ yang bersangkut dengan ’soal 
Indonesia’ yang didiami oleh 70 milyun diantara mana 90% 
tersusun dari Kaum Muslimin, dengan maksud agar tuan-tuan 
mengetahui aliran soal negeri Islam Timur ini semenjak ditimpa 
malapetaka penjajahan - sebagaimana juga negeri-negeri Timur 
lain — dan usaha-usaha perjoangan Bangsa Indonesia yang telah 
sadar akan hak-hak dan keadilan tuntutan-tuntutan negerinya 
dalam melepaskan dirinya dari malapetaka penjajahan ini, sehing¬ 
ga tercapai kemerdekaan yang penuh, dan penghargaannya yang 
penuh moga-moga negeri kami ini menjadi perhatian tuan-tuan 
pula.” 

Dan pada penutupnya, setelah menegaskan tiga tuntutan kami 
di atas itu, dikatakan : 

Maka P.I.R. yang melahirkan perasaan dan cita-cita dari 
70 milyun penduduk yang berpegang kuat dengan hak-haknya, 
mengharap sungguh agar soal negeri Islam Timur ini akan menjadi 
perhatian tuan-tuan, sehingga tuan-tuan akan bermurah hati 
mempergunakan kesempatan dan pengaruh tuan-tuan di hadapan 
kerajaan yang bersangkutan, sehingga pula tercapai segala tuntu¬ 
tan-tuntutan itu yang akhirnya Indonesia menjadi sendi yang 
kuat pada gedong kemuliaan Timur Baru, terutama sekali, dan 
pada gedong keamanan dunia yang kekal seanteronya. 

Meskipun usaha-usaha kami dikalangan Kongres itu sebenar¬ 
nya — seperti ternyata kemudian — berdasarkan kepada suatu 
informasi yang kurang tepat tetapi adalah sangat berfaedah bagi 
perjoangan kami kemudian, ketika kami menjalankan diplomasi’ 
revolusi’. Karena hubungan-hubungan kami dengan Kongres Pan 
Arab itu dan tiga tuntutan yang kami majukan, telah banyak 
merintis jalan bagi hubungan kemudian dengan 'Liga Arab dan 
tuntutan-tuntutan pengakuan de facto dan de jure sesudah Prokla¬ 
masi. 

42 



Yang berkuasa di Mesir waktu itu ialah Partai Al-Wafd yang 
memang menjadi tugas saya untuk selalu mendekatinya. Di sini 
kami telah dapat memanfaatkan hubungan-hubungan saya dengan 
Dr. Salahuddin Pasya, tangan kanan (alm) Mustafa Nahas Pasya, 
pemimpin partai tersebut , sehingga dapatlah dengan mudah kami 
menghubungi para peserta Kongres itu. Demikian pula hubungan- 
hubungan dengan Dr. Salahuddin Pasya itu, sebagai ahli hukum 
internasional, banyak faedahnya sesudah Proklamasi ketika beliau 
menerima menjadi penasehat hukum Panitya Pusat. 

Contoh kesempatan penting lagi yang kami pergunakan 
untuk mempertahankan hak bangsa Indonesia buat merdeka dan 
membentangkan tuntutan nasionalnya yang sesungguhnya, adalah 
konferensi internasional terbesar sebelum perang dunia kedua itu 
berakhir, yaitu San-Fransisco Conference, April 1945, yang 
menelurkan The Charter of the United Nations. Perhatian kami 
kepada konferensi ini bertambah setelah mengetahui bahwaBelan- 
da mengakui mewakili Indonesia dan untuk meyakinkan bahwa 
ia itu betul-betul mewakili, ia membawa Mr. Musa yang memang 
tidak percaya akan kesanggupan Indonesia buat hidup merdeka . 
Dalam laporan kami kepada masyarakat Indonesia di luar negeri 
yang disiarkan majallah ”Suara Perpindom” No. Mei-Juni 1945, 
dengan judul ”Soal Indonesia di San-Franeisco” tercatat sebagai 
berikut : 


”Kepada Sekretariat San-Francisco Conference, kepada utus¬ 
an-utusan yang dirasa ada perhatian terhadap Indonesia dan 
kepada surat-surat kabar di Timur dan di Barat, telah dikirim¬ 
kan puluhan 'Memorandumdi mana digambarkan soal 
Indonesia dengan jelas dan diminta supaya dapat perhatian 
sepenuhnya. Utusan-utusan yang lewat Kairo dalam perjalan¬ 
annya ke San-Francisco, semuanya dijumpai, diberi kete¬ 
rangan-keterangan, serta dipesani dengan erat-erat agar mere¬ 
ka turut membela Indonesia di Pertemuan Besar itu. Semua 
mereka berjanji akan berbuat apa yang mungkin guna mem- 


43 



bela Indonesia dan negeri-negeri Timur. Supaya lebih erat 
lagi, telah dihubungi Raja-raja dan Perdana-perdana Menteri 
yang mempunyai utusan, agar utusan-utusan itu dipesani oleh 
Raja-raja dan Perdana-perdana Menteri tadi. Ketika Con- 
ference hampir bersidang, Badan Politik telah mengirim 
beberapa kawat kepada utusan-utusan tersebut untuk mengu¬ 
atkan lagi.” 

”Ini semua telah diusahakan. Tetapi B.P. (Badan Politik) 

belum puas.jika utusan Indonesia sendiri belum sama 

membicarakan nasib bangsa-bangsa di antaranya bangsa 
Indonesia.... Tetapi jalan tertutup rapat bagi Indonesia .... 
sehingga merasa perlu mengirimkan kawat kepada Sekretariat 
Conference, menyatakan bahwa utusan Belanda tidak sekali- 
kali mewakili bangsa Indonesia 

Tidak perlu saya nukilkan bunyi memorandum yang dikirim 
ke Konferensi itu, tetapi cukup penutupnya saja sebagai berikut: 

”Sesudah Indonesia dan Belanda jatuh, Ratu Wilhelmina 
memberi janji pula. Menurut janji itu, Inodnesia nanti akan 
jadi satu bagian dari Kerajaan Belanda, dan akan sama hak¬ 
nya dengan Belanda ?! Tetapi bangsa Indonesia heran, ke¬ 
napa negerinya musti jadi satu bagian dari Kerajaan Belanda, 
dan sebagai satu bangsa kenapa tidak berhak merdeka penuh 
sebagaimana sediakala, sebelum datang bangsa asing ?” 

”Bangsa Indonesia tidak berkeberatan buat kerja bersa¬ 
ma-sama dengan bangsa lain untuk kemakmuran umum, 
tetapi mereka mau merdeka dahulu. Ini hak mereka asli se¬ 
bagai satu bangsa, hak yang tak dapat tidak musti mereka 
pertahankan selama-lamanya.” 

"Benar bahwa Indonesia, oleh sebab lamanya dalam 
alam jajahan yang gelap gulita, belum sama dengan bangsa 
dan negeri-negeri besar yang kelas satu. Tetapi tak dapat 
disangkal lagi bahwa bangsa Indonesia sekarang tidak kurang 
kemampuannya buat merdeka penuh dari negeri-negeri lain 





yang diakui dunia kemerdekaannya. Oleh karena itu perkara 
ini kita serahkan kepada sidang ramai untuk ditimbang dengan 
adil. Kami percaya akan keyakinan bangsa Indonesia yang 
telah kami bentangkan di atas tadi, ia akan terus berjoang 
dengan sekuat tenaga untuk mencapai serta mempertahankan 
kemerdekaannya, serta ia tidak akan rela menerima aturan- 
aturan apa saja yang mengandung arti perhambaan dan per¬ 
budakan dari pihak manapun jua, dan dengan kalimat apapun 
jua.” 

”Kami berharap dengan penuh kepercayaan bahwa 
tuan-tuan pencinta merdeka yang telah berperang guna mem¬ 
pertahankan kemerdekaan, akan menunjang 70 milyun jiwa 
dari bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan¬ 
nya.” 

Tuntutan Nasional Indonesia 

Dari contoh-contoh di atas itu, gerakan pemuda Indonesia 
di luar negeri selama perang itu telah menyusun-nyusun tuntutan- 
tuntutan nasional Indonesia, 1 dan ternyata sesuai dengan tuntutan 
R.I. sesudah Proklamasi. Dalam laporan kami pertama kepada 
Pemerintah R.I. Agustus 1946, kami katakan : 

"Segala rupa surat dan memorandum yang kita sampaikan 
kepada Arab League dan United Nations Organization, selain dari 
dalil-dalil tentang hak-hak bangsa Indonesia untuk hidup merdeka 
yang bersandar kepada sejarah, sosial, ekonomi dan politik, adalah 
mempunyai tiga tuntutan, yaitu : 

a— kemerdekaan Indonesia, 

b— kembali segala tanah-tanah Indonesia sebagaimana sebe¬ 
lum dimasuki bangsa asing dengan tidak dibagi-bagi, dan 

c— turut wakil Indonesia yang sejati di Rapat Perdamaian 
yang akan datang dan segala rapat yang menyangkut 
Indonesia.” 


45 



Usaha Infiltrasi Komunis 

Setelah Uni-Soviet mengadakan ’Treaty of Alliance dengan 
Inggeris dan Iran (Januari 1942), ia sudah agak bebas bergerak di 
Timur Tengah. Dari itu ia berusaha menyelusup ke dalam gerakan 
pemuda Indonesia-Malaya di sana, dengan mengirim (Dr.) Semaun 
pemimpin komunis Indonesia yang bermukim di Moskow semen¬ 
jak tahun dua-puluhan, dan waktu itu bertugas liaison offiser bagi 
tentara Uni-Soviet di Teheran. Ia datang ke Irak dengan maksud 
mengumpulkan warga Indonesia di luar negeri guna dilatih di 
kamp-kamp Amerika dan kemudian dijatuhkan di wilayah Indone¬ 
sia bersama-sama tentara Sekutu melawan Jepang. Kami setuju, 
tetapi tidak hanya untuk membebaskan Indonesia dari Jepang, 
tetapi dari semua tentara asing, termasuk tentara Sekutu. Semen¬ 
tara surat-menyurat antara Baghdad, Kairo dan Saudi Arabia, ia 
ditangkap oleh kekuasaan militer Inggris di Irak, mungkin karena 
dicurigai sebagai mata-mata Uni-Soviet. Sesudah sebulan dalam bui 
Baghdad, dan mungkin mengira akan dihukum mati, ia mengaku 
kepada Imron Rosyadi (S.H.) bahwa namanya yang sebenarnya 
bukanlah Muhammad Ali, sebagai dikatakannya semula, .tetapi 
Semaun yang sudah beristeri orang Rusia dan mempunyai anak 
di Akademi Angkatan Laut Rusia. Ia berpesan sekiranya ia mati, 
supaya cincin dan gambarnya bersama isterinya itu dikirimkan ke 
Moskow. Dengan demikian gagallah usaha infilterasi komunis ke 
dalam tubuh perjoangan kami di Timur Tdngah, meskipun dicoba 
lagi kemudian oleh Setiajit, ketika ia menjabat Wakil Perdana R.I., 
dalam perjalanannya pulang-pergi ke Denhaag melalui Kairo, dalam 
rangka perundingan Renville. 

Menyelamatkan Mana Yang Dapat Diselamatkan ? 

Pada pertengahan tahun 1945 tanda-tanda kemenangan Seku¬ 
tu di Eropa dan Timur Jauh semakin kelihatan. Hal ini memberi 
pengaruh juga ke dalam tubuh Panitia Enam. Ismail Banda merasa 
sudah waktunya kami menyesuaikan diri dengan perkembangan 
itu, dengan dasar menyelamatkan mana yang dapat diselamatkan. 


46 



Ia mengajak supaya keija-sama dengan Sekutu, sehingga jika 
tentaranya nanti menduduki Indonesia, kami akan dapat berbicara 
sebagai 'partner.’ Pendapatnya itu kami tentang. Setelah dua hari 
diperdebatkan dan ia tetap pada pendiriannya, malah bertekad 
hendak membawanya ke rapat umum, kami mempersilahkannya, 
bahkan beijanji tidak akan menentangnya di muka umum, meski¬ 
pun secara diam-diam kami tetap mengajak supaya jangan terpe¬ 
ngaruh oleh perkembangan perang itu, dengan menegaskan bahwa 
bangsa Indonesia sudah bersiap-siap pula buat menghadapi segala 
kemungkinan. Saya sendiri menjauhkan diri ke Iskandariyah, di 
mana dapat mengumpulkan 40 orang klasi kapal Indonesia seper¬ 
ti saya ceritakan di atas itu. Ismail Banda gagal dan reaksi masya¬ 
rakat demikian kerasnya, sehingga menuduhnya 'pengkhianat’ 
dan dijatuhkan dari kedudukannya sebagai ketua Badan Politik 
Perpindom. Dua kali rapat umum memilih saya sebagai gantinya, 
tetapi menolak, selama tuduhan 'pengkhianat' itu tidak dicabut. 
Perpindom menekan saya, dengan mengancam akan mengangkat — 
tanpa pemilihan, karena memang selama ini ketua B.P. itu ditunjuk 
sebagai satu bagian dari Perpindom — sebagaimana disampaikan 
kepada saya oleh Fuad Fakhruddin (Dr.) dan (alm) Abdulgani Beg 
dari pimpinan Perpindom, akan mengangkat (Dr.) Kaharuddin Yu¬ 
nus, yang selama ini tidak pernah diikutkan dalam B.P., karena 
kurang diterima oleh masyarakat. Disebabkan tuduhan di atas itu 
tidak dicabut, saya tetap pula menolak dan Perpindom terpaksa 
meneruskan ancamannya itu. Suasana hangat ini terjadi hanya 
sebulan sebelum Proklamasi. 

Hasi-hasil Perlawanan Di bawah Tanah 

Meskipun peijoangan selama perang dunia kedua itu dalam 
suasana tertekan, tetapi telah banyak memberi hasil-hasil yang 
positif, antara lain : 

a— Usaha Belanda untuk mengumpulkan warga Indonesia 
di luar negeri boleh dikatakan gagal total. Mereka yang 


47 



tertipupun kembali memihak kepada bangsanya sesudah 
Proklamasi, sebagai yang kami anjurkan. 

Rakyat Arab di Timur Tengah telah dapat diberi penger¬ 
tian akan aspirasi-aspirasi nasional Indonesia yang sebe¬ 
narnya, yang tidak dapat didamaikan oleh janji Ratu 
Wilhelmina th. 1942, 

Berita 'pengakuan’ Jepang atas kemerdekaan Indonesia, 
meskipun ternyata keliru, tetapi dengan memperguna¬ 
kannya sejauh mungkin, telah banyak merintis jalan 
bagi usaha kami kemudian memperoleh pengakuan de 
facto dan de jure R.I. oleh negara-negara Arab, 

Pendekatan kepada parpol-parpol dan ormas-orm as serta 
mass-media setempat, banyak sekali menolong kami bagi 
menjadikannya sebagai kelompok-kelompok pendorong 
(pressing groups) terhadap pemerintah-pemerintah me¬ 
reka untuk menyokong Indonesia sesudah Proklamasi, 

Kerjasama yang telah terpusuk selama perang itu antara 
masyarakat Indonesia di Mesir, Saudi Arabia dan Irak, 
dan juga dengan mereka yang berada di wilayah-wilayah 
lain melalui majallah "Suara Perpindom”, telah melahir¬ 
kan suatu sikap sama yang spontan, simultan dan merata 
dari ribuan warga Indonesia yang terpancar di luar negeri 
dalam menyokong Proklamasi, sebagai dibuktikan oleh 
lahirnya puluhan Panitia di seluruh dunia, sesudah Pro¬ 
klamasi, dan beramai-ramainya klasi kapal-kapal warga 
Indonesia meninggalkan kapal-kapal Sekutu sebagai 
solidaritas dengan bangsa mereka. 



PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945 
Usaha ’black out’ Proklamasi di Timur Tengah 

Ketika kemerdekaan Indonesia diumumkan, alat-alat sensor 
Sekutu di Timur Tengah menutup erat supaya Proklamasi itu 
tidak tersiar di daerah itu, karena diperkirakannya akan, mendapat 
sambutan hangat. Rakyat Arab yang selama perang itu men¬ 
derita tekanan-tekanan berat dari kekuasaan militer Sekutu, akan 
merasa lega sekiranya Sekutu mendapat tentangan baru. Maka 
sampai akhir Agustus 1945 berita Proklamasi itu belum diketahui 
umum di sana. Baru pada permulaan September Mansur Abu 
Makarim membacanya dalam majallah ”Vrij Nederland” dan 
segera menyampaikannya kepada kami. Tetapi penyiarannya 
masih terlambat dua hari, karena pimpinan B.P. yang baru 
masih ragu-ragu. Pertama disebabkan mereka tidak tahu bahwa 
M.A. Makarim adalah informan kami pada Kedutaan Belanda, 
dan kedua karena soal nama badan yang akan mengumumkannya. 
Karena Indonesia sudah merdeka, kami berpendapat nama ”Pa- 
nitia Pembela Kemerdekaan Indonesia” (Lajnatud Difa’i ’Anistiq- 
lali Indonesia) akan lebih tepat, sedang mereka mempertahankan 
nama "Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia,” ( Jam’iyatulstiq- 
lali Indonesia), dengan keringkasan P.K.I. 

Sambutan Hangat 

Berita yang menggembirakan dan bersejarah itu disambut 
hangat oleh mass-media. setempat. Surat-surat kabar menyiarkan- 


49 



nya dengan huruf-huruf besar di halaman muka, sedang pengulas- 
pengulas berita dari pers dan radio menyambutnya dengan penuh 
simpati. Adalah suatu kesempatan baik bagi mereka untuk me¬ 
lampiaskan kutukan kepada negara-negara Sekutu kolonial, yang 
selama perang besar itu menginjak-injak kedaulatan negara mereka. 
Pengumuman kemerdekaan Indonesia memenuhi hasrat mereka 
akan timbulnya kebangkitan Timur di atas puing-puing yang di¬ 
akibatkan perang yang tidak mengenal kemanusiaan itu. Bukankah 
harga seorang manusia Arab waktu itu hanya sepuluh pound 
Mesir, jika dibunuh atau dilindas kendaraan militer Sekutu tanpa 
hak mengadu atau menahan kenderaan yang melindas itu? Indo¬ 
nesia memenuhi hasrat mereka, karena ialah bangsa pertama se¬ 
sudah perang itu bangkit menyatakan kebebasan dirinya. 

Naskah Proklamasi 

Sebelum Delegasi R.I. yang dipimpin (alm) Haji Agus Salim 
sampai di Kairo pada bulan Maret 1947, kami belum menge¬ 
tahui dengan pasti kissah Proklamasi dan juga belum pernah 
membaca naskahnya. Untuk memberi gambar yang mengesankan 
kepada rakyat Arab di Timur Tengah, kami membuat gambar 
dan naskah sendiri, yang kerangkanya kami ambil dari ’ cerita- 
cerita’ sana-sini yang sampai ke telinga kami. Kami mendengar 
pengumuman kemerdekaan, rapat raksasa di lapangan Gambir, 
pertempuran yang terjadi dengan tentara Jepang yang telah 
menyerah, tetapi bertugas mempertahankan status-quo dan se- 
bagainya. Dari bahan ini kami buatlah gambar yang kami nukil¬ 
kan pula dalam buku ’Tndonesia As-Sairah” (Indonesia Be- 
Revolusi) halaman 171 yang kami terbitkan pada peringatan 
ulang tahun pertama Proklamasi sebagai berikut : 

”Sebuah bom atom dijatuhkan di Hirosyima dan sebuah 
la gi di Nagasaki. Jepang menyerah dan Maharaja-dirajanya me¬ 
merintahkan kepada angkatan bersenjatanya yang berada di 
daerah pendudukan supaya mengikuti perintah Komando Ter- 

50 






tinggi Sekutu. Komando ini memerintahkan supaya mereka jangan 
menyerahkan kekuasaan di wilayah itu kepada rakyat pendu¬ 
duknya.” - . 

"Rakyat Indonesia dikejutkan oleh penyerahan Jepang, te¬ 
tapi mereka sebenarnya telah bersedia-sedia untuk mencetuskan 
revolusi umum. Semangat mereka meluap, sedang semangat ten¬ 
tara Jepang mendingin mendekati zero. Meskipun demikian, 
karena tunduk kepada Komando Sekutu, mereka tidak mau 
menyerahkan kekuasaan kepada rakyat Indonesia; sebaliknya 
bersiap-siap untuk menumpas setiap gerakan revolusioner yang 
hendak merebut kekuasaan itu.” 

"Pada 17 Agustus 1945, hari Proklamasi kemerdekaan 
Indonesia dan berdirinya Republik Indonesia, tentara Jepang 
yang bersenjata tank-tank dan sebagainya, telah mengepung 
Lapangan Gambir, lapangan terbesar di ibukota Indonesia, Ja¬ 
karta, karena pemuda-pemuda Indonesia bersenjata ringan telah 
diperintahkan supaya berkumpul di lapangan tersebut dan menye¬ 
rang tentara Jepang itu sekiranya mereka berkeras melarang 
mengadakan rapat umum di sana. Yang terjadi ialah bah¬ 
wa tentara Jepang melarang ribuan pemuda bersenjata itu me¬ 
masuki lapangan, sehingga bagaikan singa lepas dari kandang, 
dengan pekik ’Merdeka’ mereka menyerang tentara Jepang itu. 
Pertempuran berdarah berakhir dengan kemenangan bagi pemuda 
yang bersenjatakan keimanan membaja pada tanah-airnya atas 
kekuatan Jepang yang telah lesu." 

"Maka terkumpullah ribuan pemuda bersenjata di Lapangan 
Gambir, lengkap dengan bendera-bendera berwarna merah-putih. 
Pada saat yang menentukan dalam sejarah Indonesia ini. di tengah 
lautan manusia yang bergelora kebangsaan itu, kelihatan sebuah 
mobil yang dijaga ketat oleh pemuda-pemuda bersenjata, bahkan 
di atapnya kelihatan beberapa pemuda bersenjata mitrailleuse 
menuju ke podium yang didirikan tergesa-gesa, di tengah-tengah 
pekik ’Merdeka’ yang memecah langit, sebagai tanda kehormatan 


51 



bagi orang-orang yang di dalamnya. Orang-orang itu tidak lain 
dari Ir. Sukarno dan Dr. Muhammad Hatta. Mereka disambut 
dengan pekik kebangsaan yang gemuruh dan dentuman senapan 
yang memecah telinga, sebagai penghormatan dan tanda kese¬ 
diaan mereka untuk membela tanah-air. Sukarno yang terkenal 
ahli-pidato utama di Indonesia tidak berpidato. Beliau hanya 
mengajukan dua pertanyaan : ’Apa yang saudara-saudara kehen¬ 
daki?’ Pertanyaan itu dijawab' mereka dengan suara serentak yang 
bagaikan petir : Kemerdekaan. ’Apakah saudara-saudara bersedia 
mempertahankannya?’ ’Dengan darah dan nyawa kami,’ jawaban 
mereka pula. Setelah mendengar jawaban mereka yang tegas- 
tangkas itu, beliau berkata :”ATAS NAMA BANGSA INDONE¬ 
SIA, KAMI — SAYA DAN HATTA — MENGUMUMKAN KE¬ 
MERDEKAAN INDONESIA.” 

Demikianlah gambaran khayal kami akan Proklamasi kemer¬ 
dekaan Indonesia. Ketika masyarakat Arab menyaksikan ’Filem 
Proklamasi’ yang dibawa Delegasi Pak Salim pada tahun 1947, 
yang mempertunjukkan rapat raksasa di Lapangan Gambir, me¬ 
reka teringat kepada gambar khayalan yang pernah kami beri¬ 
kan kepada mereka, yang seolah-olah menjadi saksi atas kebe¬ 
naran gambara itu. Sebenarnya kami telah mendapat kesempatan 
untuk mengecek kebenaran gambaran tersebut kepada Delegasi 
SuWandi yang singgah di Kairo (7/4/46), tetapi keinginan untuk 
memanfaatkan kunjungan yang singkat itu sejauh mungkin, 
telah ’mengganggu’ ingatan kami buat menanyakan kissah Pro- 
kalamasi yang menarik itu. 

Perobahan Pimpinan Panitia (Komite) 

Tanpa menghiraukan apakah pimpinan "Perkumpulan Ke¬ 
merdekaan Indonesia,” yang merupakan badan atau panitia po¬ 
litik dari Perpindom, disukai atau tidak, kami semua merasa 
terpanggil untuk mencurahkan seluruh tenaga guna menyebar¬ 
luaskan berita pengumuman kemerdekaan itu dan menyiapkan 
segala sesuatu yang diperlukan dalam menghadapi kemungkinan- 


52 



kemungkinan yang akan timbul dari pengumuman itu. Karena, 
jika bangsa-bangsa yang tertekan merasa lega dan menyokong 
tindakan bangsa Indonesia itu, banyak pula kekuasaan yang bu¬ 
kan saja tidak menyukainya, tetapi pula menentangnya. ”Black 
out” berita itu selama lebih tiga minggu di Timur Tengah dan 
sekitarnya, adalah bukti adanya tantangan itu. 

Pimpinan Perpindom melihat ketidak-seayun antara panitia 
dan para pembantu, karena kegiatan pemimpinnya lebih diarah¬ 
kan kepada "mengumpulkan” dokument-dokument yang disya- 
ratkannya harus menjadi hak ’pribadi’-nya. Dari itu ia segera 
mengambil tindakan dengan mengganti Kaharuddin Yunus de¬ 
ngan Fouad Fakhruddin. Keseayunan-langkah dapat diciptakan, 
tetapi Fouad Fakhruddin sendiri seperti terdapat dalam surat 
Perpindom kepadanya ’masih perlu meneruskan pelajarannya,’ 
sedang ’menurut pemandangan umum dari mahasiswa-mahasiswa 
Indonesia di Kairo, di Hejaz dan Irak, bahwa yang akan menjadi 
ketua Panitia hendaklah orang yang sanggup 100% menyerahkan 
tenaga, pikiran dan waktunya buat peijoangan,’ maka oleh Per¬ 
pindom disampaikan kepada saya bahwa Rapat telah mengangkat 
saudara menjadi ketua Panitia dengan syarat-syarat yang akan 
diteruskan oleh utusan kami. Syarat-syarat yang disampaikan 
kepada saya antara lain adalah harus menyerahkan seluruh te¬ 
naga, pikiran dan waktu untuk peijoangan, dengan ketentuan 
pula bahwa saya tidak perlu memikirkan keperluan saya sehari- 
hari, termasuk makan siang dan malam yang oleh seorang 
sukarelawan telah disanggupi menyediakannya. O 

Sekarang saya menerima pengangkatan itu dengan penuh 
kerelaan, beserta syarat-syaratnya. Karena setelah Ismail Banda 


1). Di lini saya mengucapkan terimakasih kepada (Prof.) M. Taher Abdul Muin, 
sekarang Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN, yang telall bersukarela sampai ia 
pulang pada akhir 1946, dan kepada (alm) Y asi n Abdul Majid, penulis (khattat) 
Al Qur-an Pusaka R.I. yang menggantikannya bersukarela; semoga Tuhan mem¬ 
balas jasanya dengan Rahmat dan ampunan dan memasukkannya ke lannatun 
Na-im. Amin! 


53 



turut diangkat* tidak ada alasan lagi buat menolaknya,bahkan di 
saat seperti itu saya sudah merasa wajib menerimanya. Untuk 
kepentingan peijoangan, saya harus mengorbankan pelajaran sama 
sekali, sehingga bahan-bahan yang sudah saya kumpulkan selama 
dua tahun sesudah mencapai Licence es Lettres dari Fouad I 
University (sekarang Cairo University) guna menyiapkan buku 
(risalah) yang telah ditetapkan Majlis Univeristas dengan judul 
"Kemerdekaan Dalam Islam” (Al-Hurriatu fil Islam) di bawah 
pimpinan Prof. Dr. Ali A. Wahid Al-Wafi, harus saya tinggalkan 
sampai titel ilmiah (Dr.) yang tadinya diidam-idamkan. Dengan 
demikian susunan baru Panitia adalah sebagai berikut : 


1— Muhammad Zein Hassan, 

Ketua, 

2- Abduljalil Hassan (Tan Sri, Malaysia) 

3- Ahmad Hasyim Amak 

Wakil Ketua, 
Sekretaris Urusan 
Timur, 

4— Salahuddin M. Nur 

Sekretaris Urusan 
Barat, 

5- M. Nur Asyik (M,.A.) 

Bendahara, 

6- Ismail Banda (M.A. alm) 

Anggota, 

7— Fouad Fakhruddin (Dr.) 

Anggota, 

8— Abdulrahman Ismail (M.A. alm) 

Anggota, dan 

9— Abdulgani Beg (alm) 

Anggota. 


'Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia’ yang tadinya di 
Timur Tengah dikenal oleh warga Indonesia dengan huruf besar¬ 
nya saja, untuk menghindarkan kekeliruan, akan saya sebut saja 
’Panitia’ dan telah menjadi badan otonom, setelah meluas ker¬ 
janya sesudah Proklamasi. Keuangannya hanya dikumpulkan dari 
tiap-tiap warga Indonesia satu pound Mesir, dipotong dari hutang 
kepada Kedutaan Belanda yang telah dinaikkannya menjadi tujuh 
pound, dalam usahanya menarik hati mereka. Tidak dibenarkan 
minta bantuan luaran, karena pengalaman di tanah Arab menunjuk¬ 
kan bahwa sekali meminta bantuan, pintu pemberi telah tertutup 
bagi si penerima. Padahal tugas berat Panitia memerlukan hubung- 

54 






an-hubungan yang terus menerus dengan seluruh masyarakat se¬ 
tempat. Kepada seluruh parpol dan ormas-ormas setempat kami 
peringatkan supaya menyampaikan kepada kami nama-nama warga 
Indonesia yang menghubungi guna minta bantuan. Karena kamilah 
yang menentukan siapa sebetulnya yang perlu menerima bantuan 
tambahan. Sehingga dengan demikian beberapa nama telah 
tertangkap basah, karena mencoba mempergunakan simpati orang 
lain untuk kepentingan sendiri. 

Rencana kerja. Dalam hubungan-hubungan kami dengan 
parpol-parpol selama perang besar kedua dan hubungan-hubungan 
kami dengan Liga Arab, telah terjalin hubungan baik dengan Dr. 
Muhammad Salahuddin Pasya, Sekretaris Jenderal Kongres Pan 
Arab yang menjelma menjadi Liga Arab, tangan kanan Partai Al- 
Wafi dan seorang ahli hukum internasional terkemuka di Timur 
Tengah. Sesudah Proklamasi beliau menerima menjadi Penasehat 
Hukum Panitia Kairo. Pada tingkat pertama peijoangan Panitia, 
beliau menasehatkan supaya menekankan pada terciptanya de 
facto kebebasan warga R.I. di luar negeri dari 'perwalian’ Belanda. 
Beliau mengatakan : 

”01eh karena di Indonesia bangsa Indonesia dengan Prokla¬ 
masi itu telah mewujudkan d e facto kekuasannya atas wila¬ 
yah Indonesia, maka kewajiban pertama warga Indonesia dimana 
saja ia berada adalah mewujudkan pula d e facto kebebasan¬ 
nya dari 'perwalian' Belanda di luar negeri. Sekiranya de facto ke¬ 
bebasan itu diakui oleh pemerintah setempat, akan berarti pula pe¬ 
ngakuan pemerintah itu atas de facto kekuasaan Indonesia itu 
atas rakyatnya di luar negeri. Ini tidak berarti bahwa usaha pe¬ 
ngakuan de jure diabaikan. Kedua usaha itu pada prakteknya ada¬ 
lah bergandengan. Tetapi tercapainya yang pertama akan memper¬ 
cepat berhasilnya yang kedua, sebagaimana dalam negeri juga.” 

Maka berdasarkan pandangan itu, rencana kerja Panitia dapat 
disimpulkan sebagai berikut : 

a- menciptakan de facto kebebasan warga Indonesia di luar 

negeri dari 'perwalian’ Belanda; 


56 



b- mendapatkan pengakuan de facto dan de jure Republik Indo¬ 
nesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat; 

c- mendesak penarikan tentara Inggris - yang dibuntuti tenta¬ 
ra Belanda — yang telah mulai mendarat di Indonesia pada 
bulan September 1945; 

d- menuntut pembubaran N.I.C.A. (Netherlands Indies Civil 
Administration) yang menjadi biang keladi ’kekacauan’ di 
Indonesia, dan 

e— mengusahakan ikut-serta wakil Indonesia pada tiap-tiap per¬ 
temuan internasional yang menyangkut Indonesia. 

Koordinasi Antara Panitia-Panitia di Timur Tengah 

Keijasama antara gerakan menentang Belanda di Timur Te¬ 
ngah (Kairo, Mekkah dan Baghdad) telah mulai semenjak perang 
besar kedua dan bertambah erat sesudah Proklamasi. Tetapi masih 
dirasakan perlunya koordinasi yang lebih terarah. Kebetulan Mu¬ 
sim Haji tahun itu jatuh pada bulan Nopember 1945. Kesempatan 
itu kami pergunakan untuk pertemuan ketiga pusat perjoangan di 
Timur Tengah itu. Panitia Kairo diwakili oleh Fouad Fakhruddin 
dan Said Muhyidin, Baghdad oleh (Prof.) H. Syafi’i Abdulkarim 
dan Mekkah oleh H.M. Jaafar Zaenuddin, Nuri Encik dan (alm) 
Abdullatif Sijanten. Pertemuan yang merupakan konferensi kerja 
itu terjadi pada 13 Nopember 1945 di Tanah Suci Mekkah. Kon - 
ferensi memutuskan antara lain : 

a— menerima Rencana Kerja Panitia Kairo di atas sebagai renca¬ 
na bersama, dan 

b- menjadikan Panitia Kairo sebagai Panitia Pusat dan Panitia- 
panitia Mekkah dan Baghdad sebagai cabang, mengingat 
kedudukan Kairo sebagai pusat kegiatan Arab serta kemung¬ 
kinan-kemungkinan dan fasilitas-fasilitas yang ada pada 
Panitia Kairo guna melaksanakan Rencana Kerja tersebut. 


57 



Anggota pimpinan Panitia cabang 
berikut : 

1— H.M. Jaafar Zaenuddin 

2— Muhammad Taib Saman 

3— Kgs Nuri Encik 

4— Nurdin Hanafi Aceh 

5— Nurhasan Palembang 

6— Nawawi Khalid 

7— A. Hamid Arabi 

8— Abd. Latif Sijanten 

9— Junaidi Sumbawa 

10- Mustafa Kemal Batubara 
11 - Amir Hakim Padang 


Saudi Arabia adalah sebagai 
Ketua 

Wakil Ketua, 
Sekretaris I, 
Sekretaris II, 
Komisaris, 
Komisaris, 

• Penasehat, 
Penasehat, 
Penasehat, 
Penasehat dan 
Penasehat. 


Adapun susunan pimpinan Panitia cabang Irak, adalah . 

1 - Imron Rosyadi (S.H.) 

2- M. Rasyid Bayuni 

3— Zaidan Abdul Samad 

4- Muhammad Syafi’i Abdulkarim (Prof.) 

5- Muhsin Ahmad (Malaya) 

6— Uthman Aib 

7— Hasyim Abdullah 

Musim haji pertama ini sesudah Proklamasi, kami gunakan 
sebaik-baiknya buat menghubungi para haji dari seluruh dunia 
supaya mereka menjadi penghubung di negeri mereka masing- 
masing dalam menyokong perjoangan Indonesia dan mendorong 
pemerintah mereka supaya mengakui Republik Indonesia. Brosur- 
brosur yang dibawa wakil-wakil Panitia Kairo dibagi-bagikan de¬ 
ngan meluas di kalangan jemaah haji itu yang berisi penerangan 


Ketua, 

Sekretaris, 

Bendahara, 

Pembantu, 

Pembantu, 

Pembantu dan 

Pembantu. 


58 




59 


Pimpinan Panitia cabang Irak : 

Di tengah-tengah bersorban H. Syafii A. Karim, di belakangnya langsung 
berdiri Imron Rosyadi (Ketua), di kanannya duduk, Rasyidi B ayuni Sekre¬ 
taris dan ( dikiri Ketua) Zaidan Abdulsamad, Bendahara. 




tentang situasi yang sebenarnya di Indonesia dan bantahan bahwa 
R.I. adalah ’made in Japan’ dan Sukarno—Hatta ’boneka-boneka 
yang digerakkan militer Jepang. Pada penutupnya terdapat seruan 
berikut: 

”Apabila kaum penjajah telah bersatu-padu mempertahan¬ 
kan kejahatan (batil), dan keijasama dalam menindas bangsa- 
bangsa Muslim dan merampas hak-hak mereka, apakah tidak 
lebih patut kita Kaum Muslimin bahu-membahu guna mem¬ 
pertahankan hak-hak kita dan mempertahankan kemerdekaan 
negara-negara kita. Maka adalah menjadi kewajiban saudara- 
saudara Muslimin, di saat Indonesia Muslim menghadapi 
situasi yang sesulit-sulitnya dalam sejarahnya, untuk meng 
ambil langkah-langkah yang positif buat membantu negara 
pejoang yang sedang berlumur darah itu, dan tindakan-tin¬ 
dakan yang menentukan untuk : 

mendesak negara-negara Arab dan Islam supaya segera 
mengakui R.I., 

menuntut semua negara di dunia supaya mengakui R.I. 
dan memengertikan mereka bahwa campur tangan 
mereka di Indonesia dengan maksud menyokong Belan¬ 
da, membangkitkan kemarahan Kaum Muslimin dan 
menghilangkan kepercayaan terhadap piagam-piagam in¬ 
ternasional yang baru, 

mengutuk segala macam bantuan yang diberikan kepa¬ 
da Belanda dalam agressinya yang tercela di Indonesia, 
dan 

d— membangkitkan semangat solidaritas sesama umat 
Islam. 

Langkah Pertama 

Musim haji itu telah memungkinkan bagi para peserta kon - 
ferensi segi-tiga itu untuk melangkah ke arah pengakuan ’de facto’ 
kebebasan warga Indonesia di luar negeri dari ’perwalian’ Belanda. 



60 



Karena di Tanah Suci itu buat pertama kali dalam sejarah hubung¬ 
an Indonesia — Saudi Arabia, Raja Ibnu Saud menerima audensi 
para wakil masyarakat Indonesia di Mesir, Irak dan Saudi Arabia itu 
langsung tanpa perantaraan Kedutaan Belanda di sana, sebagai 
biasanya selama ini. 

Keijasama Antar-Panitia Di seluruh Dunia 

Dengan pengumuman kemerdekaan Indonesia, di seluruh 
dunia telah terbentuk 25 Panitia (komite) yang terdiri dari maha¬ 
siswa, buruh kapal, dan ex-Digulis yang terpancar di seluruh dunia 
itu. Panitia-panitia yang lahir spontan dan simultan itu bertugas 
menyokong Proklamasi, mempertahankannya dan mendesak ne¬ 
gara-negara di dunia supaya mengakui R.I. Keijasama antar-Panitia 
itu sedikit demi sedikit berjalan lancar, terutama dalam pertukar¬ 
an bahan-bahan dan info-info yang sangat diperlukan, terutama 
sekali pada tahun-tahun 1945 dan 1946, sebelum didapat hubung¬ 
an langsung dengan Indonesia. 

Kesulitan-kesulitan yang* dihadapi. 

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi Panitia-panitia diiuar ne¬ 
geri pada bulan-bulan pertama Proklamasi adalah tuduh-tuduhan 
yang dilancarkan Sekutu — terutama Belanda - bahwa Sukarno- 
Hatta adalah ”collaborator” dan R.I.'. adalah "made in Japan” 
Bagi kami di Timur Tengah tidaklah demikian berat mengatasi¬ 
nya, karena selama perlawanan dibawah tanah nama-nama pe¬ 
mimpin-pemimpin itu telah dikenal melalui karya-karya mereka 
sendiri sebagai pemimpin Indonesia. Buku-buku ”Dasar dan Tu¬ 
juan Pergerakan Kebangsaan Indonesia,” oleh Dr. Muhammad 
Hatta dan "Mencapai Indonesia Merdeka” oleh Ir. Sukarno serta 
Pembelaannya dihadapan pengadilan kolonial yang disiarkan, 
"Majallah Indonesia” dan demikian pula "Masa Aksi” oleh Tan 
Malaka, telah dikenal masyarakat Arab dari penerangan-penera¬ 
ngan yang kami berikan selama perang itUydengan mengemukakan, 
nama-nama dan pandangan-pandangan nasional mereka itu. 



Sementara itu dari semula propaganda kami di Timur Tengah 
memang ditujukan pada pencetusan sentimen seagama yang ter¬ 
nyata sangat effisien dalam menarik sokongan mereka atas dasar 
solidaritas Islam. Pada hari-hari pertama adalah keharusan bagi 
kami setiap kali disebut nama ”Sukarno” untuk menjawab per¬ 
tanyaan : ”Apakah ia itu Muslim ?” Buat Bung Hatta sudah ada 
tanda ”Muhammad.”Maka terkhatir dalam hati kami kenapa tidak 
kami tambahkan saja ”Ahmad” pada pangkal ”Sukarno,” seba¬ 
gaimana kebiasaan orang Islam Indonesia yang menambahkan 
'Muhammad’ atau ’Ahmad’ pada namanya yang pendek. Demi¬ 
kianlah pada suatu wawancara dengan seorang wartawan Mesir, 
pertanyaan seperti di atas itu saya jawab dengaij seolah-olah, 
tercengang : ’Kenapa tidak Muslim ? Bukankah nama lengkap - 
nya ’Ahmad Sukarno’. Semenjak itu tidak ada pertanyaan seperti 
itu lagi. 1) 

Selain itu, seperti saya sebutkan di atas, rakyat Timur Te¬ 
ngah adalah anti-Inggris. Maka dengan menonjolkan kepalsu¬ 
an politik Inggris di Indonesia dan keganasan tenteranya me¬ 
nindas perlawanan gerilyawan kita, simpati mereka tertanam 
dipihak kita. Kemudian dengan penunjukkan Sutan Syahrir men¬ 
jadi Perdana Menteri, tidak saja peijoangan di Timur Tengah men¬ 
jadi lebih berkurang beratnya, tetapi juga diseluruh dunia, Ter¬ 
utama di Australia dan Amerika Serikat, di mana wartawan- 
wartawan mereka yang telah mengunjungi Indonesia langsung 
sesudah Proklamasi telah banyak menulis tentang peijoangan 
Bung Syahrir yang dibantu Mr. Amir Syarifuddin menentang 
pendudukan Jepang. Dan keijasama antara Sukarno-Hatta dan 


1), Ex. Pres. Sukarno mulanya menerima tambahan nama itu. Surat-surat Resmi 
dari Timur Tengah termasuk surat-surat kepercayaan memakai nama tambahan 
itu. Baru ketika Kepala Negara Uni-Soviet Voroshilov berkunjung ke Indonesia, 
di Surabaya dalam satu Rapat Umum - mungkin untuk menyenangkan hati 
Kepala Negara Atheist itu ia bertanya-tanya siapa yang menambah namanya de¬ 
ngan ”Ahmad” itu. Pada satu Rapat Staf Departemen Luar Negeri waktu itu saya 
terangkan bahwa sayalah yang menambahnya, dengan maksud menarik sokongan 
Umat Islam sedunia bagi perjoangan Indonesia sesudah Proklamasi; 



Syahrir-Syarifuddin yang kami populerkan di Timur Tengah, 
dengan roman "Audatul Firdausi” (Kembalinya Sorga) karya 
sasterawan Arab-Indonesia Ali Ahmad Bakatir, banyak sekali 
mempengaruhi pandangan Arab terhadap pemimpin-pemimpin, 
kita itu. 2) 

”Panitia Pembela Indonesia.” 

Hubungan kami selama perang kedua dengan parpol-perpol, 
ormas-ormas dan mass-media setempat lebih kelihatan hasilnya 
sesudah Proklamasi. Karena apa yang kami sampaikan kepada me¬ 
reka tentang gerakan kebangsaan Indonesia, telah dikuatkan dan di¬ 
benarkan oleh Proklamasi itu.. Simpati mereka sedemikian rupa 
sehingga atas prakarsa mereka sendiri berdiri satu badan yang 
mereka namai "Lajnatud Difa’i ’-an Indonesia” (Panitia Komite 
Pembela Indonesia).” 

Pada 16 Oktober 1945, bertempat digedung pusat Perhim¬ 
punan Pemuda Islam (Jami’ah Syubban Muslimin), berlangsung 
satu pertemuan bersejarah yang dipimpin oleh (alm) Jenderal 
Saleh Harb Pasya, Ketua Umum perhimpunan tersebut dan ex- 
Menteri Pertahanan Mesir yang dipenjarakan Inggris selama pe¬ 
rang dunia kedua bersama-sama Abdulrahman Azzam Pasya, 
dengan tuduhan anti-Inggris. Pada pertemuan itu hadir Abdul¬ 
rahman Azzam Pasya, Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya, 
Dr. Abdulwahab Azzam Pasya, Dekan pada UniveristasFouad I, 
(alm) Dr. Mahmud Azmi, anggota Parlemen, Ahmad Hussein S.H. 
Ketua Partai Mesir Muda, Prof. Dr. Taufik Syawi dari Ikhwanul 
Muslimin, Abdulkadir Beg dari Perhimpunan Pemuda Islam, M. 
Mahmud Jalai, anggaota Parlemen dari Partai Hizul Watani, 
Muhammad Ali Taher, Ketua Panitia Palestina, (Presiden) Habib 


2). Ketika berjumpa dengan Bung Syahrir (September 1947) di Kairo dalam perja¬ 
lanannya ke Dewan Keamanan P.B.B. di New York, beliau membenarkan kejadian 
kerjasama itu. Ditambahkannya bahwa surat-surat keterangan yang diberikan 
Bung Hatta kepada pejoang-pejoang di bawah tanah banyak menyelamatkan 
nyawa mereka itu dari pembalasan Jepang. 


63 



Bourguiba dari Tunisia, (alm) Foudeil Wartalani, dari Al-Jazair, 
Dr. M. Asad Salmanieh dari Lebanon, Mirza Miski Beg dari Iran, 
Muhammad Tawaduk, Ketua Persatuan Mahasiswa Cina di Kairo, 
dan beberapa anggaota corps diplomatik Arab dan Islam di Kairo 
atas nama pribadi, antara lain yang diingat namanya Ezzil Din, 
Duta Lebanon. Dalam pertemuan yang berupa Konferensi Arab- 
Islam itulah terbentuk "Panitia Pembela Indonesia” itu diketuai 
oleh Jenderal Saleh Harb Pasya, dan beranggaota hadirin. 

Pada pembukaan pertemuan itu,Ismail Banda dan saya membe¬ 
ri penerangan, selain ’ke-Islaman’ Indonesia yang kami jadikan 
pencetus sentimen mereka, sejarah Indonesia di zaman keemasan, 
perlawanan bersenjata pahlawan-pahlawan Islam terhadap Portugis 
dan Belanda, gerakan kemerdekaan nasional semenjak permulaan 
abad ke-XX ini dan seterusnya Proklamasi dan situasi serta per¬ 
kembangannya yang disebabkan campur-tangan Inggris. Kemudi¬ 
an menyerukan supaya menyokong peijoangan bangsa Indonesia 
dalam mempertahankan kemerdekaannya dan menuntut terutama 
negara-negara Arab dan Islam supaya mengakui R.I. Kepada per¬ 
temuan itu kami sodorkan satu draft resolusi yang telah kami 
sediakan. Resolusi yang diperbaiki Dr. M. Salahuddin Pasya, 
sebagai ahli hukum internasional itu, berbunyi sebagai berikut : 

1 — Menyambut dengan gembira pengumuman kemerdekaan 
Indonesia dan menyokong Republik Indonesia, 

2- Menyerukan kepada semua bangsa Arab dan Islam supa¬ 
ya menyokong R.I. dengan jalan dan cara yang tepat 
dan menghasilkan, 

3- Menuntut semua negara dan terutama negara-negara 
Arab dan Islam supaya mengakui R.I., 

4- Mendesak Inggris supaya jangan menyokong Belanda 
dan memperingatkannya akan kemarahan Alam Islami 
atas sikapnya yang akan berakibat kehilangan keperca¬ 
yaan pada piagam-piagam internasional yang baru. 


64 



5— Berusaha supaya soal Indonesia dibicarakan di seluruh 
Parlemen Arab dan Islam, 

6— Menyampaikan resolusi ini kepada semua negara di 
dunia dan Republik Indonesia serta menyiarkannya di 
seluruh dunia, 

7— Membentuk satu panitia tetap untuk mengikuti persoal¬ 
an Indonesia dan mengambil langkah-langkah yang perlu 
buat menyokong mujahidin Indonesia. 

Untuk pelaksanaan putusan (6) dari ReSolusi yang dibuat 
dalam- tiga bahasa, Arab, Inggris dan Perancis itu,, Jen. Saleh Harb 
Pasya sebagai ketua ”Panitia Pembela Indonesia” menyampaikan 
kepada Pemerintah Mesir nota berikut : 

”Yang Mulia Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya, 

Perdana Menteri Mesir. 

”Assalamualaikum Wr. Wb. 

”Dengan hormat saya menyampaikan kepada Y.M. bahwa 
pada malam Selasa 10 Zulhijjah 1364, bersamaan dengan 16 Okto¬ 
ber 1945, di Pusat Perhimpunan Pemuda Muslimin telah dilang¬ 
sungkan pertemuan khusus buat membicarakan apa yang perlu 
dikerjakan terhadap soal kemerdekaan negara sahabat, Indonesia. 
Para hadirin telah mengambil beberapa keputusan dan putusan 
ke-enam adalah menyampaikan putusan-putusan itu kepada semua 
pemerintah.” 

”Maka untuk melaksanakan keputusan itu, dengan hormat 
saya sampaikan kepada Y.M. keputusan tersebut. Seperti Y.M. 
melihat sendiri, putusan-putusan itu adalah bermaksud menyokong 
bangsa Indonesia yang berjoang buat kebebasan dan kemerde¬ 
kaannya. Tidak tersembunyi lagi bagi Y.M. bahwa bangsa-bangsa 
Arab dan Islam serta pemerintah-pemerintahnya lebih berwajib 


65 



dari lain-lain bangsa dan negara untuk menghargai dan menyokong¬ 
nya, bekerja sama guna' mengatasi kesulitan-kesulitan yang diha¬ 
dapinya dan halangan-halangan yang menghambat kelancaran 
perkembangannya. Karena bangsa-bangsa Arab dan Islam juga me¬ 
ngalami apa yang dialami bangsa Indonesia sekarang kerakusan 
imperialisme dan kepahitan pendudukan — dan sama-sama menuju 
ke alam bebas dan merdeka yang berbahagia, di samping hubung¬ 
an-hubungan kemanusiaan dan ukhuwah Islamiah yang memperta¬ 
likan mereka dengan Indonesia.” 

”Maka oleh sebab itu saya tidak menaruh ragu-ragu lagi 
bahwa Y.M. akan menyambut baik putusan-putusan itu dan segera 
akan mengambil langkah resmi dan tindakan-tindakan di lapangan 
internasional yang Y.M. anggap tepat buat menyokong Indonesia.” 

”Yang Mulia terimalah hormat saya yang setinggi-tingginya.” 

”Ketua Panitia Pembela Indonesia, 
Kairo 20 Oktober 1945. (Muhammad Saleh Harb) 


Sebagai sumbangan terhadap perjoangan Indonesia, Muham¬ 
mad Mahmud Jalai, yang ikut dalam pertemuan itu, telah men¬ 
cetak pidato-pidato yang kami ucapkan pada pertemuan berseja¬ 
rah itu. Pada kata pengantarnya beliau mengatakan : 

”Pada hari-hari belakangan ini, surat-surat kabar penuh de 
ngan berita gerakan kemerdekaan Indonesia dan perjoangan 
bersenjata bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemer¬ 
dekaannya melawan Belanda dan Inggris. Sedikit sekali pen¬ 
duduk Lembah Sungai Nil yang mengetahui negeri ini dan 
penderitaannya dari kerakusan penjajahan yang mengisap 
bangsa ini dan kekayaannya yang raya itu. Lebih sedikit 
lagi mereka yang mengetahui peijoangannya yang tak kun¬ 
jung padam . .. . ” 


66 




67 


"Panitia Pembela Indonesia” yang teidiri dari pembesar-pembesar Mesir, 
Arab dan Islam. Di tengah-tengah Sutan Syahrir, di kanannya Jenderal Saleh 
Harb Pasya (Ketua), Hassan Al-Banna dan di kirinya Syekh A. Latif Diraz, 
Dr. M. Salahuddin Pasya, Dr. A. Wahab Azzam Pasya, dan berdiri di belakang 
Syahrir, Ahmad Hussein dan M. Salim serta beberapa pimpinan Panitia Pusat. 




Mufti Besar Palestina M. Amin Husaini, (bersorban) dan Muhammad Ali Taher, 
pemimpin Palestina (di kirinya) bersama-sama Pimpinan Panitia Pusat, setelah be¬ 
liau dapat lolos ke Kairo dari penangkapan Sekutu di Eropa dan mendapat perlin¬ 
dungan Raja Faruk. 





69 




Sesudah menyerahkan hadiah kepada Perdana Menteri Suria, Jamil Maidan 
Bey (tengah-tengah barisan muka), bergambar di tangga Kedutaannya. Bersa¬ 
ma kami ikut bergambar wakil-wakil perjoangan bangsa-bangsa Arab yang 
juga berpusat di Kairo. Di kiri PM Suria adalah M. Ali Taher dari Palestina 
dan di baris kedua antara saya (berbaju putih) dan PM tersebut adalah Habib 
Burguiba (Presiden Tunisia sekarang). 





”Baru saja mendengar pidato-pidato yang diucapkan 
tt. Muhammad Zein Hassan dan Ismail Banda, saya merasa 
berkeyakinan bahwa mereka berdua membaca satu buku yang 
semua lembarannya penuh dengan kebanggaan peijoangan 
nasional. Yang satu membaca lembaran-lembaran pertamanya 
dan yang kedua menamatkan lembaran-lembaran seterusnya. 

”Sinar keyakinan harus memancar dari Lembah Sungai 
Nil. Lembah ini harus yang pertama sekali memperhatikan 
lembaran perjoangan dan menolong orang yang teraniaya. 
Karena semenjak dahulu kala Lembah Nil mengerti akan 
makna kemerdekaan, kebebasan dan pendudukan bangsa 
asing yang sampai sekarang masih merantainya. 

”Yang lebih mendorong perhatian dan lebih mewajib¬ 
kan sokongan dan bantuan adalah kenyataan bahwa Inggris 
yang menduduki Lembah Sungai Nil semenjak tahun 1882, 
mereka itulah juga yang menyokong Belanda menghadapi 
bangsa Indonesia. Karena Belanda ini tidak mempunyai ke¬ 
kuatan darat dan udara ataupun laut yang akan dapat meng¬ 
hadapi pejoang-pejoang Indonesia itu. 

”Maka kiranya adalah baik sebagai penghargaan pertama 
dan pembuka pintu bantuan bagi bangsa Indonesia dalam 
perjoangan mereka yang mulia itu, bahkan sebagai sambutan 
pertama, jika kita menyebar-luaskan soal perjoangan mereka 
itu dengan mencetak pidato-pidato tersebut.” 

Maka dengan pembentukan "Panitia Pembela Indonesia” 
itu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak saja disambut 
dengan gembira dan dipertahankan dengan penuh semangat 
dan keyakinan di Timur Tengah oleh ribuan warga Indonesia 
itu, tetapi pula oleh warga Arab dan Islam seperti tergambar 
oleh pembentukan khusus itu, 


71 



CAMPUR TANGAN INGGRIS 


1. Usaha Pembendungan Pertama 

Pada akhir September 1945, tentara Inggris yang dipimpin 
Let. Jen. Sir Philip Christison mendarat di ’ Batavia.’ Sebelum 
berangkat, pada 26 September, kepada wartawan Reuter di 
Singapura ia mengatakan : ”Tugas tentara Inggris di Indonesia 
hanyalah melucuti senjata tentara Jepang dan menerima tawanan 
dan tahanan rakyat Sekutu. Mereka tidak mempunyai tugas- 
tugas politik di Indonesia.” Pertanyaan serupa juga diucapkan oleh 
Menteri Pertahanan Inggris. Hafiz Afifi Pasya ex Duta Besar Mesir 
di London dalam bukunya ’ Inggris di Negerinya’ mengatakan bah¬ 
wa orang-orang Inggris jujur di negerinya, tetapi curang di negeri 
orang. Mengingat bahwa sejarah mereka di tanah jajahan mem¬ 
benarkan pendapat itu, Panitia Pusat memikirkan hendak mem¬ 
pergunakan pengaruh Republik Cina Nasionalis yang dipimpin 
Jen. Ciang Kai Sek dan yang termasuk lima Negara Besar untuk 
membendungnya. Pemikiran ini kami bicarakan dengan Ibrahim 
Ma, seorang diplomat Cina Islam yang semenjak Proklamasi - 
atas dasar solidaritas Islam — menunjukkan simpatinya terhadap 
R.I. dan iapun mendorong. Maka melalui beliau pada 28 Septem¬ 
ber 1945, Panitia Pusat mengirimkan surat berikut kepada Menteri 
j jia r Negerinya yang masih berkedudukan di Chungking. 

”On behalf of thousands of the Indonesians in the 
Middle East, the Indonesian Association for Independence 
in Cairo present this letter to Your Excellency, hoping that 
it will be welcomed and put into consideration.” 



”On August 17, 1945, Sukamo and Hatta, two promi- 
nent leadeis of the Indonesian National Movement, proclai- 
med, in an addres to all the Governments in the world the 
foundation of the Republicof Indonesia, thereby asking for 
their share in the construction of a world of peace and justi- 
ce, based on mutual respect.” 

”The Republic of Indonesia is neither a gift from Japan 
nor from any other foreign countries. It is the result of the 
bitter struggle of the Indonesian National Movement, started 
40 years ago by 5 Budi Utomo Party and contiuned up 
unabatedly to the present movement.” 

”It is the reward of all material and spiritual aid given 
to the Allied by Indonesia before its occuption by Japan. 
It is the reward of the great sacrifices in blood and material 
suffered by the Indonesian National Movement before and 
during the second war. It is the reward of sucrifices rendered 
by thousands of Indonesian seamen, without whom the 
Allied vessels can be kept going only with the most dif- 
ficulty, if not with impossibility.” 

”The Republic of Indonesia is the culmination of 
the strenous efforts of every Indonesian, whether in occupied 
Indonesia itself or abroad, for, whatever his political opi- 
nion might be, deep in his heart he cherishes only one aim, 
namely the complete independence of Indonesia.” 

”Now the Republic of Indonesia has been proclaimed 
and has thus become a faCt. This is the form of political 
status, which the Indonesians themselves have chosen for 
their life; it is the only form of government they can accept. 
There can be no question of a puppet government ”made in 
Japan” as this country haS been defeated and many Japanese 
soldiers in Indonesia, who died to prevent the movement, 
were killed by Indonesians.” 


73 



"Considering the fact that the United Nations have 
declared to be fighting for freedom and in view of the re- 
cognition by the Alantic Charter of the right of self-deter- 
mination for each nation, we, the members of the Indonesian 
Association for Independence, are fully confident that the 
Chinese Government and the Chinese people — who fight 
for freedom and for the Asian countries and who had been 
the first of the Big four to recognize the independence of 
Lebanon and either countries during the war : 

a— will not hesitable to welcome and recognize the Re- 
public of Indonesia, and 

b— to make the necessary arrangements to prevent the 
landing of the Allied forces in Indonesia in order to 
avoid blood shed. 

As we have great faith in the wise and able Government 
of the Great China with her able and great leader Genera- 
lissimo Chiang Kai Shek in his wise and far-sighted jug- 
ment.” 

Surat kami yang menerangkan kedudukan yang se¬ 
benarnya dari R.I. yang bukan ’made lapan’ sebagai dituduhkan 
Sekutu dan menuntut supaya Republik Cina mengakuinya serta 
berusaha menghalangi pendaratan tentara Sekutu itu di Indo¬ 
nesia, mendapat perhatian dari Pemerintah Cina di Chungking 
itu. Jawabannya melalui ”Radio Chungking” yang disampaikan 
Ibrahim Ma, Sekretaris Kedutaannya di Kairo menyatakan : 

”Rakyat Cina bersimpati dan mengagumi gerakan 
kemerdekaan di Indonesia. Tetapi keadaan sekarang belum 
memungkinkan Pemerintah Cina untuk menyatakan posisi¬ 
nya secara resmi. Sementara itu Pemerintah Republik Cina 
meminta kepada Pemerintah R.I. agar melindungi warga 
negara Cina yang berada di wilayah Indonesia beserta harta- 
benda mereka.” 

Jawaban ini kami siarkan dengan judul ”Apakah Cina me- 


74 



ngakui Republik Indonesia ?,” dengan komentar ”Apakah dapat 
dimengerti dari kalimat terakhir jawaban itu bahwa Republik 
Cina telah mengakui de facto R.I. ; karena dengan jawaban demi¬ 
kian ia telah mengakui bahwa yang berkuasa melindungi warga 
negara Cina itu dan kepentingan-kepentingan mereka adalah 
R.I.” Meskipun jawaban itu sebenarnya mengecewakan, tetapi 
komentar itu adalah untuk konsumsi di Timur Tengah, sebagai 
penangkis propaganda Belanda dan Sekutu-sekutunya dan untuk 
menarik simpati penduduknya. Adapun reaksi Ummat Islam 
Cina adalah memuaskan. Karena disampaikan juga bahwa mereka 
telah mengawat ke Indonesia mengucapkan selamat atas Prok¬ 
lamasi, menyatakan menyokong R.I. dan mendesak Pemerintah 
Cina supaya mengakuinya. 

2. Inggris Pelindung Kolonialisme Belanda 

Dalam menghadapi perkembangan baru di Indonesia de¬ 
ngan campur-tangan Inggris menyokong Belanda, taktik Pani¬ 
tia tidak sejalan dengan Pemerintah Indonesia yang menekan¬ 
kan tantangannya kepada Belanda, sedang Panitia lebih menekan¬ 
kan kepada kecurangan Inggris yang telah banyak memberikan 
janji-janji yang muluk-muluk selama perang dunia. Karena Pe¬ 
merintah R.I. bertolak dari kenyataan bahwa PBB di San Fran¬ 
cisco ’mengakui formeel kekuasaan de jure Belanda atas Indo¬ 
nesia’ (keterangan pemerintah tanggal 30/6/46 dengan judul: 
Sekitar Usul-usul Pemerintah Kita, sedang Panitia beranggapan 
bahwa Belanda tanpa Inggris tidak akan dapat berbuat apa-apa. 

Sebagai contoh, ’Seruan kepada Alam Islami’ yang disiar¬ 
kan Radio Bandung jam 2.30 tanggal 13 Oktober 1945, yaitu 
sesudah tentara Inggris mendarat di pulau Jawa, tidak menying¬ 
gung sama sekali nama ’lnggris’ itu, meskipun kedua cara itu ber¬ 
tujuan satu, yaitu memisahkan Inggris dari Belanda. Sedang 
Panitia, dalam bukunya "Indonesia As-Sairah” menggambarkan 
pandangannya dengan judul ” Usaha Inggris hendak mengemba¬ 
likan Kolonialisme Belanda,” a.l. sebagai berikut (hal. 173) : 


75 



”Telah berlalu satu setengah bulan semenjak Indonesia 
mengumumkan kemerdekaannya. Selama itu rakyat Indone¬ 
sia merasa bahagia dalam kehidupan baru yang aman dan 
tenteram. Tetapi keamanan dan ketenteraman berobah men¬ 
jadi kekacauan dengan pendaratan tentara Inggris di pulau 
Jawa pada akhir September dan penyimpangannya dari 
tugas-tugas kedatangannya seperti dinyatakan oleh Koman¬ 
dannya dan oleh yang bertanggung jawab di London ... 

”Untuk menghindarkan kekacauan lebih jauh, pada 
25 Oktober diadakan pertemuan antara wakil-wakil tentara 
Indonesia dan tentara Inggris dan dicapai persetujuan bahwa 
pelucutan senjata hanya berlaku bagi tentara Jepang dan 
seorang Belandapun tidak dibolehkan mendarat di bumi 
Indonesia. Tetapi belum kering lagi tinta penandatanganan 
persetujuan tersebut, Inggris memberi ultimatum akan me¬ 
nggempur Surabaya — kota kedua di Indonesia — dari darat, 
laut dan udara, jika rakyat Indonesia tidak menyerahkan 
senjata mereka kepada Inggris dan membiarkan tentara 
Belanda mendarat dengan bebas. Rakyat Indonesia tentu 

tidak dapat menerima ancaman yang menghina itu. 

Dengan demikian Surabaya menjadi ’Stalingrad Indonesia,’ 
yang telah memperlihatkan keberanian bangsa Indonesia yang 
telah memandang enteng mati dalam mempertahankan 
tanah air.” 

"Demikianlah Inggris membukakan topengnya.Perdana 
menterinya Mr. Atlee menyatakan di Majlis Rendah (House 
of Commons) bahwa tugas tentara Inggris di Indonesia adalah 
mengembalikan negeri itu ke bawah kekuasaan kolonial 
Belanda.” 

"Maka teijadilah tragedi kemanusiaan besar yang tidak 
mengindahkan Atlantic Charter, Pernyataan Teheran, San— 
Francisco dan lain-lainnya. Inggris tidak saja mempergunakan 
tentaranya untuk menindas gerakan nasional demokrasi 

76 ' 





di Indonesia, bahkan mempergunakan pula tentara Jepang 
yang selama ini disebut ’musuh demokrasi’.” 

3. Seruan Langsung Kepada Rakyat Inggris 

Pada 8 Oktober 1945, Panitia Pusat mengirimkan seruan 
langsung kepada rakyat Inggris. Setelah memuji keberanian mereka 
yang telah berkorban keringat, darah dan air mata menghadapi 
kekejaman Nazi Jerman dan Fascis Italia yang bermaksud meng¬ 
hancurkan demokrasi Barat, kami ingatkan Piagam-piagam yang 
dilahirkan peijoangan yang berani itu. Kemudian kami ingatkan 
pula bahwa keterlibatan Inggris dalam mempertahankan keraku¬ 
san kolonialisme Belanda akan melambatkan kembali ketenangan 
dan kebahagiaan kepada rakyat Inggris sendiri. Dan setelah mene¬ 
gaskan bahwa Republik Indonesia adalah hasil perjoangan dan 
pengorbanan Rakyat Indonesia sendiri, kami menyerukan su¬ 
paya Pemerintah Inggris dan negara-negara PBB lainnya menga¬ 
kui R.I. Seruan itu berbunyi antara lain: 

”In this proclamation which was adressed to the whole 
world, the Indonesians appeal to all democratic countries 
to recognize and support this new Republic and expect 
with full confidence that british nation and all other demo¬ 
cratic peoples will render their assistance to the Indonesians 
for preservation of the independence of this young Republic 
which has declared her wellingness and preparedness to 
co-operate wiht the United Nations in the construction of 
the world of peace and justice based on mutual respect...” 

”No doubt, a retum of any Dutch rule in Indonesia 
will only mean a handicap for the full development of its 
people and hence will become a serious obtacle for establish- 
ment of the new world. The Indonesians are full confident 
that the British people will realise this menace and trust 
that they will not fail to support them in preventing the 
retum of the Dutch in Indonesia.” 


77 




”The galland Chinese people and the courageous Austra- 
lians have already shown their sympathy and given their 
support to the Indonesian National Movement, as have also 
done the whole Muslem World headed by the hospital Egyp- 
tian people. This completely refused the Dutch allegations as 
though the Republic of Indonesia is a ’puppet government 
made in Japan’...” 

”You the British people have the decision in your 
hands. If you could move your govenment to recognize the 
Republic of Indonesia, we, the Indonesians are sure that 
peace will be preserved in the Far East, and there will be no 
need to send British and other Allied Troops to Indonesia 
for the disarmement and capilutation of the Japanese forces; 
for the Indonesian Republican Government has declared her 
preparation to deal with the Japanese troops in the country 
and hand them over to the Allied Commond ...” 

”For the aboved-mentioned reason, the Indonesians 
urge His Britanic Majesty’s Government and the other United 
Nations for an immediate recognition of their independence. 
When this is realised, another glory will be added to the 
history of the great British people.” 

Pada 15 Oktober 1945 Panitia Pusat mengirimkan pula 
kawat protes berikut kepada Perdana Menteri Inggris, Mr. Atlee . 

”On behalf of 10.000 Indonesians in the Middle East, 
we vehemently protest against interverence of Britsh troops 
supporting the Dutch in supressing Indonesian nationalists. 
This is contradicting assurance British War Minister not to 
fight Indonesians, Urge immediate ending interference.” 

Menyokong kawat Presiden R.I. kepada Presiden Amerika 
Truman pada 24 Oktober ”protesting against the use of American 
weapons against the Indonesians” dan ”appeal to the Presiden 
of the U.S.A. to act as mediator in this conflict,” serta menyata- 


78 




kan kepercayaan bahwa ”the Americans who have galiantly 
fought and won this war for the defence of the noble human 
rights freedom of every people, will see the justice of the struggle 
of the Indonesian national movement for the independence,” 
Panitia Pusat mengirimkan pula pada 25 Oktober 1945 kepada 
Pemimpin Opposisi di Amerika Mr. Dewy kawat berikut : 

”Mr. Dewy Republican Leader New York. 

”Anglo—Dutch imperialism use U.S. A. weapons in sup- 
pressing the Indonesian Republic. Mr. Berns Statement 
24 October was not enough, Your strong support is nece- 
ssary.” 

4. Hubungan Dengan ’Independent Labour Party’ 

Dalam menghadapi perkembangan soal Indonesia, Partai 
Buruh Inggris yang berkuasa terbagi dua. Satu dipimpin Mr. Cle- 
ment Atlee Perdana Menteri, yang ingin melanjutkan politik pen¬ 
jajahan dan yang lain dipimpin Mr. Fenner Brockway, yang 
progressif dan ingin tercipta hak suatu bangsa menentukan nasib¬ 
nya dan menantang campur tangan Inggris di Indonesia. Golongan 
terakhir ini mendapat restu dari ketua Partai Buruh yang lama 
Prof. Harold Laski, dan akhirnya memisahkan diri dengan nama 
Partai Buruh Merdeka (Independant Labour Party). Kami merapa¬ 
ti partai baru dan hubungan kami demikian rapatnya sehingga da¬ 
lam satu surat Mr. Bockway mengusulkan supaya kami mempelo- 
pori pendirian satu pusat anti-imperalisme di Timur Tengah. 
Mr. Brockway dan kawan-kawan yang telah dituduh komunis di 
negerinya, dengan suratnya itu, yang melalui sensor Mesir, telah 
menyebabkan kami dituduh atau dicurigai berkecenderungan 
komunis. Kantor Panitia Pusat sampai digeledah duakali. Untung¬ 
lah satu-satunya meja yang tidak diperiksa adalah tempat menyim¬ 
pan surat itu. Memang suatu lindungan Tuhan, karena sekiranya 
meja itu diperiksa dan surat itu terdapat sebagai bukti, mungkin 
sekali tidak saja kegiatan kami di Kairo buat membela R.I. ter- 
kandas, mungkin juga seluruh Panitia di Timur Tengah. Karena 


79 



seluruh daerah itu masih dikuasai kekuasaan militer Sekutu, 
yang sesudah Jerman menyerah di Eropa dan usaha Uni-Soviet 
hendak menguasainya, Kekuasaan Sekutu mulai mengambil 
tindakan keras terhadap gerakan komunis di Timur Tengah. 

Hubungan baik dengan I.L.P. itu telah kami pergunakan 
sebaik-baiknya guna berhubungan langsung dengan rakyat Inggris 
dan Pemerintahnya. Halaman pers dan gedung parlemen Inggris 
adalah lapangan terbaik — melalui I.L.P. — untuk menyampaikan 
tuntutan-tuntutan dan protes terhadap tindakan tentara Inggris 
yang menyimpang dari tugasnya semula, sebagai diumumkan oleh 
pihak-pihak resminya sebelum mendarat di Indonesia. Menjawab 
memorandum Panitia Pusat mengenai pertentangan antara campur- 
tangan Inggris di Indonesia dengan dasar-dasar Partai Buruh serta 
dasar-dasar yang menyebabkan Inggris memasuki perang dunia ke¬ 
dua, I.L.P. menjawab bahwa ia menentang politik campur tangan 
itu dan menganggapnya suatu sikap yang tidak saja menimbulkan 
amarah, bahkan memalukan rakyat Inggris. Ditambahkannya 
bahwa di London telah berdiri satu ’center’ yang berjoang menen¬ 
tang imperialisme, dan dengan sendirinya bekerja buat Indonesia. 

Pada 17 Oktober 1945, Mr. Atlee, Perdana Menteri Inggris 
menyatakan di — Majlis Rendah (House Of Commons) bahwa 
Pemerintahnya mempunyai kewajiban-kewajiban (obligations) 
terhadap Belanda, sebagai jawaban terhadap kecaman-kecaman 
yang dilancarkan sayap kiri yang dipimpin Mr. Brockway. Ter¬ 
hadap pernyataan itu Panitia Pusat mengeluarkan satu pernyata¬ 
an yang disiarkan pers setempat dan diringkaskan oleh kantor 
berita Inggris ’Reuter’ sebagai berikut : 

”Mr. Atlee’s statement in the House of Commons on 17th 
October 1945 conceming the British policy to be adopted with 
regard to Indonesia, has coused great surprise with the Indonesians 
in Cairo.” 

”We quite understand the sincere wish of the British to fulfill 
their obligations towards their Dutch Allies”declared their spo- 



man, ”but do not expect the freedom loving British People will 
sucrifice 70 million Indonesians with the mere purpose to satisfy 
the Dutch who are only 8 million in number. For such an act can 
never be attribute to a democratic people as the British, but can 
only imputed to a fascist State.” 

”With regard to the difficulties in connestion with the 
disarmment of the Japanese forces of Allied P. O.W. (prisoners of 
war) and intemees, the spokeman said : ”The Indonesian Re- 
public Government has declared its preparedness to disarm the 
Japanese soldiers and hand them over to the Allied Commond 
as well as to take care for the welfare of Allied P. O. W. and civilian 
intemees.” He added : ”Recognize the independence of the In¬ 
donesians. Everybody who respect their independence is their 
friend and will be treated accordingly; but everybody who tries 
to trample it is their enemy and will be fought.” 

” I cannot agree with Mr. Atlee’s statement according to 
which the Indonesian Leaders have owed their present authority 
to the Japanese,” the spokeman continued, ”1 must once again 
stress that Republic of Indonesia is only the result and reward 
of the bitter and prolonged struggle of the Indonesian indepen¬ 
dence movement, started about 40 years ago as the inevitable 
consequence of nearly 350 yers’ Dutch humiliation and of three 
years’ Japanese occupation.” 

With regard to the Dutch promise of self-govemment to 
the Indonesians,” the spokeman commented : ”What the Dutch 
offering now to the Indonesians is nothing new. During the 
first world war the Dutch promised them a full parliament. How- 
ever, when the danger of being involved in the war had finally 
vanished, this promise was forgotten. The Indonesians got Only 
a ’People Council’ which in fact was no more than a advisory 
body with very little legislative power, ifany. Since 1922 Indone¬ 
sia has - according to Article I of the Dutch Constitution which 
reads : ”The Kingdom of the Netherlands embraces the ’ terri- 
tory of Holland, the Netherlands Indies, Suriname and Curacao ’ 


81 



% 


ceased to be a colony any longer and has since become part of 
the Kingdom. But this did not bring any change in the Dutch 
policy towards Indonesia which up to now maintains its conser- 
vative and colonial character. It is for this reason that the Indone- 
sians now refuse to place their faith in any foreign offer except the 
complete independence of Indonesia, which as a nation of over 
70 millions believe them selves to be entitlled to.” 

Bertepatan dengan pendaratan Inggris di Indonesia, Menteri 
Luar Negeri Saudi Arabia Pangeran Feisal bin Saud (almarhum Ra¬ 
ja Feisal) berkunjung ke London. Dengan surat tanggal 31 Okto¬ 
ber 1945, Panitia Pusat meminta bantuannya supaya pembicaraan- 
pembicaraannya dengan penguasa-penguasa Inggris memberi 
pengertian ketidak-benaran campurtangan Inggris menyokong 
penjajahan Belanda dan benarnya tindakan-tindakan nasional 
bangsa Indonesia. Dalam surat itu antara lain dikatakan : 

”Kami tidak ragu lagi bahwa Y.M. menentang tindakan Be¬ 
landa yang keji itu . . . . dan lebih mengutuk lagi sikap Inggris 
yang telah segera datang membantu keserakahan dan kezaliman 
itu karena Inggris selama perang kedua itu berteriak ke sana-sini 
akan keharusan semua bangsa diberi hak merdeka dan bebas, 
serta keharusan merdeka dibebaskan dari kezaliman dan perbuda¬ 
kan.Bangsa Indonesia terpaksa mempertahankan hak dan 

wujudnya dengan segala kekuatan imannya dengan hak dan 
wujudnya itu.Ribuan syuhada telah gugur dalam memper¬ 
tahankan negara Islam itu.” 

”Maka atas nama 70 juta Ummat Islam yang beriman kuat 
dengan Allah dan berpegang teguh dengan hak-haknya, kami 
berharap supaya: 

a — Saudi Arabia mengakui Republik Indonesia dan 
b - menengahi konflik di Indonesia itu, dengan Inggris menghen¬ 
tikan sokongannya terhadap Belanda, serta menghentikan 
campur-tangannya dalam soal-soal Indonesia yang telah 
mempergunakan haknya yang sah guna menentukan nasib¬ 
nya sendiri. ” 


82 






Dalam rangka keijasama dengan Panitia di India untuk mem¬ 
bendung campur-tangan Inggris itu dan mendesak rakyat India 
supaya memaksa Inggris menarik tentara India dari Indonesia, 
Panitia Pusat mengirim memorandum kepada ’Muslim League’ dan 
’Indian Congres.’ Muslim League menjawab bahwa kaum Musli¬ 
min telah mengadakan rapat-rapat umum dan mempelajari cara- 
cara yang akan berhasil mendesak Inggris supaya tidak memper¬ 
gunakan serdadu-serdadu India memerangi Indonesia atau meng¬ 
hasut serdadu-serdadu itu supava memihak kepada saudara-saudara 
mereka kaum Muslimin Indonesia. Partai Congress memberitahu¬ 
kan bahwa ia telah mengirim satu perutusan ke Indonesia guna 
menyelidiki penyalah-gunaan serdadu-serdadu India itu. Dalam 
kawat kami lagi kepada Partai Congress kami mengharapkan 
kunjungan perutusan itu ke Indonesia akan menambah kuat hu¬ 
bungan India-Indonesia dan akan menghasilkan penghentian peng¬ 
gunaan serdadu serdadu India itu oleh Inggris. 


Terhadap ancaman Serikat Buruh Pelayaran India di Bom- 
bay, yang memprotes Belanda karena menekan klasi-klasi 
kapal warga India yang menunjukkan solidaritasnya dengan buruh- 
buruh Australia yang memboikot kapal-kapal Belanda di sana, 
dan mengancam akan memboikot pula sekiranya Belanda tetap 
menekan mereka itu, kami kawatkan pada 21 Nopember 1945 
melalui harian ’Bombay Chronicle’ sebagai berikut : 

”Please publish the following : 

’Tndonesian Association for Independence in the Middle 
East expresses sincerest gratitude to the Bombay Labours stri- 
king in sympathy with the Indonesian nationalists fighting for 
independence and hopes continious Indian support.” 

Bagaimanapun kesempatan, kami pergunakan untuk mengi¬ 
ngatkan perjoangan bangsa Indonesia. Bertepatan dengan ulang 
tahun ke XXVII revolusi Oktober, Panitia mengirimkan pada 7 
Oktober ’45 kepada Marshal Stalin kawat berikut : 


83 



”Atas nama 10.000 warga Indonesia di Timur Tengah, 
kami mengucapkan selamat bertepatan dengan perayaan ulang 
tahun ke XXVII Revolusi Oktober. Kami mengambil kesempatan 
yang berbahagia ini untuk menyatakan terima kasih kami yang 
sungguh-sungguh atas simpati dan sokongan rakyat Russia ter¬ 
hadap Republik Indonesia. Kami berharap semoga hubungan baik 
antara kedua rakyat Indonesia dan Russia akan menjadi kekal.” 

Demikian pula kepada Presiden Ismet Inunu, bertepatan 
dengan ulang tahun ke XXVI Republik Turki, kami kawatkan 
sebagai berikut : 

”Atas nama 70 juta rakyat Indonesia yang sedang beijoang 
mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, kami me¬ 
nyampaikan kepada Y. M. ucapan selamat yang sungguh-sungguh 
lahir dari lubuk hati yang ikhlas, bertepatan dengan perayaan 
ke XXVI berdirinya Republik Turki.” 

Surabaya "STALINGRAD INDONESIA. 

Berita terakhir dari Indonesia sebelum Jen. Manssergh melak¬ 
sanakan ultimatumnya adalah : 

”Reports from London and New Delhi this moming (10/11/ 
’45) have said that after the acknowlegement of General Mans- 
ergh’s ultimatum to the Indonesians, Dr. Sukamo has made an 
appeal to General Christison to cancel the ultimatum on the 
ground that the perpose of the arrival of the British troops in Indo¬ 
nesia is only to disarm the Japanese and not the Indonesians. 
Its is further reported that Sukarnb has sent telegram to President 
Truman and Mr. Atlee, protesting against the ultimatum, conside- 
ring this an interference favouring the Dutch. Although some 
houis have elapsed now since the exipation the ultimatum, no 
outbreak of violance has been reported.” 

Tetapi harian-harian yang terbit sore itu telah penuh dengan 
berita serangan-serangan besar-besaran angkatan darat, laut dan 
udara Inggris terhadap Surabaya. Dalam kecaman-kecaman kami 
terhadap kebiadaban ’Nazi’ Sekutu yang serupa dengan kekejaman 
Nazi Jerman terhadap stalingrad, serta keberanian pejoang- 



pejoang Indonesia, kami menamakan Surabaya ’Stalingrad Indo¬ 
nesia.” Seminggu kemudian setelah melihat gambar-gambar yang 
disiarkan majallah Inggris bergambar seperti ’The Sphere,’ ’The 
Illustrated London News’ dan sebagainya ternyata nama itu 
tepat pada tempatnya. 

Untuk membenarkan (to jastify) tindakan-tindakan mereka 
yang kejam itu, pers negara-negara Sekutu menyebarkan berita- 
berita bohong dengan maksud menimpakan tanggung-jawab 
kepundak pemimpin-pemimpin dan bangsa Indonesia. Misalnya, 
majallah ’The Sphere’(29/12/45) mengatakan : ”The Indonesians 
extremists accepting no orders from their own ’Provisional Go¬ 
vernment.’ Large British reinforcements are to give General 
Christison all the necessary power he needs to restore order in the 
Island.” Dikatakannya pula : ”There are thousands of Europeans 
throughout Java gathered in ex-Janese concentration camps : 
many of them are in gravedanger from the Indonesian insurgents, 
who have pait Uttle heed to the orders of the so-called ’President ,’ 
Dr. Sukamo.” Mereka juga menggambarkan seolah-olah rakaat 
Indonesialah yang memulai penyerangan, bukan mereka seperti 
teijadi di Surabaya itu. Di halaman lain”The Sphere”mengatakan 
”At first, they (maksudnya kapal-kapal perang Caisar, Cavalier 
dan Carron) took part in the evacuation of intemees from -the 
town; but later - when the Indonesians broke into open revolt, 
they bombared the coast in support of the army.” Dalam mengo- 
mentar satu foto yang diambilnya di Yogyakarta, The Shpere juga 
mengatakan : ” It is interesting as showing the types of men now 
engaged on lawless enterprises against Britain.” Demikian juga 
majallah ”The illustrated London News” (12/1/46) ”Since the 
battle for Surabaya, the world has been shocked by unprovoked 
attacks by Indonesians on the occupants of intemment camps.” 
Majallah ”The Time” (25/1/46) dengan nada salib menakut- 
nakuti dunia Barat dengan kebebasan Ummat Islam dan kebangki¬ 
tan nasionalisme Asia dengan mengatakan: ”lt might become the 
chieft city of the first great Moslem colony to free itself from 
Ruropean rule, or it might come to symbolise the first wave of 


85 





asiatic nationalism to break into chaos.” Mengenai Sukamo, 
dengan lisan seorang Belanda dikatakannya :”This fellow Sukamo 
is just a crook and a collaborator who is certainly going to tum 
comminist within next five years.” Tetapi diakuinya pula bahwa 
pengangkatan Bung Syahrir sebagai Perdana Menteri sebagai 
’smartes’ move oleh Sukamo buat mematahkan tuduhan-tuduhan 
seperti di atas, dengan mengatakan : "Because Van Mook at first 
refused to treat with collaborators, Sukamo induced a rival 
native leader, Shahrir, to become his Prime Minister - a move 
that tumed out to be the smartest Sukamo ever made. Smoother 
and brighter than Sukamo, and with a clean anti Japanese record, 
Shahrir had everything except the adulation of the Indonesian 
masses. ”Sebagai sebab langsung bagi pemboman Surabaya, 
majallah London ”News Review (15/11/45) dengan menonjol¬ 
kan gambar ’Ahmad Sukamo of Indonesia’ pada kulit depannya 
dan tulisan ”After the white man and the yellow man, the 
brown?”mengatakan:’Meanwhile, fed up with the activities of law- 
less gangs at Surabaya naval base, British Major-General E.C. Man- 
sergh sent an ultimatum to Indonesian Governor Soerio that Bri¬ 
tish troops woult. act. RAF planes dropped leaflets on the city 
(pop. 170.000) ordering Indonesian civilians to surrender their 
arms. When they refused, Mansergh stmck hard by land, sea and 
air.’ 

Untuk menghadapi arus propaganda bohong Sekutu itu, de¬ 
ngan segera pada hari kedua, 11/11/45, Panitia Pusat mengumum¬ 
kan Pernyataan yang antara lain berbunyi sebagai berikut : 

"Semenjak mulai pertempuran-pertempuran berdarah di 
Indonesia antara kekuatan-kekuatan rakyat pembela kemerdekaan 
dan algojo-algojo kemerdekaan dari kekuatan-kekuatan Sekutu, 
trompet penjajahan terus-menerus mencoba menggambarkan ge¬ 
rakan kemerdekaan Indonesia dengan berbagai rupa, yang sama 
sekali bertentangan dengan kenyataan. Demikian setelah me¬ 
reka gagal menggambarkan seolah gerakan itu ’made in Japan,’ 
berkat kekompakan bangsa Indonesia yang menakjubkan melawan 
kekuatan-kekuatan penjajahan. Propaganda penjajahan mencoba 


86 



lagi meragu-ragukan kepemimpinan Pemimpin Besar Sukamo, 
dengan membohong bahwa dalam gerakan kemerdekaan Indonesia 
terdapat golongan moderat dan golongan extrimis, dan bahwa 
golongan extrimis ini tidak mempedulikan perintah-perintah 
Sukamo, sehingga tali pimpinan telah lepas dari tangannya.” 
Setelah membantah seluruh tuduhan-tuduhan Sekutu dan trom¬ 
pet-trompetnya itu, Pernyataan itu mengatakan : 

"Sesungguhnya dalam tuduhan dusta moderat dan extrimis- 
itu terselat maksud busuk, yaitu usaha menimpakan tanggung- 
jawab kekacauan di Indonesia sekarang keatas pundak bangsa 
Indonesia, dan membebaskan kaum penjajah yang melalukan 
agresi dari dosa. Tetapi kenyataan-kenyataan yang tidak dapat 
ditutup-tutup telah dapat mengungkapkan maksud busuk itu, 
karena seluruh dunia telah menyaksikan kekompakan bangsa 
Indonesia dalam sikap dan tujuan. Maka tepat sekali pernyataan 
Wakil Presiden Dr. Hatta yang meletakkan tanggung-jawab per¬ 
tumpahan darah di Indonesia di atas kepala Inggris yang tidak 
menetapi persetujuan-persetujuan yang telah dibuatnya dengan 
pemimpin-pemimpin Indonesia.” 

Setelah menguraikan persetujuan-persetujuan yang telah 
dibuat itu, Pernyataan itu mengatakan lagi : 

”Akan tetapi baru saja mereka menginjakkan kaki di Suraba¬ 
ya, mereka telah melanggar pokok persetujuan tersebut dan mulai 
mencoba-coba hendak melucuti senjata kesatuan-kesatuan In¬ 
donesia. Maka terjadilah pertempuran-pertempuran yang menga¬ 
kibatkan terbunuhnya Brigadir Malaby.” 

Sesudah menerangkan lagi kebohongan-kebohongan tentang 
golongan-golongan moderat dan extrimis dan pembangkangan 
terhadap kepemimpinan Sukamo, serta menyatakan bahwa semua 
tindakan-tindakan pembalasan pihak Indonesia disebabkan kecu¬ 
rangan-kecurangan Inggris, dikatakan : 

”Jika rakyat Indonesia menolak ultimatum yang mereka 
anggap suatu penghinaan, bukanlah karena mereka itu’e-xtrimis; 


87 




yang membangkang terhadap pemerintah Presiden Sukamo, 
tetapi karena mereka adalah nasionalis yang sungguh jujur kenasi- 
onalannya dan tidak mau mengabaikan hak-hak tanah-air dan 
kemerdekaan negaranya”. 

”Dari semua itu jelaslah bahwa rakyat Indonesia semuanya 
tunduk dan patuh kepada kepemimpinan Presiden Sukarno, dan 
jelaslah pula bahwa semua'pertumpahan darah yang menjadi 
korbannya para wanita dan anak-anak Indonesia yang tidak ber¬ 
dosa dan tidak bersenjata itu, seluruh tanggung-jawabnya dipikul 
oleh kaum penjajah yang tidak memenuhi janji-janji dan perse- 
tujuan-persetujuan serta bertekad membantu agresi Belanda 
yang terkutuk itu terhadap bangsa dan kemerdekaJan Indonesia.” 

Sebelum menyerang Surabaya, Sekutu membohong lagi 
bahwa Indonesia telah mengumumkan perang terhadap Sekutu. 
Mujurlah Pemerintah R.I. segera membantah berita yang dimak¬ 
sudkan untuk ’mensyahkan’ agresi mereka. 

Reaksi-Reaksi 

Pernyataan Panitia mendapat sambutan baik dari rakyat 
Timur Tengah yang menunjukkan simpatinya dengan pernyataan- 
pernyataan dan demonstrasi-demonstrasi. Demonstrasi terbesar 
adalah yang diadakan mahasiswa Fouad I University, di mana 
diadakan pidato-pidato sokongan dan sembahyang ghaib bagi 
syuhada Indonesia. Pada akhirnya disetujui satu resolusi yang di¬ 
sampaikan kepada seluruh negara di dunia melalui perwakilan- 
perwakilan mereka di Kairo. Resolusi itu berbunyi : 

1 - Menuntut pemerintah-pemerintah di seluruh dunia, terutama 

Mesir dan negara-negara Arab lainnya supaya mengakui R.I. 

2 — Menentang dan mengutuk pendaratan tentara Inggris dan 

Belanda di Indonesia, suatu tindakan yang bertentangan 
dengan Atlantic Charter yang menjamin kemerdekaan bang¬ 
sa-bangsa. 

3 — Menuntut supaya tentara Inggris dan Belanda yang mendarat 

di Indonesia ditarik dengan segera. 


88 



4 — Menuntut supaya ’Nica’ yang menjadi sumber kekacauan 

di Indonesia dibubarkan dengan segera. 

5 - Menyampaikan resolusi ini kepada negara-negara Arab dan 

negara-negara Perserikatan Bangsa-bangsa. 

Bertepatan dengan perkembangan genting di Indonesia itu, 
Partai Al—Wafd, partai politik terbesar di Mesir mengadakan 
kongres. Dalam pidato pembukaannya Mustafa Nahas Pasya, 
pemimpin Mesir terkemuka memberi tempat yang luas kepada 
soal Indonesia dan hak bangsa Indonesia buat menentukan nasib¬ 
nya sendiri, serta sokongan rakyat Mesir terhadap peijoangannya. 
Kepada beliau yang juga menjabat Perdana Menteri kami kirim¬ 
kan surat, selain berterima kasih atas sokongan dan perhatiannya 
itu, serta menerangkan lebih lanjut - karena sebelum itu kami te¬ 
lah mengirimkan memorandum - perkembangan terakhir di Indo¬ 
nesia, karena semenjak pertengahan perang dunia II beliau erat hu¬ 
bungannya dengan Inggris sebagai satu-satunya pemimpin Mesir 
yang sanggup kerjasama dengan Sekutu, ketika Raja Faruk meno¬ 
laknya, pada penentuannya kami katakan : 

”01eh karena itu kami mendatangi Y.M. dengan penuh 
harapan bahwa Y.M. akan mempergunakan kedudukan dan 
pengaruh Y.M. dikalangan Inggris dan negara-negara Sekutu 
lainnya, supaya mereka menghentikan campur - tangan dalam 
soal Indonesia dan menghentikan bantuan kepada Belanda guna 
mengembalikan penjajahan terkutuk ke bumi Indonesia.” 

Dengan digerakkan oleh Panitia-panitia di Kairo, Mekkah 
dan Baghdad, sembahyang ghaib yang serentak telah diadakan 
di seluruh mesjid Timur Tengah, untuk arwah syuhada Indonesia 
di Surabaya. 

Di Inggris sendiri tindakan pemerintahnya itu mendapat tan¬ 
tangan yang meningkat. Prof. Harold Laski, Ketua Executive 
Partai Buruh yang berkuasa mengecam politik Pemerintah 
Buruh yang mendaratkan tentara Inggris di Indonesia guna me¬ 
ngembalikan penjajahan Belanda. Bertepatan dengan itu kami 
mengawatkan kepadanya sebagai berikut : 


89 



”Thanks your support Indonesian nationalists against impe- 
rialism. Hope you make Labour Government change interference 
policy and recognize Indonesian independence to avoid more 
bloodshed.” 

Kedutaan Cina Nasionalis di Kairo menyampaikan kawat 
rahasia berikut dengan harapan supaya disampaikan kepada 
Pemerintah Indonesia : 

”The Chinese Government received report that Chinese 
national in Surabaya were being compelled to fight for the inde¬ 
pendence movement. The Chinese Government does not object to 
chinese volonteer fighting for the Indonesian Government, but 
would request that they should not be forced to enter struggle.” 

Terhadap kawat itu kami jawab sebagai berikut : 

”Thousand Indonesians and chinese killed by imperialists 
suppressing independence movement. Strong support wanted 
and Chinese recognition Indonesian independence essential.” 

Pada 23 Nopember 1945 Mr. E. Bevin, Menteri Luar Negeri 
Inggris, di Majlis Rendah mempertahankan campur-tangan negara¬ 
nya di Indonesia. Pada 27 Nopember 1945 dengan No. 134/45 
Panitia Pusat mengirimkan kepadanya surat berikut sebagai 
reaksi, antara lain berbunyi : 

”Your Excellency’s speech in the House of Commons on 
November "23rd, 1945 has greatly surprised our people as it 
reflected the policy of the Labour Government, which claims to 
be the defender of democracy.” 

”We understood from the speech that Your Excellency con- 
sidered the Indonesian people only of secondry importance 
while all preference was given to the Dutch. The problem, the- 
reforce,was problem between the Dutch Government and the 
British Government; the Indonesians are ignored. The matter, on 
which Your Excellency’s argument was based is the agreement 
between the govemments only, but not such a bases like the 



principles of the Atlantic Charter, Teheran Declaration and Cre- 
amea Conference, for which the United Nations have fought. 

”But we, Indonesians, consider, as do other nations, these 
intemational agreements of which the British Government is one 
of the sifnatories, as the only thingable bases of a world of peace 
and justice. That was why the Praparatory Committee for Inde- 
pendence, which presented all political parties in Indonesia, 
proclaimed - by using the right of self - determination -, the 
independence of the country and the foundation of the Repu- 
blic of Indonesia after the surrender of the Japanese ....... the 

Republic had adressed all govemments in the world notifying 
them the construction of a new world of peace and justice based 
on mutual respect.” 

”So two important matters have been actually happened 
in Indonesia : 

1— The Indonesian people have used their natural right of 
self-determination.... 

2— The Indonesian Government has offered its readiness for 
close ccoperation with all govemment in the world, in- 
cluding the British Govemment. ... 

”If these two facts were taken into consideration, the un- 
necessary bloudshed could be avoided. There is no need of going 
in the country, because the Indonesian Govemment will disarm 
the Japanese and ahnd over them to the Allied Command and 
will relieve those who in intemment camps. There is also no 
need of talk about constitutional matters between the Indonesians 
and the Dutch, because Indonesia has achieved her indepen¬ 
dence and posseeses her own constitution. The so-called ’Dutch 
East Indies’ do not exist any more_” 

”You have said that the Nethrlands was the first one who 
declared war against Japan and stood .by Britain. It is true. But 
it must be remembered that those actually fighting both in the 
Dutch army and navy were almost the Indonesians, who sincer- 
ly believed in the noble declarations of the Great Pciwers re- 


91 




garding the right of freedom for all nations, but now disappo- 
inted by Your Government policy of interference in Indonesia...” 

”You have accused the Indonesians of being rebels, hav- 
ing shot at Britain men and destroyed some British convoys 
and having created troubles. Not only these matters require 
confirmation, but on the other hand sef-defence is allowed by 
intemational law.” 

”Wy did You refuse to allow representatives of Austraha, 
India and Philippines to come and to see the real situation in 
our coujitry ? Why did You oppose the expedition of an inter- 
national commission to Indonesia to investigate...?” 

”To be frank, as You have asked in Your sf>eech, we, the 
Indonesians, demand the Labour Government either to stop 
any interferance and recognize the Republic of Indonesia and 
her independence or to break all those intemational agreements 
as the Atlantic Charter, Teheran Declaration, etc. etc.” 

”To be frank again, seventy million Indonesians are de- 
termined to be free or to die.” 

’Therefore we sincerely believe that it is preferale recon- 
sider the matter once more and to change the British policy 
by adhering to the noble prindples of the right of self-deter- 
mination, justice and humanity and we are sure that only such 
a change will remove our suspicions and bring back peace and 
order in Indonesia.” 

Teijemahan bahasa Arab surat diatas disiarkan oleh pers 
Kairo dan Timur Tengah pada 30 Nop. 1945 beserta komentar- 
komentar yang ikut mengancam campur-tangan Inggris menyo¬ 
kong Belanda di Indonesia dan melupakan janji-janji Sekutu 
selama perang dunia kedua itu. 

Dalam hubungan-hubungan kami dengan tentara Inggris yang 
progressif di Mesir, di mana kami juga mengadakan ceramah- 
ceramah, diketahui bahwa dikalangan tentara Inggris dan Belanda 


92 




di Indonesia teijadi perselisihan dalam menghadapi rakyat In¬ 
donesia, yang telah mempergunakan hak-hak yang mereka (ten¬ 
tara Inggris) berperang karenanya selama ini di Eropah dan Asia. 
Berita ini segera kami kirimkan kepada semua Panitia di luar 
negeri. Naskah yang dikirimkan ke Panitia di San-Francisco 
adalah sebagai berikut : 

Perhimpunan Indonesia 417 Kearnystreet San-Fransisco. 

"Official sources report friction in Anglo-Dutch troops 
in Indonesia. British forces reject fighting for Dutch. Indian 
people criticism sacrificing Indians for nothing while Indian 
soldiers refuse fighting their Indonesian brothers. Please exploit 
for strong propaganda urge American leaders support Indonesia. 
Your pamphlet received.” 

Pada 6 Desember 1945, Pimpinan Tertinggi Sekutu akan ber¬ 
sidang di Singapura guna membicarakan soal Indonesia dan situ¬ 
asi yang semakin gawat di sana sesudah pendaratan Inggris. Pada 
5 Desember itu Panitia Pusat mengirimkan kawat berikut ke 
konferensi Sekutu itu yang juga disiarkan oleh pers setempat : 

”Allied military conference Singapore. 

"British interference worsens situation Indonesia. Rec.og- 
nition Indonesian independence essentiai for peace. On behalf 
10.000 indonesians Middle East, Indonesian Association for 
independence.” 

V • 


93 



SOAL INDONESIA DI-DEWAN KEAMANAN 


Soal Indonesia berkali-kali dibicarakan di Dewan Keamanan. 
Maksud saya tidak hendak membicarakan semuanya itu, tetapi 
terbatas pada waktu sebelum negara-negara Arab mengakui Repu¬ 
blik Indonesia. Karena dengan pengakuan itu, pintu ke-Perseri- 
katan Bangsa-bangsa telah terbuka luas bagi wakil-wakil resmi 
Indonesia, dan perkembangannya sesudah itu telah banyak di¬ 
ketahui rakyat Indonesia. Yang masih samar-samar ataupun 
tidak diketahui sama sekali, adalah yang terjadi di arena inter¬ 
nasional itu, selagi tugas membela Proklamasi masih dipegang 
seluruhnya oleh Panitia-panitia yang tersebar di luar negeri. 

Buat pertama kali sesudah Proklamasi, Dewan Keamanan 
Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) bersidang di London, 
pada 10 Januari 1946, yaitu setelah perkembangan di Indonesia 
menjadi gawat disebabkan campur-tangan Inggris menyokong 
Belanda. Kesempatan ini tidak diabaikan Panitia-panitia itu. 
Panitia-panitia Timur Tengah pada 6/1/45 mengirim kepada 
negara-negara yang menghadirinya satu memorandum panjang 
yang menerangkan perkembangan situasi di Indonesia semenjak 
Belanda menyerah tanpa peperangan kepada Jepang, sampai 
puncak gerakan kemerdekaan nasional dengan Proklamasi, dan 
campur tangan Inggris untuk menghancurkan Prokalamasi yang 
berurat-tanggal kepada hak menentukan nasib bagi tiap-tiap 
bangsa yang diakui semua piagam internasional yang diumum¬ 
kan selama perang dan dimahkotai dengan Piagam Perserikatan 


94 



Bangsa-Bangsa di San-Francisco itu. Kami menolak hak Belanda 
untuk kembali ke Indonesia sesudah ratusan tahun mengabaikan 
pendidikan fisik dan mental bagi rakyat Indonesia, sehingga 
jutaan mereka ini menjadi korban keganasan fasism Jepang. 
Demikian pula tidak membenarkan suatu negara yang ikut mem¬ 
buat Piagam PBB itu melanggar Piagam yang menjamin hak-hak 
bangsa-bangsa itu. Setelah menunjukan kekayaan Indonesia yang 
dapat ikut membangun dunia baru yang damai dan makmur, 
kami tegaskan bahwa kemungkinan itu hanya dapat diciptakan 
jika PBB dapat menyelesaikan soal Indonesia itu dengan : 

1— mengakui kemerdekaan penuh Indonesia, 

2— mengakui sistem pemerintahan yang telah dipilihnya, 

3— menghentikan campur-tangan Inggris di Indonesia, 

4— menghentikan politik kolonial Belanda di Indonesia yang 
menyebabkan kekacauan di sana dan memulangkan ten¬ 
tara Belanda serta administrasi Nicanya dari Indonesia, 

5— memungkinkan wakil-wakil Indonesia ikut dan mewakili 
bangsanya di tiap-tiap sidang yang menyangkut Indonesia, 
dan 

6— menerima Indonesia menjadi anggota PBB. 

Surat pengantar memorandum tersebut, berbunyi sebagai 
berikut : 

”The present development in Indonesia (East Indies) have 
proved to the world that in spite of British interference ’to re- 
store peace and order’ in that part of the world, British, Indian, 
Dutch and Indonesian blood is being shed and towns and villages 
are still being destroyed under the nose of the Unites Nations 
by weapons which are sent to bring peace to every people.” 

”Therefore we feel it is our duty. to send the enclosed me¬ 
morandum to You as a representive of a great people who have 
fought for freedeom, justice and democracy.” 



”Facts have proved that the disturbances in Indonesia have 
been caused by the Dutch troops and the interference of the 
British.” 

”So, we sincerely hope that You as a Champion of free- 
dom and democracy will kindly support the Indonesians in their 
struggling for full independence and will make the necessary 
arrangments to make it pos^jble for the United Nations in this 
flrst session to settle the problem in the following bases.” 

Setelah menyebutkan keenam tuntutan di atas, surat itu ber¬ 
bunyi : 

”We are confident that You and all Your colleagues will 
leave no stone unretumed to help seventy millio'n Indonesians, 
upon which depends whether or not the newly established Uni¬ 
ted Nations. Organization deserves to exist as a union of all 
nation, big and semall.” 

Adapun bunyi memorandum itu sendiri, sesudah menggam¬ 
barkan bagaimana Belanda menyerah (9/3/42) dan membiarkan 
rakyat Indonesia jatuh ke bawah keganasan Jepang tanpa per¬ 
siapan fisik dan mental, dikatakan antara lain: 

”The Dutch must accept the responsibility for what hap- 
pened. After Centureis of so-called’training,’ on March 9, 1942 
the Dutch handed over 70 million Indonesians to the Japanese 
in a condition of military unpreparedness and intellectual back- 
wardness .... From that moment the Indonesians were awak- 
ened to the true state of affairs and there was a sudden upsurge 
of the nationalism far stronger and deeper than ever before. 
And that nationalism was heightened by Japanese brutal oppres- 
sion.” 


”Tyranical Japanese rule could neither curb nor stamp 
out the growth of self-repect and patriotism among masses, 
but on the contrary, it did arouse the desire to get rid of Japa¬ 
nese as well as all other form of foreign domination .... .” 


96 




”After having handed the Indonesians to the Japanese, 
the Dutch have not even a shadow of moral right to take the 
virtuous stand that the Indonesians co-operated with the Japa- 
nese; all the more so, because generally speaking, the Japanese 
obtained a greater measure of co-operation from the Dutch- 
men and women in their employ than from the Indonesians. 
men and women in their employ than from the Indonesians. The 
Dutch wilfully the anti-Japanese aspect of Indonesian natio- 
nalism Overtly and covertly the Indonesians resested the Ja¬ 
panese in the shape of sabotage, uprisings and other forms of 
opposition.” 

"The nationalists, who worked with the Japanese, never 
for a minute - in spite of their enforced presence in the totali¬ 
tarian camp - fbrsook the nationalistic ideals which have for 
years been their guiding light. This is evidened by the Consti- 
tution they framed for the Republic of Indonesia and although 
it worked out during the time of the Japanese occupation, the 
whole document is entirely democratic in form and spirit.” 

”When the Republik of Indonesia was proklaimed (on 
17/8/45), it marked the cujmihation of the political desire of the 
Indonesian people to attain sovereignity for their nation. Like 
an irresistable tidal wave, it carried every Indonesian along with 
it.... ” 

”Whenever they appeared at intemational conferences 
the Dutch claimed that they had never looked upon Indonesia 
as a colony and that consequently the Indonesians had nothing 
but love for the Dutch Government. But for four months now 
World has seen how determiried the Indonesians have manifested 
their desire to remain a sovereignity people. They want to rein- 
pose their rule on Indonesia, and the foisting of Dutch imperialism 
on the Indonesian people, will be nothing else but a delibera- 
te violation of the Atlantic Charter and of the United Nations’ 
Charter; it will result in endless bloodshed and sacrifice of life, 
for only by force and force alone can the Dutch try to puli down 
the Government which the Indonesians have set up.” 




”Nor have the Dutch any moral right to walk into In¬ 
donesia to resume their old imperialistic politicies on the as- 
sumption that they bear neither blame for their past sins nor 
for their surrender which resulted in 70 million Indonesians 
being delivered to the tender mercies of Japanese militerism. 
Justice denies the Dutch any say in the Indonesian affairs, and 
any sanctioning of their imperilistic aspirations will mean viola- 
tion of the, principles of justice and humanity. The San-Fran- 
sisco Charter places the responcibility for the walfare of depen- 
dent peoples on certain nations, but these nations them-selves 
are not empowed to violate the basic principles of that Charter. 

Setelan membentangkan kerugian-kerugian materi yang akan 
dipikul seluruh dunia, jika kekayaan Indonesia tidak dapat di¬ 
manfaatkan untuk kebahagiaan selurun ummat manusia, yang 
akan disebabkan agresi Belanda dan penyokong-penyokongnya 
dikatakan : 

”When the Republic of Indonesia is formally recognized 
and when the Indonesian Government obtains conditions fa- 
vouring the full contribution of its resources towards national 
and secial recons'truction.. The Indonesians can and will 
make their contribution to world culture; but that will only 
be possible wheh they exist as a free nation on a footing of com- 
plete equality with the other peoples of the world.” 

Sampai 17 Januari soal Indonesia belum juga dibicarakan 
di DK-PBB. Kami khawatir kalau-kalau ’lobbying’ Belanda dan 
Sekutu-sekutunya berhasil memahamkan negara-negara peserta 
untuk tidak mengutik-ngutik soal tersebut. Sejauh kekuatan 
uang yang ada, kami mengawat kepada wakil-wakil negara yang 
dirasa bersimpati kepada Indonesia, dan Sekretaris Jenderal 
PBB, meminta bantuan mereka, serta mendesak- sekiranya tidak 
berhasil di DK-PBB supaya dibicarakan di SU-PBB (Sidang Umum 
PBB). Kawat-kawat yang dikirimkan pada 17/1/46 itu berbunyi: 

”Sekretary General UNO, General Assembly London. 


98 



"Indonesian problem become worid affair urging be dis- 
cussed in General Assembly. Reason present disturbandes Dutch 
endevour encouraged by British interference reimposing colonial 
rule in Indonesia. Peace cannot b p restored except by recog- 
nition independence.” 

CKainese Chief Delegate U* N.O. General Assembly, London. 

”Congratulation your appointment important post. Indone¬ 
sia anticipates your strong help You only real supporter Eastren 
peoples Independaence,” 

"Ukraiman Chief Delegate U.N.O. Gen. Assembly, London. 

”€ongratulation your appointment important post. Indone¬ 
sia anticipates your stronghelp. You only real supporter Socia- 
list contries independence.” 

"Egyptian Chief Delegate U.N.O., Gen. Assembly, London. 

”Gongratulation your appointment important post. Indone¬ 
sia anticipates your stronghelp. Arab delegates only real suppor- 
ters Moslem countries Independence.” 

Seperti terlihat pada kawat-kawat itu, masing-masing negara 
berkedudukan sendiri-sendiri terhadap Indonesia dan bagian 
kedua dari tiap-tiap kawat itu disesuaikan dengan kedudukan itu. 
Jenderal Saleh Harb, Ketua Panitia Pembela Indonesia mengirim¬ 
kan pula kepada Sekjen PBB pada 23/1/46 kawat berikut : 

Moslem Arab worid support Indonesian independence. 
British interference favouring Dutch hurts Moslem feeling and 
violets UNO principles. Recognition Indonesian independence 
only solution Indonesian problem.” 

Pada waktu yang sama (23/1/46), sambil mengucapkan 
selamat atas pemilihan Ketua Sidang Umum dkn Ketua Dewan 
Keamanan Panitia Pusat mengingatkan lagi dengan kawat berikut: 

”Chairman General Assembly 

"Chairman Security Coundl, UNO London, 



” Congratulation your appointment important post. Relying 
on your fullest support Indonesian cause. By Dutch surrende? 
to Japanese March 1942, by Japanese surrender to Allied Augusi 
1945 and by using self-determination righ t recognizedin United 
Nations’ Charter, Indonesians regain sovreignity over their country. 
Peace order cannot be restored except by recognition Indonesian 
independencel’ 

Kepada Sekjen PBB yang menyusun acara, dikirimkan pula 
memorandum di atas tadi dengan surat pengantar No. 30/46/E 
tanggal 17/1/46. Setelah mendesak supaya soal Indonesia dibica¬ 
rakan di—SU—PBB, bila tidak berhasil di-DK-PBB, dan menge¬ 
mukakan kenyataan-kenyataan yang termaktub dalam surat 
pengantar sebelum ini, beserta enam tuntutan di atas, dikatakan 
antara lain : 

”.WE WOULD LIKE TO MAKE IT CLEAR THAT NO 

AGREEMENT CAN BE CONSIDERED BINDING FOR THE 
INDONESIAN GOVERNMENT UNLESS IT SHARES IN MA- 
KING IT.” 

”Bearing in mind the noble principles on which the UNO has 
been founded, we are conifident that all its members will leave 
no stone unturned to help 70 million Indonesians, the outcome 
of which determine whether or not the UNO deserves the name 
of bastian of democracy, peace and justice for all nations, big 
and small, white and coloured.” 

Setelah diberitakan bahwa DK—PBB memutuskan memasuk¬ 
an soal Indonesia dalam acaranya, yang dianggap satu langkah 
kemenangan bagi perjoangan Indonesia dilapangan Internasional, 
pada 27/1/46, kami men^rimkan kawat-kawat lagi berisi : 

1 — terima kasih atas simpati, 

2 — tuntutan ikut-serta wakil Indonesia dalam mepibicarakannya, 

dan 

3 — Indonesia tidak terikat oleh suatu keputusan jika ia tidak 

ikut memutuskannya. 


100 




Kawat-kawat itu yang dikirimkan kepada para ketua delegasi- 
delegasi Cina Nasionalis, Uni-Soviet, Amerika Serikat dan Mesir 
di DK-PBB berbunyi : 

”Thanks your sympathetic attitude. Please make Security 
Coundl accept presence Indonesian Republic representatives 
at discussion Indonesian problem. No agreement can be con- 
sidered binding unless Indonesian Government shares in making 
it ” 

Pada perdebatan masuk-tidaknya soal Indonesia dalam acara 
DK—PBB, Dimitri Manuilsky, Ketua Delegasi Ukaraina adalah 
seorang yang sangat bersemangat menyokong. Kepadanya kami 
kirimkan kawat terima kasih tersendiri beserta tuntutan-tuntutan 
di atas itu. 

Pada permulaan Pebruari 1946 soal Indonesia mulai dibicara¬ 
kan. Menlu-Menlu Inggris dan Belanda Mr. Bevin dan Mr. van 
Kleffen, pembicara-pembicara pertama mulai memutar-balikkan 
kenyataan dan melontarkan tuduh-tuduhan yang bukan-bukan. 
Terhadap ini kami mengirimkan protes melalui Sekjen PBB dan 
menegaskan perlu ikut wakil Indonesia membicarakannya, tidak 
terikat Indonesia dengan keputusan ia tidak ikut membuatnya 
dan keamanan tidak akan pulih di Indonesia selama tentara asing- 
sumber kekacauan - tidak ditarik dari sana. 

Kawat yang dikirim pada 8/2/46 itu berbunyi : 

”We strongly protest Bevins Kleffens statements against 
Indonesian cause contracting faets. We strongly demand presence 
Indonesian representatives UNO defending our cause. We remind 
You Itidonesiart Premiers statement no agreement binding unless 
Indonesian Government shares making it. No world peace as long 
as no peace in Indonesia. No peace there as long as foreign troops 
on Indonesian soil.” 

Dari pidato-pidato Mr. Manuilsky, Wakil Ukraina, ternyata 
bahwa ia mempergunakan bahan-bahan yang dikirimkan Panitia- 
panitia di luar negeri. Hal ini mendorong kami untuk mengirimkan 
lagi dengan kawat-kawat supaya dapat sampai pada waktunya. 


101 



Sebagai contoh saya nukilkan kawat yang dikirimkan pada 8/2/46 
selain memberikan bukti-bukti kebohongan pernyataan-pernya¬ 
taan wakil-wakil Inggris dan Belanda itu, juga mendesak DK-PBB 
supaya mengirim suatu badan penyelidik ke Indonesia, guna 
menyaksikan kebohongan-kebohongan itu. Kawat itu berbunyi 
sebagai berikut : 

”Comrade Dimitti'Manuilsky, Ukrainan Chief Delegate, Lnd. 

”Thanks your excellent defence Indonesia. Facts landing 
first British troops welcome by Indonesians, but landing Dutch 
reconquest troops behind British contracting assurances and 
using Japanese soldiers, comel Indonesians selfdefence. No 
fascism in Indonesia but sincere patriots strongly determined 
defending their democratic rights. British burnt down Tabing 
village Sumatra reprisal one British Mayor killed and Bekasi 
village Java with over 1000 houses burnt down reprisal four 
British airmen, these British actions real fascism. Dutch lost so- 
vereinity by surrender to Japanese Indonesia regains sovereignity 
by using right sef-determination. Internees armed by Dutch 
against Indonesian Government. British officially support Dutch 
ieconquering Indonesia. No evidence Indonesian guilty murder- 
ing MaUaby stated Indonesian Ministry Information. Internatio¬ 
nal investigating conamission essenttal. If British really behave 
well Indonesia why they oppose it. Indonesian Government 
declared readiness disarming Japanese and protecting internees.” 

Dalam perdebatan DK-PBB itu terjadi suatu yang mengejut¬ 
kan. Yaitu* pernyataan wakil Mesir, Menlu Mamduh Riad yang 
seirama dengan pernyataan-pernyataan wakil-wakil Inggris dan 
Belanda. Ia ikut monolak usul wakil Ukraina supaya DK-PBB 
mengirim suatu komisi penyelidik internasional, seperti kami usul¬ 
kan ke Indonesia guna menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi 
di sana dan melaporkannya kepada DK-PBB itu. Ia adalah seorang 
feodal yang sedikit sekali berhubungan dengan rakyat. Dari itu 
ia tidak menyelami perasaan yang hidup dalam masyarakat Arab 
sendiri terhadap Indonesia, sehingga ia membuat kesalahan itu. 
Sikapnya itu tidak saja mengejutkan Panitia-panitia Indonesia 


102 



di luar negeri yang segera menghujaninya dengan protes, tetapi 
juga rakyat Mesir dan Arab sendiri, sehingga ia segera merobah 
sikapnya. Pada 11/2/46 Panitia mengirimkan kawat protes ser¬ 
ta desakan pengiriman komisi penyelidik internasional kepada 
kelompok negara-negara non-Arab (Uni-Soviet, Ukraina dan Cina) 
dan kepada negara-negara Arab (Mesir. Suria, Irak dan Lebanon) 
sebagai berikut : 

"Thanks your strong support Indonesia (hanya kepada 
negara-negara yang menyokong tegas, Uni—Soviet, Ukraina dan 
£ina Nasionalis). Appeal supporting Indonesia (hanya kepada 
negara-negara Arab). Insiste international commission investiga- 
ting British cruelties and imperialistic interference. Strongly 
protest Mamduh Riad Egyptian Delegate intruding subject he 
did not understand but supporting British unresonably. We appeal 
UNO save Indonesia from anglo Dutch tyranny.” 

Protes-protes yang dilancarkan suara umum di Mesir dan 
negara Arab lainnya jauh lebih keras dari protes kami itu, se¬ 
hingga seorang pencinta Indonesia, seperti Muhammad Ali Taher 
dari Palestina yang membaca protes kami itu disurat-surat kabar 
mengecam kami karena katanya masih bersikap ’diplomatis 
terhadap seorang yang hendak menghancurkan kemerdekaan 
negeri kamu. ’ 

Mengenai keteledoran wakil Mesir di DK—PBB itu, kami 
tulis dalam buku "Indonesia As—Sairah” hal. 186 a.l. sebagai- 
berikut : 

"Bagaimanapun juga, ’berita salah’ itu—menurut Pemerintah 
Mesir—telah memberi kesempatan bagi pemerintah dan rakyat 
Mesir untuk melahirkan sikapnya yang terpuji ... Semua surat 
kabar dan organisasi rakyat mengeluarkan protes .. . Satu interpla- 
si dimajukan di Majlis Tinggi parlemennya oleh (alm) M. Sabri 
Abu Alam Pasya, Sekien Partai Al—Wafd dan ex Menteri Ke¬ 
hakiman. Demikian juga di Majlis Rendahnya oleh wartawan 
terkenal (alm) Kamil Syinnawai. Semuanya itu memberi ke¬ 
sempatan baik bagi Mesir, melalui Pemerintah dan anggota- 


103 



anggota Palemen dari kedua majlisnya untuk mengutarakan sikap 
menyokong bangsa Indonesia yang sedang berjoang.” 

Y.M. Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya, Perdana Menteri 
dan merangkap Menteri Luar Negeri, ketika menanggapi interplasi 

di Majlis Tinggi mengatakan : Saya tegaskan kepada saudara- 
saudara Anggota yang Terhormat bahwa saya segera memberi¬ 
kan pernyataan ini supaya jangan terbetik dalam ingatan bangsa A- 
rab atau lainnya bahwa Wakil Mesir tidak membela dengan sung¬ 
guh-sungguh pendirian bangsa-bangsa yang menuntut kemerde¬ 
kaan dan bahwa sesungguhnya ia telah mencurahkan seluruh u- 
sahanya guna mengertikan Dewan Keamanan dan mendesaknya 
supaya memperhatikan nasib bangsa-bangsa itu serte jangan mem¬ 
biarkan bangsa pejoang, seperti Indonesia, diperlakukan Belanda 
semau-maunya dengan senjata yang ada di tangannya. 

Pada 12/1/46 kami menemui Abdulrahman Azzam Pasya, Se¬ 
kretaris Jendral liga Arab. Ketika kami memajukan protes, karena 
salah satu negara Arab anggota liga tersebut menyimpang dari 
suara umum Arab, beliau memberi pernyataan yang saya catat 
dan diizinkannya mengumumkannya. Pernyataan ini akan saya 
bicarakan kemudian ketika berbicara tentang sikap Liga Arab. 

Pada 13/1/46 Panitia Pusat mengirim lagi kawat kepada 
para anggota DK-PBB, setelah diberitahukan oleh Reuter bah¬ 
wa Komite Nasional Pusat telah menuntut supaya suatu komisi 
penyelidik dikirim ke Indonesia. Kawat itu berbunyi sebagai 
berikut : 

”Urge your continue support. Reuter Batavia reported 12 
instant ’Centeral National Committee Republic Indonesia de- 
mands UNO sending immediately investigating commission first 
to know extent actiyities British forces and reestablish peace 
as Ukrainian Delegate proposed secondly to deal with great num- 
ber Dutch nazis still active in Indonesia.’ Reuter Colombo 
further reported ”Dutch vessel New Amsterdam transporting 
9000 Dutch soldiers to Java.” Dutch try in present negotiation 


104 



imposing proposals rejected by Indonesians many times. We 
believe these proposals rejected again.” 

Adapun jalannya sidang DK PBB yang dipimpin Mr.Norman 
Mackin, wakil Australia, dimulai dengan satu nota dari Wakil 
Ukraina, Dr. Dimitri Manuilsky kepada DK PBB menyatakan bah¬ 
wa di Indonesia terjadi benar-benar perang disebabkan campur- 
tangan Inggris dan penggunaan tentara Jepang. Tindakan perarg 
itu termasuk ancaman perdamaian dunia yang dimaksud artikel 
34 Piagam PBB. ”Dari memorandum-memorandum dan kawat- 
kawat yang saya terima dari seluruh pelosok dunia "-katanya-” 
meyakinkan akan perlunya soal lndonesia dibicarakan di DK PBB.” 
Setelah soal itu berhasil dicantumkan dalam acara badan inter¬ 
nasional itu suatu langkah kemenangan perjuangan diplomasi di- 
lapangan ini, ia mengusulkan supaya suatu komisi penyelidik 
internasional ( international invertigating commission) dikirim ke 
Indonesia. 

Tetapi suatu permainan (maneuvre) licik dari pihak Inggris 
dan Belanda telah dapat mengagalkan usul tersebut. Sementara 
DK PBB mulai membicarakan soal Indonesia itu, Inggris me¬ 
ngumumkan pengiriman Utusan Istimewa (Special Envoy) Sir 
Archibal Glerk Kerr ke Indonesia guna menolong kedua pihak 
Indonesia dan Belanda mengadakan perundingan. Demikian pula 
Pemerintah Belanda mengumumkan di Parlemennya "Rencana 
Khusus” bagi penyelesaian soal Indonesia-Belanda,dan undangan 
telah dikirimkan kepada Pemerintah Indonesia; padahal Belanda 
baru saja menolak duduk semeja dengan pemimpin-pemimpin 
Indonesia. Dengan taktik licik itu ketua sidang menutup perdeba¬ 
tan, karena tidak ada yang menolong usul Dr.Manuilky itu selain 
Uni-Soviet dan Polandia. 

Dalam menganalisa kegagalan itu, j»ada hal. 182-185 buku 
"Indonesia As-Sairah” saya katakan bahwa kegagalan itu disebab - 
kan lebih jauh oleh karena negara-negara peserta masih menganggap 
Belanda berdaulat di Indonesia. Karena San-FranciscoCon.ference 
pada tahun 1944 masih menganggap Belanda mewakili Indonesia. 


105 



Mereka tidak tahu seperti dibentangkan Mr. A.A. Maramis dalam 
bukunya ”No More Legal Power of the Netherlands in Indonesia’ 
bahwa berdasar konstitusi Kerajaan Belanda sendiri, artikel 21 
”Tidak suatu keadaanpun membolehkan pemindahan kedudukan 
pemerintah ke luar Kerajaan” (In no case the seat of government 
can be moved outside the Kingdom). Ditegaskan pula bahwa 
yang dimaksud dengan ”Kingdom” di sini ialah Kerajaannya di 
Eropa. Juga Sri Ratu ketika dinobatkan sesuai artikel 53 telah 
bersumpah akan berpegang teguh dengan Konstitusi itu. Maka 
dengan pindahnya Sri Ratu Wilhelmina ke London beserta men¬ 
terinya pada bulan Mei 1940, ia telah melanggar artikel 21 dan 
53 Konstitusi itu. Sebagai akibat pelanggaran itu, Sri Ratu dan 
dengan sendirinya pemangku kuasanya di Indonesia Gubernur 
Jenderal terakhir telah kehilangan kekuasaan hukum di Indonesia. 
Dengan perkataan lain, dari saat Sri Ratu dan Pemerintahnya 
pindah ke London, Belanda tidak mempunyai kedaulatan lagi 
di Indonesia dan Indonesia sendiri dari saat itu pula telah merdeka, 
menurut hukum Belanda sendiri. Maka Jepang menduduki Indone¬ 
sia merdeka dan baik Belanda atau Inggris tidak berhak campur 
tangan. 

Sayangnya buku itu sampai di Kairo setelah DK PBB selesai 
bersidang. Melihat pentingnya buku itu bagi dasar diplomasi revo¬ 
lusi, saya langsung menteijemahkannya ke dalam bahasa Arab 
dan naskah Inggrisnya diperbanyak untuk disebar luaskan di 
Timur Tengah, lapangan diplomasi revolusi kami. Penyebaran ini 
telah banyak memberi pengertian tentang hubungan Indonesia 
—Belanda. Selama ini orang hanya meninjaunya dari segi hukum 
internasional semata-mata, sehingga pandangan mereka seperti pada 
DK PBB itu menjadi keliru, dan tidak mengetahuinya dari segi 
hukum nasional Belanda, seperti disajikan Mr. A.A. Maramis itu. 

”Yang menentukan, Akhirnya, Adalah Indonesia.” 

Setelah selesai sidang DK PBB itu membicarakan soal Indo¬ 
nesia seperti di atas itu, Panitia Pusat/pada tanggal 18/2/46 


106 



mengumumkan satu Pernyataan panjang, mengenai kebohongan- 
kebohongan yang dilancarkan Inggris dan Belanda, baik terhadap 
gerakan kebangsaan Indonesia, atau kepada kesatuan-kesatuan 
bersenjatanya, dan juga terhadap pemimpin-pemimpinnya. Juga 
tentang pemutar-balikan kenyataan yang berkembang di Indonesia 
waktu itu dan kecurangan-kecurangan Inggris terhadap janji-janji 
yang diberikannya sebelum mendarat di Indonesia dan keingkaran¬ 
nya terhadap persetujuan-persetujuan yang telah dibuatnya dengan 
penguasa-penguasa Indonesia, dengan menonjolkan keganasan-ke- 
ganasan yang dilakukannya, demi pengembalian penjajahan Belan¬ 
da ke Indonesia, sekalipun melanggar segala charter internasional 
yang ia sendiri ikut membuatnya. Semuanya itu adalah berupa 
ulangan dari semua yang telah diungkapkan oleh perdebatan di 
DK PBB itu. Terhadap kebohongan Belanda, dinukilkan pengaku¬ 
an musuh dan pengakuan musuh adalah kesaksian utama, yaith 
jawaban Jenderal van Mook kepada para wartawan di negeri Belan¬ 
da : ’Tuntutan-tuntutan Indonesia patut mendapat perhatian dan 
penilaian. Syahrir mendapat sokongan dari selUruh cendekiawan 
dan suara umum Indonesia, dan di sana sekarang bergelora gerakan 
kebangsaan yang kuat yang rriengharuskan Belanda mencari per¬ 
setujuan dengan kaum nasionalis itu. ’ Kemudian dikatakan dalam 
Pernyataan itu : 

"Sesungguhnya tidak ada suatu alasan bagi tetapnya tentara 
Inggris di Indonesia, setelah Mr.Bevin mengumumkan di DK PBB 
itu dengan lantang bahwa : "Kami telah mengeluarkan tentara 
Jepang dari Indonesia dan keamanan di sana telah kami pu - 
lihkan.” Yaitu tugasnya di Indonesia telah selesai.” 

Sesudah mengakui bahwa kelicikan Inggris telah berhasil 
menggagalkan usul Dr.Manuilsky, tetapi ditegaskan pula bahwa 
”ia itu tidak sekali-kali akan berhasil melemahkan gerakan kemer¬ 
dekaan Indonesia, yang sekali-kali tidak akan menerima selain 
kemerdekaan penuh bagi Indonesia.” Dan setelah pula mengutip 
pernyataan-pernyataan pemimpin-pemimpin Indonesia yang me¬ 
nunjukkan tekad itu, dan terakhir sekali pernyataan • Menteri 


107 



Pertahanan R.I. Mr.Syarifuddin pada 17/2/46, bertepatan dengan 
enam bulan Proklamasi, yang menyerukan kepada rakyat Indone¬ 
sia supaya meneruskan peijoangan mempertahankan kemerdekaan 
penuh Indonesia, dikatakan pada penutupnya : 

”Maka yang mempunyai kata terakhir, atau yang menentukan 
akhirnya bagi soal Indonesia adalah rakyat Indonesia sendiri, yang 
telah bertekad akan mempertahankan kemerdekaannya dengan 
keringat, air-mata dan darah.” 

Hasil-Hasil Positif Sidang Dewan-Keamanan PBB di London 

Sidang DK—PBB di London itu, selain telah mengungkapkan 
hal-hal yang tadinya ditutup-tutup oleh kebohongan-kebohongan 
Inggris dan Belanda, ia telah memberi hasil-hasil positif lainnya, 
antara lain : 

1 — Soal Indonesia sudah menjadi soal internasional, dan tidak 

lagi ’soal dalam negeri’ seperti diteriak-teriakkan Belanda. 
Dan sewaktu-waktu sudah dapat digugat lagi dalam arena 
internasional itu. 

2 — ’kedaulatan’ Belanda atas Indonesia telah mulai digugat dan 

tidak lagi diterima penuh saja seperti pada Konferensi San- 
Francisco tahun 1944. 

3 — 'Kekhilafan’ Mamduh Riad wakil Mesir telah memberi kedu¬ 

dukan besar dan kuat bagi soal Indonesia di Timur Tengah, 
sehingga tiap-tiap negara harus mempertimbangkan reaksi 
rakyatnya yang telah mendemonstrasikan sokongannya. 
Pencembangan soal Indonesia di DK-PBB itu dan demonstra¬ 
si sokongan rakyat Arab terhadap Indonesia, telah mem¬ 
percepat pengakuan negara-negara Arab terhadap de facto 
kekuasaan R.I. dan de jure kedaulatannya beberapa bulan 
kemudian. 

5 — Perdebatan-perdebatan diDK —PBB yang telah mempercepat 
pengakuan-pengakuan Negara-negara Arab itu, telah merata¬ 
kan jalan bagi : 


108 



a — penerimaan wakil-wakil Indonesia (Bung Syahrir dan 
Pak Salim) ikut serta dalam sidang-sidang DK—PBB ke¬ 
mudian di New York, dan 

b - pengiriman missi jasa-jasa baik (goodwill mission) PBB ke 
Indonesia. 

Semenjak sidang DK—PBB di London itu, melakit Liga AraD 
memutuskan supaya negara-negara anggotanya mengakui R.I., 
dua kali DK-PBB itu bersidang di New York. Tetapi pada kedua 
kesempatan itu Inggris menjalankan taktik dahulu itu juga, yaitu 
memperbanyak berita tentang 'perundingan’ Indonesia—Belanda, 
sekalipun pada sidang pertama di New York itu (Maret 1946) 
perundingan itu belum juga dimulai. Pada sidang keduanya (Okto¬ 
ber 1946), untuk maksud yang sama Inggris telah mengirimkan 
pula 'Utusan Istimewa’ baru, yaitu Lord Killeam, yang dikenal di 
Mesir dengan Sir Mile Lampson. Ia ini di Timur Tengah adalah seo¬ 
rang Duta Besar Inggris yang paling dibenci, karena politik ’tank’- 
nya yang terkenal di-Mesir semasa perang dunia kedua, ketika 
ia mengepung Istana Abidin tahun 1944 dengan tank-tank Inggris 
guna memaksa Raja Faruk keija-sama dengan Sekutu. Maka ke¬ 
datangannya ke Indonesia itu mengkhawatirkan pecinta-pecinta 
Indonesia di Timur Tengah. 

Sementara itu terjadi di Indonesia perkembangan yang me¬ 
nguntungkan, yaitu pengangkatan Bung Syahrir menjadi Perdana 
Menteri R.I. Pengangkatan itu demikian memperbaiki kedudukan 
R.I. sehingga disebut kalangan Barat dengan ’smartest move’ 
politik oleh Presiden Sukamo dalam menghadapi tekanan-tekanan 
Belanda yang disokong Inggris itu. Karena Bung Syahrir bersama 
Mr. Syarifuddin, dikenal, terutama di Amerika Serikat, sebagai 
pemimpin gerakan anti-Jepang di bawah tanah. 

Dengan kedudukan R.I. di luar negeri yang semakin kuat itu, 
baik di Barat dengan pengangkatan Bung Syahrir itu ataupun di 
Timur, terutama di Negara-negara Arab dan anak benua India di¬ 
sebabkan tindakan-tindakan Inggris yang memang menjadi musuh 
mereka, Panitia-panitia di luar negeri lebih mendesak PBB dengan 


109 



Dewan Keamanannya supaya membicarakan lagi soal Indonesia. 
Tetapi taktik Inggris masih dapat menggagalkan desakan-desakan 
kami itu. Selama itu kami terus-menerus mengirimkan memoran- 
dum-memorandum kepada para anggota PBB dengan DK-nya, 
mengenai perkembangan di Indonesia, baik yang menyangkut 
kemajuan-kemajuan yang telah diciptakan R.I. disegala bidang 
sebagai bukti kemampuannya buat mengatur pemerintahannya 
sendiri, ataupun tindakan-tindakan Inggris—Belanda yang ingin 
menghancurkan bangunan baru R.I. itu, dan persiapan-persiapan 
jahannam mereka guna mencapai maksud jahat itu, seperti pengi- 
riman-pengiriman kekuatan-kekuatan bersenjata baru. Dalam tiap- 
tiap memorandum yang kami kirimkan itu, disertakan buku ”No 
More Legal Power of the Netherland in Indonesia,” supaya diketa¬ 
hui bahwa Belanda tidak lagi mempunyai kedudukan hukum di In - 
donesia, dan tindakan-tindakannya sekarang sudah merupakan 
agresi bersenjata yang ditentang oleh Piagam PBB. 

Pada memorandum kami terakhir kepada SU—PBB sebelum 
Liga Arab memutuskan mengakui kemerdekaan dan kedaulatan 
R.I., kami tegaskan lagi ketidak-mungkinan terdapat penyelesaian 
bagi soal Indonesia tanpa ikut serta PBB. Maka pada fasal ke VII 
memorandum yang dikirim pada 10/10/46 itu dikatakan : 

”From the preceding pages it is clear that the real Dutch 
aims are incompatible with the Indonesian ones. On one hand the 
Dutch are clinging desperately to their imperialistic colonial 
policy, trying — in spite of their own promises and all intematio- 
nal charters — to reqonquer ’their former colonies’ by ruse and 
force, while on the other the Indonesians are defending their so 
preciously gained independence with all their might, 
herein by their faith in the justice and humanity of their cause. 

”With this in mind, it is almost certain that the present 
Dutch—Indonesian negotiations too will not have any chance of 
success. We dare predict that these talks too will bring no settlemt 
to the Indonesian question, for the mere reason that the Dutch 
are not sincere in finding a peacefull solution. What are the Dutch 


110 



are doing now, is just playing for time to complete their preparati- 
ons for the military reconquest of Indonesia.” 

”Having confldence in the noble and human mission which 
the UNO has to fulfill with regard to mankind, on behalf of the 
Central Committee of the Indonesian Association for Independen- 
ce in the Middle East with the view to the following facts : (14 
kenyataan yang membuktikan hak dan kekuatan kedudukan R.I. 
serta kecurangan, kebohongan dan kebatilan Belanda dan Sekutu- 
Sekutunya) appeal to the United Nations Organization to : 

t 

1 — recognize the Republic of Indonesia, arld its sovereignity 

over all Indonesia which comprises the former Netherlands 

East Indies, 

2 — to take all necessary steps for the immediate withdrawal of 

all foreign troops, Dutch not excluded, from Indonesian soil, 

3 — to admit Indonesia as a member of the UNO. 

We trust that this tfree points’ appeal which is based upon 
the principles of the United Nations’ Charter will be strongly sup- 
ported by all members of this intemational organisation who 
themselves have spared nothing in their struggle for this every 
end. 

Mengingat bahwa Faris El-Khouri, Wakil Suria ai-DK—PBB 
adalah seorang anggota Arab yang terkenal dengan keahliannya 
berbicara dan dalam hukum internasional, kepadanya, selain me¬ 
morandum dan buku ”No more Legal Power of the netherlands in 
Indonesia,” dikirimkan surat khusus yang pada penutupannya 
dikatakan : 

” Berdasarkan semua di atas itu, Belanda dan Inggris telah 
melanggar kedaulatan Indonesia dengan senjata. Maka sementara 
kami yakin akan kegagalan perundingan yang dikatakan dekat 
akan dimulai, kami yakin pula bahwa perdamaian dunia msih ter¬ 
ancam oleh agresi bersenjata yang bertentangan dengan Piagam 
PBB dan masih terus-menerus dilakukan Belanda dengan bantuan 
Inggris itu.” 


111 



Maka kami menyampaikan harapan kepada Y.M. supaya 
akan dapat mendesak PBB melenyapkan pelanggaran terkutuk 
terhadap kedaulatan Indonesia itu, dan mendesak anggotanya 
supaya mengakui R.I. dan menerimanya menjadi anggota PBB ini. 

"Harapan kami besar sekali bahwa Y.M. akan memberikan 
perhatian sepenuhnya kepada soal Indonesia itu, dan tidak ragu 
lagi bahwa Indonesia merdeka akan menjadi sahabat terbaik, 
bahkan saudara terbaik bagi negara-negara Arab yang merdeka.” 

Baik dicatat di sini bahwa Faris El—Khburi tidak mengece¬ 
wakan harapan kami itu, terutama setelah agresi Belanda pertama 
yang kebetulan waktu itu beliau menjadi Ketua DK—PBB yang 
membicarakan agresi Belanda itu. Berkat kegigihan beliau yang 
mempergunakan kekuasaan pimpinan, sidang DK-PBB menerima 
untuk membicarakannya, sekalipun mendapat tentangan kera, 
dari Belanda dan Sekutu-Sekutunya. 

Demikian pula dengan wakil Mesir. Mengingat pengalaman 
dengan wakilnya yang dahulu, Mamduh Riad, kami temui wakil¬ 
nya yang baru, Dr» Hafiz Afifi Pasya, yang pernah mengatakan da¬ 
lam bukunya’Inggris di Negerinya’bahwa ’orang Inggris itu jujur di 
negerinya, tetapi curang di negeri orang’ — dari pengalamannya 
sebagai Duta Besar Mesir di London, mengerti akan kedatangan 
kami itu. Maka kepada kami beliau menegaskan : 

"Yakinlah tuan-tuan bahwa saya akan menyediakan seluruh 
kemampuan saya guna kepentingan soal Indonesia dan akan mem¬ 
pertahankannya sejauh kemampuan saya itu. Karena Indonesia 
dan Mesir-mempunyai agama, tradisi, dan cita-cita yang sama. Sa¬ 
ya berkepercayaan seperti tuan-tuan bahwa soal Timur adalah 
satu dan jauh jarak tidaklah akan melengahkan kami dari pa¬ 
da mempertahankan persoalannya.” 

Yang selalu menjadi pertanyaan orang selama ini, kenapa 
Pemerintah Indonesia belum pernah dengan langsung mengadukan 
Belanda atau Inggris kepada DK.PBB, ataupun SU—PBB. Baru 
pada bulan September 1946, yaitu pada pembukaan SU—PBB itu 


112 



diberitakan dari Jakarta oleh kantor-kantor berita asing sebagai 
berikut : 

„Pemerintah Indonesia tidak keberatan jika Wakil Ukraina 
pada DK—PBB memajukan soal Indonesia kesidang DK tersebut. 
Sebab negerinya tidak mempunyai kepentingan langsung dengan 
Indonesia. Dengan demikian tidak akan dituduh bertindak guna 
kepentingan diri sendiri. Demikian pula Pemerintah Indonesia 
akan bergembira dengan kedatangan suatu komisi Internasional 
ke Indonesia, sehingga ia dapat menyaksikan sendiri bahwa de 
facto kekuasaan di Indonesia telah di tangan rakyat Indonesia 
sendiri. Sekalipun demikian, Pemerintah Indonesia tidak akan 
meminta supaya soal negerinya dibicarakan dalam sidang DK-PBB 
itu, karena tidak ingin akan terikat oleh keputusan-keputusan vang 
ia sendiri tidak ikut memutuskannya. Tetapi ia bersedia mengirim 
wakilnya ke Dewan itu bila diminta.” 

Kelihatannya, sebab yang menghalangi Pemerintah Indonesia 
memajukan persoalannya dengan Belanda itu ke-DK tersebut 
adalah kenyataan bahwa PBB sekarang masih serupa Volken 
Bond almarhum, di mana negara-negara besar penjajah masih 
berkuasa dan berpengaruh besar. Apabila ia memajukan persoalan 
itu, sudah tentu ia akan terikat oleh keputusan-keputusannya, 
yang kemungkinan sekali tidak akan menguntungkan. Demikian¬ 
lah kami menjawab selama ini, bila menghadapi pertanyaan 
seperti di atas itu. Oleh sebab itu pulalah maka sampai agresi 
Belanda pertama (Juli, 1947) prakarsa memajukan soal Indonesia 
ke PBB dan badan-badannya, masih dipegang oleh Panitia-panitia 
Indonesia di luar negeri, dengan diplomasi revolusinya. 

Sesudah Juli 1947 itu, Indonesia telah diakui negara-negara 
Arab dan Afganistan. Dengan demikian pintu arena internasional 
telah terbuka luas bagi R.I., setelah kepungan diplomasi Belanda 
dan Sekutu-sekutunya dapat dipatahkan oleh diplomasi revolusi 
itu. 


113 



PENGAKUAN DE FACTO KEDAULATAN REPUBLIK 

INDONESIA 

Konfrontasi 

Telah saya sebutkan bahwa dalam rencana kerja, Panitia- 
panitia Timur Tengah pada konfrensinya di Mekkah telah meneri¬ 
ma nasehat Dr. M. Salahuddin Pasya, Penasehat Hukum Panitia 
Pusat. Nasehat beliau berbunyi : 

"Oleh karena di - Indonesia bangsa Indonesia dengan Pro¬ 
klamasi telah mewujudkan d e f a c t o kedaulatan R.I. atas 
wilayah Indonesia, kewajiban rakyat Indonesia di luar negeri per¬ 
tama sekali adalah mewujudkan pula d e f a c t o kebebasan 
mereka dari 'perwalian’ Belanda. Jika kebebasan ini diakui oleh 
pemerintah setempat, berarti bahwa pemerintah ini mengakui 
pula d e f a c t o kedaulatan R.I. itu atas wilayahnya.” 

Berdasarkan keputusan Konferensi Mekkah itu dalam Renca¬ 
na Kerja Panitia dicantumkan pertama sekali, menciptakan d e 
facto keoebasan warga Indonesia di luar negeri dari 
’perwalian’ Belanda. "Langkah pertama pelaksanaannya, adalah 
pengumpulan semua paspor warga Indonesia di Timur Tengah 
oleh masing-masing Panitia didaerahnya, dengan maksud : 

1 - menanam pada tiap-tiap warga Indonesia itu rasa putus 

hubungan dengan Belanda, 

2 - menutup kemungkinan pemakaian paspor itu yang merugikan 

usaha pembebasan itu, dan 

3 - mencari-cari suatu kejadian yang melibatkan Panitia dengan 


114 



perwakilan Belanda setempat dalam suatu perebutan kekuasa¬ 
an atas warga Indonesia itu. 

Mungkin timbul pertanyaan, kenapa tidak diputuskan saja 
hubungan dengan perwakilan Belanda dan kemudian diumumkan 
putusan itu kepada khalayak Timur Tengah. Sesungguhnya tin¬ 
dakan demikian adalah ideal. Tetapi kami harus memikirkan 
resikonya yang amat berat, sedang pendapat umum di Timur 
Tengah belum lagi masak untuk memberikan penilaian yang 
menguntungkan bagi kami sendiri dan bagi soal Indonesia. 

Pernah saya terangkan bahwa atas tekanan yang disokong 
pendapat umum di Mesir — juga diwilayah-wilayah lainnya di 
Timur Tengah Kedaulatan Belanda terpaksa memberi bantuan 
•uang kepada warga Itfdonesia di sana. Mulanya dengan jumlah 
yang disetarafkan dengan ’sebenggol sehari,’ yaitu tiga piaster 
sehari, dan kemudian, dengan maksud merangkul keija-sama, 
menaikkannya sampai 700 piaster sebulan. Meskipun oleh kemaha¬ 
lan yang melambung selama perang, jumlah itu hanya cukup 
buat menutupi keperluan sehari-hari, tetapi guna membeayai pem¬ 
belaan Proklamasi, masing-masing warga Indonesia di Kairo 
dengan sukarela telah menyerahkan kepada Panitia 100 piaster 
setiap bulan. Dengan demikian secara tidak langsung, Kedutaan 
Belanda di Kairo turut membeayai kegiatan itu. Maka selama 
kegiatan pembelaan Proklamasi itu tidak terganggu, kami tidak 
memutuskan hubungan ’hutang piutang’ dengan Belanda, guna 
menghindarkan resiko kehilangan sumber pembeayaan itu, sedang 
Panitia telah memutuskan tidak akan meminta bantuan keuangan 
keluar. Di sini kami mulai memanfaatkan pendirian kami dahulu 
itu pada permulaan perang dunia kedua mengenai ’hutang piu¬ 
tang’ dengan perwakilan Belanda dan soal penandatanganan 
kwitansinya. 

Saat konfrontasi dengan perwakilan-perwakilan Belanda telah 
tiba dan tibanya itu setelah pendapat umum di Timur Tengah 
mendapat penerangan cukup untuk menilai kedudukan kami 
dalam konfrontasi itu. Bukankah Sidang-sidang D K—PBB baru saja 



berakhir ? Bukankah selama sidang-sidang itu, bahkan ketika 
wakil Mesir ’silap’ lidah menggariskan sikap negaranya, pendapat 
umum di—Timur Tengah telah mendapat kesempatan menyatakan 
pendiriannya yang pro-Indonesia ? Maka dari segala jurusan 
Panitia menilai bahwa situasi umum di-Timur Tengah telah 
matang bagi memenangkan diplomasi revolusi, 

Semenjak sudah enam bulan Proklamasi, seluruh warga In¬ 
donesia di luar negeri telah dengan tegas dan terang-terang menyo¬ 
kong dan mempertahankan Proklamasi itu. Sementara itu mereka 
terus pula 'berhutang’ kepada perwakilan-perwakilan Belanda 
dengan menandatangani bukti penerimaan sebagai- sediakala. 
Tetapi pada 24 Pebruari 1946, ketika Omar Bayasyut, mahasiswa 
Arab—Indonesia, sebagaimana biasa datang untuk menerima 
uang hutang itu dari perwakilan Belanda di Kairo, kepadanya 
disodorkan suatu kwitansi yang lain dari yang lain. Biasanya 
bukti penerimaan (kwitansi) hanya satu daftar nama berurut dan 
sipenerima menandatangani daftar itu menurut urutan nama me¬ 
reka masing-masing. Sekali ini kepadanya disodorkan satu kwitan¬ 
si tersendiri oleh Duta Belanda sendiri pula, bukan konsulnya, 
seperti berjalan selama ini. Cara dan suasana yang luar biasa itu, 
telah menimbulkan kecurigaannya. Ia tidak terburu-buru menan¬ 
datanganinya, tetapi membaranya dengan hati-hati, dan untung¬ 
nya dapat menyalinnya. Tanpa berbicara sepatahpun, ia segera 
meninggalkan Kedutaan Belanda itu dan langsung membawa 
salinan kwitansi itu kepada pimpinan Panitia Pusat. Kwitansi 
itu berbunyi : 

"The undersigned deelares to have received this amount .... 
from Her Majesty’s, Minister, W.S. Graaf van Richtren Linbouige, 
as representative in this country of the lauful Government of the 
Netberlands Indies.' 


"Cairo, February 24th, 1946.” 


116 



Panitia berpendapat bahwa menandatangani kwitansi yang ber¬ 
bunyi demikian berarti : 

1— Mengakui hitam atas putih bahwa pemerintah yang sah 
di Indonesia adalah ’ Pemerintah Hindia Belanda, ’ 

2— Kedutaan Belanda di Kairo adalah perwakilan ’ Hindia 
Belanda ’ yang sah, dan 

3— Kedutaan Belanda adalah ’ wali resmi ’ warga Indonesia. 

Disamping itu Panitia melihat pula dalam tindakan baru Kedu¬ 
taan Belanda itu bahwa : 

1— Simpati internasional yang dimenangkan melalui perde¬ 
batan DK-PBB telah menggoncangkan kedudukan Belanda 
di Indonesia di mata internasional, sehingga berusaha buat 
mendapatkan ’ pengakuan ’ tertulis itu, dan 

2— Belanda telah kehilangan akal, sehingga melupakan segi 
kemanusiaan dari hutang-piutang itu, 

3— dua kenyataan ini dapat digunakan untuk agitasi diplo¬ 
masi revolusi. 

Meskipun Panitia berkeyakinan dapat menggunakan situasi baru 
ini untuk agitasi diplomatik revolusioner, karena ia itu mengenai 
soal sumber hidup ribuan warga Indonesia atau hutang yang 
hendak diputuskan Belanda dengan alasan politik, dan mengenai 
pula soal ’ pem-Belanda-an ’ warga Indonesia dengan tekanan 
kelaparan, dan dua soal ini dapat digunakari untuk membakar 
sentimen massa Arab Islam dan anti-Inggris dan Sekutu-sekutu¬ 
nya itu, tetapi kami harus memikirkan pula kesulitan-kesulitan 
materi dan sosial bagi warga Indonesia. Karena pengalaman selama 
perlawanan di bawah tanah dan enam bulan dalam memper¬ 
tahankan Proklamasi, dalam masyarakat Indonesia terdapat 
dua golongan kecil yang tidak diragukan kesetiannya kepada 
bangsa dan negara, tetapi karena mempunyai kepentingan ter¬ 
sendiri, kalau tidak menghalangi, sedikitnya mendatangkan ke¬ 
sulitan-kesulitan. Satu golongan yang beristeri asing, yang tiap 
kali melangkah selalu melihat kebelak^ng memikirkan anak- 


117 



isterinya, sehingga kami menasehatkan kepada mereka yang belum 
masuk ’ perangkap supaya menjauhi beristeri asing dengan 
alasan bahwa perkawinan dengan bangsa asing jarang sekali mem¬ 
bawa kebahagiaan karena perlainan pembawaan; dan golongan 
lain lagi yang kurang mendapat kepercayaan dalam masyarakat, 
tetapi ingin mendapat kedudukan. Terhadap golongan kedua 
ini, selama ini telah dapat pemecahannya dengan menempatkan 
mereka pada kegiatan-kegiatan sosial dalam lingkungan warga 
Indonesia saja. Tetapi sesudah Proklamasi, mereka kelihatan 
tidak puas lagi dengan lingkungan terbatas itu, meskipun kemam¬ 
puan mereka diragukan. Maka meskipun Panitia telah mempu¬ 
nyai keputusan, tetapi dirasa sangat perlu mengambil suara bulat 
dalam suatu rapat umum. Untuk mengamankan rapat umum 
itu, ex-Panitia Enam kembali menggunakan taktik lama selama 
perang kedua, yaitu mempengaruhi pendapat umum melalui 
sel-sel yang enam itu. 

Pada petang Rabu 27/2/46 rapat umum diadakan dan se¬ 
telah memberi penerangan seluas-luasnya perkembangan baru 
di atas itu, dengan tidak menyembunyi-menyembunyikan akibat- 
akibatnya yang mungkin pahit, pimpinan memajukan kepada 
hadirin resolusi berikut : 

” Merdeka ! 

Kami yang bertanda-tangan di bawah ini, yang tersusun 
dari putra Indonesia dan Arab Indonesia di Kairo, yang berapat 
pada petang Rabo tanggal 27 Pebruari 1946, setelah menim¬ 
bang bahwa : 

1- Hubungan kami dengan Konsulat Belanda di Kairo semenjak 
kami berhutang kepadanya adalah hubungan yang terikat 
oleh pandangan kemanusiaan semata-mata, sebagaimana 
Pemerintah Republik Indonesia menolong ratusan ribu 
bangsa Belanda di Indonesia; 

2— Dengan pandangan kemanusiaan itulah kami menanda¬ 
tangani kwitansi hutang itu; 


118 



3— Sekarang sesudah permakluman kemerdekaan dan berdiri¬ 
nya Republik Indonesia, dengan kwitansi yang dikemu- 
kakan kepada kami, Wakil Belanda di Kairo mencoba me¬ 
maksa kami mengakui "Pemerintah Hindia Belanda” satu 
pemerintah yang sah (laufull) di Indonesia; 

4— Pengakuan ini sangat bertentangan dengan pendirian kami 
yang hanya mengakui Pemerintah Republik Indonesia ialah 
pemerintah yang sah di tanah-air kami Indonesia, dan 

5— Menanda-tangani kwitansi yang mengandung pengakuan 
yang serupa itu berarti berkhianat kepada tanah-air dan 
keluar dari bangsa Indonesia. 

Memutuskan : 

1- menolak dengan suara bulat 100% menada-tangani kwi¬ 
tansi itu dan lebih mengutamakan menderita kelaparan dari 
pada mengkhianati tanah-air dan keluar dari bangsa sendiri, 

2- barang siapa yang melanggar keputusan ini, akan disam¬ 
paikan namanya kepada Pemerintah Republik Indonesia; 
dan 

3- menyampaikan putusan ini kepada pihak yang dirasa perlu. 


”Kairo 27 Pebruari 1946.” 

Sesudah diambil putusan bersejarah dan merupakan batu 
pancang baru dalam sejarah peijoangan rakyat Indonesia di luar 
negeri, Fimpinan Panitia yang langsung berapat memutuskan: 

1 _ menyampaikan resolusi tersebut kepada Kedutaan Belanda, 
semua pemerintah Arab dan Islam, serta semua perwakilan 
asing di Kairo; 

2— mengawatkannya kepada semua Panitia Indonesia di luar 
negeri; 

3- mengumumkan satu Pernyataan kepada rakyat Timur Tengah 
dan 


119 



4- mempergunakan ’kwitansi affair’ itu sejauh dan seluas mung¬ 
kin - dengan menggerakkan juga parpol-parpol dan ormas- 
ormas setempat - guna memanaskan sentimen umum ter¬ 
hadap Belanda yang tidak mempunyai kemanusiaan ’ 
itu. 

Surat-surat pengantar yang disiapkan malam itu juga, ke¬ 
pada Kedutaan Belanda ditulis seringkas mungkin, dengan me¬ 
lampirkan resolusi itu. Adapun kepada yang lain-lain, dipang- 
kali dengan menggambarkan perkembangan situasi sampai ter¬ 
jadinya pengambilan putusan di atas itu dan.letaknya hubungan 
hutang-piutang dengan Kedutaan Belanda dan pada penutupnya 
dikatakan : 

”Dengan ini YM dapat melihat sendiri contoh politik Be¬ 
landa yang jauh dari kemanusiaan dan kebijaksanaan itu. Mereka 
telah putus asa untuk mendapatkan di - Indonesia seorang In- 
donesiapun yang bersedia mengakui ’ kedaulatan ’-nya atas negara 
itu, maka sekarang mereka berusaha mendapatkannya di luar 
negeri. Tetapi rakyat Indonesia di luar negeri dan bersama mereka 
Arab-Indonesia telah menunjukkan dengan resolusi itu bahwa 
mereka tidak kurang kebangsaannya dari bangsa mereka yang 
beijoangan dengan jiwa raga mereka dalam mempertahankan 
kemerdekaan negeri mereka. Mereka telah menolak menanda¬ 
tangani kwitansi serupa itu dan menerima lebih baik menderita 
kelaparan dan kesulitan-kesulitan hidup dari pada mengkhianati 
tanah-air dan keluar dari bangsa sendiri.” 

Disebabkan keuangan yang sangat terbatas, Panitia Pusat 
hanya mengawatkan resolusi itu kepada Panitia Bombay, de¬ 
ngan harapan supaya diteruskan kepada Paniti-panitia lainnya 
sebagai berikut : 

Indonesians Indoarabs Cairo refuse signing Dutch Con- 
sulate receits containing recognition legitimacy Netherlands 
Indies Government Indonesia. Please informe Committees Aus¬ 
tralia India America and Holland.” 


120 



Kawat itu dikirim segera pagi 28/2/46, mengingat kemungkinan 
usaha yang sama dikerjakan Belanda pula diwilayah-wilayah 
mereka dan supaya sikap Panitia-panitia Indonesia di seluruh 
dunia itu satu menghadapinya. 

Dengan judul "Penolakan pengakuan ’ kedaulatan ’ Be¬ 
landa atas Indonesia,” Panitia Pusat mengumumkan Pernya¬ 
taan yang telah diputuskan itu pada 1 Maret,, 1946. Pernyataan 
itu benar-benar tersebar luas, sebab telah disiarkan oleh harian- 
harian Al-Ahram, Al-Misri, Al-Kutlah, Al-Balagh, Al-Mukattam, 
Al-Dustur, As-Siasah dan Al-Wafdul Misri di Mesir, harian Al- 
Qabas di Suria, harian Al-Bilad di Irak, harian Al-Hadaf di Leba¬ 
non dan harian Ad-Difa’ di Palestina. Isi Pernyataan itu adalah 
juga penerangan tentang situasi di Indonesia yang telah memper¬ 
kuat kedudukan R.I. dan telah menyebabkan Belanda demikian 
’kalap,’ sehingga kehilangan rasa kemanusiaan. Kemudian menge¬ 
mukakan sikap warga Indonesia di luar negeri seperti digambarkan 
oleh resolusi itu. 

Reaksi pendapat umum Arab sangat memuaskan. Berhari- 
hari harian-harian Timur Tengah menanggapinya bersama-sama 
pernyataan parpol-parpol dan ormas-ormas yang mencela sikap 
Belanda ’ yang tidak berkemanusiaan ’ itu, serta menghargai 
pendirian warga Indonesia yang patriotik itu. Kata-kata ’ lebih ba¬ 
ik menderita kelaparan dari pada mengkhianati tanah-air dan 
bangsa ’ menonjol dalam tanggapan-tanggapan dan pernyataan- 
pernyataan itu. 

Semenjak itu kedutaan Belanda berusaha dengan segala 
jalan memperlihatkan bahwa Indonesia masih di bawah 'kedaula¬ 
tan’ Kerajaannya. Diantaranya dengan memasukkan iklan-iklan 
dalam harian-harian Mesir, dengan menggambarkan 'Hindia Timur 
Belanda’ termasuk dalam Kerajaan Belanda. Kejadian seperti 
ini kami gunakan untuk meningkatkan konfrontasi dengan Kedu¬ 
taan Belanda itu, dengan memprotes secara terbuka perbuatan 
Belanda. Dengan judul ”Indonesia Merdeka,” pada 7/3/46 Panitia 
mengumumkan protes berikut : 


121 



"Kedutaan Belanda di Kairo menyebutkan dalam iklan- 
iklannya bahwa 'Hindia Timur Belanda’ - yang dimaksudnya 
Indonesia — termasuk Kerajaan Belanda. Seluruh dunia telah 
mengetahui bahwa Indonesia telah mengumumkan kemerdekaan¬ 
nya pada 17 Agustus 1945, yaitu semenjak 7 bulan yang lalu. 
Panitia Pusat Pembela Kemerdekaan Indonesia di Kairo mempro¬ 
tes dengan keras terhadap pelanggaran Belanda atas kedaulatan 
Indonesia itu dan menegaskan dengan ini bahwa satu-satunya 
pemerintah yang sah di Indonesia adalah Pemerintah R.I.” 

Perhatian umum terhadap Pernyataan Panitia demikian 
besar sehingga pada malam Rabius Sani 1365H bertepatan dengan 
11 Maret 1946 oleh parpol-parpol dan ormas-ormas di Mesir 
diadakan satu pertemuan guna membicarakan 'soal rakyat Indone¬ 
sia di Mesir.’ Panitia Pusat yang mengira bahwa pertemuan itu 
akan lebih cenderung kepada memperlihatkan ’kasihan’ kepada 
warga Indonesia yang diancam kelaparan, merasa perlu membelok¬ 
kan pertemuan itu kepada segi politiknya dan menugaskan kepada 
saya membuka pertemuan itu dengan satu pidato penerangan 
pendirian Panitia .mengenai bantuan keuangan itu, seperti telah 
saya tulis pada bab yang lalu. 

Dalam satu pidato panjang yang dimulai dengan : 

"Hubungan kami dengan perwakilan Belanda tidak pernah 
baik. Sebenarnya hubungan kami dengan ia itu adalah gambar 
kecil dari hubungan bangsa Indonesia dengan pemerintah penja¬ 
jahan Belanda ....’’ saya menerangkan dengan panjang lebar segi 
politis dari peijoangan Panitia-Panitia di Timur Tengah, yang 
merupakan ringkasan dari ’gema’ pergerakan kebangsaan Indonesia 
dalam kegiatan mahasiswa Indonesia diwilayah tersebut, yang di¬ 
puncaki dengan konfrontasi yang menyebabkan pertemuan itu 
diadakan. Pada penutupannya saya tegaskan atas nama Panitia 
sebagai berikut : 

"Kami, sementara berterima kasih atas perhatian tuan-tuan, 
tidak saja terhadap soal tanah-air kami, bahkan juga mengenai 


122 



persoalan kami sendiri, suatu perhatian yang akan mengingatkan 
selama-lamanya kepada kebaikan tuan-tuan itu, kami ingin 
menegaskan kepada tuan-tuan bahwa kami, 
meskipun memerlukan suatu sumber bagi 
penghidupan,kami hanya akan bersedia me¬ 
nerima, jika ia itu berupa hutang. Kami berharap 
sangat supaya jangan sekali-sekali terkha- 
tir dalam hati tuan-tuan mencarikan selain 
hutang. Ini hanyalah satu-satunya sumber 
yang kami usahakan dan yang dengan senang 
hati kami menerimanya.” 

Merasakan berat tekanan pendapat umum, Belanda menyatar 
kan bersedia memberi warga Indonesia hutang lagi, asal saja mem¬ 
baharui pendaftaran nama di Kedutaannya, dalam daftar ’rakyat 
Belanda.’ Meskipun diyakini bahwa cara kedua ini adalah sama 
artinya dengan yang pertama, yaitu pengakuan resmi bahwa Be¬ 
landa masih ’berdaulat’ di Indonesia dan bahwa mereka masih 
di bawah ’perwakilan Belanda,’ tetapi untuk menunjukkan kepada 
umum kekompakan warga Indonesia itu, pimpinan Panitia memer¬ 
lukan mengadakan rapat umum lagi guna membicarakan taktik 
baru Belanda ini. Rapat yang diadakan pada 21 Maret 1946 itu, 
dengan pertimbangan yang sama pada rapat yang lalu, dengan 
suara bulat menolak lagi pendaftaran tersebut. Reaksi pendapat 
umum terhadap keputusan penolakan pendaftaran yang tersiar 
luas dalam mass media Timur Tengah, tidak saja dalam bentuk 
tanggapan-tanggapan simpati, bahkan telah mendapat sambutan 
dari kalangan pemuda/mahasiswa dengan cara-cara mereka sendiri. 
Kedutaan Belanda di Kairo terancam keamanannya disebabkan 
demonstrasi-demonstrasi yang dilancarkan mereka itu, pelempar 
ran-pelemparan batu, slogan-slogan dan teriakan-teriakan permusu¬ 
han. Petugas-petugas Kedutaan itu menjadi ketakutan, sehingga 
mereka menanggalkan lambang negaranya dari serambi Kedutaan 
dan menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasanya setiap 
hari berkibar dipuncak perwakilan itu, supaya tidak mudah 
dikenal para demonstran. 


123 



s 


\ ‘ 


Pengakuan de facto 

Dalam ketakutan demikian, kelihatannya Kedutaan Belanda 
itu telah menghubungi Kementerian Luar Negeri Mesir, supaya 
Pemerintah Mesir menghentikan kegiatan-kegiatan mahasiswa 
Indonesia yang telah mengakibatkan ancaman terhadap kesela¬ 
matan warga Belanda itu. Diakui bahwa tindakan-tindakan maha¬ 
siswa Mesir itu terpengaruh oleh agitasi-agitasi mahasiswa Indone¬ 
sia yang berada dalam lingkungan mereka. 

Demikianlah pada 22 Maret 1946 Sekretaris Jenderal Kemen¬ 
terian tersebut memanggil kami yang bertanggung jawab dalam 
masyarakat Indonesia di Mesir. Kamil Abdurahim Bey, Sekjen 
tersebut telah mengikuti soal Indonesia semenjak kami menjalan¬ 
kan perlawanan di bawah tanah. Karena beliau adalah seorang 
yang kami dekati pada Partai Liberal Konstitutionil dan beliau 
menjabat kedudukan Sekjen itu bertepatan dengan Proklamasi 
Indonesia. Jadi dari semula beliaulah yang menerima memoran- 
dum-memorandum Panitia, bahkan juga yang menerima prote- 
san-protesan, ketika wakil Mesir di—DK—PBB di—London ’selip 
lidah.’ Maka dari itu beliau tidak lagi menanyakan soal Indonesia 
dalam pertemuan itu, tetapi hanya menanyakan apakah Panitia 
dalam mengambil sikap konfrontasi dengan Kedutaan Belanda 
itu telah menanyakan terlebih dahulu pendapat orang-orang yang 
ahli dalam ilmu hukum internasional. Ketika di jawab bahwa 
Panitia mempunyai seorang ahli hukum internasional sebagai 
penasehatnya, yaitu Dr. Muhammad Salahuddin Pasya, yang 
juga pernah menjadi Sekjen dan Menteri Kementeriannya, beliau 
dengan segala sederhana mengatakan, jika pendapat Dr. Salahuddin 
Pasya yang dihormati Kementerian Luar Negeri Mesir itu memang 
demikian, Pemerintah Mesir akan mengikuti pendapatnya. Beliau 
langsung menelpon penasehat Panitia itu, dan kelihatannya telah 
diberi keterangan seperti yang telah saya nukilkan seluruhnya 
pada permulaan bab itu. Maka kegiatan-kegiatan konfrontasi 
yang diadukan Kedutaan Belanda itu adalah dalam menciptakan 


124 



kebebasan dari 'perwakilan’ Kedutaan tersebut. Sesudah selesai 
pembicaraan telepon itu, dengan segala sederhana pula Sekjen 
Kemlu Mesir menyatakan kepada perutusan Panitia : 

"Dari saat ini juga Pemerintah Mesir 
menganggap warga Indonesia di Mesir tidak 
ada hubungan lagi dengan Perwakilan Be¬ 
landa. Semua urusan yang menyangkut war¬ 
ga I n d o n e s i a i t u , P e m e r in t ah Mesirakan 
menghubungi Paniti a.” 

•» I 

Satu kemenangan peijoangan Panitia di Timur T ngah yang 
gemilang. Karena dengan pernyataan itu, Pemerintah Mesir semen¬ 
jak 22 Maret 1946 telah mengakui : 

1 — de facto kebebasan warga Indonesia di luar negeri dari 'per¬ 

walian' Belanda, 

2 — Panitia Pusat Pembela Kemerdekaan Indonesia de facto 

Perwakilan R.I. sementara, dan 

3 — de facto kedaulatan R.I. atas Indonesia. 

De facto Perwakilan R.I. 

Pengakuan Mesir atas de facto kebebasan warga Indonesia 
dari perwalian’ Belanda, de facto Panitia Pusat penanggung-jawab 
warga tersebut dan sesuai dengan pendapat Dr. Salahuddin Pasya, 
berarti pula pengakuan de facto R.I., telah menjadikan Panitia 
Pusat ini de facto Perwakilan R.I. di Negara tersebut, semenjak 
22 Maret 1946. Setelah keputusan Mesir itu diikuti pula oleh 
negara-negara anggota Liga Arab, Panitia-panitia di Saudi Arabia 
dan Irak juga menjadi de facto Perwakilan R.I. di kedua negara ini. 
Sebagai konsekwensi dari pengakuan itu : 

1 — mereka mengakui kartu-pengenal yang dikeluarkan Panitia- 

panitia itu bagi warga Indonesia di Timur Tengah, 

2 — mengakui surat-surat perjalanan yang dikeluarkan Panitia 


125 



bagi warga Indonesia yang bepergian di-antar-negara-negara 
Arab, dan demikian pula surat-surat-rekomendasi yang keluar 
dari Panitia-Panitia itu, sebagai teijadi pada pemulangan 
mereka pada akhir tahun 1946, 

3 - Pemerintah Mesir mencabut izin export beras ke Saudi Arabia 

bagi ribuan warga Indonesia di sana dari Kedutaan Belanda 
dan menyerahkannya kepada Panitia Pusat, 

4 - memperlakukan Panitia Pusat sebagai perwakilan diplomatik 

penuh, dengan membebaskan pengiriman beras itu dari bea- 
cukai. Demikian juga Saudi Arabia meniperlakukan Panitia 
cabang di sana dengan perlakuan yang serupa, bahkan mengi¬ 
zinkan menjual separo dari 30 ton beras yang dikirim Panitia 
Pusat ke sana setiap bulan supaya uangnya dapat dibagi- 
bagikan kepada warga Indonesia yang memerlukan bantuan 
di sana. 

Semuanya ini, selain suatu kemenangan konfrontasi yang 
gemilang, ia juga merupakan suatu langkah panjang ke arah penga¬ 
kuan de jure yang diberikan negara-negara Arab delapan bulan 
kemudian. 

Sikap simpatik Mesir ini, mendorong Panitia Pusat untuk 
'menempa besi selagi ia hangat.’ Sebagai akibat dari pengakuan 
Mesir di atas itu, yang sudah tersiar diharian-harian Kairo, Kedu¬ 
taan Belanda memutuskan bantuannya kepada warga Indone¬ 
sia di Mesir. Pada 23 Maret Panitia Pusat langsung memajukan 
permintaan resmi kepada Pemerintah Mesir supaya menghutangi 
warga Indonesia itu tiap-tiap bulan, sebagai ganti hutang yang 
diputuskan Belanda itu. Hanya lima hari kemudian, Panitia Pusat 
telah menerima balasan resmi bahwa permintaan itu dikabulkan. 
Meskipun tidak sepenuhnya, yaitu separo dari jumlah yang biasa¬ 
nya diterima dari Kedutaan Belanda, tetapi cukup memuaskan. 
Karena telah banyak meringankan tanggung-jawab yang mula 
dipikul oleh Panitia Pusat sebagai de facto Perwakilan R.I. Demi¬ 
kian pula pemindahan izin export 30 ton beras dari Kedutaan 
Belanda kepada Panitia Pusat dan perlakuan istimewa yang diberi- 


126 



kan pula oleh Saudi Arabia kepada Panitia di sana, selain mem¬ 
perkuat kedudukan Panitia Saudi Arabia itu berhadapan dengan 
Kedutaan Belanda di Jeddah, juga telah meringankan pikulan 
Kopindo (Kooperasi Indonesia) D menghadapi 4000 lebih warga 
Indonesia yang harus ditolong diwilayah itu. 

Maka dalam waktu kurang satu minggu, Pemerintah Mesir telah 
mengambil dua keputusan penting dalam menyokong peijoangan 
Indonesia, yaitu : 

1 — pengakuan de facto R.I., dan 

2 - pemberian hutang, pengganti hutang yang diputuskan Belan¬ 

da itu. 

Maka dengan demikian pula terhapuslah ’kekhilafan’ wakil¬ 
nya di Sidang DK-PBB di London yang telah menghebohkan 
Timur Tengah itu.- 

Apa yang teijadi di Mesir dengan kedutaan Belanda dan 
Pemerintah Mesir itu, segera kami kawatkan kepada Panitia- 
Panitia Indonesia lainnya melalui Panitia Bombay. Juga diberi¬ 
tahukan bahwa Panitia Kairo telah mengawat pula kepada Jawa- 
harlal Nehru, Ketua Ali Indian Congress dan Muhammad Ali 
Jinnah, Ketua Moslem League, supaya mereka menolong warga 
Indonesia di India yang menghadapi tekanan-tekanan Belanda 
dalam penghidupan mereka. Kawat kepada Panitia Bombay itu 
berbunyi : 

„Recipts dropped but Dutch Consulate asked renewal pas- 
ports otherwise no allowance. We again refused, considering 
ourselves no longer Dutch subjects. Egyptian Government main- 
tains our levelihood. Jinnah Nehru cabled. Approach them. 

1). Kopindo adalah badan sosial yang dibentuk Panitia dan bertanggung-jawab bagi 
kesejahteraan warga Indonesia di sana. Badan ini yang tersusun dari para kepala 
masyarakat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, banyak berjasa 
dalam menanggulangi kesulitan hidup 4000 lebih warga yang telah memutuskan 
hubungan dengan Kedutaan Belanda. Mereka diberi beras tiap-tiap bulan dan 
uang saku cukup guna pembeli lauk-pauk sederhana. Untuk inilah Panitia Pusat 


127 



Y\ /$ / Hk Ui IHf 



128 


M. Zein Hassan menyampaikan kata sambutan Panitia Pusat 


Indonesian Association for Independence Central Committee 
Middleeast”. 

Adapun kawat kepada Nehru dan Jinnah adalah sebagai berikut : 

,,Dutch Consulate Bombay tries compel Indonesians recog- 
nize Dutch Sovereiginity by suspending monthly allowance. 
Similar trick made Cairo but refused. Egyptian Government 
maintains Indonesians livelihood. Hope your full support for 
Indonesians India. Indonesian Association for Independence 
Central Committee Middeleast”. 

Demikianlah konfrontasi di Timur Tengah antara Panitia- 
Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia dan Kedutaan-Kedutaan 
Belanda telah dimenangkan oleh Panitia-Panitia itu, dengan meng¬ 
hasilkan semenjak 22 Maret 1946 pengakuan negara-negara Liga 
Arab 

1 — de facto kedaulatan R.I. atas Indonesia, dan 

2 - Panitia-Panitia Timur Tengah de facto Perwakilan R.I. 


mengirimkan 30 ton beras tiap-tiap bulan dan separonya dijual buat lauk-pauk 
itu. Uang guna menebus beras ini dikumpulkan dari warga Indonesia yang ber- 
pencarian. Pimpinan Kopindo tersusun dari : 


1 . 

Abdulkadir Talib Mandiling, 

Ketua, 

2. 

Bakur Abdulgafar Palembang, 

Kedua Muda, 

3. 

Abdulhamid Araby, 

Sekretaris Umum, 

4. 

Kurni Barak Banjarmasin, 

Sekretaris Kedua, 

S. 

Moh. Tai.b Saman Palembang, <». 

Pembantu Sekretaris I, 

6 . 

M. Jamhir Jalai Medan, 

Pembantu Sekretaris II, 

7 . 

Sidik Saleh Banjar, 

Bendahara, 

8. 

Syeikh Ahmad Al wan, 

Pemeriksa Umum, 

9 . 

Abdullah Mahdar, 

Pemeriksa Kedua, dan 

10 . 

Saleh Ibrahim Padang, 

Penasehat. 


129 



DELEGASI R.I. PERTAMA KE LUAR 
NEGERI DI KAIRO 


Buat pertama kali Republik Indonesia pada 7 April 1946 
mengirim Delegasi resmi keluar negeri, Mesir adalah negara pertama 
disinggahi Delegasi itu, guna beristirahat semalam. Delegasi itu 
adalah hasil usaha Sir Archibald Clerk Kerr, Utusan Istimewa 
Inggris. Ia ini adalah sahabat Abdulrahman Azzam Pasya, Sekjen 
Liga Arab. Sebelum berangkat ke Jakarta, A. Azzam Pasya telah 
mengirimkan kawat kepadanya, menerangkan simpati atas sokong¬ 
an dunia Arab dan Islam kepada perjoangan Indonesia dan meng¬ 
harap supaya ia berdiri di pihak keadilan dan kemerdekaan dalam 
soal Indonesia, yang merupakan batu ujian bagi orde baru dalam 
hubungan-hubungan internasional. Kawat yang dikirimnya sebagai 
Sekjen Liga Arab pada 6-2-46 itu dalam bahasa Inggris berbunyi : 

”My dear 

”Please accept my sincere congratulation for promotion 
and succes in your endevour.” 

’T am looking with interest to your new mission m Indonesia. 
Arab and Moslem world view the situation there with deep 
sympaty to the Indonesians. It is to them a test for the new 
order in intemational relations and for the rule of equity and 
justice. As a personal friend, who for more than twenty years 
amired you, I appeal to you to stand for justice, liberty and 
independence to the Indonesians.” 


130 



”The Indonesians are liked and admired by all their Moslem 
’orothers. They had always through eenturies of their pilgrimage 
to Mecca impressed their co-religionists by always honest, polite 
and dignified, and by this contact in Mecca and Medina they won 
the love of the Moslem world and now they are unanimously 
supported in ther claim for national independence and self- 
determination.” 

”As your personal friend I am praying for your success 
and that will pass into hirtory as Byron in Greece. You shall 
then be remembered by millions as an English man stood for 
justice and freedom and who has done by this an everlasting 
Service to his own country.’' 

Delegasi itu adalah "campuran” dari 3 orang republikein, 
yaitu Mr. Suwandi, Menteri Kehakiman (Ketua), Mr. Abdulkarim 
Pringgodigdo, Sekretaris Negara (Sekretaris) dan Dr. Sudarsono, 
Menteri Dalam Negeri, dan 3 serdadu Nica (KNIL), yaitu, Kolo¬ 
nel Sultan Hamid Kadri, Pengawal Pribadi Ratu Wilhelmina, 
Kolonel Suria Santoso dan Kapten Tahia. Karena kedatangannya 
mendadak dan untuk semalam saja, kami belum mendapat kesem¬ 
patan untuk menghubungkan mereka yang republikein dengan 
pembesar-pembesar Mesir dan Arab. Atas permintaan kami, mere¬ 
ka beijanji akan singgah lagi waktu kembali ke tanah-air. 

Waktu yang sempit itu digunakan untuk isi-mengisi informasi 
baik dalam pertemuan dengan masyarakat Indonesia atau yang 
terbatas dengan pimpinan Panitia. Suatu kejadian yang menarik 
malam itu ialah undangan Kedutaan Belanda kepada mereka 
untuk makan malam (dinner). Semua anggota Delegasi telah 
menerima, selain Dr. Sudarsono. Maka terjadilah dialog berikut 
antara Ketua Delegasi Mr. Suwandi dan Dr. Sudarsono. 

Mr. Suwandi :”Ingatlah pesan Saudara Syahrir. Sekiranya saudara 

tidak ikut, mungkin beliau akan marah.” 

Dr. Sudarsono : "Saudara Syahrir tidak akan marah. Saya percaya 
bahwa beliau dapat menyelami perasaan saya.” 


131 



Hasilnya Dr. Sudarsono tetap tidak hadir dan malam itu kami 
pergunakan untuk berjalan kaki di dalam kota Kairo, sambil 
menambah pertukaran pikiran dan informasi mengenai perkem¬ 
bangan peijoangan R.I. di dalam dan di luar negeri. 

Dalam waktu yang sempit itu kami coba juga menghubungi 
golongan Nica. Kolonel Hamid Kadri memperlihatkan keramah- 
tamahan. Tetapi secara diplomatis menolak membicarakan soal- 
soal dalam negeri dengan meminta supaya ditanyakan saja kepada 
Mr. Suwandi Ketua Delegasi. Kolonel Santoso lebih Belanda dari 
Belanda. Dari wajah mukanya terbayang kebenciannya kepada 
pencinta Republik. Ketika kami coba mendekatinya, ia serta-merta 
berdiri, memalingkan mukanya dan tergesa-gesa menjauhkan diri. 
Meskipun kami tetap memandang Kapten Tahia pengkhianat bang¬ 
sa, tetapi diakui bahwa sikapnya sangat simpatik. Lama kami 
berbicara dengan dia dan ia menjawab semua pertanyaan kami 
dengan dada terbuka. Dengan tegas ia mengatakan bahwa kekua¬ 
tan R.I. yang berjumlah 300.000 itu akan sanggup menghadapi ke¬ 
kuatan Sekutu. Lebih dari itu ia berkeyakinan bahwa Indonesia 
akan menang. Bahan-bahan yang kami dapat dari padanya di te- 
rasse Hotel Heliopolis Palace itu, banyak gunanya bagi penerangan 
membela Proklamasi. 

Setelah Delegasi berangkat ke Den Haag, berita dari ’Batavia’ 
mulai berdatangan yang mengatakan bahwa Pemerintah Ril. 
mungkin akan memberi konsesi-konsesi yang ’zakkelijk.’ Maka 
dipikirkan untuk mengirim beberapa anggota Panitia ke Indoneisa 
guna menyampaikan kepada Pemerintah R.I. supaya jangan mem¬ 
berikan konsesi-konsesi apapun, karena kedudukan R.I. sema¬ 
kin kuat di luar negeri terutama sesudah pengangkatan Bung 
Syahrir menjadi Perdana Menteri. Sebenarnya ketika beliau 
mulai menjabat kedudukan itu Panitia Pusat telah mengirimkan 
kawat berikut pada 13/3/46 : 

"Perdana Menteri Syahrir Batavia. 

"Merdeka! Mengucapkan bahagia raya kepada R.I. dan Ka- 


132 



binet baru. Musti merdeka penuh. 26 Komite Indonesia merdeka 
di luar negeri di belakang Republik dan menunggu perintah. 
Alam Islam menunjang Indonesia. Komite Pusat Timur Tengah.” 
Bagi pelaksanaan pemikiran di atas itu Panitia mengawatkan-kepa¬ 
da Delegasi melalui Taher Ibrahim, 6 Leiden sebagai berikut : 

”Diharap sampaikan kepada Menteri Suwandi berikut: 
"Selamat sampai selamat berunding. Tiga Indonesiawan perlu 
kembali beserta Menteri. Berharap diusahakan tempat.” Semen¬ 
tara itu kepada Panitia-panitia di luar negeri pada 13/4/46 Pani¬ 
tia Pusat mengawatkan sebagai berikut : 

”PKBI 20 Bagdadstreet Singapore 

”Keris 281 Dematagodaroad Madarana Colombo 

’Tndonesian League 18 Allenstreet New York 

”Cenkim Tradeshall Brisbane 

”Kim 242 Myrtlesreet San-Francisco 

”PPII 36 Noorman Zil Karolbagh New Delhi. 

’Tndonesian Delegate passing Cairo. 17 April cable your view.” 
Maksud kami dengan meminta pendapat itu adalah supaya 
Delegasi kembali ke Indonesia nanti telah mempunyai "gambargn 
lengkap dan jelas mengenai pendapat umum dunia terhadap 
perjoangan bangsa Indonesia. Sehingga dengan demikian pula da¬ 
pat kiranya Pemerintah mempertimbangkan apakah pada tempat¬ 
nya memberikan konsesi-konsesi yang ”zakkelijk” itu kepada 
Belanda.” 

Delegasi R.I. Memberi Penerangan dan Berterima-kasih 

Pada 26 April Delegasi R.I. pimpinan Mr. Suwandi kembali 
ke Kairo. Acara pertemuan dengan pembesar-pembesar Mesir 
dan Arab telah diatur, tetapi tidak dapat dilaksanakan semua¬ 
nya, kerana singgahnya di ibukota Mesir bertepatan dengan hari 
besar dan hanya buat satu hari saja. Sungguhpun demikian 
telah dapat ditemui pelaksana-pelaksana dalam politik luar negeri 


133 



Mesir dan Arab, di rumah mereka masing-masing seperti Menteri 
Luar Negeri Mesir, Sekjen Liga Arab, dan pemimpin-pemimpin 
rakyat yang dapat di andalkan sokongan mereka dikalangan 
rakyat umum, seperti Mustafa Nahas Pasya, Pemimpin Utama 
Partai Al Wafd yang berpengaruh yang waktu itu sudah bero¬ 
posisi dan lain-lain pemimpin-pemimpin parpol dan ormas. 

Sesampai di Kairo, Delegasi pertama sekali mengunjungi 
Istana Abidin guna mencatatkan nama pada Daftar Penghormatan 
kepada Raja Faruk. Kunjungan ini mendapat penghargaan luar bi¬ 
asa oleh Raja dengan mengutus Kepala Protokol Istana (Grand 
Chamberlain) ke Hotel Heliopolis Palace guna menyampaikan 
terima kasih Baginda Raja. Suatu penghormatan yang jarang 
terjadi, apalagi kepada suatu delegasi yang negaranya belum diakui 
penuh, de facto dan de jure. Dari Istana mereka pergi ke 
”Rumah Johor” yang dipimpin Abduljalil Hasan, Wakil Ketua 
Panitia Pusat, dan yang telah menyerahkan rumah itu guna 
menerima tamu-tamu besar, karena kantor Panitia di Sikket 
Syaburi 12, Hekmia, tidak begitu representative dan untuk Sek¬ 
si Arab Panitia berkantor. Ketika mereka masih di sana, dengan 
tidak disangka-sangka, Abdulrahman Azzam Pasya, yang memang 
akan di kunjungi mereka, telah mendahului mengunjungi Delegasi, 
serta menyampaikan undangan makan siang. Delegasi sangat terha¬ 
ru oleh penghormatan yang diberikan Sekjen Liga Arab itu. 

Sebelum makan siang itu, Delegasi menemui (alm) Luthfi 
Sayid Pasya, Menlu Mesir, di rumahnya. Dalam pertemuan yang 
berlangsung satu jam itu, Delegasi berterima kasih atas sokongan 
Mesir dan menerangkan situasi politik dan militer di Indonesia 
berterus teyang. Beliau meminta maaf karena banyak sekali mema¬ 
jukan pertanyaan, tetapi menambahkan bahwa ia bertanya itu 
supaya dalam menyokong Indonesia akan lebih baik dengan me¬ 
ngetahui seluk-beluk persoalannya. 

Pembicaraan-pembicaraan pada jamuan makan siang dengan 
Sekjen Liga Arab selama dua jam sangat mengesan. Jika pembica- 



raan dengan Menlu Mesir, seorang Profesor bekas Rektor Univer¬ 
sitas Fouad I (sekarang Universitas Cairo) banyak mengenai 
segi ”hukum”nya persoalan, pembicaraan dengan Azzam Pasya, 
seorang pejoang yang pernah meninggalkan fakultas kedokteran 
di London untuk menggabungkan diri dalam tentara Turki yang 
mempertahankan Libia dari serangan-serangan Itali pada tahun 
1912 bersama-sama Mustafa Kemal (Ataturk), Anwar Pasya dari 
Turki dan Saleh Harab dari Mesir, benar-benar berkisar sekitar 
perjoangan revolusi yang harus dimenangkan. Beliau berjanji akan 
mempergunakan kedudukannya sebagai Sekjen Liga Arab untuk 
mendorong negara-negara Liga tersebut supaya sepenuhnya me¬ 
nyokong perjoangan bangsa Indonesia Muslim. Dalam hal ini 
beliau selalu mengatakan bahwa ”Liga Arab” bagi beliau adalah 
”Liga Muslim,” yang berarti bukan hanya buat kepentingan bang¬ 
sa Arab, tetapi untuk kepentingan Ummat Islam seluruhnya. ^ 
Pada kesempatan ini Delegasi menyampaikan terima kasih In¬ 
donesia atas keputusan Liga Arab pada 8/4/46 yang menyo¬ 
kong kemerdekaan Indonesia dan tuntutan-tuntutan nasionalnya. 
Mr. Suwandi juga menyampaikan harapan R.I. supaya Liga ini 
meningkatkan sokongannya, sehingga tercapai kemenangan penuh 
dengan pengakuan terhadap Indonesia sebagai negara yang merde¬ 
ka dan berdaulat penuh. Suatu soal yang berat di Timur Tengah 
adalah masalah penghidupan 4.000 warga Indonesia di Saudi 
Arabia. Karena meskipun izin pengiriman beras telah- pindah 
ke tangan kita, tetapi pelaksanannya memerlukan uang yang 
tidak sedikit. Maka dalam pembicaraan dengan Sekjen Liga itu 


1). Abdulrahman Azzam Pasya diganti sebagai Sekjen Liga Arab pada tahun 1952, se¬ 
sudah Raja Faruk digulingkan, sebagai kompromi antara Mesir dan Irak; Nuri 
Said yang banyak sekali mengeritik Azzam Pasya, bahkan diparlemennya, karena 
banyak bertindak dalam soal Indonesia tanpa musyawarah dengan negara-negara 
Arab anggaota. Hal ini terang-terang diumumkan Nuri Said Pasya (terbunuh 
dalam revolusi Irak tahun 1958) dalam parlemen Irak. Mesir Muhammad Najib 
yang ingin nenciptakan persatuan Arab, telah mengorbankan Azzam Pasya 
dan menggantinya dengan seorang diplomat,- Hassouna Pasya. Alangkah jauh 
bedanya antara Liga Arab revolusioner dan Liga Arab diplomatis . . . Lumpuh 
tidak bergerak. 


135 



juga diminta bantuan beliau supaya Pemerintah Saudi Arabia 
segera melaksanakan janjinya akan membantu mereka yang telah 
membebaskan dirinya dari ’perwalian’ Belanda itu, Kopindojuga 
telah mengutus Saleh Ibrahim Padang dan Muhammad Sidik 
Banjar guna membicarakan soal tersebut dengan Delegasi dan juga 
soal Serikat Dagang mereka (Intraco) yang mendapat restu dari 
Delegasi. 

• ' ; 

Pertemuan Delegasi dengan Duta Saudi Arabia di Kairo kami 
atur juga dalam rangka kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapi 
warga Indonesia itu dan tekanan-tekanan yafig dihadapi Panitia 
di sana dari petugas-petugas Saudi Arabia yang dapat dipengaruhi 
oleh Perwakilan Belanda. Duta Saudi itu berjanji akan menyam¬ 
paikan permintaan Delegasi mengenai kedua soal itu kepada 
pemerintahnya. Pada pertemuan itu Delegasi menjamin bahwa 
Pemerintah Indonesia nanti akan membayar kembali hutang yang 
akan diberikan kepada warga Indonesia di Tanah Suci itu. 

Dalam pertemuan dengan Mustafa Nahas Pasya yang didam¬ 
pingi Dr. M. Salahuddin Pasya, Delegasi tidak banyak menjawab 
pertanyaan-pertanyaan, karena beliau telah mengetahui soal Indo¬ 
nesia dengan jelas dari Dr. Salahuddin Pasya, penasehat hukum 
Panitia Pusat. Maka pembicaraan berkisar tentang kesatuan perjo- 
angan Timur dalam menghadapi penjajah Barat. Delegasi juga 
berterima kasih atas sokongan beliau baik ketika masih Perdana 
Menteri ataupun dalam kedudukan opposisi, dan mass-media 
Partai Al-Wafd yang banyak itu serta kerelaan beliau memberi 
tangan kanannya, yang dengan nesehatnya yang jitu itu kon¬ 
frontasi dengan Kedutaan Belanda telah dapat dimenangkan. 

Meskipun singgah hanya satu hari, tetapi kunjungan Delegasi 
itu sangat berfaedah. Karena ia itu merupakan Delegasi R.I. 
resmi yang pertama ke luar negeri yang berkesempatan memberi¬ 
kan penerangan-penerangan langsung kepada pembasar-pembesar 
bertanggungjawab di Timur Tengah. Oleh karena Panitia-panitia 


136 



mempergunakan sentimen Agama Islam menjadi senjata pendekat¬ 
an di Timur Tengah, kepada Delegasi kami pesankan supaya dalam 
pembicaraan-pembicaraan Delegasi dengan pembesar-pembesar 
Mesir dan Arab itu thema persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiah) 
agak ditekankan. 

Hotel Heliopolis Palace sangat ramai pada hari itu dengan 
pengunjung yang ingin menyampaikan penghargaan dan simpati 
kepada Delegasi R.I. Di samping wakil Raja dan penjabat- 
penjabat resmi Mesir dan Arab yang datang menemui mereka 
juga datang pemimpin-pemimpin Partai-partai politik dan organisa¬ 
si-organisasi masa yang kadang-kadang diiringi oleh puluhan 
pengikutnya. 

Suatu "kebetulan” yang patut dicatat, sementara suasana 
simpati dan persahabatan yang meliputi pertemuan diplomasi 
revolusi itu, tiba-tiba agen Nica utama Mr. Musa (di Timur Tengah 
dibaca orang ’Musang’ ) menyelinap seperti ”nama”nya itu ke 
tengah-tengah khalayak yang beremosi perjoangan itu, seorang 
mahasiswa Indonesia yang mengenalnya segera mengadangnya 
dengan pekik ”Merdeka.” Ia tidak menjawab, tetapi mempercepat 
langkahnya serta menundukkan kepala yang bermuka pucat. 
Idris Hasyim, pemuda itu, memekikkan "Merdeka” lagi dan Mr. 
Musa tertegun, tetapi tetap membisu. Kali ketiga Idris Hasyim 
memekikkan "Merdeka,” tetapi sekali ini tidak lagi dengan menga¬ 
yunkan tangan ke atas, tetapi dengan mengumpulkan buku-buku 
jarinya dan menunjukkannya kemuka agen Nica itu. Dengan pe¬ 
nuh ketakutan dan rasa yang kelihatannya masih bermalu serta 
suara yang hampir tidak kedengaran, agen Nica utama yang telah 
banyak mengkhianati tanah-airnya di arena internasional itu men¬ 
jawab : "Merdeka Juga” sambil menghilang.Apakah me¬ 
mang "kebetulan,” ataukah dalam rangka tugasnya. 1 ) 


1). Dengan berkat kartu satu partai politik nasional, Mr. Musa ini diangkat Sukarno 
menjadi ’Duta Luar Biasa dan Berkuasa Penuh’ Republik Indonesia — yang per¬ 
nah dikhianatinya itu - di Ceylon dan Portugal. 


137 







Sebelum pulang, Delegasi meminta kepada Panitia supaya 
menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bangsa 
Mesir khususnya dan bangsa Arab dan Islam umumnya atas 
sokongan yang diberikan terhadap peijoangan Indonesia. Pesan i- 
ni disampaikan melalui pers setempat. Adapun surat khusus 
yang ditujukan kepada Ismail Sidki Pasya, Perdana Menteri Mesir 
yang baru, telah disampaikan, beserta terjemahannya dalam bahasa 
Arab. Yang masih dalam dokumen-dokumen saya ada terjemah¬ 
an itu. Karena ini adalah surat resmi pertama dari suatu Delegasi 
resmi R.I. kepada seorang Perdana Menteri, akan saya nukilkan 
sepenuhnya di sini, menurut terjemahan bahasa Arab itu, dan 
sebagainya : 


"Kairo 26 April 1946.” 


”Yang mulia. 

” Ismail Sidki Pasya, Perdana Menteri Mesir. 

” Dengan hormat. 

” Kami Delegasi Indonesia yang singgah hari ini di tanah 
Arab dan Islam, dalam perjalanan kami pulang dari Eropa, me¬ 
nyampaikan penjelasan yang sebenar-benarnya oleh karena sempit 
waktu, tidak mendapat kesempatan buat menemui Y.M. Meskipun 
demikian, kami sangat merasa beruntung dapat menyampaikan 
surat persaudaraan ini kepada Y.M., dengan harapan mendapat 
penerimaan yang baik dari Y.M.” 

"Kesempatan yang baik ini kami pergunakan untuk me¬ 
nyampaikan hormat persaudaraan kepada Y.M. dari 70 juta Umat 
Islam Indonesia yang masih mempertaruhkan jiwa raganya dalam 
mempertahankan cita-cita bangsanya. Bangsa Indonesia sedang 
berjoang itu menoleh kepada dunia Arab dan Islam dan Y.M. 
selamanya hidup dalam perjoangan dengan penuh harapan bahwa 
dunia Arab dan Islam ini akan terus menyokong dan membantu¬ 
nya mempertahankan kemerdekaan dengan darah warganya yang 


138 



setia. Bangsa Indonesia ketika memasuki gelanggang peijoangan, 
penuh dengan keyakinan bahwa kemerdekaan Indonesia berarti 
kebebasan 70 juta Kaum Muslimin, yang akan berarti pula suatu 
dukungan bagi perdamaian dunia.” 

”Mengingat sokongan yang telah diberikan kepada peijoang¬ 
an bangsa Indonesia dan perhatian serta bantuan yang diperoleh 
rakyat Indonesia yang bermukim di negeri ini, kami merasa 
wajib menyampaikan kepada Y.M. dan Pemerintah Mesir terima- 
kasih yang sebanyak-banyaknya, dengan harapan supaya sokongan 
dan bantuan itu akan dapat diteruskan, selama peijoangan Indone¬ 
sia belum selesai dan perhubungan antara Indonesia dan Mesir 
masih terputus. Tidak syak lagi bahwa semua kebaikan itu akan 
meninggalkan kesan yang dalam dan abadi dalam kalbu bangsa 
Indonesia.” 

Akhirnya kami berdoa semoga Tuhan akan memberi Y.M. 
dan semua pemimpin dunia Islam taufik dan hidayat-Nya dalam 
berbakti kepada Islam, dan negara-negara Arab dan Islam. 

”Yang Mulia terimalah hormat kami yang setinggi-tingginya. 

Ketua Delegasi Indonesia, 
ttd. 

( Suwandi) 

Surat serupa juga dikirimkan Delegasi kepada Jenderal Saleh 
Harb Pasya, Ketua Panitia Pembela Indonesia, untuk berterima- 
kasih kepada beliau dan para pembesar Arab dan Islam anggota- 
anggota Panitia khusus itu. 

Penghargaan 

Sesampai di Karachi, dalam perjalanan pulang, Ketua. Dele- 


139 




140 


Misi Suwandi di Kairo : 

A. Rahman Azzam Pasya (bertaibusy) dan di kirinya Mr. Suwandi dan di ka¬ 
nannya Dr. Sudarsono dan Mr. A. Karim Pringgodigdo beserta anggota-anggo¬ 
ta Panitia. 





141 


Mr. Suwandi (tengah-tengah beris pertama) di kirinya Prof. Lutfi Sayid Pasya, 
dan Mr. A. Karim Pringgodigdo dan di kanannya Dr. Sudarsono dan M. Zein 
Hassan. Di belakang: di kanannya H alim Rasyidi dan Fuad Fakhruddin. 


gasi mengirimkkan kawat kepada Panitia Pusat guna berterima- 
kasih atas penyambutan, dan menyatakan penghargaan - atas 
nama Pemerintah R.I. - terhadap usaha-usaha yang telah dijalan¬ 
kan Panitia-Panitia di Timur Tengah untuk memperkenalkan 
Indonesia dan mempertahankan Proklamasi, sebagai telah mereka 
rasakan hasil-hasilnya dalam hubungan-hubungan singkat Delegasi 
dengan pemimpin-pemimpin Mesir dan Arab itu. Delegasi juga 
menyatakan turut berbangga dengan kemenangan yang telah di¬ 
hasilkan Panitia dalam merebut kekuasaan atas warga Indonesia 
di Timur Tengah dari tangan perwakilan-perwakilan Belanda serta 
pengakuan-pengakuan negara-negara Arab atas de facto perwalian 
Panitia-Panitia Timur Tengah atas warga Indonesia yang bermukim 
di sana, dalam masa hanya enam bulan sesudah Proklamasi. 

Bendera Pusaka Luar Negeri 

Selama kunjungan-kunjungan Delegasi R.I. itu di Kairo, 
pada mobil yang dipergunakannya selama itu, dipasang satu ben¬ 
dera merah-putih berukuran kecil. Oleh karena Delegasi itu tidak 
pernah mendarat selama perjalanan ke Den Haag selain di Kairo 
dan oleh karena Delegasi itu adalah delegasi R.I. resmi pertama 
ke luar negeri sesudah Proklamasi, maka bendera yang dikibarkan 
pada mobil Delegasi di Kairo itu adalah bendera pertama di per¬ 
gunakan oleh suatu misi atau perutusan resmi R.I. Dari itu, ben¬ 
dera tersebut yang masih saya simpan sampai sekarang, berhak 
kiranya memakai nama Bendera Pusaka luar negeri. 

Panitia Pusat mewakili Vietnam di Liga Arab 

Beberapa hari sesudah Delegasi Indonesia meninggalkan 
Kairo, satu delegasi Vietnam dalam perjalanan ke Paris singgah 
pula di ibukota Mesir ini. Dalam satu jamuan yang kami adakan 


142 




143 


Di tengah-tengah (bertarbusy) Mustafa Nahas Pasya dan di kanannya bai 
muka Mr. Suwandi, Dr. M. Salahuddin Pasya dan M. Zein Hassan dan di 
nya Dr. Sudarsono dan Saleh Padang (utusan cabang Saudi Arab ia) 




144 



•73 ea ,2 

J3 *d 
^ 3 +3 
C 0- S 

j 11 

1 JS (2 

*».* 2 
a» M O 

O - B 

fl ^ C 
'M 0) « 
O »H — 

|i i 

M e g 

8> J « 

S S •“ 

0 J.9 

^ Q 3 

; S ^ | 

JS| g 
Sa^ 

S H .S 

2*^ 

^ < g 

‘fin < 

■s »3 

■9 II 

= s- a 

■su 3 




guna menghormati mereka, delegasi itu meminta kepada Panitia 
Pusat supaya bersedia mewakili negara mereka di Liga Arab. 
Permintaan itu kami kabulkan. Semenjak itu hubungan-hubungan 
Vietnam dengan Timur Tengah berlangsung melalui kami. Pada 
5/5/46 Panitia menerima message dari Pemuda Vietnam menyam¬ 
paikan : ’Atas nama Pemuda Vietnam kepada Pemuda Indonesia 
rasa solidaritas dan kekaguman.dan keyakinan bahwa In¬ 

donesia dan Vietnam akan menduduki kedudukan yang layak 
di antara bangsa.’ 



TAfY.SYAKUK 

«EUMJM. R«i HAS$AN ATAS PM&MVM 
t*M&* W HOAWATAHAWTAlit JAS* UI AM* 
t*£***ES.*0. mt 0** HUT €*#*S 
*Eat*M*M» AOWAWW**** HtMtS* 

17 - 8 - 1946 

ULANG TAHUN PERTAMA KEMERDEKAAN INDONESIA 

Ulang tahun pertama kemerdekaan Indonesia pada 17-8- 
1946 adalah suatu kesempatan bersejarah dan penting, tidak saja 
guna meluapkan kegembiraan dengan kesanggupan R.I. memper¬ 
tahankan kemerdekaannya selama setahun tepat ini, tetapi juga 
guna menggiatkan penerangan bahwa kemerdekaan itu terbukti 
benar-benar berurat-tunggang dalam kalbu rakyat Indonesia. Un¬ 
tuk maksud ini Panitia-panitia di Timur Tengah telah membuat 
rencana masing-masing. 

Di Kairo, Panitia Pusat telah merencanakan : 

\ 

1 — Menyusun laporan tahunan kepada Pemerintah R.I. di Yog¬ 

yakarta mengenai kegiatan Panitia-panitia Timur Tengah se¬ 
lama setahun itu, dalam turut mempertahankan Proklamasi 
dan mendesak dunia internasional mengakuinya. Juga kegia¬ 
tan warga Indonesia diwilayah itu selama perang dalam 
melawan kegiatan Belanda untuk kembali menjajah Indonesia. 

2 — Menulis sejarah Indonesia dalam bahasa Arab yang diberi 

nama "Indonesia Assairah” (Indonesia Berevolusi) yang me¬ 
ngandung sejarah Indonesia semenjak zaman keemasan Sri¬ 
wijaya dan Majapahit sampai Proklamasi dan setahun Indo¬ 
nesia merdeka. Karena belum ada pembacaan dalam bahasa 
Arab mengenai sejarah tersebut. Sehingga dengan buku itu 
dunia Arab mengetahui bahwa Indonesia telah menikmati 


147 



zaman keemasan, sebelum menderita malapetaka penjajahan, 
dan ^tid^^^Fia^- menyerah kepada penjajahan pendatang, 

__ t ,fe*^cait®sep i @Etkidieanangk-an Belanda ’ made in lapan.’ 

M*»A:*SS*e tm*^™**4*Q+ >«*»#** 

3 -S>^ent^f^r@il ^jt yang baru diterima dari Indo¬ 

nesia yang dapat memberi pengertian tentang Revolusi 
Indonesia dan agresi Belanda seperti ’ Perjoangan Kita ’ oleh 
Sutan Syahrir, ’ Masa Depan Ekonomi Indonesia ’ oleh Dr. 
Muhammad Hatta ’ dan ’ No More Legal Power of the 
Netherlands ' in Indonesia ’ oleh Mr. A<A. Maramis. Ketiga 
buku ini saya terjemahkan sendiri. 

4 Mengadakan resepsi semeriah mungkin, sekuat keuangan 
Panitia. 

5 - Menyiapkan suatu sandiwara politik yang dikutip dari buku 

"Audatul Firdausi” ( Kembalinya Sorga ) gubahan sastrawan 
Arab-Indonesia terkenal ( alm ) Ahmad Ali Bakatir. Satu 
roman politik yang dikhayalkannya terjadi antara seorang 
pejoang di bawah tanah dengan seorang dara pengikut 
Sukarno di ibukota yang berakhir dengan pertemuan di 
lapangan Gambir dalam suasana Proklamasi yang menggem¬ 
birakan. 

6 - Mengumumkan satu Pernyataan Politik bertepatan genap 

setahun Proklamasi, mengirimkan memorandum-memoran- 
dum kepada negara-negara Liga Arab dan Islam serta per¬ 
wakilan-perwakilan asing setempat. 

Semua rencana itu Alhamdulillah berjalan dengan baik. 
Laporan tahunan dapat disiapkan sebelum resepsi 17/8/46 itu 
dan dikirimkan ke Yogya pada bulan Agustus itu juga. Ia mungkin 
merupakan laporan pertama lengkap dari suatu badan di luar 
negeri, meskipun belum resmi ( de jure ) menjadi perwakilan R.I., 
tetapi de facto telah diakui negara-negara Arab suatu badan yang 
melindungi kepentingan warga Indonesia dan bertanggung jawab 
dalam urusan-urusan mereka dengan penguasa-penguasa setempat. 




Buku "Indonesia Assairah,” kesulitan mencetaknya dapat 
diatasi dengan kedermawan Abdul Manan Ilyas, asal Minang, dari 
simpanan dagang kecil-kecilannya selama perang dunia kedua. 
Buku yang berhalaman 220 itu, kulitnya dihiasi oleh lukisan 
Mansur Abu Makarim, Pembantu Sekretariat Barat Panitia, yang 
menggambarkan suatu gunung merapi meletus dan memuntahkan 
api yang menyinari cakrawala dan di tengah-tengah kupalan 
cahaya yang kemerah-merahan itu tertulis ”A1 Hurriah”(Merdeka) 
suatu lukisan dari Revolusi Indonesia yang telah mengumumkan 
kemerdekaan Indonesia, yang ditamsilkan dengan lukisan Boro¬ 
budur dan Mesjid yang bermenara tinggi menjulang ke udara 
dengan bebasnya. 

Terjemahan tiga buku di atas dapat saya selesaikan sebelum 
perayaan itu. Dicetak oleh dermawan Mesir, Haji Muhammad 
Salim Salim, yang ingin meneterapkan idee Bung Hatta pada 
para karyawan perusahaannya. Hanya buku Bung Hatta dan 
Bung Syahrir yang dapat ditolongnya. Adapun buku Mr. A.A. 
Maramis terpaksa dicetak stensilan. Penerbitan "Audatul Firdausi” 
tidak mengalami kesulitan. Nama Ahmad Ali Bakatir telah dikenal 
dalam sastra Arab dan karya-karyanya selalu diterbitkan oleh 
penerbit.’ Khanji.’ 

Dalam kata pengantar "Indonesia Assairah” dikatakan an¬ 
tara lain : 

"Pada 17 Agustus 1945 Indonesia menentukan nasibnya 
sendiri dengan mengumumkan kemerdekaannya. Dengan demikian 
genaplah setahun panji-panji kemerdekaan berkibar di bawah 
langit negeri Timur yang Islam itu. Panitia Pembela Kemerdekaan 
Indonesia di Kairo mengambil kesempatan baik yang diberkahi 
ini untuk menerbitkan buku ini, guna memperingati hari berseja¬ 
rah yang menentukan itu, dan sebagai persembahan kepada arwah 
para syuhada yang telah bermurah hati mengorbankan hidupnya 
yang fana ini bagi kehidupan tanah-air mereka yang abadi. Dan 
juga sebagai penghormatan kepada para pahlawan pandu kemer¬ 
dekaan tanah-air yang telah mempesona dunia dengan keikhlasan 


149 



dan keberanian mereka dalam mempertahankan kemerdekaan 
tanah-aimya. Persembahan dan penghormatan dari mereka yang 
mencintai tanah-airnya, tetapi tidak berkesempatan ikut-serta 
mempertahankannya dengan darah dan jiwa raganya. ...” 

Kata pengantar ”Perjoangan Kita” (Jihadu Na) antara lain 
berbunyi : 

”Revolusi Indonesia termasuk revolusi terbesar yang akan 
menjadi pembahasan ahli-ahli sejarah gerakan kebangsaan. Revo¬ 
lusi Indonesia berbeda dari revolusi Perancis - seperti dikatakan 
Syahrir dengan kenyataan bahwa Revolusi Indonesia ikut serta 
menutup lembar-lembar terakhir sejarah penjajahan, sedang revo¬ 
lusi Perancis adalah mukaddimah dari sejarah penjajahan itu. Re¬ 
volusi Indonesia adalah revolusi demokrasi kerakyatan, sedang 
revolusi Perancis adalah revolusi demokrasi buijuis. ” 

”Suatu revolusi yang demikian ciri-cirinya, sesungguhnya p 
tut diketahui oleh mereka yang mempelajari gerakan-gerakan, 
akan dasar-dasar, kecenderungan-kecenderungan dan tujuan-tu- 
juannya. Dan semuanya itulah yang diutarakan Dr. Syahrir dalam 
”Peijoangan Kita” ini .... . Harapan kami supaya buku ini akan 
menolong memfahami pandangan Republik Indonesia yang masih 
muda belia itu.” 

Buku ”Masa Depan Perekonomian Indonesia” diantar dengan 
kata-kata antara lain sebagai berikut : 

"Indonesia sesudah Proklamasi memasuki zaman baru. Maka 
kewajibannya adalah membina kembali bangunan perekonomian¬ 
nya yang telah dihancurkan penjajahan Belanda selama ratusan 
tahun, dan membuat suatu rencana (blue print) yang akan menjadi 
pedoman pembinaan bangunan yang baru itu.” 

”Dr. Muhammad Hatta dengan ceramahnya yang berharga 
itu, meletakan di hadapan hadirin kerangka bangunan baru eko¬ 
nomi Indonesia yang telah dimulai Pemerintah Indonesia mem¬ 
binanya. Dunia Arab dan Islam yang mempunyai hubungan- 


150 




hubungan ekonomi dengan Indonesia, sudah tentu merasa perlu 
mengetahui bangunan baru perekonomian Republik Indonesia 
yang muda itu ... .” 

Ali Ahmad Bakatir dalam mempersembahkan roman politik¬ 
nya yang berjudul ”Audatul Firdausi au Istiklalu Indonesia” itu 
mengantarkannya dengan kata : 

”Kepada mereka yang masih menderita ikatan belenggu 
di antara Ummat Islam dan bangsa Arab.” 

”Saya persembahkan roman-sandiwara ini, agar mereka men¬ 
dengar gemuruh tujuh-puluh-lima juta belenggu berjatuhan di 
Indonesia. Saudara-saudara mereka rakyat Indonesia yang gagah 
berani itu adalah contoh yang sebaik-baiknya bagi mereka.” 

Di lembaran berikutnya dikumandangkannya : 

” Peringatan 

”dari 

”Mereka yang mempercayai Piagam Atlantik, tetapi tidak 
ikut menulisnya, 

"Kepada 

Mereka yang menulis Ragam Atlantik, tetapi tidak mem¬ 
percayainya. 

Baik Dalam Pernyataan yang disiarkan pers atau memoran- 
dum-memorandum yang disampaikan kepada negara-negara Arab 
dan Islam serta perwakilan-perwakilan asing setempat, Panitia 
melukiskan pembentukan satu pemerintah demokrasi sesudah 
Proklamasi Indonesia, yang telah berhasil sesudah satu tahun 
pembentukannya itu dalam bidang ekonomi, seperti dibuktikan 
oleh bantuan 500.000 ton beras ke India, dan dalam bidang 
pendidikan dengan pembangunan tiga universitas, sedang selama 
penjajahan, satupun tidak berdiri. Ini disamping berhasilnya 
dibidang militer, dengan membendung tentara Inggris dipelabu- 
han-pelabuhan tempat mereka mendarat, sesudah mereka melang¬ 
gar tugas kedatangan mereka, yaitu hanya untuk melucuti tentara 


151 



Jepang, tetapi merobahnya menjadi berusaha melucuti tentara 
Indonesia, dalam usaha mereka mengembalikan penjajahan Belan¬ 
da ke Indonesia. Motive-motive campur-tangan Inggris ditelan¬ 
jangi, yang berpangkal pada kepentingan Inggris sendiri. Diterang¬ 
kan bahwa Indonesia terpaksa menghadapi campur-tangan Inggris, 
tidak saja di medan pertempuran senjata, tetapi juga di medan 
pertarungan diplomasi, setelah mereka juga campur-tangan di 
medan ini dengan pengiriman Sir Clerk Kerr ke Jakarta, Di¬ 
katakan bahwa ’perundingan’ yang disponsori Inggris itu sebenar¬ 
nya adalah guna mengulur waktu bagi persiapan militer mereka, 
setelah serang-serangan mereka pertama gagal. Dari itu pada 
satu Juni 1946 PM Syahrir menyerukan kepada rakyat Indonesia 
supaya siap siaga menghadapi segala kemungkinart. Pada 7 Juni 
diumumkan lagi pemerintahan darurat dan pembentukan Dewan 
Pertahanan. Perkembangan situasi demikian gawatnya, sehingga 
pada 27 Juni diadakan pembagian tugas pada pimpinan tertinggi, 
dengan Sukamo sebagai Presiden memegang pimpinan tertinggi 
militer dan pimpinan diplomasi di tangan PM Syahrir. 

Menghadapi perkembangan yang demikian membahayakan 
perdamaian dunia, disebabkan agresi yang bermotif kolonial 
semata-mata terhadap suatu negara yang telah menunjukan ke¬ 
matangan politik dan kesediaan buat mengorbankan segala sesuatu 
guna mempertahankan hak, kemerdekaan dan kedaulatannya, 
diserukan kepada negara-negara sedunia umumnya, kepada negara- 
negara Arab dan Islam khususnya, supaya menyokong Indonesia 
yang berjoang hidup atau mati itu dan mengakuinya sebagai 
negara yang merdeka dan berdaulat penuh. 

Disebabkan situasi dalam negeri Mesir yang tidak stabil, 
karena sikap keras yang dijalankan terutama Ikhwanul Muslimin 
terhadap Inggris dan partai-partai yang masih percaya bahwa 
Inggris dapat dikeluarkan dari bumi Mesir dengan perundingan, 
sehingga terjadi pembunuhan-pembunuhan politik, untuk menga¬ 
dakan resepsi, saya harus menandatangani perjanjian tidak akan 
terjadi demonstrasi-demonstrasi dan pidato-pidato tidak boleh 


152 



menyangkut soal-soal politik. Maklumlah serangan-serangan kami 
selama ini lebih ditujukan kepada Inggris yang telah menjadi 
musuh bersama. 

Mengenai resepsi dan sandiwara sesudahnya, yang ceritanya di¬ 
ambil dari "Kembalinya Sorga” dan dimainkan oleh para pemuda 
Jam’iah Syubban Muslimin, saya nukilkan di sini catatan harian 
saya yang ditulis setelah selesai malam itu juga sebagai berikut : 

”Tadi kami merayakan ulang tahun pertama kemerdekaan 
Indonesia, dalam suatu upacara yang besar sekali yang tidak per¬ 
nah diadakan sepertinya oleh warga asing yang bukan resmi di 
Mesir. Bahkan jarang terjadi seperti perayaan itu pada perayaan- 
perayaan kebangsaan mereka. Resepsi diadakan di lapangan olah¬ 
raga Pusat Jam’iah Syubban Muslimin yang luas itu dan dihadiri 
oleh lebih dua-ratus pembesar-pembesar Mesir, Arab dan Timur 
dan beberapa anggota corps diplomatik Arab serta pemimpin- 
pemimpin surat-surat kabar dan wartawan-wartawan lainnya.” 

”Adapun sandiwara yang diadakan guna memperingati hari 
yang berbahagia ini, dan diadakan di Theater perhimpunan itu 
juga, meskipun cukup besar, penuh sesak dengan hadirin yang 
jumlahnya lebih seribu undangan pilihan.” 

”Di antara pembicara terdapat Jenderal Saleh Harb Pasya, 
Ketua Lajnah Pembela Indonesia dan Ketua Umum Syubban 
Muslimin, Dr. Muhammad Salahuddin Pasya, bekas Wakil. Menteri 
Luar Negeri Mesir dan Penasehat Hukum Panitia Pusat, Abdulrah- 
man Azzam Pasya Sekjen Liga Arab yang pidatonya dibacakan 
oleh Sekretarisnya, karena beliau berada di luar kota, Ahmad 
Hussain, pemimpin Mesir Muda, penyair Ali Ahmad Bakatir, 
dan penyair Syubban Muslimin dengan syair-syair mereka yang 
penuh semangat, kekaguman dan simpati kepada Republik In¬ 
donesia. Terakhir sekali saya berbicara atas nama Panitia Pusat. 

Dari pidato2 itu terdengar apa yang selama ini kami desakkan, 
yaitu perlu segera diakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia 
yang telah menunjukan kematangan dan kecakapanya. ” 


153 



Adalah suatu pilihan yang tepat mementaskan satu fa- 
sal dari buku ”Kembalinya Sorga atau Kemerdekaan. Indone¬ 
sia’* gubahan sastrawan Arab-Indonesia Ali Ahmad Bakatir, me¬ 
ngiringi resepsi itu. Karena teijadinya sekitar rapat-uinum di- 
lapangan Gambir guna mengumumkan kelahiran Republik Indo¬ 
nesia. Adalah sangat mengesankan sandiwara yang di sela-sela 
oleh teriakan riuh mengelu-elukan Sukamo, Hatta dan Syahrir, 
Indonesia Merdeka dan Republik Indonesia.” 

”Perayaan ini berlangsung sampai liwat tengah malam dan 
ditutup dengan lagu ’ Indonesia Raya ’ yang dinyanyikan oleh 
semua hadirin yang mengikuti pementasan itu. Karena lagu 
kebangsaan Indonesia ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa 
Arab menurut iramanya yang asli dan telah dihafal oleh pemuda 
Jam’iah Syubban Muslimin yang juga memenuhi gedung Theater 
itu sampai ke jendela-jendelanya. ” 

”Upacara ini dimeriahkan oleh band ’ Sukaria Indonesia ’ 
dari mahasiswa Indonesia yang telah mempesona hadirin dengan 
lagu-lagu Indonesia yang merayu dan bersemangat, dan mendapat 
pujian dari mereka. ” 

”Dengan pedih hati saya mencatat tidak hadir 5 orang warga 
Indonesia yang menganggap diri mereka pemimpin Perpindom. 
Mereka itu 1) B.A., ketuanya, 2) A.D., sekretaris, dan dicurigai 
mata-mata Belanda selama perang dunia kedua, 3) S.A., bendaha¬ 
ra, 4). A.K. dan 5) A.A.” 

”Setelah selesai perayaan itu, Kepala Polisi Rahasia yang 
ditugaskan mengamat-amati, mengatakan kepada saya bahwa 
pidato-pidato yang diucapkan sudah melebihi batas yang disepa¬ 
kati semula, yaitu melulu berbau politik. Saya jawab bahwa 
suasana yang penuh semangat itu telah mendorong para pembicara 
berbuat demikian. Kelihatannya ia memahami suasana itu, sebab 
dikatakannya : ’ Saya juga menghargai perasaan kebangsaan ,’ 
dan kami berjabat-tangan.” 

Pemerintah Mesir bermurah hati memberi kesempatan ke- 



pada kami merayakan hari nasional yang bersejarah itu dan buat 
pertama kali dari corong Radio Kairo, yang mengumandangkan 
lagu ’ Indonesia Raya ’ dan lagu-lagu Indonesia lainnya menyela 
sandiwara-radio yang mementaskan lagi "Kembalinya Sorga” me- 
liwati udara oleh karyawan-karyawan Radio Kairo sendiri. 
Adalah sangat menggelikan jika saya ingat sekarang bahwa pidato 
yang saya ucapkan melalui radio malam itu (18/8/46) dimulai 
dengan ’ Indonesia Raya * bahasa Indonesia dan ditutup dengan 
’ Indonesia Raya ’ bahasa Arab, suatu kebiasaan yang hanya 
berlaku bagi seorang kepala negara..... Mereka memenuhi 
semua keinginan kami dan kami lupa akan protokolnya. Acara 
melalui radio itu dimulai oleh penyiarnya (Ny.) Safiah Al-Muhan- 
dis, dengan ucapan berikut : 

"Setahun yang lalu, pada hari seperti sekarang, bangsa 
Indonesia telah merebut kembali kemerdekaannya dari tangan 
musuh yang merampasnya. Maka berdirilah satu Republik Islam 
dengan Presidennya Dr. Sukamo, seorang pemimpin nasional yang 
disayangi. Dengan pengumuman kemerdekaan itu bebaslah 80 
juta manusia setiawan dari belenggu penjajahan dan rantai per¬ 
budakan. Hidup merdeka di tanah kelahiran mereka, bebas di 
bumi yang menampung mereka, sebagaimana diciptakan alam 
dan dikehendaki oleh keadilan insaniah.” 

Perayaan melalui Radio-Kairo itu juga dimeriahkan oleh 
band ’ Sukaria Indonesia ’ yang seluruh anggotanya dari warga 
Indonesia. Dari studio Radio-Kairo itu mereka langsung pergi 
ke Pusat Syubban Muslimin. Di sana mereka dinanti oleh ke¬ 
satuan-kesatuan pandu Mesir yang bersukaria semalam itu mera¬ 
yakan hari nasional Indonesia. Pestaan malam itu merupakan 
perayaan ketiga yang sangat riuh dengan teriakan-teriakan ratusan 
pemuda mengelu-elukan "Indonesia Merdeka” dan pemimpinnya 
Sukamo. 

i 

Ulasan-ulasan pers setempat dalam menanggapi hari Prokla¬ 
masi itu, dengan mengutip pidato-pidato yang diucapkan, sama 


155 





Pemandangan umum perayaan ulang tahun pertama Proklamasi di Baghdad 
Irak yang diselenggarakan oleh Cabang Panitia di sana. 




157 


Pada resepsi pengakuan Mesir atas kemerdekaan dan kedaulatan R.I. pada 
petang Senin 9/6/47, kelihatan H. Agus Salim Ketua Delegasi RJ. dan Pange¬ 
ran Faisal, Menhi Saudi Arabia (tengah) bercakap-cakap, sedang H.M. Amm 
Husafen, Mufti Besar Palestina menunggu gilirannya. 



(f (t/4 



158 


landangan bagian tengah dari resepsi Ulang Tahun Proklamasi Pertama 
z meriah itu. 




(.UJUe'lS 


Oii jU' Je tilt* £>t 

y^V' 4» jlJl ^ (T^l jy ^ 0 

oO. jjt 

/ iSji (J- 

ii jLW 4>^l» 

<5^1 ilyLfl J* ( Jj/ ) *C.j^A 
UU <!jly <iJ| 
j! 


4f^=Af 4 }— 




mv «j> * 


Menu makanan yang dihidangkan pada respsi menyukuri pengakuan Kerajaan 
Mesir terhadap RJ. sebagai negara yang merdeka dan berdaulat di Semiram» 
Hotel di tepi Sungai Nil, Kairo, pada 9 Juni 1947, seperti tercantum di sudut 
bawah menu tersebut. 


159 



mendesak negara-negara Arab supaya mengakui kemerdekaan 
dan kedaulatan Indonesia. 

Bertepatan dengan ulang tahun itu, Jenderal Saleh Harb 
mengirim ucapan selamat kepada Presiden Sukarno dan mendapat 
balasan sebagai berikut : 

”Batavia — Centrum 88 — 14 - 1435. 

”To General Saleh Harb Pasya President World Moslem 
Association Cairo.” 

”On behaff of Goverment and People of Indonesia I beg 
you to pass our feeling of gratitude to the Moslem in general 
and those of y our Association inparticular foryour congratulation 
on occasion of first anniversary of the Republic.” 

”The Indonesian People are very much obliged for the moral 
support you give to their cause and the material help their 
stranded compatriots receive from the Arab World.” 

"Presiden of the Republic of Indonesia, 
"Sukamo” 

Pada 31 Oktober 1946 kami menerima balasan laporan yang 
kami kirimkan bertepatan dengan ulang tahun pertama Proklamasi. 
Balasan itu atas nama Presiden melalui Kementerian Luar Negeri 
R.I. Ini adalah pertama kali kami menerima balasan dari surat- 
surat yang kami kirimkan kepada Pemerintah R.I. 


160 



LIGA ARAB DAN SOAL INDONESIA 


Hubungan-hubungan kami dengan Liga Arab telah mulai 
semenjak ia masih bernama ’Kongres Pan Arab,’ ketika Ismail 
Banda dan saya diutus pada 6 September 1944 menyampaikan 
tuntutan-tuntutan : 

1 — pengakuan atas kemerdekaan Indonesia, 

2 — jaminan kesatuan Indonesia seperti sebelum pendudukan 

asing dengan tidak dibagi-bagi, dan 

3 — ikut-serta Indonesia dalam menentukan soal-soal perdamaian 

sesudah perang. 

Seperti telah saya ceritakan, kejadian ini adalah disebabkan 
berita Radio-Berlin yang diumumkan Mufti Besar Palestina, M. 
Amin Al-Huseini, bahwa Jepang telah mengakui kemerdekaan 
Indonesia. Meskipun berita itu akhirnya ternyata tidak benar, 
tetapi telah banyak menguntungkan, baik dengan dikenal tuntu¬ 
tan-tuntutan nasional oleh kalangan-kalangan resmi dan umum 
Arab, atau dalam mendatarkan jalan bagi hubungan-hubungan 
kami mendatang — sesudah Proklamasi — dengan pihak-pihak ter¬ 
sebut, terutama Liga Arab. Dalam hubungan-hubungan dengan 
Liga ini ada dua faktor penolong lagi, yaitu kenyataan bahwa 
Sekjennya Abdulrahman Azzam Pasya adalah seorang pan-Islamis 
dan anti-Inggris. Dengan Indonesia yang berpenduduk mayoritas 
Islam dan sedang menghadapi campur-tangan Inggris bersenjata, 
kedua faktor diatas dapat dipergunakan. Demikian juga dengan 
Mesir, anggota Liga Arab terbesar dan berpengurus di Timur 


161 



Tengah, kedua faktor itu sangat berfaedah. Mesir diduduki Inggris 
semenjak tahun 1884 dan sampai saat itu, ibukotanya sendiri, 
Kairo, masih diduduki, bahkan antara Kementerian Luar Negeri 
Mesir dan tangsi tentara Inggris hanya dibatasi oleh jalan besar. 
Raja Faruk baru setahun sebelumnya istananya dikepung Inggris 
dengan tank-tank guna memaksanya keijasama dengan kekuasaan 
Sekutu yang pimpinannya di Timur Tengah di tangan Inggris. 
Demikian juga negara-negara Arab lainnya telah mengalami pahit¬ 
nya penjajahan dan tekanan-tekanan Sekutu selama perang kedua 
itu, dan rakyatnya yang mayoritasnya beragama Islam dan yang 
sedang dipengaruhi oleh Ikhwanul Muslimin' yang militant anti- 
Inggris dan Sekutu pada umumnya. Maka itulah sebabnya maka 
dalam usaha membela proklamasi yang hendak dihancurkan 
Inggris yang diboncengi Belanda dan mendesak negara-negara liga 
Arab supaya mengakui kemerdekaan dan kedaulatan R.I. Panitia- 
Panitia Di Timur Tengah menggosok sentimen mereka yang anti — 
Inggris dan penjajahan yang bersemangat Islam itu. 

Sidang Liga Arab pertama semenjak Proklamasi terjadi ke¬ 
tika Pimpinan Tentara Tertinggi akan berkonferensi di Singapura 
guna membicarakan soal Indonesia. Dalam hubungan pertama 
Panitia Pusat menyerahkan tandamata sederhana kepada (alm) 
Jamil Mardam Bey Perdana Menteri Suria dan Ketua masa sidang 
tersebut. Dalam surat penyerahannya antara lain dikatakan : 

” ,.fCami belum mengetahui apakah ada kesempatan guna 

membicarakan soal Indonesia pada sidang-sidahg Liga Arab seka¬ 
rang, sekalipun tidak secara resmi. Tetapi yang terang ialah bahwa 
situasi di Indonesia semakin genting disebabkan campur-tangan 
bersenjata Inggris. Maka 70 juta rakyat Indonesia menoleh kepada 
Liga Arab supaya : 

1 — menuntut Inggris agar menghentikan campur-tangan mereka, 

2 — menuntut Amerika Serikat supaya melarang Sekutu-Sekutu¬ 

nya mempergunakan senjatanya terhadap rakyat Indonesia, 

dan i 

3 — berusaha di PBB supaya kemerdekaan dan kedaulatan Indo¬ 

nesia diakui.” 


162 




Dengan memorandum tanggal 5/12/45 Panitia Pusat mengi¬ 
ngatkan para delegasi Arab kemasa sidang itu antara lain bahwa : 

"Kegawatan situasi di Indonesia telah mencapai puncaknya. 
Pimpinan Militer Negara-Negara Sekutu (Inggris, Perancis dan 
Belanda) akan bersidang besok Kamis di Singapura guna mem¬ 
bicarakan situasi itu dan menentukan tindakan-tindakan yang akan 
diambil.” 

” Pada saat-saat genting di mana bangsa Indonesia menghadapi 
musuhnya dengan tekad yang membaja, kami mendatangi Majlis 
Liga Arab dengan harapan supaya : 

1 — mengumumkan simpatinya terhadap soal Indonesia yang adil 

itu; 

2 - mengawatkan kepada Lord Louis Mounbatten, Koipandan 

Angkatan Bersenjata Sekutu di Asia Tenggara, guna mengi¬ 
ngatkan para peserta supaya mengambil keputusan yang se¬ 
suai dengan Piagam-Ragam Kemerdekaan, yang oleh karena¬ 
nya Negara-Negara Sekutu memasuki perang yang baru lalu 
itu.” 

Sokongan pertama i 

Pada 18/12/45 ”Reuter” menyiarkan jawaban Sekjen Liga 
Arab terhadap surat kami dengan judul ”The Arab League and In¬ 
donesia ” sebagai berikut : 

”The following letter was sent by the Arab League to the In- 
donesian Association for Iridependence in answer of its letter to 
the League : 

”To the President and the Secretary, 

Indonesian Association for Independence. 

’T have the honnour to acknowledge receipt of your letter 
of Desember 5th and very thankfull for the kindest expression 
addressed to the ArabLeague.I would like to express onbehalf of 


163 



the Arabs their sincerest sympathy with Indonesia and its couse 
of independence.” 

May God be with you and may He crown your endevours 
for the independence of Indonesia with success. 

Meskipun redaksi jawaban itu masih sangat hati-hati, yaitu 
”on behalf of the Arabs,” dan bukan ”on behalf of the Arab 
League,” ia itu sudah merupakan pertanyaan pertama yang menya¬ 
takan simpati terhadap Indonesia dan peijoangannya. Doa penu¬ 
tup sudah» mengandung (implicitly) sokongan Liga tersebut. 

Langkah sokongan lebih positif 

Ketika wakil Mesir "keseleo” lidah di DK — PBB di London, 
perutusan Panitia Pusat juga menjumpai Sekjen Liga Arab Azam 
Pasya (12/1/46), guna menyampaikan protes. Terhadap ini beliau 
mengatakan tidak mengetahui apa sebenarnya yang diucapkan 
wakil Mesir. "Tetapi ” — katanya — : saya tidak merasa ragu 
bahwa ia bermaksud baik terhadap Indonesia dan soal kemerdeka¬ 
annya. Karena ia mengetahui bahwa Dunia Arab semuanya, 
bahkan Dunia Islam seluruhnya, bersatu padu menyokong bangsa 
Indonesia dalam menentukan nasibnya sendiri, dan dalam perjo- 
angan mereka buat kebebasan dan kemerdekaan penuh. Saya 
sendiri mengetahui bahwa saudara-saudara kami bangsa Indonesia 
adalah salah satu bangsa tersayang dan terdekat dalam kalbu 
bangsa-bangsa Timur. Bangsa Indonesia dalam perjoangan mereka 
membela kemerdekaannya, mendapat simpati sepenuhnya oleh 
bangsa-bangsa Timur itu, tanpa kecuali, Islam atau bukan Islam. 
Oleh karena itu saya telah mengambil kesempatan beradanya saha¬ 
bat saya Sir Archibald Clerk Kerr di Indonesia sebagai Utusan 
Istimewa Inggris, guna menolong mencari penyelesaian persoalan 
sekarang, untuk mengirim kawat kepadanya kira-kira seminggu 
yang lalu. Beliau kemudian — seperti telah saya ceritakan — me¬ 
nyerahkan kepada kami copy surat itu dalam bahasa Arab dan 


164 



Inggris. Telah saya nukilkan teks bahasa Inggrisnya yang isinya 
antara lain : 

1 - Dunia Arab dan Islam bersimpati dan menyokong peijoangan 

Indonesia, 

2 - Soal Indonesia adalah batu ujian bagi orde baru dalam hu¬ 

bungan Internasional yang berdasarkan keadilan dan ke¬ 
benaran, dan 

3 - Menyerukan supaya ia berdiri dipihak keadilan dan kemer¬ 

dekaan bangsa Indonesia. 

Beliau mengizinkan kepada kami menyiarkan pernyataannya 
di atas serta suratnya kepada Utusan Istimewa Inggris itu. Hal ini 
merupakan suatu langkah yang lebih positif lagi dari Liga Arab 
dalam sokongannya terhadap Indonesia. Karena surat yang diki¬ 
rimkannya itu ditandatangani dengan ”Abdul Rahman Azzam, 
Secretary General of the Arab League,” dan disiarkan kepada 
umum, meskipun pada mulanya berupa pribadi. 

Beliau sampai berbuat demikian, karena protes Panitia 
yang agak keras, dan pada penutupnya kami katakan : 

”Dalam memajukan nota ini, kami mengharap supaya YM : 

1 - menyampaikan kepada Mamduh Riad dan Pemerintah Mesir 

rasa tidak puas kami terhadap sikap ganjil, dicurigai dan me¬ 
nentang Indonesia Muslim dan Timur yang sedang beijoang 
mempertahankan kemerdekaan dan wujudnya sendiri dari 
wakil Mesir itu, dan 

2 - memperbaiki sikap satu negara anggota Liga Arab yang me¬ 

ngecewakan dan menentang cita-cita bahkan membahayakan 
hidup 70 juta bangsa Timur dan Muslim itu.” 

Juga baik diingat bahwa beliau sendiri adalah anggota Panitia 
Pembela Indonesia yang terbentuk dekat sesudah Proklamasi 
dari pembesar-pembesar Mesir, Arab dan Islam dan diketuai oleh 
Jenderal Saleh Harb Pasya, temannya dalam tahanan Inggris sela¬ 
ma perang dunia kedua. 


165 



Sokongan resmi pertama 

Bertepatan dengan sidang Dewan Keamanan PBB di New 
York, Liga Arab mengadakan sidang pula di Kairo. Panitia Pusat 
mengajukan lagi tuntutan-tuntutan supaya mengakui R.L dan 
menyokongnya di-DK-PBB. Dalam memorandum yang kami 
sampaikan kepada Sekjen Liga Arab dan delegasi-delegasi negara- 
negara Arab beserta kami lampirkan surat kami kepada Wakil 
Mesir yang baru Dr. Hafiz Afifi Pasya, supaya jangan 'keseleo’ lagi 
seperti yang digantikannya itu, bahkan menuntut supaya DK-PBB 
itu membicarakan lagi soal Indonesia dalam sidangnya itu. 

Pada kesempatan sidang Liga Arab ini, Front pembebasan 
Afrika Utara mengadakan jamuan makan malam guna menghor¬ 
mati delegasi-delegasi Arab itu dan juga membentangkan soal 
daerah mereka masing-masing yang masih dijajah Perancis. Saya 
yang diminta juga berbicara, mengambil kesempatan ini untuk 
membentangkan soal Indonesia, dengan menitik beratkan pada 
kesatuan perjoangan Timur melawan penjajahan. Seperti disiarkan 
oleh harian ”A1—Ikhwanul Muslimin” 5/4/46, antara lain saya 
katakan : 

”.Saudara-saudara kami dari Afrika Utara telah men¬ 

ceritakan kesengsaraan rakyat Arab di Afrika Utara di bawah 
penjajahan Perancis. Kiranya saya tidak perlu lagi menggambar¬ 
kan kepada t.t. kesengsaraan yang diderita bangsa Indonesia di 
bawah penjajahan Belanda. Kalau rakyat Indonesia sekarang 
dengan sukarela mempertaruhkan jiwa-raganya guna menentang 
pengembalian penjajahan Belanda ke bumi Indonesia, adalah 
karena kekejaman dan kezaliman yang telah dialami mereka dari 
penjajahan Belanda itu. 

"Yang ingin saya tegaskan ialah bahwa bangsa Indonesia 
sementara menderita kekejaman dan kezaliman itu, tidak pernah 
melupakan saudara-saudara mereka se-Agama dan se-Timur yang 
sama-sama menderita itu. Mereka turut mengeluh oleh kesengsa- 


166 




raan yang diderita saudara-saudaranya itu dan juga turut ber¬ 
gembira bila mereka menikmati kebahagiaan. 

” Tidak ada bukti yang lebih mengesankan dari pada simpati 
mereka yang sangat terhadap pemberontakan Emir Abdul- 
karim di Marokko (1925), protes mereka yang keras sekali terha¬ 
dap ’Nasranisasi Berber’ (al-Tansirul Barbari) oleh Perancis di 
Afrika Utara (1930) dan pemboikotan mereka terhadap barang- 
barang Itali, ketika penguasa-penguasa Itali di Libia menggantung 
pimpinan Libia Omar Mukhtar (1931). Dapatlah tuan-tuan kira- 
kirakan kemarahan Kaum Muslimin kepada Itali, dengan demon¬ 
strasi-demonstrasi pembakaran tarbusy - yang tadinya dihormati 
sebagai pakaian orang Islam - pembuangan mobil Fiat kesungai 
Musi dan sebagainya, karena semuanya itu buatan Itali.” 

"Apabila kesengsaraan bersama telah mengikat persatuan 
kita, maka cita-cita hidup mulia dan terhormat, hidup bebas dan 
merdeka, telah menjadikan persatuan kita itu lebih erat dan kuat. 
Dari sehari kesehari kepercayaan kita bertambah kuat bahwa 
kemenangan suatu peijoangan di mana saja di Timur ini adalah 
kemenangan bagi peijoangan Timur seluruhnya. Maka tidak ragu 
lagi bahwa menangnya perjoangan 70 juta rakyat Indonesia 
mengikis penjajahan Belanda adalah pula kemenangan rakyat 
Islam dan Timur seluruhnya pula 

”Kita berkumpul malam ini untuk menghormati Delegasi- 
Delegasi Negara-Negara Arab di Liga Arab. -Sesungguhnya kita 
tidak sabar lagi menanti-nanti suatu hari di mana kita tidak saja 
berkumpul untuk memuliakan delegasi-delegasi Arab diLiga Arab, 
tetapi untuk memuliakan delegasi-delegasi Islam di Liga Musli¬ 
min. Indonesia Muslim yang merdeka sudah tentu akan merupakan 
suatu kekuatan yang akan giat dalam Liga Muslimin yang di¬ 
nanti-nanti itu” 

Suatu langkah yang menggembirakan lagi dari pihak Liga 
Arab bahwa pada sidangnya tanggal 8/4/1946 dengan suara bulat 
memutuskan dengan resmi buat pertama kali sebagai berikut : 


167 




Majlis Liga Arab pada sidangnya hari Senen tanggal 8 April 
1946 telah memutuskan menyatakan simpatinya terhadap per- 
io angan rakyat Indonesia dan sokongannya pada tuntutan-tuntu¬ 
tan nasionalnya. Mejlis telah menugaskan kepada Sekretaris 
Jendralnya supaya menyampaikan' putusan tersebut kepada 
Pemerintah Indonesia. 

Selain surat terima kasify resmi oleh Panitia Pusat, pada satu 
resepsi dua hari kemudian yang dihadiri juga oleh para delegasi 
negara-negara Arab itu, saya berkesempatan lagi ikut berbicara. 
Setelah mengumandangkan lagi kesatuan peijoangan Timur yang 
dilahirkan oleh persamaan penderitaan, dengan mengutip kata- 
kata Sukamo dalam pesannya kepada rakyat Indip dengan judul 
’Timur Dalam Revolusi’ dan juga pernyataan Jauharlal Nehru, 
serta pesan Menteri Agama R.I. kepada Sekjen Liga Arab dan 
kemudian berterima kasih atas putusan di atas itu, pada akhir¬ 
nya saya katakan : ” Sesungguhnya keputusan itu sangat ber¬ 
bekas dalam hati kami, dan bekasnya itu tambah terasa menda¬ 
lam sementara berkeyakinan bahwa putusan ini tidak lain me¬ 
lainkan satu langkah lagi kepada suatu keputusan lainnya, yaitu 
putusan mengakui kemerdekaan Indonesia .. 

Sebelum ulang tahun pertama Proklamasi, Liga Arab ber¬ 
sidang lagi membicarakan soal Palestina. Sebagaimana biasa, 
setiap kesempatan tidak pernah dilewatkan. Pada kesempatan 
ini Panitia Pusat pada 12 Agustus 1946 dengan surat no. 135/A/46 
mendesak lagi supaya negara-negara Liga Arab mengakui R.I. 
Setelah mengingatkan langkah yang telah diambilnya dengan 
keputusan di atas itu, dikatakan Tidak syak lagi bah¬ 

wa pengakuan ini akan merupakan sebaik-baiknya ’ Ucapan 
Selamat ’ yang akan dikirimkan negara-negara Arab kepada bang¬ 
sa Indonesia, sementara mereka merayakan satu tahun penuh 
kebebasan mereka dari perbudakan penjajahan . 1. . ” 

Kegelisahan Belanda menghadapi pendirian liga Arab 

Pendirian Liga Arab yang semakin kentara memihak R.I., 



telah menggelisahkan Belanda. Untuk membendung simpati Arab 
itu, Belanda menempatkan seorang Arab-Indonesia bernama 
Salim Alatas sebagai atase pada Kedutaannya di Kairo dan ber¬ 
maksud hendak mengirim missi-missi politik dan haji kenegara- 
negara Arab. Kedua hal ini kami ketahui dari sumber Liga Arab 
sendiri. 

Persona non-grata 

Pada suatu hari kami menerima telepon dari Liga Arab 
mengatakan bahwa seorang yang mengaku ’Indonesia’ telah 
datang ke Sekretariat Jenderal Liga tersebut. Tetapi dari pembi- 
caraan-pembicaraannya - katanya - mencurigakan. Karena kepada 
petugas-petugas Liga itu ia mencela Indonesia sebagai anti-Arab 
dan anti-Islam. Ketika kami tanyakan namanya, dijawab : ’Sa- 
lim Alatas.’ Kami membenarkan kecurigaannya itu dan lang¬ 
sung mengatakan bahwa ia itu tidak ragu lagi adalah agen Belanda. 
Kemudian kami menghubungi Sekjen Liga Arab, Azzam Pasya 
dan meminta supaya ia itu di keluarkan saja dari Mesir. Panitia 
sementara itu, menyuruh warga Arab-Indonesia di Mesir menelan¬ 
janginya sebagai pengkhianat yang harus dijauhkan dari Mesir 
dan negara-negara Arab lainnya. Kelihatannya Azzam Pasya 
telah berhubungan dengan Kementerian Luar Negeri Mesir, karena 
tidak beberapa lama kemudian, ia itu (Salim Alatas) telah diusir 
dari Mesir, sebagai seorang yang tidak diingini (persona non-grata). 

Haji Nica Tidak Syah 

Untuk menghadapi kedatangan haji Nica ke Timur Tengah itu, 
pertama Panitia Pusat berhasil mendapatkan fatwa dari Dewan 
Fatwa di Al-Azhar. Pada 3/10/46 Panitia mengirimkan surat 
pertanyaan kepada Dewan tersebut. Sebelum mengirimkan per¬ 
tanyaan itu, kami telah menghubungi terlebih dahulu (alm) 
Syeikh Mahmud Syaltut (Rektor Al-Azhar), seorang anggota De¬ 
wan itu yang sangat simpati kepada Indonesia, guna mengatur 
pertanyaan itu supaya mendapat jawaban yang padat dan tegas. 


169 



Setelah menceritakan bahwa satu negara kafir yang memerangi 
negeri Islam membujuk penduduknya Kaum Muslimin supaya 
naik haji, supaya dengan demikian Dunia Islam akan mengira Um- 
mat Islam di negeri itu setia kepada negara kafir itu, Panitia 
memajukan pertanyaan sebagai berikut : 

”Apakah hukumnya orang Islam yang mengikut propaganda- 
propaganda qrang kafir yang memerangi negerinya, dan pergi naik 
haji ke Mekkah menumpang' kapal-kapal orang kafir itu dan me¬ 
ninggalkan perang fi sabilillah yang sedang berkecamuk di negeri¬ 
nya untuk menentang orang kafir itu; padahal menumpang kapal 
musuh dan berpihak kepada orang kafir itu mendatangkan benca¬ 
na besar kepada negerinya dan berkhianat kepada bangsanya 
Kaum Muslimin yang memerangi musuh yang kafir itu ? Sementa¬ 
ra menaiki kapal-kapal musuh itu,diwajibkan kepadanya mempu¬ 
nyai paspor yang mengandung pengakuan bahwa ia adalah rakyat 
negara kafir itu ?” 

Pada 16/10/46 dan bertepatan dengan 24 Zulkaidah 1365, 
Panitia telah menerima jawaban pertanyaan itu yang ditanda¬ 
tangani oleh Ketua Dewan Fatwa itu Abdilmajid Salim bekas 
Mufti Mesir. 

Fatwa yang panjang lebar cukup dengan alasan-alasan Al- 
Qur’an dan Hadits itu dengan tegas dan jelas mengatakan : 

1 — ”Jika. diketahui bahwa kepergian segolongan Kaum Musli¬ 
min naik haji dengan nafkah musuh mereka dan dengan 
kapal-kapal yang disediakan oleh musuh-musuh itu akan 
dapat dipergunakan oleh musuh itu untuk menimbulkan 
fitnah dan perpecahan dibarisan Ummat Islam, serta akan 
melemahkan kekuatan mereka, kepergian naik haji seperti itu 
haram hukumnya. Naik haji cara demikian tidak saja karena 
kerusakan lebih besar dari faedahnya, malah juga berarti 
tunduk kepada musuh Allah, atau melahirkan tanda-tanda 
tunduk kepada mereka, tanpa faedah yang diharap atau ke¬ 
rusakan yang dielakkan.” 


170 



2 — ”Kemudian, menerima uang untuk naik haji dari musuh yang 

bermaksud dengan pemberiannya itu memecah persatuan 
Kaum Muslimin dan merusak kehidupan, mereka, adalah 
dosa yang berat hukumnya dan kesalahan yang sa¬ 
ngat besar. Maka naik haji dengan uang itu lebih be¬ 
sar dosa dan kejahatannya dari pada naik haji 
dengan harta suapan, curian dan rampasan. Tidak syak lagi 
bahwa naik haji dengan uang serupa ini tidak diteri¬ 
ma Allah sama sekali.” 

3 — ”Barang siapa yang mengetahui hukum Agama dalam soal 

ini, tetapi masih juga menghalalkannya dan pergi juga naik 
haji, orang itu keluar dari Agama Islam.” 

Demikian inti fatwa yang berwibawa itu, dan telah disiarkan 
oleh majallah Al-Azhar pada bulan Muharram 1366. Fatwa ini se¬ 
sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan distensil, 
dikirimkan bersama 500 buah buku "Indonesia Assairah” ke 
Mekkah dengan bantuan seorang haji Mesir. 

Saudi Arabia Diprotes 

Melihat fatwa yang demikian tegas dan keras, Belanda keliha¬ 
tannya merasa sia-sia untuk mengirim juga tahun haji 1946 itu 
missi haji Nica itu dan demikian juga missi diplomatiknya. Apalagi 
baik ketua missi haji atau missi diplomatik Nica itu adalah orang- 
orang keturunan Arab, yaitu Ahmad Bahamid dari Indonesia 
Timur dan sultan Hamid Alkadri dari Pontianak. Maka dengan 
penelanjangan dari warga Arab-Indonesia di Timur-Tengah, nama 
mereka sudah sebusuk-busuknya dikalangan Liga Arab dan Negara- 
Negara Arab anggotanya. Selain itu pihak-pihak resmi ini semua¬ 
nya telah dikirimi nota supaya jangan memberi izin masuk kepada 
mereka. Missi-missi Nica itu baru masuk Saudi Arabia, satu-satu¬ 
nya negara Arab yang mengizinkan masuk—pada tahun berikutnya, 
sesudah negara-negara Arab itu mengakui de facto dan de jure 
kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia. Panitia cabang Saudi 


171 



Arabia telah memprotes pemberian izin masuk missi-missi Nica 
itu dan demikian pula Panitia Pusat melalui Sekretariat Liga Arab. 
Protesan-protesan itu dijawab bahwa izin masuk itu diberikan 
hanya untuk mengerjakan haji. Apabila mereka melakukan kegiat¬ 
an politik, Pemerintah Saudi Arabia berjanji akan mengusir mere¬ 
ka dari Tanah Suci itu. 

Panitia-panitia di Timur Tengah sangat berterima kasih kepa¬ 
da Liga Arab. Karena sebagai pelaksanaan pengakuan de facto 
Panitia-panitia itu sebagai Perwakilan-perwakilan R.I., segala 
sesuatu yang menyangkut Indonesia selalu disampaikannya kepada 
kami. Maka dengan demikian kami dapat menghadapinya pada 
waktu yang tepat dan menghasilkan. 

Fatwa yang dicetak baik baru disebarkan dengan luas di- 
kalangan haji pada musim haji 1947, — sesudah Negara-Negara 
Arab mengakui de facto dan de jure R.I. — ketika missi haji Nica 
itu dan missi diplomatiknya sampai juga ke Mekkah. Pengiriman 
niissi-missi itu sebenarnya satu kegagalan besar bagi Kedaulatan 
Belanda di Jeddah yang tidak dapat sama sekali memanfaatkan¬ 
nya. Ketika Raja Ibnu Saud menerima tamu-tamu besar jemaah 
haji, Kedutaan itu mencoba juga memasukkan ’orang-orang’- 
nya, tetapi oleh protokol didudukkan saja di baris belakang 
sedang Haji Rasyidi, (Prof. Dr.) Wakil R.I. yang sudah berada di - 
sana, duduk di dekat Baginda Raja dan beramah-tamah dengan 
beliau. 

Bagi jemaah haji Indonesia yang tertipu oleh Bahamid D 
dan kawan-kawannya yang semuanya Arab-Indonesia itu, fatwa 
yang keluar dari Al-Azhar itu adalah laksana petir yang meledak 
di ubun-ubun mereka. Betapa tidak. Seorang Muslim Indonesia 
yang terkenal taat beragama dan bersedia menderita segala kesuli- 


1) Berkat kartu satu partai politik islam, Ahmad Bahhmid mendapat balas jasa 
yang'sebaik-baiknya oleh Soekarno, dengan mengangkatnya jadi Kepala Negara 
R.I. yang pernah di khianatinya. 


172 



tan untuk mencapai yang menjadi cita-citanya semenjak menge¬ 
nal Tuhan, yaitu mengeijakan rukun Islam kelima ke — Mekkah, 
sesampai di Tanah Suci impian itu, tiba-tiba satu fatwa yang ter¬ 
bit dari pihak yang dianggapnya berwibawa dalam soal-soal Islam, 
yaitu Ulama-Ulama Al-Azhar di Mesir,mengatakan bahwa hajinya 
tidak saja tidak syah, tetapi juga haram. Bahkan ke Islamannya 
tidak diakui lagi, jika ia mengetahui dari semula bahwa naik haji 
menurut caranya itu adalah haram, tetapi dikerjakannya juga. 
Akibatnya, ratusan para haji yang tertipu itu berbondong-bondong 
kekantor Panitia di Mekkah untuk menyampaikan penyesalan 
dan bertaubat serta bersumpah akan menggabuhgkan diri kepada 
kaum republikein sekembali nanti ke-Indonesia. Kepada mereka 
oleh Panitia dibagi-bagikan buku penuntun haji yang disusun 
dan dicetak di Kairo yang dihiasi dengan gambar-gambar dan 
penerangan-penerangan ringkas mengenai kemajuan-kemajuan 
yang telah diperoleh Indonesia semenjak merdeka. Juga kepada 
masing-masing diberikan gambar berwarna di atas kertas mengki¬ 
lat dari Presiden Sukamo yang dibubuhi tandatangan beliau 
serta kata-kata ’Sekali Merdeka Tetap Merdeka’ dengan perjanjian 
bahwa gambar itu akan digantungkan di rumah mereka masing- 
masing sekembali ke Indonesia. 

Penyebaran fatwa itu telah membawa akibat. Satunya jalan 
bagi Kedutaan Belanda di Jeddah ialah memfitnah bahwa Panitia 
di Mekkah anti-haji, suatu tuduhan yang sangat berbahaya di Saudi 
Arabia waktu itu, karena negara ini belum lagi mempunyai sumber 
hidup selain haji dan minyak belum lagi diketemukan. Jaafar 
Zainuddin, Ketua Panitia, ditangkap dan ditahan dalam bui Saudi 
Arabia yang terkenal itu beberapa hari serta dipukuli dengan 
rotan supaya mengaku. Ia diselamatkan oleh warga-warga Saudi 
Arabia berasal Indonesia yang berkedudukan tinggi dan juga 
oleh orang-orang Saudi Arabia yang simpatisan, yang telah mena¬ 
han tuduhan itu supaya tidak sampai kepada Raja, dan menasehat- 
kan kepada Panitia supaya - kalau masih ada - jangan menebar¬ 
kan lagi fatwa-fatwa itu. Kejadian ini juga telah diprotes oleh Pa¬ 
nitia Pusat melalui Sekretariat Jenderal Liga Arab. 


173 




174 


Misi Haji Revolusi R.I. pertama ke Saudi Arabia, ketika sampai di lapangan 
terbang Kairo kelihatan K.H. Adnan (Ketua, bermantel), di kanannya H.M. 
Saleh Suaidi (anggota), A. Hasyim Amak (Sekretaris Panitia Pusat) dan di kiri¬ 
nya, Ismail Banda, Haji Sjamsir (anggota), M. Zein Hassan, (Penulis) dan H. 
Mastur J ah r i, anggota Panitia. 




Misi Haji Revolusi R.I. kedua, duduk dari kiri: H. Abdulkahar Muzakkhir, 
H.M. Rasjidi (kuai Delegasi R I.) Haji Abdulhamid (Ketua), H. Awad Syah- 
bal, H. Syamsir dan berdiri ked ua dari kiri A. Hasyimi (anggota). 


175 



Pengakuan de jure R.I. Masuk Acara Liga Arab 

Pada 31 Oktober 1946, Sekretaris Jenderal Liga Arab, 
A.R. Azzam Pasya, memajukan satu nota kepada Dewan Menteri 
Luar Negeri Liga tersebut supaya pada sidangnya bulan Nopember 
berikutnya ’Soal pengakuan negara Arab terhadap R.I. sebagai 
negara merdeka dan berdaulat penuh, dimasukkan dalam acara 

Kemungkinan sekali Belanda dan Sekutu-Sekutunya telah 
mengetahui sebelumnya maksud Sekjen Liga Arab itu,, karena 
maklumlah agen-agen Inggris berkeliyaran. di Timur Tengah. 
Maka rencana pengiriman missi-missiyang dapat digagalkan itu dan 
'atase' -nya yang telah diusir, adalah dalam rangka usaha Belanda 
menggagalkan maksud Sekjen itu. Setelah usaha langsung di Timur 
Tengah itu menderita kegagalan, Belanda mengerahkan kantor- 
kantor berita Barat di - 'Batavia’ untuk menghujani Timur Tengah 
dengan berita-berita bohong mengenai 'perundingan’ Indonesia 
Belanda, dengan maksud memberikan gambar yang salah tentang 
kemerdekaan dan kedaulatan yang akan dibicarakan Liga Arab itu. 

Kegembiraan' Panitia-Panitia Timur Tengah yang telah beijo- 
ang terus-menerus mendesak supaya negara-negara Arab dan Islam 
mengakui kemerdekaan dan kedaulatan R.I., hendak dikacaukan 
oleh berita-berita ’Batavia’ mengenai 'perundingan Indonesia - Be¬ 
landa yang berhasil’ yang ditekankan pada 'persetujuan Pemerin¬ 
tah Indonesia meletakkan Republik Indonesia di bawah Mahkota 
Ratu Belanda.’ Berita-berita itu sudah tentu dengan maksud 
mempengaruhi delegasi-delegasi Arab yang akan memperbincang¬ 
kan usul Sekjen Liga Arab itu, dengan menanam keragu-raguan 
tentang kemerdekaan dan kedaulatan R.I. Hal ini memerlukan 
lagi kerja keras oleh Panitia-panitia di seluruh dunia Arab, guna 
mematahkan propaganda berita-berita terarah itu. Alhamdulil¬ 
lah, dalam saat yang menggelisahkan itu, kami menangkap Seruan 
yang disiarkan Radio R.I. dari Yogya, yang dihadapkan kepada 
negara-negara Liga Arab. Seruan itu mengharap supaya negara- 
negara Arab mengakui kemerdekaan Indonesia dan menegaskan 


176 



bahwa R.I. berpegang teguh dengan kemerdekaan dan kedaulatan¬ 
nya yang jsenuh atas seluruh wilayahnya. Dengan seruan itu Pani¬ 
tia-panitia Timur Tengah mendapat senjata yang tajam sekali un¬ 
tuk m ematahkan usaha-usaha Belanda itu. Pada saat itu juga Pani¬ 
tia Pusat mengumumkan Pernyataan yang dikirimkan kepada hari¬ 
an-harian Timur Tengah, sebagai berikut : 

”Baru saja kalangan kolonial mengetahui bahwa soal penga¬ 
kuan terhadap R.I sebagai negara merdeka dan berdaulat penuh 
akan menjadi acara Sidang Dewan Liga Arab yang akan datang, 
dengan segera mereka memerintahkan kepada kantor-kantor 
berita yang mereka kuasai supaya menyiarkan berita-berita yang 
menggambarkan seolah-olah Pemerintah Indonesia telah menerima 
syarat-syarat Pemerintah Belanda yang merombak sama sekali 
kemerdekaan Indonesia. Semuanya itu dengan maksud mengham¬ 
bat-hambat langkah Dewan Liga Arab dalam sidang-sidangnya 
yang akan datang itu kearah pengakuan atas kemerdekaan Indo¬ 
nesia.” 

”Tidak ada jawaban yang lebih tegas terhadap maneuvre 
kolonial, seperti disiarkan pleh kantor-kantor berita itu, dari pada 
seruan yang disiarkan Radio R.I. dalam siaran bahasa Arab 
kemarin, yang dihadapkan kepada negara-negara Liga Arab, su¬ 
paya mereka mengakui kemerdekaan Indonesia, serta penegasan 
bahwa Indonesia berpegang teguh pada kemerdekaannya yang pe¬ 
nuh. Seruan R.I. itu juga berterima-kasih kepada Sekjen Liga Arab, 
berkenaan dengan pencantuman pengakuan ke'merdekaan Indone¬ 
sia dalam acara Sidang Dewannya sekarang. Seruan tersebut di¬ 
akhiri dengan mengatakan : Bilamana negara-negara Arab dan 
Islam tidak juga mengakui kemerdekaan Indonesia, negara-negara 
manakah lagi yang akan mengakuinya, karena merekalah seharus¬ 
nya yang tercepat menyatakan pengakuan itu.” 

Dalam usaha menghilangkan kesamkesan buruk atau negatif 
dari berita-berita ’Batavia’ itu, semua Panitia di Timur Tengah 
melipat gandakan penerangan masing-masing, dengan mengikut¬ 
sertakan parpol-parpol dan ormas-ormas supaya jangan terpenga- 


177 



ruh oleh berita-berita terarah itu, dan mendesak negara mereka 
masing-masing supaya segera mengakui kemerdekaan dan kedau¬ 
latan R.I. Kepada para anggota Panitia Pembela Indonesia, teruta¬ 
ma yang selalu giat, seperti Jenderal Saleh Harb Pasya, Dr. Sala- 
huddin Pasya, Muhammad Ali Taher, dan juga Mufti Besar Pales¬ 
tina, supaya mempergunakan kedudukan mereka dikalangan resmi 
Arab guna memperingatkan ,negara-negara Arab supaya jangan 
terpengaruh oleh berita-berita bohong Belanda itu dan segera 
mengakui R.I, Malah juga mendesakkan bahwa saat-saat perang 
diplomatik antara Indonesia dan Belanda inilah yang lebih tepat 
untuk mengumumkan pengakuan itu, guna memperkuat kedudu¬ 
kan R.I. diarena internasional. Semua nama-nama yang saya can¬ 
tumkan di atas itu benar-benar giat menghubungi pejabat-pejabat 
Kementerian Luar Negeri Mesir, Sekretariat Liga Arab, Ketua- 
Ketua Delegasi Arab yang berdatangan, guna memberikan penjela¬ 
san tentang situasi politik, militer dan ekonomi Indonesia semen¬ 
jak Proklamasi sebagaimana telah kami bentangkan kepada mereka 
— , sebagai bukti bahwa R.I. benar-benar memegang ae facto 
kekuasaan dan bagaimana besar arti pengakuan de jure yang di¬ 
perlukan Pemerintah Indonesia dalam taraf peijoangannya seka¬ 
rang menghadapi Belanda dilapangan diplomasi. 

Mepjelang Sidang Liga Arab itu membicarakan soal Indone¬ 
sia, penerangan kami tingkatkan dari sehari kesehari. Sesudah 
memorandum yang kami berikan kepada pembesar-pembesar di 
atas, dengan surat pengantar tanggal 7/11/46 No. 133/A/46 kami 
kirimkan pula memorandum-memorandum lainnya, termasuk 
kepada Mufti' Besar Palestina yang waktu itu namanya disegani 
oleh karena keberaniannya dan kemahirannya meloloskan diri 
dari perangkap Sekutu, baik pada permulaan perang ketika ia 
lari ke Jerman, atau sesudah perang, ketika ia meloloskan diri lagi 
dari jaringan Sekutu di-Eropa dan dapat kembali ke bawah 
perlindungan Raja Faruk. 

"Dalam surat kepada beliau dikatakan antara lain : 

”Pada 18 b.l. Dewan Liga Arab memutuskan akan mem- 


178 



bicarakan soal pengakuan negara-negara Arab terhadap Indo¬ 
nesia. Maka harapan kami, setelah mengetahui perhatian Y.M. 
yang sungguh-sungguh terhadap soal Indonesia, agar YM memper¬ 
gunakan pengaruh YM dipihak Raja-Raja, Kepala-Kepala Negara 
dan Kepala-Kepala Pemerintahannya, dan dipihak Liga Arab sendi¬ 
ri, supaya negara-negara Arab segera mengakui R.I. Karena kami 
berkeyakinan bahwa Inggris akan mempergunakan segala macam 
tekanan supaya Dewan Liga itu jangan memutuskan pengakuan 
itu.” 

Memorandum kepada para Ketua delegasi-delegasi Arab di¬ 
serahkan dengan surat tanggal 11/11/46 No.l47/A/46. Dalam 
memorandum itu antara lain dikatakan : 

'’Sebenarnya pengakuan kemerdekaan Indonesia bukan saja 
suatu keharusan, tetapi pula suatu hal yang tidak dapat dielakkan 
oleh negara-negara Timur umumnya dan negara-negara Arab 
khususnya. Hal ini bukan saja karena hubungan-hubungan rohani, 
duniawi dan persamaan cita-cita dan perjoangan, lebih dari itu di¬ 
sebabkan kenyataan-kenyataan hidup yang terdapat di-Indonesia 
sendiri sekarang.” Setelah membentangkan perkembangan semen¬ 
jak Proklamasi dalam segala bidang, dikatakan : 

”Demikianlah kenyataan-kenyataan politik, militer dan eko¬ 
nomi yang hidup sekarang di-Indonesia. Kami sebutkan semuanya 
itu supaya YM mendapat ketegasan bahwa Indonesia benar-benar 
telah memegang de facto kedaulatan atas dirinya dan bahwa mu¬ 
suh-musuhnya, meskipun demikian kuat, telah mengakui de facto 
itu.” 

”Maka pengakuan de jure kedaulatan itu, tidak saja, seperti 
kami katakan di atas, suatu keharusan, tetapi pula suatu hal yang 
tidak dapat dielakkan oleh negara-negara Timur umumnya dan 
negara-negara Arab khususnya, yang mempunyai aspirasi dan cita- 
cita yang sama dengan Indonesia dan sama-sama berjoang guna ter¬ 
capainya.” 

”Baik juga kami sebutkan di sini bahwa lebih dari 50.000 


179 



Arab - Indonesia ikut berkorban dengan harta darah dan nyawa 
mereka dalam membela wujud Indonesia dalam mempertahankan 
kemerdekaannya. Mereka mempunyai hak dan kewajiban-kewaji¬ 
ban yang sama dengan rakyat Indonesia lainnya dan benar-benar 
telah ikut menjalankan pemerintahan.” 

”Maka tidak ada suatu kekurangan lagi bagi kemerdekaan 
Indonesia selama pengakuan negara-negara di dunia terhadap 
kemerdekaan itu .... 

Memorandum kepada partai-partai politik dan organisasi 
massa disampaikan pada 13/11/46 no. 188/A/46, sedang kepada 
pemimpin-pemimpin harian-harian dan majallah-majallah pada 
14/11/46 No. 189/A/46. Isinya pada umumnya adalah sama de¬ 
ngan memorandum-memorandum sebelumnya, tetapi redaksinya 
lebih ditekankan kepada sentimen persatuan perjoangan dan ikatan 
ikatan rohani, serta lebih banyak memberi mereka bahan-bahan 
yang menggambarkan de facto kekuasaan yang telah diwujudkan 
peijoangan bangsa Indonesia, sehingga mereka lebih gigih mendo¬ 
rong negara-negara mereka supaya mengakui de jure kemerdekaan 
itu. 

Kepada pembesar-pembesar, seperti Saleh Harb Pasya dan Dr. 
Salahuddin Pasya dan lain-lainnya itu dengan surat tanggal 15/11/ 
46 No. 195/A/46, kami dorong lagi supaya mereka menemui 
Para Ketua Delegasi dan Sekjen Liga Arab dekat sebelum Liga 
Arab bersidang. Masih hidup dalam ingatan saya ketika bertemu 
dengan Jenderal Saleh Pasya diberanda gedung Liga Arab, pada 
tanggal 18/11/46, - hari soal Indonesia akan dibicarakan-ketika 
beliau akan keluar, sedang kami masuk, dengan senyum beliau 
mengatakan : ”Ini kali ketiga saya menemui Azzam Pasya dalam 
waktu seminggu ini, dan mudah-mudahan kali ini yang penghabi¬ 
san, dengan berhasilnya usaha kita bersama.” Kamipun mengha¬ 
rapkan yang sama, karena kedatangan kami itupun hanya beberapa 
jam sebelum Liga Arab bersidang pada sorenya. Dengan surat ta¬ 
nggal 17/11/46 kami masih memajukan memorandum baru kepa¬ 
da Sekjen Liga Arab itu. 



Sekalipun segala pihak telah kami hubungi, tetapi kami me¬ 
rasa perlu pengiriman surat lagi kepada para kepala negara-negara 
Arab itu, pada tanggal 16/11/46 No. 215/A/46, dengan melampir¬ 
kan memorandum serupa dengan yang telah diserahkan kepada 
para ketua delegasi, beserta buku "Indonesia as-Sairah” yang di¬ 
terbitkan oleh Panitia Pusat itu. Dalam surat yang kami tujukan 
kepada Presiden Suria, umpamanya, antara lain kami katakan : 

”.Suatu kebetulan yang baik, ketika Dewan Liga Arab 

memutuskan akan membicarakan soal pengakuan negara-negara 
Arab terhadap Republik Indonesia, Radio R.I. di Yogyakarta 
menyiarkan Seruan Pemerintah R.I. kepada para Raja dan Presi¬ 
den negara-negara Arab dan Islam supaya negara-negara mereka 
mengakui kemerdekaan Indonesia, yang dengan pengorbanan da¬ 
rah dan jiwa rakyatnya telah dapat menciptakan de facto kekuasa¬ 
an atas dirinya. Maka dengan demikian tidak ada kekurangannya 
lagi selain pengakuan de jurenya. Dan memenuhi kekurangan ini 
adalah dengan pengakuan negara-negara yang sudah merdeka 
atas kemerdekaan Indonesia itu.” 

”Maka ketika kami menyampaikan Seruan itu kepada YM, 
kami ikut mengharapkan supaya YM memenuhi Seruan tersebut, 
yaitu dengan pengakuan Pemerintah Negara YM terhadap kemer¬ 
dekaan Indonesia 

Semakin hari semakin dekat sidang pembicaraan pengakuan 
itu, semakin cepat denyut jantung kami. Harap akan mendapat, 
cemas akan kehilangan. Demikian situasi jiwa kami. Semua Panitia 
di Timur Tengah bergembira bahwa diplomasi revolusinya sudah 
dekat akan menghasilkan buahnya. Tetapi juga khawatir kalau- 
kalau propaganda Belanda dan Sekutu-Sekutunya yang semakin 
gencar itu pula mempengaruhi delegasi Arab yang akan bersidang 
itu. Meskipun segala usaha telah dikeijakan oleh semua Panitia 
itu, masih dikhawatirkan pengaruh Inggris yang masih berlaku, 
termasuk di Mesir yang masih diduduki itu. 

Dekat sebelum saat zero, kami seperti saya katakan di atas 
mendatangi lagi Sekjen Liga Arab itu, dengan sebuah memorandum 


181 





bertanggal 17/11/46. Sebab disaat terakhir itu, Belanda dan Seku¬ 
tu-Sekutunya memperbanyak lagi berita ’di bawah kedaulatan 
Persatuan Belanda — Indonesia yang dikepalai Ratu Belanda’ yang 
meragu-ragukan itu. Usaha kami terakhir ialah menghilangkan 
keragu-raguan yang mungkin timbul dari berita-berita itu. Kami 
sangat optimis, melihat sikap persaudaraan dan keijasama Azzam 
Pasya yang tidak pernah memperlihatkan kejemuannya kepada ka¬ 
mi yapg tiap sebentar minta'bertemu itu. Tepat apa yang dilukis¬ 
kannya dalam kata-kata pengantar hadiahnya kepada saya, yaitu 
buku ” Ar-Risalatul Khalidati” (Risalah Abadi) karangan beliau 
sendiri yang terbit tahun 1946, yan^ berbunyi : ”Untuk saudara 
Ustaz Muhammad Zein Hassan; pengingat persahabatan dan ker- 
jasama kita.” Pada penutup memorandum itu kami katakan se¬ 
bagai berikut: 

” Semua harapan kami ialah supaya Dewan Liga Arab menye¬ 
tujui usul YM itu. Janganlah hendaknya berita-berita yang disiar¬ 
kan kantor-kantor berita kolonial pada akhir-akhir ini, yang 
sama sekali tidak bersumber pada pihak-pihak resmi itu, menge¬ 
nai perundingan-perundingan Indonesia-Belanda, akan melambat¬ 
kan persetujuan itu. Berita-berita itu adalah terarah guna mengha¬ 
langi pengakuan negara-negara Liga Arab.” 

"Sesungguhnya Seruan yang disiarkan RRI yang ditujukan 
kepada negara-negara Arab kemarin itu, dan ucapan terima kasih 
yang dihadapkan kepada YM, serta kalimat penutupnya yang ber¬ 
bunyi: Jika bukan negara-negara Arab dan Islam yang mengakui 
Republik Indonesia, siapakah lagi gerangan yang akan mengakui¬ 
nya ? "Semuanya itu menegaskan lagi bahwa Indonesia tidak 
akan menerima selain pengakuan terhadap kemerdekaan dan ke¬ 
daulatannya yang penuh ” Sesudah membaca memorandum ter¬ 
akhir itu, beliau dengan penuh persaudaraan berkata kepada kami: 
”Pandanglah saya ini sebagai wakil saudara-saudara sendiri dalam 
sidang-sidang itu.” Suatu pernyataan yang meredakan hati 

Senja hari 18 Nopember 1946, sesudah sidang pertama De¬ 
wan Liga Arab pada sorenya membicarakan soal pengakuan itu, 


182 



Sekjen Liga Arab itu memanggil kami. Dengan hati harap-harap 
cemas, kami menemuinya. Beliau menceritakan bahwa dari pembi¬ 
caraan Menteri-menteri Luar Negeri Arab yang sudah berbicara, 
kelihatan kecenderungan untuk mengakui R.I. hanya setelah 
negafca ini memenuhi syarat-syarat wujud internasionalnya. Sung- 
guhpan demikian, ditambahkannya, beliau akan terus mempeijo- 
angkannya. Berita ini sungguh-sungguh laksana petir meledak di 
pundak kami. Kekhawatiran kami sudah menjadi kenyataan. 
Terlebih lagi setelah beliau menceritakan bahwa Menteri Luar 
Negeri Mesir sendiri, Dr. Muhammad Hussein Haikal Pasya, ter¬ 
masuk mereka yang meragukan wujud internasional R.I. itu. 
Dapat digambarkan kekecewaan kami yang akhirnya menjadi 
amarah itu, jika diketahui bahwa suara Mesir sangat menentukan 
dan kami sangat menggantungkan harapan kepada pribadi Dr. 
Haikal Pasya, mengingat beliau adalah seorang menteri yang ber¬ 
semangat Islam, seperti terbukti dari buku-bukunya yang ter¬ 
kenal itu, seperti ’Hayatu Muhammad,’ ’Fi-Manzilil wahyi’ dan 
lain-lain. Dalam suasana kecewa yang memuncak dan membangkit¬ 
kan amarah itu, kami lupa akan sopan-santun diplomasi biasa. 
Yang berbicara adalah emosi revolusioner pemuda. Dengan suara 
tegas kami' tegaskan kepada beliau yang sebenarnya berdiri disisi 
kita itu bahwa : 

”Yang kami minta adalah bantuan dan sokongan. Kami 
meminta supaya negara-negara Arab membantu Indonesia men¬ 
cukupkan syarat wujud internasionalnya yang belum cukup. 
Yaitu pengakuan negara-negara yang sudah merdeka dan kemer¬ 
dekaan mereka telah diakui oleh badan internasional, seperti, 
PBB. Dengan pengakuan itu, negara-negara Arab tersebut berarti 
memperkokoh kedudukan Indonesia dan menyokongnya dalam 
mempertahankan kemerdekaannya dilapangan internasional. Teta¬ 
pi jika negara-negara Arab baru akan mengakuinya setelah syarat- 
syarat itu dicukupkannya, kami rasa pada saat itu Indonesia tidak 
memerlukan bantuan dan sokongan negara-negara Arab lagi. Ban¬ 
tuan dan sokongan negara-negara Arab baru akan berharga dan 


183 



berarti jika diberikan pada saat diperlukan, bukan disaat kami ti¬ 
dak memerlukannya lagi.” 

Azzam Pasya yang merasakan kekecewaan hati kami dan 
memahami kesulitan yang dihadapi tanah-air kami, berusaha 
menenangkan dengan menjanjikan akan mempertahankan lagi 
usulnya itu dengan tema yang kami kemukakan itu, dalam sidang 
yang akan dilanjutkan pada malam itu juga. 

Pagi hari berikutnya, tanggal 19 Nopember 1946, dengan 
huruf-huruf besar semua harian diseluruh ibukota Timur Tengah 
menyiarkan keputusan Dewan Menteri Luar Negeri Liga Arab 
yang mewasiatkan : 

"mewasiatkan negara-negara Arab supaya 
mengakui Republik Indonesia seba¬ 
gai negara y a.n g merdeka dan berdaula- 
1 a t . ” 

Usul Supaya Liga Arab menyampaikan putusannya ke Indonesia 

Pada siang hari itu juga Pimpinan Panitia Pusat menemui 
Abdulrahman Azzam Pasya guna menyampaikan surat terima- 
kasih kami telah dianggap oleh mereka yang mewakili bangsa 
Indonesia kepada Liga Arab dan kepada beliau sendiri yang ba¬ 
nyak memainkan peranan guna terciptanya keputusan itu. Beliau 
menceritakan bahwa ia terpaksa berbicara dua jam lamanya guna 
mengertikan para peserta, sesuai dengan tema yang kami sampai¬ 
kan kepadanya dengan penuh emosi itu. 

Pada pertemuan itu kami memajukan pertanyaan dan usul. 
Pertama, kami menanyakan kenapa dalam putusan itu dikatakan 
’mewasiatkan’ dan tidak langsung mengatakan ’mengakui.’Beliau 
menjawab bahwa Liga Arab sebagai organisasi regional, bukan 
’super power,’ hanya berhak "mewasiatkan” dan tidak langsung 
"mengakui.” Tetapi oleh karena yang mengambil putusan itu 


184 



adalah Dewan Menteri Luar Negerinya, keputusan itu dengan 
sendirinya (implicitly) mengandung pengakuan negara-negara 
Arab itu. Tinggal lagi penyempurnaan formalitasnya — jika diper¬ 
lukan —, seperti pengumuman negara-negara itu masing-masing. 
Kedua, kami mengusulkan supaya suatu perutusan Liga Arab 
menyampaikan sendiri dengan resmi keputusan itu kepada Peme¬ 
rintah Indonesia di Yogyakarta. Hal yang demikian tidak saja akan 
lebih memperkuat kedudukan R.I. di dunia internasional, sebagai 
negara yang diakui, tetapi juga akan lebih merangsang semangat 
bangsa Indonesia untuk mempertanankan kemerdekaan dan ke¬ 
daulatan negaranya yang telah diakui luar negeri itu. Beliau 
berjanji akan mempelajarinya. Dalam surat Panitia Pusat itu 
antara lain dikatakan : 

”Hari ini adalah permulaan zaman baru bagi hubungan- 
hubungan persahabatan yang erat antara negara-negara Arab 
dan Indonesia yang merdeka. Sesungguhnya Liga Arab telah 
memahkotai perjoangan Indonesia dengan mahkota cahaya. Insya 
Allah, Indonesia yang merdeka akan menjadi penggerak yang 
kuat bagi kemajuan negara-negara Islam dan Timur dan pener- 
jang perkasa bagi penjajahan yang masih berusaha bertahan di 
wilayah ini ... 

”Seluruh rakyat Indonesia akan menyambut dengan gembira 
kedatangan perutusan Liga Arab nanti di Indonesia dan akan 
menyambutnya dengan kebesaran yang sesuai dengan kedudukan 
bangsa Arab yang mulia.” 

Kata-kata terakhir ini sengaja kami cantumkan, supaya beliau 
mengingat usul yang telah kami sampaikan dengan lisan itu. 

Usul kami itu kelihatannya benar-benar mendapat perhatian 
dari Sekjen Liga Arab itu. Karena dua hari kemudian diberitakan 
bahwa Liga tersebut telah memutuskan akan mengirim satu 
perutusan resmi ke Inaonesia guna "mempelajari dari dekat 
situasi yang sebenarnya di Indonesia.” Perkataan terakhir ini 
seolah-olah menggambaman keragu-raguan lagi. Hal ini mungkin 


185 



datang dari pihak Transyordania, yang masih sangat tergantung 
kepada Inggris, atau dari tekanan negara-negara Sekutu yang 
telah menghubungi negara-negara Arab sesudah keputusan itu. 
Maka dengan surat tanggal 22/11/46 No. 232/A/46 Panitia 
Pusat menghubungi semua Perdana Menteri Arab supaya segera 
mengumumkan pengakuan mereka, sebagai penyempurnaan 
formalitasnya. Ketika kami menjumpai lagi Sekjen Liga Arab 
untuk mendesakkan hal di atas, beliau memperlihatkan surat 
Liga tersebut kepada Bung Syahrir, Perdana Menteri R.I. ber¬ 
tanggal 4 Muharram 1366 dan bertepatan dengan 28 Nopember 
1946 No. 3128 sebagai berikut : 

”Yang Mulia, 

Sutan Syahrir, Perdana Menteri Republik Indonesia. 

”Dengan gembira saya menyampaikan kepada YM bahwa 
dalam suasana gembira dan perasaan simpati yang meluap,Dewan 
Liga Arab dalam sidangnya tanggal 18 Nopember 1947 telah 
mengambil suatu putusan yang menentukan, yaitu supaya (tausi- 
yah) negara-negara anggota Liga Arab mengakui Indonesia se¬ 
bagai negara yang merdeka dan berdaulat. Demikian, mengingat, 
ikatan-ikatan persaudaraan hubungan-hubungan dekat antara ne¬ 
gara-negara Arab dan Indonesia.” 

"Sementara saya merasa beruntung dapat menyampaikan 
putusan ini kepada YM, saya berdoa kepada Tuhan semoga 
Dia akan melindungi Indonesia dengan ’inayat-Nya, sehingga ia 
mencapai apa yang kita ingini bersama, yaitu kedudukan tinggi 
pada kemajuan Timur yang besar ini.” 

"Kami mengharap supaya YM bermurah hati memberi kami 
petunjuk cara bagaimana kami akan dapat menghubungi YM 
dan tindakan praktis yang YM inginkan dari pihak kami, dalam 
mewujudkan putusan tersebut.” 

Lebih lanjut, dalam menenteramkan hati kami, beliau me- 



nunjuk kepada alamat surat resmi itu yang telah terang-terang 
mengakui YM Sutan Syahrir 'Perdana Menteri Republik Indo¬ 
nesia.’ 

Kelihatannya Belanda dan Sekutu-Sekutunya belum putus 
asa sama sekali, sekurang-kurangnya dalam menghalangi keper- 
gian perutusan Liga Arab ke Indonesia. Maka disewanyalah 
seorang wartawan nasrani, Sami Hakim, untuk menulis dalam 
majallah ”Akhbarul Y aum” dengan judul "Liga Arab dan Indo¬ 
nesia.” Ia menuduh Liga itu tergesa-gesa mengakui R.I. dan 
menganggap putusannya itu suatu "skandal.” Karena mengetahui 
benar watak wartawan itu dan juga mengetahui pendirian pe¬ 
mimpin majallah itu, Mustafa Amin, yang menyokong perjo- 
angan Indonesia semenjak Proklamasi, kami lantas menjumpai 
wartawan nasrani itu terlebih dahulu. Setelah berbicara, ia 
menyatakan bersedia 'meralat' pandangannya itu, sekiranya kami 
bersedia pula membayar 'jerih' nya. Maka benarlah yang kami 
kirakan semula. Dan dengan pandangan sebelah mata yang mengu¬ 
tuk, saya katakan kepadanya bahwa kami tidak perlu membeli 
seorang yang telah menjual dirinya. Saya berani mengatakan 
demikian karena saya yakin ia tidak akan berani meneruskan 
’missi’-nya itu di hadapan pendapat umum Arab yang menyokong 
Indonesia. Itulah maka ia tidak menulis dalam harian nasraninya 
”A1-Mukattam.” Kemudian kami hubungi Mustafa Amin yang 
menyatakan penyesalannya, karena tidak membaca sendiri tulisan 
itu sebelum menyiarkannya dalam majallahnya. Dan dengan 
meminta maaf ia menyatakan bahwa halaman majallahnya ter¬ 
buka luas bagi penyanggahan tulisan beracun itu. Maka dengan 
surat pengantar tanggal 11 Desember 1946 No.243/A/46 kami 
serahkan tulisan yang berjudul "Sekitar Liga Arab dan Indonesia” 
dan disiarkan pada No. 110 majalah tersebut. Setelah mene¬ 
rangkan dengan panjang kedudukan yang sebenarnya hubungan 
Indonesia—Belanda berdalilkan Pernyataan Pemerintah R.I. tang¬ 
gal 18/11/46 dan tanggal 20/11/46 kami tutup tulisan itu dengan 
mengatakan : 

"Dengan demikian jelaslah bahwa penulis itulah yang ter- 
' - 187 



gesa-gesa memberi komentar, dan tidak jujur dalam mengemu¬ 
kakan bentuk hubungan Indonesia—Belanda, yang masing-masing 
mempunyai kedaulatan sendiri-sendiri. Dengan demikian pula 
tidaklah Liga Arab tergesa-gesa mengambil keputusan mengakui 
itu, malahan cepatnya mengambil keputusan itu adalah tindakan 

yang setepat-tepatnya.Maka bukanlah keputusan 

itu suatu 'skandal’ — seperti dikirakan penulis itu — akan tetapi 
adalah suatu keputusan yang bijaksana dan tepat, karena R.I. 
benar-benar berdaulat dan mempunyai kekuasaan de facto atas 
wilayahnya. Pemerintah Indonesia bukanlah seperti beberapa 
pemerintah yang berkedudukan di London di waktu perang ke 
dua, dan diakui oleh negara-negara Sekutu, tetapi sesudah perang 
tidak diketahui lagi pusaranya, atau seperti pemerintah Republik 
Spanyol yang tidak diketahui tempatnya, tetapi diakui oleh 
sementara negara .. .” 

Inggris menghalangi dan Sekjen Liga Arab nekat 

Sekjen Liga Arab tertarik oleh usul mengirim perutusan 
istimewa ke Indonesia, yang oleh beliau sendiri dianggap de¬ 
monstrasi sokongan negara-negara Arab terhadap Indonesia. Oleh 
sebab itu kami mengusulkan lagi dengan surat tanggal 14/1/47 
No. 2/A/47 supaya dalam perutusan itu disertakan para war¬ 
tawan Arab dan seorang dari pimpinan Pusat Panitia yang akan 
bertugas sebagai penghubung (liaison officer). Usul ini juga men¬ 
dapat persetujuan. Akan tetapi Inggris yang waktu itu masih 
berkuasa di sepanjang jalan yang menghubungkan negara-negara 
Arab dengan Timur Jauh, menentang kepergian perutusan yang 
akan merugikan sekutunya Belanda itu, dengan menolak mem¬ 
berikan visa kepada para anggota perutusan yang tadinya akan 
dipimpin oleh Sekjen Liga Arab itu sendiri. 

Sementara itu berita-berita yang menyesatkan masih menga¬ 
lir dari 'Batavia,’ dan kelihatannya sudah ada negara Arab yang 
bertanya kepada Sekretariat Liga Arab sampai ke mana benar 
berita-berita itu yang masih saja memutar piring lamanya yang 


188 




melagukan bahwa Indonesia di bawah mahkota Ratu Belanda. 
Hal ini kami ketahui setelah Sekjen Liga tersebut memperlihat¬ 
kan kepada kami salinan surat yang dikirimkannya kepada 
PM Sutan Syahrir tanggal 23/1/47 sebagai berikut : 

”Yang Mulia, 

Sutan Syahrir, Perdana Menteri Republik Indonesia. 

”Dengan surat tanggal 28 Nopember 1946, saya pernah 
menyampaikan kepada YM keputusan Dewan Liga Arab pada 
sidangnya tanggal 18 Nopember 1946, yang mewasiatkan kepada 
negara-negara anggota Liga ini mengakui Indonesia sebagai negara 
yang merdeka dan berdaulat. Demikian, mengingat ikatan-ikatan 
persaudaraan dan kekerabatan yang menghubungkan negara- 
negara Arab dengan Indonesia.” 

”Dengan hormat saya sampaikan pula kepada YM bahwa 
saya pada waktu itu telah menyampaikan juga keputusan itu 
kepada pemerintah Beland^.” 

"Sekretariat Liga Arab sekarang sedang bersungguh-sungguh 
mencari kemungkinan jalan pengiriman satu perutusan ke Indo¬ 
nesia guna mendapat kehormatan menemui YM dan kemudian 
mengumpulkan keterangan-keterangan yang akan memungkin¬ 
kan negara-negara Arab mengetahui situasi di Indonesia dan sam¬ 
pai ke mana Pemerintah Indonesia telah dapat mencapai aspirasi- 
aspirasi nasionalnya, sehingga dengan demikian memungkinkan 
negara-negara Arab itu mengambil langkah-langkah resmi bagi 
mewujudkan wasiat Dewan Liganya mengenai pengakuan ke¬ 
merdekaan Indonesia yang telah diputuskan itu.” 

”Dalam menunggu hasil usaha pengiriman perutusan itu, 
kami ingin kiranya YM akan bermurah hati memberi kami pe¬ 
nerangan mengenai situasi di Indonesia dan sampai ke mana hasil 
perundingan YM dengan Pemerintah Belanda. Ringkasnya semua 
yang akan menyirnakan kabut yang sekarang meliputi soal-soal 


189 




Dalam suasana gembira, Bung Syahrii menyampaikan terima kasih RJ. kepada 
Kerajaan Afghanistan atas pengakuannya terhadap RJ. Kelihatan Bung Syahrir 
bercengkarama di kebun Kedutaan Afghanistan, dengan Duta Besarnya Sadik 
El-Mujaddidi, sedang Mr. Nazir Pamoncak ikut tertawa dan juga penulis se¬ 
bagai penteijemah. 


190 


di atas itu, disebabkan berita-berita tidak resmi yang berda¬ 
tangan dari berbagai pihak.” 

.Sekjen Liga Arab Nekat 

Setelah Inggris menutup segala jalan dari Teluk Persi 
sampai ke Singapura bagi perutusan resmi Liga Arab itu, Abdul- 
rahman Azzam Pasya, seorang revolusioner, tidak hendak menye¬ 
rah. Hanya dikeahui oleh Kementerian Luar Negeri Mesir atau 
persetujuannya, dan Pimpinan Panitia Pusat, beliau memerin¬ 
tahkan kepada alm. Muhammad Abdulmun’irft, Konsul Jenderal 
Mesir di Bombay, supaya berangkat ke Singapura dengan menya¬ 
mar sebagai turis, dan dari sana usahakan sedapat mungkin me¬ 
nerobos kepungan Belanda dan Sekutunya untuk sampai ke 
Yogyakarta, ibukota R.I., sebagai Utusan Istimewa Liga Arab, 
guna menyampaikan keputusan Liga tersebut mengakui R.I. 
sebagai negara merdeka dan berdaulat. Kepada Pimpinan P.P. 
dipesankannya dengan sungguh-sungguh supaya seorangpun jangan 
mengetahui perintah tersebut, sekalipun dari petugas Liga Arab 
sendiri ataupun dari negara-negara Arab lainnya. Karena agen- 
agen Inggris berkeliaran di Timuf Tengah dan bahkan dari 
penanggung-jawab di negara-negara Arab sendiri ada yang dicurigai 
hubungan-hubungannya dengan Inggris. Kami mengetahui berat 
tugas itu, selalu berdoa semoga Tuhan memudahkannya dan kami 
terus mengikuti siaran RRI dari Yogyakarta. 

Utusan Istimewa Luar Negeri Pertama sampai di ibukota R.I 

Berita yang dinanti-nanti dengan hati berdebar-debar akhir¬ 
nya datang. Alangkah senangnya hati dan enaknya pendengaran, 
ketika penyiar RRI Yogyakarta pada petang Kamis malam Jum’at 
tanggal 13 Maret 1947 jam 18.30 memberitakan dengan suara 
nyaring berirama kegembiraan : 

”Telah sampai di Yogyakarta dengan kereta-api khusus tuan 
Muhammad Abdulmun’im, Konsul Jenderal Mesir di Bombay 


191 




daa Utusan Istimewa Liga Negara-negara Arab, dengan didampingi 
oleh Bung Syahrir Perdana Menteri R.I.Di Stasion beliau disambut 
oleh khalayak ramai dengan penyambutan yang meriah dan ber¬ 
semangat. Kepada para wartawan yang mengerubungi beliau 
menyatakan bahwa kedatangannya adalah guna menyampaikan 
keputusan Liga Arab mengenai pengakuan terhadap kemerdekaan 
Indonesia. Beliau menambahkan bahwa Mesir ingin membuka 
hubungan perdagangan dehgan Indonesia, dan pemerintahnya 
akan membatalkan perjanjian udaranya dengan Belanda.” Seterus¬ 
nya dikatakan : 

"Kekuasaan Belanda berusaha menghalangi kedatangannya 
ke Yogyakarta, dengan mempersulit formalitas-formalitas dan 
tidak diizinkan menumpang pesawat Belanda. Meskipun demi¬ 
kian, dengan mempertaruhkan jiwa-raganya dalam menjalankan 
tugas yang diberikan Liga Arab, beliau telah selamat sampai di 
Ibukota R.I.” 

Maka dengan kedatangan Utusan Istimewa Liga Arab ke 
Yogyakarta itu, buat pertama kali dalam sejarah : 

1— Per utusan suatu negara datang sendiri menyampaikan pe¬ 
ngakuan negaranya kepada negara lain yang terkepung, 
dengan mempertaruhkan jiwa-raganya. 

2— Negara atau beberapa negara kecil mengakui negara lainnya, 
dengan menentang keinginan negara-negara Besar. 

3— Buat pertama kali dalam sejarah Indonesia merdeka, satu 
Utusan Istimewa resmi luar negeri mengunjungi ibukota 
R.I. 

Semuanya itu hanya didorong oleh solidaritas perjoangan 
dan solidaritas Islam. 

Pada 14/3/47 RRI-Yogya memberitakan lagi bahwa Utusan 
Istimewa Liga Arab bersembahyang Jum’at bersama para menteri 
dan ribuan rakyat yang mendapat kesempatan untuk menyatakan 


192 



terima-kasih kepada Utusan itu. Besoknya 15/3/47 Utusan Isti¬ 
mewa Liga Arab itu diterima Presiden Sukamo dan Wakil Pre¬ 
siden Muhammad Hatta di Istana Negara. Dalam pidatonya pada 
upacara resmi itu Muhammad Abdulmun’im mengatakan : 

”Adalah suatu kehormatan besar bagi saya dapat berhasil 
menghadap PYM, guna menyampaikan setinggi hormat dan se- 
baik-baik harapan Raja saya, Raja Faruk I, Raja Mesir ; saya 
juga merasa sangat berbahagia dapat melakukan satu tugas yang 
sangat saya sukai, yaitu menyampaikan putusan yang telah diam¬ 
bil Liga Arab pada 18 Nopember 1946, yang mewasiatkan kepada 
negara-negara Arab supaya mengakui Indonesia sebagai negara 
yang merdeka dan berdaulat. Demikian, mengingat hubungan 
persaudaraan dan ikatan-ikatan keakraban yang menghubungkan 
negara-negara Arab itu dengan Indonesia.” 

"Sesungguhnya akan menggembirakan Liga Arab apabila 
dalam waktu yang singkat sekali dapat disempurnakan tindakan- 
tindakan resmi yang akan menjelmakan wasiat/amanat pengakuan 
itu selekas mungkin. Sehingga dengan demikian, negara-negara 
Arab itu menjadi pelopor hegara-negara yang mengakui kemerde¬ 
kaan Indonesia. Saya merasa sangat berbahagia bahwa saya adalah 
wakil negara asing pertama yang dapat menghadap PYM. Saya 
telah dapat mengatasi kesukaran-kesukaran untuk sampai ke 
Indonesia ini; maka saya berharap semoga kesampaian saya dengan 
perlindungan Tuhan kehadapan PYM ini akan menjadi pertanda 
baik bagi pencapaian apa yang diidam-idamkan Indonesia, yaitu: 
hidup merdeka, makmur dan jaya. Demikian juga saya mengharap 
pengakuan tujuh negara Arab itu, yaitu Mesir, Irak. Suria. Saudi 
Arabia, Lebanon, Yaman dan Transyordania, akan menjadi pem¬ 
bukaan yang baik bagi pengakuan negara-negara di dunia ini 
terhadap kemerdekaan Indonesia.” 

Pidato ringkas yang penuh rasa persaudaraan dan keakraban 
itu dibalas oleh Presiden Sukarno dengan kata-kata persaudaraan 
dan terima-kasih berikut ini : 


193 



Saya merasa gembira mengucapkan selamat sampai kepada 
Tuan pada saat kunjungan Tuan yang bersejarah ini. Juga saya 
merasa gembira menerima hormat dan harapan-harapan baik Sri 
Baginda Raja Faruk, Raja Mesir, yang di-Muliakan. Maka saya 
berharap supaya Tuan menyampaikan kepada Sri Baginda setinggi- 
tinggi hormat dan penghargaan kami, dan kami berdoa kepada 
Tuhan Yang Maha Tinggi agar Dia meliputi Mesir dengan lindu- 
ngan-Nya, dan mudah-mudahan Mesir akan mencapai semua cita- 
cita nasionalnya.” 

”Kami telah mendengar bahwa Liga Arab telah mengamanat¬ 
kan kepada negara-negara Arab anggotanya supaya mengakui 
Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Maka 
dapatlah digambarkan bagaimana besar kegembiraan kami me¬ 
nyambut kedatangan Tuan untuk menyampaikan kepada kami 
keputusan itu. Atas nama bangsa Indonesia kami menjgucapkan 
terima-kasih kepada Liga Arab atas keputusan besar yang didasar¬ 
kan atas persahabatan dan keikhlasan itu ” 

”Kami tinggal di-Kepulauan Indonesia. Sejak zaman bahala 
Kepulauan ini menjadi pertemuan bangsa-bangsa. Maka tidaklah 
ganjil apabila telah menjadi kebiasaannya suka mengadakan 
hubungan-hubungan dengan segala bangsa, yang didasarkan atas 
persahabatan dan hormat-menghormati. Yaitu suatu dasar yang 
memang harus menjadi dasar bagi pembangunan suatu perdamaian 
yang abadi. Maka sudah tentu hubungan-hubungan dengan negara- 
negara Arab mudah terikat kuat, disebabkan hubungan Agama 
yang mengikat antara kita.” 

”Saya berdoa kepada Tuhan semoga Dia menjadikan kun¬ 
jungan Tuan yang bersejarah ini suatu pembukaan bagi hubungan- 
hubungan baik antara bangsa.” 

Kantor-kantor berita ’ Batavia ’ mem ’ black oui berita 
kedatangan Utusan Istimewa Liga Arab keibukota R.I. itu. Oleh 
sebab itu,iberita-berita yang kami tangkap dari RRl-Yogyalah yang 
menjadi sumber beritanya di mass-media seluruh Timur Tengah. 

194 

i 



Berita-berita itu telah menyebabkan sedikit ’ krisis ’ dikalangan 
Liga Arab. Karena beberapa negara Arab, terutama Irak, merasa 
dilangkahi, sebab kepergian Utusan Istimewa yang membawa 
nama ’ Arab ’ itu tidak setahu mereka. Seperti telah saya katakan, 
kejadian ini besar akibatnya bagi kedudukan Abdulrahman Az- 
zam Pasya sebagai Sekjen Liga itu enam tahun kemudian. 

Setiap kali kami menyampaikan berita-berita RRI-Yogya me¬ 
ngenai missi Muhammad Abdulmun’in itu, kami selalu mengingat¬ 
kan Sekjen Liga Arab akan pernyataan Utusan Istimewa itu 
mengenai pembatalan perjanjian lalu-lintas udara antara Mesir dan 
Belanda. Dertgan Nota tanggal. 16/3/47 No. 16/A/47 Panitia 
Pusat mendesak melalui Liga Arab, supaya semua negara-negara 
Arab menutup udaranya bagi lalu-lintas pesawat udara Belanda. 
Dalam nota itu antara lain kami katakan : 

”. Kami mengetahui bahwa tindakan seperti itu ada 

bahayanya. Tetapi kami melihat pula bahwa negara-negara Arab 
mempunyai alasan guna mengambil tindakan demikian. Di sam¬ 
ping tindakan-tindakan serupa yang telah diambil beberapa negara 
lain dalam menyokong Indonesia, yaitu berita yang tersiar luas 
(sumbernya kami juga, pen.) bahwa Belanda telah tidak memberi 
izin kepada Utusan Istimewa Liga Arab untuk menumpang pesa¬ 
watnya menuju Indonesia, sehingga beliau terpaksa menumpang 
pesawat,pengangkut barang bukan Belanda. Padahal pesawat 
Belandalah seharusnya membawanya karena perjalanan itu melalui 
routenya sehari-hari, dan pesawatnya lebih aman, karena mem¬ 
pergunakan ’ Sky Master. Tidak ragu lagi bahwa sikap 

Belanda terhadap Wakil Liga Arab itu adalah tindakan tidak 
bersahabat,.-....” 

Kenang-kenangan dan Tanda Berterima kasih 

RRI-Yogya memberitakan bahwa sebagai kenang-kenangan 
bagi kedatangan Utusan Istimewa Liga Arab-yang kebetulan war - 
ga Kerajaan Mesir yang telah mempertaruhkan jiwa-raganya—dan 
tanda berterimakasih serta penghargaan dan lambang persahabat- 


195 




an. antara Indonesia dan negara-negara Arab umumnya dan 
Kerajaan Mesir khususnya, Presiden Sukarno, melalui Utusan 
Istimewa itu, telah menghadiahkan kepada Baginda Raja Faruk 
dan Ratu Farida Permaisurinya, satu set tea-service yang terbuat 
dari perak oleh ahli-ahli Indonesia di ibukota R.I. sendiri (Kota 
Gede)* dalam satu upacara di-Istana Negara. 

RRI-Yogya juga memberitakan bahwa bertepatan dengan ke¬ 
datangan Utusan Istimewa Liga Arab ke ibukota R.I. itu, Bung 
Hatta Wakil Presiden, dianugerahi Tuhan Seorang putri. Juga 
guna mengenang hari yang bersejarah itu dan memperingati jasa 
Mesir dan Rajanya, beliau telah memberi nama putrinya Farida, 
yaitu nama Ratu Mesir. Berita RRI itu yang mengatakan juga 
bahwa Bung Hatta telah bersumpah, semenjak ia dibuang pemerin¬ 
tah kolonial Belanda pada permulaan tahun tiga-puluhan, telah 
bersumpah tidak akan kawin melainkan sesudah Indonesia mer¬ 
deka turut tersiar luas di Timur Tengah bersama-sama berita lain¬ 
nya itu, dan sekaligus telah membantah tuduhan-tuduhan usang 
Belanda dan Sekutu-sekutunya bahwa kemerdekaan Indonesia 
adalah ’ made in,Japan. 



DELEGASI R.I. DI TIMUR TENGAH 


Delegasi Republik Indonesia tiba di Kairo 

Semenjak Liga Arab mewasiatkan kepada negara-negara Arab 
anggotanya supaya mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indo¬ 
nesia, mengirim dua kali surat kepada PM Sutan Syahrir dan 
terakhir sekali mengirim Utusan Istimewa ke ibukota R.I. guna 
menyampaikan keputusan itu, Panitia-panitia di Timur Tengah 
menanti-nanti kedatangan suatu missi resmi dari Indonesia yang 
akan menghubungi langsung pihak resmi Arab, guna memudahkan 
penyempurnaan formalitas pengakuan itu, sebelum propaganda 
Belanda dan Sekutu-'sekutuHya dan tekanan-tekanan Inggris yang 
masih menduduki Mesir itu meninggalkan kesan-kesan negatif. 
Maka alangkah gembiranya kami ketika Sekjen liga Arab mem¬ 
perlihatkan kepada kami kawat bertanggal 2/4/47 yang baru 
diterimanya dari Muhammad Abdulmun’im, Utusan Istimewanya 
itu, memberi tahukan bahwa ia akan kembali ke Kairo bersama 
satu perutusan resmi R.I. dan meminta tolong diusahakan fasilitas 
penerbangan bagi mereka dari pelabuhan udara Lydda, Palestina, 
dengan Mesir Airlines. Delegasi R.I. itu, yang dipimpin oleh (alm) 
H. Agus Salim, Menteri Muda Kementerian Luar Negeri, baru 
sampai di Mesir pada 19/4/47, bersama-sama Abdulrahman Base- 
wedan, Menteri Muda Penerangan, (alm) Mr. Nazir Pamoncak, 
Pegawai Tinggi Kemlu, sedang (Prof. Dr.) H. Muhammad Rasyidi, 
Sekjen Kementerian Agama (ex-Menteri Agama pertama) dan 
Mayor Jenderal Abdulkadir, Perwira Tinggi Kementerian Per¬ 
tahanan, telah samnai terlebih dahulu pada 5/4/47. Mereka 


197 




98 


Delegasi RJ. ke Timur Tengah. Di tengah kelihatan Haji Agus Salim (Ketua) 
dengan pakaian seragam yang dipakai anaknya yang mati syahid, di kirinya Mr. 
M. Nazir Pamoncak, dan di kanannya Abdulralunan Baswedan dan H.M. Rasji- 
di. Berdiri di belakangnya penulis buku ini. 



ditempatkan pada hotel terbesar waktu itu, Continental Savoy 
Hotel, sebagai tamu Liga Arab, selama empat bulan. 

Pertemuan Dengan Panitia Pusat 

Kegiatan Delegasi R.I. pertama adalah mengadakan perte¬ 
muan dengan Pimpinan Panitia Pusat. Sebelum Delegasi itu datang, 
Panitia Pusat telah menyiapkan bahan-bahan informasi yang perlu 
mereka ketahui dalam hubungan-hubungan dengan pihak-pihak 
resmi Arab, seperti situasi politik ditiap-tiap negara Arab, peni¬ 
laian-penilaian sikap masing-masingnya terhadap soal Indonesia 
dan kesulitan-kesulitan dalam negeri dan ketergantungannya ke¬ 
pada bantuan negara-negara besar yang mungkin akan mempe¬ 
ngaruhi sikap masing-masingnya dalam memenuhi formalitas 
pengakuan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia. 
Demikian pula mengenai soal Indonesia di Dewan Keamanan 
PBB dan usaha-usaha Panitia-panitia Indonesia di luar negeri 
memengertikan dunia terhadap soal tersebut. Juga bagi kemung¬ 
kinan-kemungkinan seterusnya dalam arena internasional, disiap¬ 
kan laporan mengenai soal Suria dan Lebanon di-DK-PBB tahum 
1946 yang dimenangkan kedua negara Arab itu menghadapi 
Perancis. Meskipun demikian, pada pertemuan itu Panitia Pusat 
membentangkan semua persoalan di atas secara ringkas sampai 
keberangkatan Utusan Istimewa Liga Arab ke Indonesia dan yang 
telah kembali ke-Kairo bersama-sama membawa mereka, dan 
harapan semoga dengan kedatangan Delegasi itu akan dapat lekas 
tercipta pelaksanaan penyempurnaan formalitas keputusan Liga 
Arab itu. « 

Haji Agus Salim, Ketua Delegasi, menyatakan bahwa Pe¬ 
merintah Indonesia mengikuti kegiatan-kegiatan Panitia-panitia 
luar negeri, pada umumnya, dan Panitia-panitia di Timur Tengah 
pada khususnya, yang telah banyak berhasil dalam mempertahan¬ 
kan Proklamasi. Atas nama Pemerintah R.I. beliau menyampaikan 
terima kasih banyak atas jasa-jasa mereka kepada tanah-air dan 
bangsa itu. Ditambahkannya bahwa perjoangan dalam negeri 


199 




E 

b. 

’S 

E 

1 

S 

§ 

•o 


S -i o « 
!3 pi -o Z 

«J m 

o. 


•S .g' S g 

i i e 1 


£ S g rt 


§ A 


2iHpi 


"O g 

£ ’S 

eS ^ 
€ p 


* « O 5 ^ 
* 

«1 
- .2 
6 S 
•2 °* 

A jj 

S2 eP O .§ 

„ .g*® 

5 S CQ 

6 . 

:=, S §. « 

s £ : 

a a 
etf M 

^ i ® 


& f i 

§“<2 

||l 

£ S£ J 

ili? 


§ H 

.|£ g 

f f f * £ 
-liari 

S § .a 'S 'a 

xt M N a Oh 


200 




201 


Haji Agus Salim bersama pimpinan cabang Panitia di Baghdad Irak. Di bela¬ 
kangnya Mr. Nazir Pamoncak, yang di kirinya Imron Rosyadi (Ketua), Rasyid 
Bayumi (Sekretaris) dan yang mencangkung sebelah kiri Zaidan Abdulsamad 
(Bendahara). • 



merasa berbahagia dengan adanya gerakan warga Indonesia di 
luar negeri yang telah banyak menunjang perjoangan dalam negeri 
itu, baik memperkuat kedudukan R.I., terutama dilapangan in¬ 
ternasional, malahanpun meringankan penderitaan rakyat dan 
mengurangi penderitaan yang jatuh menghadapi agresi Belanda 
dan Sekutu-sekutunya. Terhadap perjoangan Panitia-panitia di 
Timur Tengah beliau mengatakan : 

”Panitia-panitia saudara-saudara telah memungkinkan R.I. 
dengan resmi keluar memulai peijoangan diplomasi di gelanggang 
internasional. Sokongan negara-negara Arab telah berhasil saudara- 
saudara dapatkan sepenuhnya. Kami mendapati segala sesuatu 
yang telah selesai. Kedatangan kami seolah-olah, hanya untuk 
menanda-tangani dokumen-dokumen yang telah saudara-saudara 
siapkan.” 

Kemudian beliau memberi briefing tentang situasi dalam negeri 
pada umumnya, dan terutama pula mengenai Perjanjian Linggar- 
jati dan sampai kemana perjanjian ini telah menjamin kemerde¬ 
kaan dan kedaulatan R.I. Pada malam berikutnya, Delegasi R.I. 
beramah-tamah dengan para mahasiswa Indonesia di Mesir di 
kantor Panitia Pusat, 12 Sikkat Syaburi, Helmia Jedida. 


Kunjungan-kunjungan Kehormatan 

Sebagai yang telah diatur semula oleh Panitia, Delegasi R.I. 
memulai kunjungan-kunjungan kehormatan dengan mengunjungi 
Istana Abidin guna mencatatkan nama dalam Daftar Penghor¬ 
matan Kerajaan, sebagai penghormatan kepada Raja Faruk. 
Pendaftaran ini bukanlah segi protokulernya yang penting, mes¬ 
kipun wajib, tetapi bagi perjoangan Indonesia, adalah segi peng¬ 
hargaan kepada Raja Faruk yang didorong terutama oleh rasa 
anti-Inggrisnya, telah mendorong Pemerintah Mesir, dan diikuti 
oleh negara-negara Arab lainnya, lebih tegas menyokong Indonesia 
mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya, bahkan mem¬ 
berikan pengakuan de facto kepada Panitia Pusat sebagai p e r - 


202 



w a k i 1 a n R.I., sementara, menanti perwakilan R.I. resmi 
berdiri. 

Abdulrahman Azzam Pasya, Sekjen Liga Arab, yang bertin¬ 
dak sebagai tuan rumah dalam kunjungan Delegasi R.I. waktu 
itu, adalah pembesar Arab pertama yang dikunjungi. Saya bersama 
Salim Rasyidi, ikut serta dalam kunjungan itu. Setelah memper-r 
kenalkan anggota Delegasi satu-persatu kepada Sekjen itu, dengan 
secara bergurau, tetapi sungguh-sungguh, saya katakan kepada 
beliau : 

”Dengan kedatangan Delegasi Republik Indonesia ini, selesai¬ 
lah tugas kami dikalangan resmi di sini, Kami percaya bahwa 
maksud kedatangannya ini akan terlaksana dengan lancar.” 

Setelah itu kami terus meminta diri dan segera mengundurkan 
diri, tanpa menunggu jawabannya. Sesaat kemudian, petugas 
protokol mendatangi kami di kamar tunggu dan menyampaikan 
permintaan Azzam Pasya sendiri supaya kami kembali masuk. 
Kelihatannya beliau ingin menyambungkan masa yang lampau 
dengan masa mendatang. Maka Ketika mereka hendak mengabadi¬ 
kan pertemuan pertama itu, Azzam Pasya ingin menyertakan 
kami - yang dianggapnya mewakili Panitia-panitia Timur Tengah - 
dalam pengabadian itu. Demikianlah kami mendapat kehormatan 
bergambar bersama-sama dengan Delegasi dan Sekjen Liga Arab 
itu. Dalam menyusun-nyusun ’pose’ terbaik bagi pengabadian 
pertemuan bersejarah itu, beliau mengatakan Kepada para anggota 
Delegasi R.I. itu : "Indonesia dapat berbangga dengan anak-anak¬ 
nya yang militant. Mereka - katanya sambil tersenyum - telah 
’ mendiktekan ’ kepada negara-negara Arab supaya ’ takluk ’ 
kepada tuntutan-tuntutan mereka.” 

Kunjungan kehormatan kedua pada hari itu juga adalah 
kepada Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya, Perdana Menteri merang¬ 
kap Menteri Luar Negeri Mesir, di Kementerian Luar Negeri 
Mesir. Pertemuan berlangsung selama hampir satu jam. Dalam 
berita pers besoknya dikatakan : "Diketahui bahwa kedatangan 


203 



Delegasi R.I. ke Timur Tengah adalah untuk mengadakan hubu¬ 
ngan diplomatik antara R.I. dan negara-negara Arab. "Ditambah¬ 
kannya bahwa : "Pertemuan berlangsung dalam suasana ramah- 
tamah dan persahabatan yang akrab sekali.” 

Kedatangan Delegasi R.I. itu bertepatan dengan perun¬ 
dingan-perundingan Mesir-Inggris yang semakin tegang mengenai 
soal Sudan' apakah akan bergabung dengan Mesir di bawah 
mahkota Mesir, ataukah akan berdiri sendiri dan soal Palestina 
yang akan dibicarakan di PBB. Ketika itu partai terbesar di Sudan 
’ Partai Persatuan ’ yang dipimpin (alm) Ismail Azhari mengingi¬ 
ni persatuan, sedang Partai Ummah di bawah Al-Mahdi yang 
disokong Inggris menghendaki pemisahan. Maka Sudan yang 
masih di bawah co-dominion Inggris-Mesir menjadi rebutan kedua 
negeri ini, sehingga terjadi keributan-keributan di Sudan dan 
kegentingan hubungan Mesir-Inggris yang menjurus kepada penye¬ 
rahan soal itu ke DK—PBB. Kesibukan Mesir ini yang diikuti 
kesibukan Liga Arab dengan pertemuan-pertemuan menjelang 
sidang DK-PBB jika diperlukan itu, dan ditambah pula oleh 
laporan Utusan Istimewa yang harus dipelajari Sekretariat Liga 
Arab dan kemudian membagi-bagikannya kepada negara-negara 
anggotanya, telah menyebabkan tertunda penyempurnaan forma¬ 
litas pengakuan Mesir sampai permulaan bulan Juni 1947. 

"Pak Salim” di Kairo 

"Pak Salim” di Kairo saya jadikan judul bagi kegiatan Haji 
Agus Salim sebagai seorang pemimpin Indonesia dalam masyarakat 
Mesir dan pergaulannya dengan elite ibukota, Kairo yang men¬ 
jadikan Continental Savoy Hotel waktu itu tempat pertemuan 
sehari-hari selama lebih kurang empat bulan. 

Menanti kelanjutan hubungan-hubungan resmi, selain kun¬ 
jungan-kunjungan persahabatan dan penyampaian ucapan-ucapan 
terima-kasih kepada golongan-golongan masyarakat yang menyo¬ 
kong Indonesia, Pak Salim telah mengadakan ceramah tiga kali 


204 



di hadapan para cendekiawan Mesir. Pada tiap-tiap ceramah beliau 
mempergunakan bahasa yang berlain-lainan, yaitu bahasa Perancis 
di Institute Geografi Kerajaan, bahasa Inggris di Aula Universitas 
Fouad I (Universitas Kairo sekarang) dan bahasa Arab di Gedung 
Persatuan Wartawan Mesir. Ditempat terakhir ini beliau telah 
membuat suatu ’ surprise ’ yang mengagumkan. Pada mulanya 
seorangpun tidak mengira bahwa beliau akan berpidato dalam 
bahasa Arab, karena dari permulaan pertemuannya dengan para 
wartawan Mesir dan Arab itu, beliau memberi penerangan menge¬ 
nai Indonesia ataupun menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam 
bahasa Indonesia dan saya sendiri ditugaskan menterjemahkan 
langsung. Yang terjadi ialah bahwa setelah habis memberi pene¬ 
rangan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, beliau beserta 
semua hadirin pindah keruangan besar untuk menikmati jamuan 
besar yang disediakan Persatuan Wartawan Mesir itu guna meng¬ 
hormati beliau. Sebelum jamuan dimulai, Ketua Persatuan itu, Ha¬ 
fiz Mahmud, mengucapkan kata-kata ’welcome,’ persahabatan dan 
persaudaraan Islam yang ikhlas dan akrab, dan dijawab oleh Pak Sa- 
lim dengan irama yang serupa, serta berterima kasih atas sokongan 
mass-media Mesir khususnya dan negara-negara Timur Tengah u- 
mumnya. Dalam hal ini saya seperti sebelumnya—telah bersiap-siap 
untuk menterjemahkannya. Tetapi diiringi ngangaan hadirin yang 
terpesona, - termasuk saya sendiri yang tidak diberitahu terlebih 
dahulu - beliau langsung berbicara dalam bahasa Arab yang fasih, 
dengan kata-kata halus yang terpilih dan susunan (style) yang 

bermutu tinggi. Dapat kiranya di kira-kira kan bagaimana 

gemuruh tepuk-tangan hadirin, sehabis beliau mengucapkan se- 
patah-katanya itu, sebagai penghargaan dan pernyataan kekagu¬ 
man (I’jaab). Masih segar dalam ingatan saya pemandangan Hafiz 
Mahmud, Ketua Persatuan itu, buru-buru menjabat tangan Pak 
Salim dengan semesra-mesranya. 

Selama menginap lebih kurang empat bulan di hotel tempat 
pertemuan golongan bunga dan cendekiawan Mesir itu, Pak Salim, 
yang benar-benar ’ encyclopaedia \ hidup, lincah dan penuh 
humor itu telah dapat memikat semua kelompok yang rtienghu- 


205 




bunginya, sehingga dari tiap-tiap kelompok itu beliau mendapat 
’ gelar ’ pengaguman. Kelompok politikus menamakannya ’ siasi 
mumtaz ’ (politikus istimewa), golongan cendekiawan menyebut¬ 
nya ’ failasuf ’ (filosof), dan kalangan wartawan memanggilnya 
’ sahafi labiq ’ (wartawan gelir, licik) dan kadang-kadang menamai¬ 
nya juga ’ ifrit ’ (syaitan), dengan arti mewalahkan, tetapi tetap 
disukai, karena humornya yang penuh sindiran. Seorang pemimpin 
partai politik pernah mengatakan bahwa Indonesia sangat berun¬ 
tung mempunyai seorang diplomat yang demikian lincah dan 
cepat membaca apa yang tersembunyi dalam kepala orang lain, 
disaat menghadap perkembangan sejarahnya yang menentukan 
itu. Duta Besar Lebanon, Abu Ezzeddin, mengatakan bahwa 
seorang seperti Pak Salim itu, sekiranya terdapat di tengah-tengah 
masyarakat Barat, tidak akan kalah kekesohorannya dari pada 
filosof Inggris terkenal itu, Bernard Shaw. Karena tajam, cepat 
dan tepat reaksinya terhadap setiap ucapan atau pertanyaan yang 
dihadapkan kepadanya. Wartawan yang berwawancara dengan 
beliau selalu kewalahan, karena jawabannya yang terlalu pendek 
atau terlalu panjang. Kedua-duanya itu dipergunakannya supaya 
jangan berbanyak tanya. Pernah wartawan majallah Mesir terbesar 
”Akhbarul Yaum” menanyakan kepada beliau pendapatnya ten¬ 
tang kota metropolitan Kairo. Beliau menjawab dengan dua patah 
kata saja, yaitu ”An-Nur wan-Nar” (Cahaya dan Api), atau Surga 
dan Neraka, Kemudian beliau berdiam dan wartawan itu terdiam 
pula, karena tepat dan cepatnya jawaban itu... . 

Sebagai seorang yang luar biasa, Pak Salim mempunyai 
hal-hal yang ’ luar biasa ’ pula. Beliau yang sudah berumur 
enam-puluhan itu suka berjalan cepat, sekalipun di jalan ”Fouad 
Awal” yang sesak-ramai itu. Saya yang waktu itu masih muda 
belia, kewalahan mengikutinya, bukan saja karena kecepatannya, 
tetapi pula karena sering pula beliau 'menghardik’ anak-anak 
muda yang suka ’ menghampang-menghampang ' jalan besar dan 
ramai itu. Suatu malam, sebelum beliau berkeliling ke negara- 
negara Arab menjalankan tugas Delegasi R.I., beliau diundang 
makan malam oleh Muhammad Ali Taher, pemimpin Palestina 


206 



yang sangat simpati kepadanya dan Indonesia. Pada malam itu 
turut diundang beberapa pemimpin Mesir, Arab dan Islam yang 
berada di Kairo, guna menghormati beliau. Baru saja selesai makan 
dan orang-orang masih saja siap-siap akan ’ ngobrol ’ sambil 
minum kopi, serta-merta beliau berdiri dan terus berjalan menu¬ 
ju pintu ’ lift ’, tanpa mengucapkan sepatahpun ’ kalam ’ atau ’ 

’ salam, ’ kepada hadirin, yang kelihatannya ternganga-nganga, 
tercengang-cengang, Saya dan H.M. Rasyidi segera mengejar beliau 
yang telah hendak melangkahkan kakinya kedalam lift itu dan 
menanyakan apa yang terjadi. Sambil merengut beliau menjawab 
”Gila orang-orang itu, sudah tahu saya akan berangkat besok, 
masih juga diundang makan ! ” Sungguh sangat berat bagi 
kami menghadapi orang-orang besar itu, yang mungkin merasa 
diremehkan, sekalipun mereka tetap senyum memberi maaf yang 
kami minta. Adapun Pak Salim, beliau terus saja turun, tanpa 
menolehpun kebelakang .... 

Suatu malam lagi, selagi kami duduk diberanda atas Conti¬ 
nental Hotel menikmati cahaya bulan yang keperak-perakan itu, 
sambil bergurau sekadarnya, tiba-tiba Pak Salim menyanyikan 
lagu perjuangan dengan suara lantang yang memecaH.(kehening¬ 
an itu. Kami yang hadir semuanya berdiam seperti terpukau. 
Lebih sunyinya lagi ketika melihat Pak Salim berdiam, dan 
kemudian menangis tersedu-sedu, seperti hendak melepaskan 
segala sesak dada yang menekan dirinya . . . Seorangpun tidak 
berani bertanya ataupun memulai bersuara. Kesunyian itu di¬ 
pecahkan lagi oleh Pak Salim sendiri, yang berkata : ” Lagu 
itulah yang dinyanyikan anak saya, ketika pelor Belanda me¬ 
nembus dadanya, "Kemudian beliau berhenti sejurus, dan kami- 
pun tidak ada yang berkutik. Beliau menghalau lagi keheningan 
itu dengan menunjuk baju seragam yang selalu dipakainya 
sehari-hari, sambil bercerita : ”Baju inilah yang dipakainya ketika 
ia jatuh menjadi syahid. "Kelihatannya kalimat ’ syahid ’ menjadi 
penawar yang ampuh bagi hatinya yang luka dan duka itu. Awan 
hitam yang tadinya melintas, mulai memberikan tempat kepada 
cahaya cerah yang sedikit demi sedikit rnenyelimat dari celah- 


207 



celah perasaannya yang mulai terobat. Demikianlah Pak Salim 
yang luar biasa itu. Sekali kelihatan seperti ’ super man ’ dan 

di lain kali melahir sebagai ’. man ’ dan dalam kedua hal 

itu beliau tetap ’ luar biasa. ’ 

Mesir mengakui de facto dan de jure R.I. . . . 

Perundingan mengenai formalitas pengakuan Kerajaan Mesir 
atas d e jure kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia 
tidak mengalami kesulitan apa-apa, setelah laporan Utusan Isti¬ 
mewa Liga Arab ke Indonesia telah memperkuat kebenaran-kebe¬ 
naran bahan-bahan yang diberikan Panitia-panitia Indonesia Timur 
Tengah dan yang menjadi dasar keputusan Liga Arab untuk 
mewasiatkan kepada anggotanya supaya mengakui R.I. pada 18 
Nopember 1946 itu. Dengan demikian pada 2 Juni 1947 lengkap¬ 
lah keresmian pengakuan Mesir itu, setelah sebelumnya ia telah 
mengakui de facto - nya dan menganggap Panitia Pusat 
sebagai perwakilan R.I. sementara. 

. Dan Mengadakan Perjanjian Persahabatan dan Hubungan 

Diplomatik 

Perundingan yang sedikit mengambil waktu adalah mengenai 
hubungan-hubungan Mesir-Indonesia lainnya. Karena Mesir dalam 
menyokong R.I. tidak mencukupkan dengan pengakuan de facto 
dan jure itu saja, tetapi melangkah lebih jauh dengan mengadakan 
Perjanjian "Persahabatan, Hubungan Diplomatik dan Perdagangan 
dengan Indonesia. Maka pada 10 Juni 1947 selesailah upacara 
penandatanganan Perjanjian tersebut, di Kementerian Luar Negeri 
Mesir. Dari pihak Mesir, yang menandatangani adalah Perdana 
Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Mahmud Fahmi Nokrasyi 
Pasya dan dari pihak Indonesia Menteri Muda Luar Negeri Haji 
Agus Salim. 

Kegembiraan Panitia-panitia Timur Tengah - dan sudah tentu 
juga seluruh rakyat Indonesia - dengan pengakuan resmi itu saja, 
behim lagi dengan Perjanjian-perjanjian yang mengikutinya - tidak 


208 





dapat digambarkan dengan lisan atau tulisan. Karena dengan 
pengakuan itu saja, Indonesia telah memenuhi syarat internasional 
sebagai satu negara yang sudah dapat duduk sama rendah dan 
tegak sama tinggi dengan negara apapun di dunia ini. Kami tidak 
mendapat kesempatan untuk memikul senjata seperti saudara- 
saudara kami di tanah-air. Kalau usaha saudara-saudara kami di 
dalam negeri adalah menghancurkan kekuatan fisik musuh R.I., 
kewajiban kami di luar negeri adalah pula menghancurkan ke¬ 
kuatan diplomasi musuh yang sama dan mematahkan kepungan 
diplomatiknya terhadap Pemerintah R.I. Kemenangan diplomasi 
di lapangan internasional bagi suatu bangsa yang masih berjoang 
hidup atau mati, tidaklah kurang pentingnya dari kemenangannya 
di medan pertempuran. Kemenangan di kedua lapangan dan 
medan itu adalah isi-mengisi. Kemenangan diplomasi revoiusi 
di Timur Tengah telah memberikan kepada R.I. kunci untuk 
membuka pintu Perserikatan Bangsa-Bangsa seluas-luasnya. 

Audensi dan Pakaian Revolusi 

Setelah pengakuan Mesir itu, Delegasi R.I. merasa berke¬ 
wajiban menyampaikan terima-kasih Indonesia kepada Raja Faruk 
yang banyak mendorong kearah pengakuan ini. Istana Abidin 
telah menyetujui, tinggal lagi prosedurnya. Menurut protokol yang 
berlaku, seorang yang ingin menghadap Raja disiang hari harus 
berpakaian yang disebut ’morning coat’ dengan pantalon ’gray- 
striped trousers’ dan lain-lain pelengkapnya. Tetapi cara ini 
tidak dapat dipenuhi. Maka atas dasar ’orang musafir’, Istana 
dapat menerima dengan pakaian lengkap kehitaman (dark colour). 
Dan inioun tidak dipenuhi. Akhirnya dengan izin Raja sendiri, 
mereka diizinkan menghadap dengan pakaian yang ada saja. 
Maka berangkatlah dari Kontinental Hotel Delegasi R.I., dengan 
Haji Agus Salim berteluk belanga, Mayor Jendral Abdulkadir de¬ 
ngan pakaian seragam tanpa tanda pangkat dan bintang. Haji 
Muhammad Rasyidi dengan belangkon, kain dan keris di belakang, 
Mr. Muhammad Nazir Pamuncak berpakaian lengkap hitam (pe¬ 
ninggalan dari Holland) dan Abdulrahman Basewedan berpakaian 


209 



lengkap kebiruan muda. Seorang penghuni hotel yang kebetulan 
berada di beranda hotel ketika para anggota Delegasi turun tangga 
berbisik dengan suara yang dapat didengar : ’ carnaval.’ Terhadap 
suara itu, seorang Indonesia yang sama-sama berdiri di beranda 
itu menjawab dengan spontan : 'pakaian revolusi' (malabisul sau- 
rah). 

Suatu ’anecdote’ diceritakan terjadi pada audensi itu. Pak 
Salim ingin mendapatkan tanda-tangan Raja Faruk. Beliau melu¬ 
cu yang diikuti oleh Raja Faruk dengan ladenan yang simpatik. 
Ketika Pak Salim merasa bahwa suasana sudah memungkinkan, 
beliau mengeluarkan notes dan vulpennya. Sesudah membubuh¬ 
kan tanda tangan, Raja Faruk terus memasukkan vulpen itu ke sa¬ 
ku bajunya. Pak Salim yang ingin mengingatkan Raja berkata : 
"Vulpen saya” ?, dijawab Raja : 'Ini buat saya dan akan saya 
pergunakan untuk pengesahan naskah perjanjian persahabatan an¬ 
tara Mesir dan Indonesia’. Jawaban yang menggembirakan semua 
hadirin itu menyebabkan Pak Salim yang pantang kalah itu me¬ 
ngaku : "Saya menyerah.” 

Resepsi Pengakuan Mesir 

Sebagai bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada 
pemimpin-pemimpin Mesir dan Arab, Delegasi R.I. pada 9 Juni 
1947, sehari sebelum penanda-tanganan Perjanjian Persahabatan, 
Hubungan Diplomatik dan Perdagangan Mesir-Indonesia, menga¬ 
dakan resepsi di Semiramis Hotel, satu hotel kias satu lainnya di te¬ 
pi Sungai Nil. Resepsi yang diadakan ketika Liga Arab mengada¬ 
kan sidang, dihadiri oleh para Perdana Menteri dan Menteri Luar 
Negeri Arab dan pembesar-pembesar Mesir, Arab dan Islam yang 
berada di Kairo. Pada resepsi itu diputar pula ’Film Proklamasi’ 
yang telah kami robah menjadi berbicara bahasa Arab. Resep¬ 
si ini telah memberi kesempatan bagi Delegasi R.I. untuk ber¬ 
kenalan dengan pemimpin-pemimpin Arab itu sebelum mereka 
mengunjungi negara-negara Arab lainnya. Pemutaran ’Film Pro¬ 
klamasi’ itu telah banyak pula memberi pengertian kepada pe- 


210 



mimpin-pemimpin Arab itu akan kenyataan yang hidup di Indo¬ 
nesia, sehingga pemimpin Palestina M. Ali Taher mengatakan ke¬ 
pada hadirin sekelilingnya : ”Sungguh-sungguh kita telah menyak¬ 
sikan kelahiran satu bangsa.” 

Raja Faruk hadir in cognito 

Adalah suatu ’surprise’ yang mengagumkan bahwa ketika 
saya yang berdiri di pintu gerbang menuju ke ruangan penerimaan 
tamu, dengan tugas memperkenalkan para tamu kepada tuan 
rumah (H. A. Salim), tiba-tiba kelihatan seorang bertubuh besar 
dan tinggi, berkumis pirang dan berpakaian sport, menaiki tangga 

dengan diiringi oleh beberapa pemuda tegap dan ’ganteng.’ Pada 
pandangan pertama telah terlintas wajah Faruk, tetapi saya masih 
belum percaya kepada mata saya bahwa yang melintas di depan 
saya itu sambil tersenyum itu benar-benar Raja Faruk. Tanpa 
meliwatkan kesempatan, kepada pemuda terakhir saya tanyakan : 
"Jalalatul Malik ?” (Baginda Raja ?), dan dijawabnya dengan 
mengangguk. Seperti aliran listrik, berita kehadiran Raja di tempat 
resepsi Delegasi R.I. segera menjalar ke semua pengujung. De¬ 
ngan segera pula saya mendekati H.A. Salim dan membisikkan 
kepadanya kehadiran Raja Faruk in cognito (menyamar) di ruang 
hotel yang besar itu. Kepada beliau saya sarankan supaya pada 
pembukaan pidato nanti supaya penghormatan dan terima-kasih 
sebesar-besarnya ditujukan pertama kali kepada Baginda Raja, 
tanpa menunjukan kehadirannya. 

Resepsi yang merupakan perayaan bagi pengakuan de facto 
dan de jure pertama bagi R.I., mendapat perhatian penuh oleh 
harian-harian Kairo yang terbit besoknya, dan demikian pula 
’ Film Proklamasi ’ yang dikatakan sungguh mencerminkan tekad 
bangsa Indonesia buat mempertahankan kemerdekaannya. Keha¬ 
diran Rajapun mendapat komentar pertanda persahabatan Mesir- 
Indonesia, karena nama Faruk waktu itu masih populer di kala¬ 
ngan rakyat sebagai lambang tentangan kepada Inggris. Kecelakaan 


211 



mobilnya di Ismailia yang hampir membawa mautnya dianggap 
rakyat sebagai usaha Inggris hendak membunuhnya, sebagai 
mereka telah membunuh sebelumnya, Ahmad Hasanein Pasya, 
Kepala Kabinet Istana, dengan menubruk mobilnya di atas jemba¬ 
tan Kasrun Nil, di tengah kota Kairo. 

Kemudian Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya, Perdana Menteri 
merangkap Menteri Luar Negeri Mesir, mengadakan jamuan 
makan di ’ Muhammad Ali Club,’ guna menghormati Delegasi 
R.I., dengan dihadiri juga oleh para PM dan Menlu Arab yang 
masih berada dipusat Liga Arab itu. 

Naskah Perjanjian Persahabatan Indonesia - Mesir. 

Perjanjian Persahabatan antara Indonesia dan Mesir yang 
ditanda tangani pada 21 Rajab 1366 H dan bersamaan dengan 
10 Juni 1947 M itu telah diratifikasi (disyahkan) oleh Komite 
Kerja pusat Parlemen Indonesia Sementara pada 17 Januari 194 8 
dan disiarkan naskah bahasa Indonesianya oleh 'Lembaga Negara,’ 
sebagai lampiran bagi Undang-undang Nomor 2 tahun 1948. 
Naskah Perjanjian tersebut adalah sebagai berikut : 

PERJANJIAN PERSAHABATAN ANTARA REPUBLIK 
INDONESIA dan KERAJAAN MESIR 

"Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia 
dan 

”Sri Baginda Raja Mesir. 

(1) Saya nukilkan seluruh naskah perjanjian ini, karena ia itu merupakan yang 
pertama dalam sejarah Indonesia merdeka. Maka Mesir tidak saja pertama 
negara yang mengakui kemerdekaan dan kedaulatan R.I., tetapi juga pertama yang 
mengadakan perjanjian persahabatan, hubungan diplomatik dan perdagangan. 
Akan diketahui bahwa Mesir adalah juga negara pertama yang mengadakan 
Perjanjian Kebudayaan dengan R.I. Perjanjian pertama itu adalah yang pertama 
sekali diratifikasi (disyahkan) oleh Komite Pekerja Pusat (Parlemen RI)sesu¬ 
dah Proklamasi dan Perjanjian Kebudayaan pula perjanjian pertama disyahkan 
oleh Dewan Perwakilan Rakyat, hasil Pemilihan Umum pertama di wilayah RI. 


212 



Oleh karena mengandung keinginan yang ikhlas untuk 
mengokohkan pertalian Persahabatan antara kedua belah pihak 
dan antara kedua negerinya, telah memutuskan menetapkan 
sebuah Perjanjian Negara bagi menentukan peraturan-peratman 
untuk mempererat perhubungan bersetuju antara mereka, maka 
bagi maksud itu masing-masing telah mengangkat seorang wakil 
yang dikuasakan yaitu: 

Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia mengua¬ 
sakan Paduka Yang Mulia Haji Agus Salim, Menteri Muda Luar 
Negeri dan Ketua Utusan dari Republik Indonesia; 

Sri Baginda Raja Mesir menguasakan Paduka Yang Mulia 
Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya, Perdana Menteri dan Menteri 
Luar Negeri, yang kedua tuan-tuan kuasa itu setelah menunjukan 
surat kuasanya yang sah dan lengkap, telah semupakat atas 
ketentuan-ketentuan yang berikut : 

Pasal 1. 

Kedua belah pihak dalam Peijanjian ini masing-masing 
menyanggupi akan memeliharakan baiknya perhubungan ter¬ 
hadap kepada pihak yang lain, serta mempererat pertalian per¬ 
sahabatan yang menghubungkan antara rakyat pihaknya dengan 
rakyat pihak yang lain dan mengadakan peraturan yang perlu- 
perlu, masing-masing di dalam daerah negaranya, bagi mencegah 
perlakuan tiap-tiap perbuatan yang melanggar hukum terhadap 
kepada keamanan damai atau ketenteraman pada pihak yang lain. 

Pasal 2. 

Kedua belah pihak dalam Peijanjian ini semupakat akan 
mengadakan perhubungan diplomasi dan konsulat antara kedua 
negaranya. Utusan-utusan diplomasi, demikian juga penjabat- 
penjabat konsulat dari pada tiap-tiap antara dua belah pihak 
itu beroleh perlakuan istimewa yang terpakai menurut umumnya 
azas-azas Hukum Internasional Umum, yaitu dengan memakai 
asas persamaan perlakuan antara kedua belah pihak. 


213 



Pasal 3. 

Kedua belah pihak dalam Perjanjian ini memutuskan akan 
mengadakan pula sebuah perjanjian perniagaan sementara, berse- 
tujuan dengan dua pucuk surat yang diiringkan kepada Perjanjian— 
Negara ini. 


Pasal 4. 

Kedua belah pihak akan mengesahkan Perjanjian-Negara 
ini selekas dapat dilakukannya. Dan mulai berlakunya dari tanggal 
serah-menyerahkan surat-menyurat pengesahan itu di Kairo, dan 
berlakunya untuk masa lima tahun dengan berlangsung terus 
dengan sendirinya, pada hal masing-masing dari pada ke dua belah 
pihak boleh membatalkan itu asal dengan memberi tahu kepada 
pihak yang lain waktu tiga bulan sebelumnya. Untuk bukti mana 
yang berkuasa penuh tersebut di atas telah menanda tangani 
Perjanjian ini dan membubuhinya dengan materainya masing-ma¬ 
sing. 

Pasal 5. 

Surat Perjanjian Negara ini diperbuat dengan naskah yang 
sama bunyinya dan sama kekuatannya dengan bahasa Arab, baha¬ 
sa Indonesia dan bahasa Perancis. 

Tertulis di Kairo padahari tanggal 21 bulan Rajab tahun 
1366, bersama dengan hari tanggal 10 bulan Tuni tahun 1947. 


ttd. 


ttd. 


H.A. Salim M.F. Nokrasyi 

10/IV/47 


Bersamaan dokumen di atas terdapat dokumen lain ber- 
bentuk surat dari YM Mahmud Fahmi Nokrasyi, PM dan Menlu 
Mesir, kepada YM Haji Agus Salim Menteri Muda Luar Negeri dan 


214 



Ketua Delegasi R.I., mengenai perjanjian perniagaan yang telah 
disebutkan dalam Perjanjian Persahabatan di atas itu. Dokumen 
yang ada pada saya dalam bahasa Perancis dan terjemahannya 
adalah sebagai berikut : 

Kairo, 10 Juni 1947. 

”Kementerian 
Luar Negeri. 

” Yang Mulia, 

Menunjuk pasal 3 dari Perjanjian Persahabatan yang ditanda 
tangani hari ini, dan yang mengenai persetujuan perniagaan se¬ 
mentara antara Mesir dan Indonesia, dengan hormat saya memberi 
tahukan kepada YM bahwa Pemerintah Mesir menyetujui mene¬ 
rapkan perlakuan negara sangat diutamakan terhadap semua hasil 
bumi dan industri biasa Indonesia yang diimport oleh Mesir, 
baik untuk konsumsi dalam negeri atau untuk diexport lagi atau 
sebagai transit. Buat sementara perlakuan itu akan diterapkan 
pada hasil-hasil yang akan diimport oleh Mesir melalui negara 
yang belum mempunyai persetujuan perniagaan dengan Mesir. 

Perlakuan ini akan diterapkan atas dasar perlakuan timbal 
balik penuh. 

Persetujuan ini akan dapat dilaksanakan di kala YM telah 
memberikan konformasi kepada saya persetujuan Pemerintah YM 
dan buat selama satu tahun yang dapat diperbaharui menurut 
isinya sekarang. Persetujuan ini dapat dibatalkan oleh masing- 
masing Pihak-Kuasa asal memberitahukan tiga bulan sebelumnya. 

Saya mengambil kesempatan ini guna memperbaharui ucapan 
hormat saya yang setinggi-tingginya kepada YM.” 

Yang Mulia, 

Haji Agus Salim, 

Ketua Delegasi Indonesia 


Menteri Luar Negeri, 
ttd 

(Mahmud Fahmi Nokrasyi) 


215 



TRAITR D'AKTrS B N T H B LA REPUBLI^JB D'IHDOWSIE 


E T 

XX ROYAJJIE D'EGFYPTE. 


3on Bzoallenoa la Pr6sldant da la R6publlqua d*Indonesia 
at * 

3a MaJeatA la Kol d'Bgypta 

anlnes du desir da renforoer las llans d'an&tie entra oux at antre 
laora dauz paya, ont r6solu da oonclure un tralta dastlnA a oonsa" 
orar las raglas pour la davaloppemsnt da laurs ralatlons eardlalea 
•t ont d oat effet dfisignA coana laurs P16nlpotentlalrea, k savoir t 

San Bzoallanoa la Prasldent da la Rapubllqua d 8 Indonesia 
3on Bzoallenoa Hadjl Agua Salin, VIo® Ittnlatra daa Af f air a a Etran- 
giras at Chef da la D414gation da la R6publiqua d'Indonesia, 

Sa Majestl la Rol d'Bgypta 

3on Bzoallanoa Kahnoud Pahmy Nokraohl Pacha, PrAsldent du Consall 
daa HLniatrea at MLnlatra das Affairea Etrang4res, 

laaquala «pres s'dtra ooanunique laurs plalna pouvoirs, trouvAs an 
bon» a t dua fon», sont o on venus daa dlsposltlona sulvantaa t 

Artlola 1. 

Chaou» daa Htfttea Partlas Contraotantas a'angaga i entretanlr 
avao l'autra la palz oonatanta at das ralatlons asdoalaa) da resaer- 
rar los llans d'avltlts hlstorlquas at affinltts naturallas qui 
unlssant sss sujats avao oauz da l'autra partla at a prenlre toutas 
■i sura s pour prevanlr, sur son tsrritolra, la parpitratlon d'aotas 
1111 oltas # dlrlgAs oontra la palz ou la tranqulllite da l'autra 
partla• 

•A 


216 




Artiole 2< 


Les Hautes Partlea Contraotantes se trouvent d'aooord pour 
Atablir les relatlons dlplomatlques e t oonsulalres entre Isa dstuc 
Btats. Les reprAsentants diplomatlqu®a, de msne que les agents 
oonsulalres de chacune d*elles, Jouiront I tltre de rAolprooltA, 
dana le terrltolre de l'autre du traiteraent oonaaerA par les prln- 
olpes gAnArau* du Droit International Pub lio. 


Artiole S. 

Les Hautes Partlea Contraotantes ont oonrann de oonolure un 
aooord comneroial provieoire. 

Artiole 4. 


Le prAsent traitA sera ratlflA et ses ratiPioations seront 
AohangAes m Caire aussltOt que faire se pourraf 11 entrera en 
rlgueur dAs l'Aohange des Instruments de ratlfloatlon et sara ts- 
lable pour une pArlode de oinq ans» renouvelable par taoite reeon- 
duotion, sauf dAnonolatlon slgniTiAe trois aols arant 1'AohAanos• 

Bn Pol de quoi les PlAnipotentlalrea eua-mentionnAs ont slgnA 
le prAsent traitA e t y ont apposA leurs soeacuc. 

Artiole 5. 

Le prAsent traitA est falt au Caire, d'un aeul terte at d*un 
seul effet sn langues Arabe, IndonAslenna et Franqaiss. 

Le Cairs, le 21 Ragab 1366 ( 10 JUln 1047 ) 




APPAtmm* ImimtM* 


0_ JUIS ,«43 


Mi rifiraat I l'artlola S da trmlti d'«nltl6 slgnS «u 
Cair» an data d'tfijourd'inl conoernant 1« ooncluaion d'un 
aooerd a n — ralal proriaoira antr» l'Kgypte «t 1‘Indonesia 
J'al l*honnanp d'lnfap—p VotPa UmUiui qu. la UouTsrn»- 
■•n» IdPPtlan eoa—nt t appllipap 1 » tr.lt.— nt de 1 , natlon 
la pin. fa—rlada l tana laa prodult. da aol at da l'Iirluatrt. 
oridlnalra da l'Indondala l*>ortd. an Bgppta at daatinda aolt 
i la oon><—tlon aolt t la Pdaapddltlon oa aa tranalt. Pro- 
al.0lP.-at, 1. dlt tralt—nt -p. appll^l atus prodalt» qul 
«.Pont l-poptd. an Sgppt. p„ l. adi. d . p,j. n ,„ ant p „ 
l'Bgypta das arraogaaanta o<wnaroi*ux. 

0. '*gl— «at aooopdi 1 oondltlon da papf.lt. rdolprooltd. 
1. PPdaant app.ne.-nt «ntp.P. , n riguau, 

™“ “** bI * n "- 1 ” » «onflp—p l'aeoopd do Votr. SauTaPna- 
« - p»p o- dnPd. d-o- annd. panou—lajbla p„ t.UU 
P.oondootlon. II poopp. dtP. ddnon* P.P ohaonn. d.. 
ContPaotantaa «op.nnrt «n prd.vi. 4 . tPol. «o!., 

1« aalal. 1-000..1» d. P.no.,1., , Votp . 

*• « hanta oon.lddP.tlon. 

“ ““S™* «a APPdlBS STRiBKSKS 

UL- }■ . 

8oi isBLotaai 

a 8 WI 4003 8 AUM 

d. 1 . Ddldd.tlon Indondalan—, 




219 



H.A. Salim, Ketua Delegasi R.I., bersama H. 
Rasjidi menyampaikan terima kasih Indone¬ 
sia kepada (alm) Syeikh Hassan Banna, Ketua 
Umum oiganisas Ikhwanul Muslimin yang ku¬ 
at sekali menyokong perjoangan Indonesia. 




Demikian naskah Perjanjian Persahabatan, Hubungan Diplo¬ 
matik dan Konsuler serta Perniagaan antara R.I. dan Mesir, 
Perjanjian itu selain telah mematahkan kepungan diplomasi Belan¬ 
da terhadap Indonesia, juga telah menutup pintu bagi kegiatan 
permusuhan negara kolonial ini terhadap R.I. di Mesir khususnya 
dan di Timur Tengah umumnya, mengingat semua tindakan Me¬ 
sir dalam menyokong Indonesia selalu diikuti oleh negara-negara 
Arab lainnya. 

Delegasi R.I. mengunjungi Negara Arab lainnya : 

Suria Mengakui dan Menanda-tangani Perjanjian Persahabatan 

liga Arab telah menghubungi negara-negara Arab anggota¬ 
nya supaya menerima Delegasi R.I. sebagai tamu negara. Mu¬ 
hammad Abdulmun’im yang selalu mendampingi Delegasi selama 
di Mesir itu, ditugaskan Liga Arab lagi menemani Delegasi R.I. 
dalam kunjungannya ke negara-negara Arab itu. 

Negara pertama yang dikunjungi adalah Suria. Di Damaskus 
Delegasi R.I. mendapat sambutan hangat dari pihak resmi dan 
rakyat. Soal pengakuan tidak menjadi pembicaraan lagi. Segala 
sesuatu beijalan lancar, sehingga pada tanggal 3 Sya’ban 1366, 
bersamaan dengan 2 Juli 1947 telah ditandatangani pula Perjan¬ 
jian Persahabatan, Hubungan Diplomatik dan Konsuler antara R.I. 
dan Republik Suria. Republik Indonesia tetap diwakili oleh 
H.A. Salim, sedang Republik Suria oleh Jamil Mardam Bey, 
Menteri Luar Negerinya. 

Naskah Perjanjian Negara itu serupa isinya dengan Perjanjian 
Negara R.I.-Mesir. Hanya dalam Perjanjian Suria R.I. tidak 
termasuk perjanjian perniagaan pasal 3. Dari itu tidak akan saya 
nukilkan lagi naskah Perjanjian itu di sini. 

Naskah Perjanjian ini juga telah diratifikasi oleh Komi¬ 
te Kerja Pusat Parlemen Sementara R.I. dan disiarkan dalam 
”Lembaga Negara” pada tahun 1948. 


221 



Transyordania Menangguhkan. 

Dari Damaskus Delegasi Indonesia ke Amman, ibukota Trans¬ 
yordania (Yordania sekarang) yang baru berpenduduk 300.000 dan 
masih hampir seluruh anggaran belanjanya dibantu Inggris, bahkan 
tentaranya masih di bawah pimpinan perwira-perwira Inggris.. 
Amir Abdullah, penguasa -daerah itu yang kemudian dibunuh 
seorang pemuda Palestina, sebagai penanggung jawab jatuhnya 
wilayah itu ke tangan Yahudi, meminta kepada Delegasi R.I. 
supaya penyempurnaan formalitas pengakuan kemerdekaan dan 
kedaulatan R.I. ditangguhkan, meskipun menyatakan bahwa nega¬ 
ranya menyokong keputusan Liga Arab pada 18 Nopember 
1946 itu. 


Irak Mengakui, dan Menangguhkan Perjanjian. 

Sesudah Amman, Delegasi meneruskan kunjungannya ke 
Baghdad, Irak. Sebelum ke sana Panitia Indonesia di sini telah 
mempersiapkan penyambutan, baik di pihak rasmi ataupun di ka¬ 
langan rakyat. Penyambutan di ibukota Harunarrasyid ini ada¬ 
lah bersemangat dan meriah pula. Harus diakui bahwa meskipun 
rakyatnya seratus persen menyokong, kalangan rasmi dalam tin¬ 
dakan-tindakannya masih memperhitungkan dalam soal Indonesia 
ini, kehadiran Inggris -yang menyokong Belanda- di wilayahnya. 
Di samping itu, permusuhan (rivalty) yang dihidup-hidupkan 
Inggris antara Dinasti Muhammad Ali (Mesir) dan Dinasti Ha- 
syimiah(Irak dan Yordania) -kedua-dua wilayahnya masih di du¬ 
duki Inggris itu , kadang-kadang menyebabkan salah satu negara 
itu tidak mengikuti jejak yang lain. Maka Irak telah mengumum¬ 
kan pengakuannya atas kemerdekaan dan kedaulatan R.I. sebagai 
diwasiatkan Dewan Liga Arab itu, tetapi masih menangguhkan pe¬ 
nanda tanganan suatu perjanjian persahabatan dan lain-lain seperti 
yang diperbuat Mesir. Ini tidak berarti bahwa Irak kurang ber¬ 
semangat menyokong Indonesia, karena dalam penutupan pela¬ 
buhan udaranya terhadap pesawat-pesawat udara Belanda -sesudah 


222 



aksi militer Belanda pertama- Irak lebih dahulu mengambil tin¬ 
dakan itu dari Mesir. Bahkan waktu kami di Timur Tengah 
mengadakan perlawanan di bawah tanah terhadap Belanda dan 
Sekutu-sekutunya, Pemerintah Irak dengan diam-diam banyak 
memberi pertolongannya, seperti telah saya ceritakan di atas. 
Selain itu pertentangan antara Nuri Said Pasya (terbunuh ketika 
coup d‘etat di Irak tahun 1958) yang pro Inggris dan Azzam 
Pasya yang anti Inggris itu, seperti telah saya ceritakan, juga mem 
pengaruhi sikap Irak yang waktu itu masih dipengaruhi klik Nuri 
Said Pasya itu. 

Lebanon Mengakui. 

Dalam Perjalanan kembali dari Irak melalui Suria, Belanda 
melancarkan Aksi Militernya yang pertama. Sementara itu Delega¬ 
si R.I. meneruskan perjalanan ke Beirut, Lebanon. Di sini terjadi 
yang menakjubkan. Dalam penilaian semula, negara yang sangat» 
dekat Barat ini, tidak akan mengumumkan pengakuannya. Tetapi 
Riadh Solh Bey, seorang pejoang veteran Muslim, kebetulan me¬ 
megang pimpinan pemerintahan sebagai Perdana Menteri. Dan 
ia hadir pada resepsi Delegasi R.I. di Kairo dan menyaksikan 
’Film Proklamasi’ yang mengesankan itu. Maka dengan segala 
keterharuan, Delegasi R.I. menerima pengumuman resmi Lehanon 
mengenai pengakuannya terhadap R.I. sebagai negara yang merde¬ 
ka dan berdaulat. 

Saudi Arabia Mengakui. 

Haji Agus Salim Ketua Delegasi R.I. meminta maaf kepada 
Raja Ibnu Saud, karena tidak dapat meneruskan perjalanannya ke- 
Jeddah, setelah Belanda melancarkan agresinya dan beliau diangkat 
menjadi Menteri Luar Negeri dan harus berangkat ke New York 
bersama Sutan Syahrir untuk menghadiri perdebatan soal Indo¬ 
nesia di Dewan Keamanan PBB. Maka yang berangkat ke sana 
adalah H.M. Rasyidi, sebagai Kuasa Delegasi, setelah Delegasi ini 
berobah menjadi Misi Diplomatik R.I. Tetap di Timur Tengah. 


223 



Pada 8 Muharram 1367 dan bersamaan dengan 21 Nopember 
1947 Kerajaan Saudi Arabia telah mengakui kemerdekaan dan 
kedaulatan R.I. dan juga menyetujui mengadakan hubungan 
diplomatik antara ke dua negara. 

Kerajaan Yaman Mengakui. 

Kerajaan Yaman (Republik Arab Yaman utara sekarang) 
waktu itu masih tertutup dan belum mempunyi perwakilan di lu - 
ar. negeri selain di Liga Arab. Pada 20/4/48 Ali Al-Muayyad, 
Wakil Yaman pada Liga tersebut telah mendatangi Kuasa Usaha 
R.I. di Mesir H.M. Rasyidi untuk menyampaikan pengakuan 
Kerajaan Yaman terhadap R.I. sebagai negara yang merdeka dan 
berdaulat. 

Maka dengan pengakuan Yaman itu, semua negara Arab 
yang telah merdeka waktu itu selain Transyordania, -telah menga¬ 
kui de facto dan dejure Republik Indonesia sebagai 
negara yang merdeka dan berdaulat penuh. 

Kerajaan Afghanistan mengakui. 

Harian ’Al-Ahram’ tanggal 19 September 1947 menyiarkan 
"Pemerintah Afghanistan telah mengakui Republik Indonesia dan 
telah mengawatkan kepada Dutanya di Washington supaya me¬ 
nyampaikan kepada Dr. Syahrir Perdana Menteri Indonesia”. 
Dalam buku ’lllustration of the Revolution’ yang diterbitkan 
oleh Kementerian Penerangan R.I. bulan Desember 1949 bagian 
’Important Events’ halaman XI tercatat : ”23 (September 1947) 
The Government of Afghan recognized the Republic.” Maka 
kemungkinan sekali catatan Kementerian Penelitian itu menurut 
sampainya berita itu ke Yogyakarta. Pada 30 September 1947 
saya menemui Bung Syahrir mengunjungi Duta Afghanistan di 
Kairo guna menyampaikan terimakasih Pemerintah R.I. terhadap 
pengakuan itu. 


224 



Dengan demikian, Kerajaan Afghanistan adalah satu-satunya 
negara di luar negara-negara Liga Arab yang mengakui de facto dan 
de jure kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia sampai 
Belanda mengakuinya pada bulan Desember 1949. 

Sampai Desember 1949 hanya negara-negara Islam yang mengakui 

Dan dengan demikian pula, sampai Kerajaan Belanda menga¬ 
kui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia, de facto 
dan de jure, pada bulan Desember 1949. Hanya negara-negara 
Islamlah yang telah mengakui de facto dan de jure kemerdekaan 
dan kedaulatan R.I. Kalau ada negara-negara lain yang mengakui, 
hanyalah dalam batas de facto-nya saja, seperti, India, Pakistan, 
dan lain-lain. 



TIMUR TENGAH DAN AKSI MILITER BELANDA 


Aksi Militer Belanda Pertama 

Tepat pada bulan suci Ramadhan, ketika Kaum Muslimin 
sedang menunaikan wajib puasa, dan setelah Republik Indonesia 
memenuhi syarat wujud internasionalnya, dengan pengakuan 
negara-negara Arab akan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia, 
Belanda pada 21 Juli 1947 melancarkan aksi militer pertama ter¬ 
hadap Republik Indonesia, dengan maksud menghancurkan negara 
yang telah mendapat pengakuan internasional itu. 

Bagi mereka yang mengikuti perkembangan situasi di Indone¬ 
sia, kejadian ini tidak begitu mengejutkan, meskipun terjadinya 
pada bulan suci itu bagi penduduk Timur Tengah yang ber¬ 
agama Islam itu dan yang selalu mengingat praktek-praktek kaum 
salibiyah di daerah itu, telah menimbulkan kemarahan. Karena dua 
hari saja sebelum kejahatan itu, Pemerintah Belanda telah mengu¬ 
mumkan diparlemennya bahwa : "Belanda tidak dapat menang¬ 
guhkan lagi keputusan yang harus diambilnya mengenai Indone¬ 
sia .dan pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia 

tidak mungkin lagi dalam keadaan sekarang.” Sementara itu, da¬ 
lam satu pertemuan yang dihadiri oleh Konsul-konsul Perancis, 
Cina dan Australia, Konsul Jenderal Inggris telah ’menasehatkan’ 
kepada pemimpin-pemimpin Indonesia yang menghadiri pertemu¬ 
an itu supaya ’melaksanakan tuntutan-tuntutan Belanda,’ yang 
berarti dalam kamus politik Inggris di Timur Tengah suatu 'ultima¬ 
tum,’ yang wajib ditaati. 


226 




Bung Syahrir lolos 

Bersamaan dengan berita serangan bersenjata itu, diberitakan 
pula bahwa Sutan Syahrir telah sampai di Singapura, setelah ber¬ 
hasil meloloskan diri dari kepungan Belanda. Ditengah-tengah 
berita suram itu, berita kelolosan Bung Syahrir itu banyak membe¬ 
ri harapan bagi peijoangan yang harus lebih digiatkan lagi di lapa¬ 
ngan intemational. Karena nama beliau dikenal dilapangan 
tersebut, terutama di Amerika Serikat sebagai pemimpin anti- 
facist yang berwibawa menentang pendudukan Jepang di Indo¬ 
nesia. • 

Usaha-Usaha Pertama 

Ketika Belanda memulai kejahatannya itu, Delegasi R.I. ma¬ 
sih dalam perjalanan kembali dari Irak menuju Lebanon, melalui 
Suria. Yang berada di Kairo hanya Mr. Nazir Pamoncak yang sege¬ 
ra kembali dari Irak karena tidak tahan panas udara Bagdad di- 
bulan Juli. Usaha-usaha kami pertama dalam menyelamatkan ke¬ 
merdekaan dan kedaulatan R.I. yang terancam itu, adalah meng¬ 
hubungi Pemerintah Mesir, 1 Perwakilan-perwakilan Arab dan Islam 
di Kairo dan Sekjen Liga Arab, A.R. Azzam Pasya yang sedgng 
berada di New York menghadapi soal-soal konflik Mesir-Inggris 
dan soal Palestina. Bersama-sama dengan penerangan mengenai 
perkembangan situasi terakhir di Indonesia, juga kami teruskan 
kepada mereka pernyataan Pemerintah R.I. yang antara lain me¬ 
ngatakan : 

”Perang yang dilancarkan Belanda hari ini tidak lain adalah sebagi¬ 
an dari penderitaan yang dihadapi 70 juta Ummat Islam Indonesia. 
.Inggris dengan segala kekuatan yang dimilikinya menyo¬ 
kong Belanda dalam menghadapi Ummat Islam Indonesia.” 

Dan Seruan Indonesia kepada para Kepala Negara Arab dan Islam 

yang antara lain mengatakan : ”.Kami telah menanda-tangar 

ni perjanjian dengan Belanda, di mana mereka telah mengakui 
kemerdekaan dan kedaulatan negeri kami. Tetapi mereka telah 


227 







228 


Gambar Bung Syahrir, lolos dari kepungan Belanda, ketika sampai di Kairo ha¬ 
nya dengan selembar kemeja dan pentalon saja, sedang melalui duane. Di kanan¬ 
nya H.A. Salim dan di ujung kanan M.A. Mun’im Beg. 




kecanduan penjajahan, tidak dapat meninggalkan kerakusannya. 
Oleh karena itu, kami menghadapkan Seruan ini kepada para 
Kepala Negara Arab supaya menyokong peijoangan kami. Kami 
akan terpaksa sekarang menghancurkan apa yang telah kami bina 
selama ini, guna mempertahankan diri kami, dan akan terpaksa 
menjalankan politik ’bumi hangus.’ Tidaklah mungkin bagi suatu 
bangsa hidup bersenang-senang, sedang kehormatan tanah-aimya 
diinjak-injak oleh kaki penjajahan. Kami akan merasa lebih baik 
negeri kami hancur-lebur, menjadi gundul dan gersang, daripada 
hidup tenteram, sedang kemerdekaan dan kehormatan kami di¬ 
injak-injak.” 

Pernyataan-pernyataan Ketua Delegasi R.I 

Haji Agus Salim, Ketua Delegasi, R.I. yang sedang meliwati 
Suria ketika Belanda menyerang itu, menyatakan kepada para war¬ 
tawan di Damaskus : ”Kami memang memperkirakan bahwa 
Belanda akan melancarkan peperangan. Karena ia telah menyiap¬ 
kan 70.000 kekuatan untuk menyerang Jawa dan Sumatera 
Kami akan menghadapi perang itu di darat, laut dan udara. Kami 
mempunyai 250.000 kekuatan bersenjata ringan .... Kamijuga- 
mempunyai rimba untuk perang gerilya. Tentara Indonesia akan 
membumi hanguskan segala sesuatu, sekiranya terpaksa mundur, 
sehingga Belanda tidak akan dapat memanfaatkan apapun jua.” Pa¬ 
da pernyataan lain dikatakannya: ’Tnggris bertanggung jawab akan 
perkembangan situasi di Indonesia sebagai sekarang ini, yang telah 
membawa kepada pecahnya perang antara Indonesia dan Belanda.” 

Delegasi R.I. sampai di Beriut, Lebanon, pada 24/9/47. 
Berita-berita dari sini telah menyebut beliau ’Menteri Luar Negeri,’ 
karena memang telah ditunjuk oleh Pemerintah R.I. Kepada war¬ 
tawan beliau menyatakan : ”.Negara kami beijoang memper¬ 

tahankan haknya, Ia adalah korban agresi yang curang .. . . Saya 
akan kembali ke Kairo dan dari sana saya akan menghubunginya 
(Indonesia), bersama Sutan Syahrir, ex-PM yang telah sampai di 
India. Kami akan keijasama dengan negara-negara Liga Arab untuk 


229 




kepentingan bersama.” Kemudian beliau mengulang lagi tentang 
perang gerilya dan politik ’bumi hangus.’ Kepada wartawan New 
York Times di Beirut beliau mengatakan : "Belanda menunda- 
nunda keputusannya mengenai Indonesia, sehingga mereka mem¬ 
punyai waktu cukup guna memperkuat tentaranya. Kemudian 
baru mereka melancarkan agresinya. Mungkin mereka akan mene¬ 
ruskan agresinya, selama tindakannya itu mencapai sebagian 
maksudnya. Republik Indonesia sedang berusaha mengatur keija- 
sama sedapat mungkin dengan negara-negara Arab dan juga dengan 
India, Pakistan dan Turki.” 

Reaksi-reaksi Dunia Arab dan Islam 

Mesir. Seluruh lapisan rakyat Mesir telah dengan spontan 
menunjukkan simpatinya kepada peijoangan bersenjata bangsa 
Indonesia. Raja Faruk selesai mendengar kuliah Agama di- 
mesjid Rifa’i pada 24/7/47 meminta kepada ribuan rakyat dan 
pembesar-pembesar sipil dan militer yang hadir supaya membaca¬ 
kan A l f a t i h a h dan berdoa’ semoga Tuhan menjauhkan 
malapetaka dari saudara kita bangsa Indonesia. ’Menurut’ Al- 
Ahram’ ' ’ Semua hadirin dengan khusuk mengikuti Baginda Raja 
membaca Alfatihah. Perhatian Raja itu kepada satu bangsa yang 
teraniaya sangat mengesan pada semua hadirin.’ Atas perhatian 
itu Mr. Nazir Pamoncak beserta anggota Panitia Pusat mengunju¬ 
ngi Istana Abidin guna mencatatkan nama dalam Daftar Penghor¬ 
matan Kerajaan dan menemui Wakil Kepala Protokol Istana supa¬ 
ya ia menyampaikan terima-kasih Indonesia. Pada 30/7/47 Raja 
Faruk memanggil Duta Besar Inggris, Kuasa Usaha a.i. Amerika 
Serikat dan Duta Belanda ke Istana Abidin. Menurut ’Al-Ahram’: 
’Dalam audensi berturut-turut, Raja Faruk telah membicarakan 
dengan para Kepala Perwakilan tiga negara yang terlibat di Indo¬ 
nesia itu soal Indonesia dan mengingatkan bahwa berlanjutnya 
situasi sekarang menyakitkan hati Baginda dan hati seluruh Ummat 
Islam. Sri Baginda menyampaikan harapan supaya situasi yang me¬ 
nyakitkan hati itu akan berakhir dengan penyelesaian yang adil.’ 


230 



Kemudian Kabinet Mesir bersidang di bawah pimpinan Ahmad 
Khasyabah Pasya. Sebelum sidang beliau telah berbicara dengan 
Hassan Yusuf Bey, Wakil Kepala Kabinet Raja, mengenai Indone¬ 
sia. Kabinet menugaskan kepada Menteri Luar Negeri a.i. Dasuki 
Ibazah Pasya supaya memanggil Duta Belanda. Setelah pertemuan 
pada 31/7/47, Kementerian Luar Negeri Mesir mengeluarkan 
pengumuman berikut : 

”Hari ini YM Menteri Luar Negeri a.i. telah memanggil YM 
Duta Belanda. Kepadanya, beliau menyatakan kecemasan yang 
semakin memuncak yang dirasakan Mesir, pemerintah dan rakyat¬ 
nya, disebabkan aksi militer Belanda di Indonesia. Kepadanya, 
beliau telah menegaskan pula perhatian Mesir yang sungguh- 
sungguh terhadap penyelesaian soal Indonesia secara adil. Mengi¬ 
ngat hubungan-hubungan baik dan bersahabat yang mengikat Me¬ 
sir dengan kedua negara yang bersengketa itu, Pemerintah Keraja¬ 
an Mesir telah menyatakan kesediaannya untuk memberikan jasa- 
jasa baiknya dalam mencari suatu penyelesaian yang adil bagi 
persengketaan itu. YM Menlu a.i. telah menyampaikan kepada YM 
Duta Belanda itu satu nota berisi sebagai di atas itu.” 

Pada 3/8/47, Menlu a.i. itu menyatakan kepada wartawan di 
Iskandariah : ”Duta Belanda telah menyampaikan jawaban Peme¬ 
rintahnya terhadap nota Mesir mengenai Indonesia. Dalam jawaban 
itu Pemerintah Belanda sangat memperhatikan usaha Mesir untuk 
menyelesaikan persengketaan Indonesia - Belanda. Sementara itu 
saya gembira mengetahui bahwa Belanda telah menerima jasa-jasa 
baik Amerika Serikat guna mencari penyelesaianTernyata ke¬ 
mudian bahwa nota Mesir kepada Belanda itu disampaikan juga ke¬ 
pada Duta Besar Amerika Serikat. Karena pada 5/8/47 Kuasa Usa¬ 
ha a.i. nya menjumpai Menlu a.i. Mesir guna menyampaikan jawab¬ 
an Pemerintahnya. Pemerintah Amerika Serikat yang telah disetu¬ 
jui Belanda melakukan ’jasa-jasa baik’-nya itu, mengucapkan ba¬ 
nyak terima kasih atas usaha Mesir itu. 

Suara pers Mesir mencerminkan kenyataan yang hidup 
dalam masyarakat yang menyokong Indonesia dan mengutuk 


231 



Belanda. ’Al-Ahram pada 23/3/47 mengatakan : "Kelihatannya 
Belanda tidak mempedulikan lagi piagam PBB dan berusaha hen¬ 
dak membuktikan bahwa Dewan Keamanan tidak berdaya me¬ 
nahan tindak-tanduk kolonialisme. Kalau tidak demikian tentu 

ia tidak mengambil jalan kekuatan dan kekerasan.Apakah 

DK—PBB membiarkan Belanda melaksanakan komplotannya 
terhadap R.L. yang muda itu, hanya karena kerakusan kolonial 
yang masih bercengkeram dalam diri sebagian anggotanya, ataukah 
ia akan segera mengambil tindakan-tindakan yang akan meng¬ 
hentikan tragedi itu ? ” 

Harian Partai Al-Wafd terbesar ’ Al-Misri ’ mengatakan : 

”.Tindakan Belanda itu sungguh ganjil dan tidak mungkin 

terjadi jika tidak didorong oleh serakah kolonial yang tidak me¬ 


ngingini berdirinya satu republik merdeka.yang kelahiran¬ 
nya disambut dengan gembira oleh dunia Islam.Mesir yang 


ikut bergembira, bahkan telah mengakuinya sebagai negara yang 
merdeka dan berdaulat, turut merasa disakiti oleh tindakan 
Belanda yang melanggar janji itu dan melancarkan peperangan 
yang tidak mengenal peri kemanusiaan terhadap satu bangsa yang 
ingin damai dan ingin hidup di bawah lindungan kemerdekaan 
dan keamanan.” 

Harian ’ Al-Mukattam ’ pada 25/7/47 mengatakan : ” Belan¬ 
da yang telah diperbudak Jerman, sehingga rakyatnya berteriak- 
teriak minta tolong, Belanda yang digenangi Jerman dengan air- 
asin, sehingga menderita malapetaka kelaparan, Belanda ini di In¬ 
donesia sekarang mendorong penduduk negeri ini untuk membu- 
mi-hanguskan sawah-ladang mereka. Dr. Beel PM Belanda telah 
lupa akan perlawanan bangsanya terhadap kezaliman Philippe .... 
Apakah mereka mau berbuat terhadap rakyat Indonesia, seperti 
yang diperbuat Philippe terhadap bangsa Belanda? Apakah ingat¬ 
an Belanda demikian pelupa?” 

Harian ’Al-Asas’ dari partai yang berkuasa memberitakan ko¬ 
mentar Inggris di London terhadap kawat Abdulrahman Azzas 
Pasya kepada PM Pandit Jawaharlal Nehru, yang seolah-olah 


232 






, mengancam Mesir dengan mengatakan : ’Mungkin pengakuan 
sebagian negara-negara Arab terhadap R.I. dijadikan alasan bagi 
sokongan diplomasinya. Tetapi di London dikatakan bahwa 
Mesir - pelopor negara-negara Arab - akan rugi dengan kehilangan 
sokongan Belanda di DK—PBB dalam konfliknya dengan Inggris.’ 
Terhadap ancaman ini, harian itu mengatakan : ” Mesir yang me¬ 
nuntut kemerdekaan bagi Lembah Sungai Nil di lapangan inter¬ 
nasional, sungguh memandang kemerdekaan itu dengan penilaian 
yang sebenarnya. Tidak peduli, apakah dalam menyokong suatu 
bangsa yang tertindas, Belanda atau lainnya akan marah.” 

Harian ’ Al-Kutlah ’ pada 27/7/47 dengan tajuk ’ Bagaimana 
menolong Indonesia ’ antara lain mengatakan : ”Banyak tulisan- 
tulisan dan resolusi-resolusi yang kami terima mengenai Indonesia 
dan keharusan mengambil tindakan-tindakan positif oleh Mesir 
guna menolongnya. Kami ingin menegaskan bahwa menyokong 
Indonesia tidak mungkin hanya dengan pidato-pidato atau tulisan- 
tulisan, tetapi harus dengan tindakan yang positif oleh Pemerintah 
Mesir sendiri. Mesir harus memutuskan hubungannya dengan Be¬ 
landa, atau memprotes dengan tindakan-tindakan praktis yang 
disertai sanksi-sanksi yang akan dapat menolong Indonesia.” 

Buruh Port Said dan Suez Memboikot Kapal-kapal Belanda 

Semenjak Belanda melancarkan agresinya, dan diberitakan 
bahwa kapal-kapal Belanda yang membawa serdadu dan senjata 
akan melalui Terusan Suez, Panitia Pusat yang telah menjadi 
Kantor Penerangan R.I., menghubungi golongan-golongan buruh 
di pelabuhan-pelabuhan daerah itu. Pihak resmi yang dihubungi 
tentang penutupan kanal bagi kapal-kapal Belanda menyatakan 
bahwa itu tidak mungkin, karena Mesir terikat oleh Perjanjian 
1888 yang memberi kebebasan lalu-lintas di terusan tersebut. 
Adapun pemboikotan, yaitu tidak memberi perbekalan makanan 
dan air yang diperlukan tiap-tiap kapal yang datang dari Eropa, 
terserah kepada kebijaksanaan setempat. Maka dianjurkan kepada 


233 



para buruh di sana supaya memboikot kapal-kapal itu. Kepada 
mereka kami sampaikan juga seruan bersama Pimpinan-pimpinan 
Pusat Pemuda Islam Indonesia, Pemuda Indonesia dan Persatuan 
Mahasiswa Indonesia pada 1/8/47 yang ditujukan kepada sindi¬ 
kat-sindikat buruh di pelabuhan-pelabuhan Port Said, Suez, Aden, 
Kolombo dan Singapura, supaya memboikot kapal Belanda ”Vo- 
lendam” yang sudah berangkat dari Belanda pada 30/7/47 dan 
kapal-kapal Belanda lainnya. 

Sebelum kapal ”Volendam” itu sampai di Port Said, kami 
telah mengirim Sdr. Fouad Fakhruddin ke sana guna menghubungi 
kelompok-kelompok buruh itu. Untuk membantunya ditunjuk 
K.Y. Mr. Nazir Pamoncak menyesalkan penunjukan itu, karena 
tindak-tanduk yang bersangkutan selama ini yang merugikan. 
Dari Port Said Fouad Fakhruddin menelepon saya meminta supa¬ 
ya dicarikan bom-bom, karena ada dikalangan buruh itu yang ber¬ 
sedia mempergunakannya. Pembicaraan dengan bahasa Arab itu 
segera saya alihkan, karena dicurigai sekali bahwa telepon kami 
itu disensor. 

Pada 9/8/47, kapal ”Volendam” itu telah sampai di Port 
Said. Ribuan penduduk dan buruh setempat telah berkumpul 
di pelabuhan itu dan puluhan motor-boat berkeliaran dipermukaan 
air guna menghalangi motor-motor-boat kepunyaan perusahaan- 
perusahaan 'asing yang mendekati kapal-kapal tersebut guna me¬ 
nyampaikan makanan dan air. Motor-motor-boat yang penuh de¬ 
ngan buruh-buruh militant, terutama dari Ikhwanul Muslimin, 
membawa bendera merah-putih dan gambar-gambar Raja Faruk. 
Apa yang terjadi di Port Said itu, Saya nukilkan di sini laporan 
wartawan ’ Al-Balagh ’ pada 10/8/47 sebagai berikut : 

”Para demonstran telah mengejar-ngejar motor-boat motor- 
boat pengangkut air yang berusaha memberikan air dan makanan 
kepada kapal itu dan dipaksa kembali ke pelabuhan. Sesudah 
setengah jam kapal itu berlabuh, sebuah motor-boat pengangkut 
air dan makanan yang dijaga keras oleh 20 orang polisi bersenjata 
mendekati kapal itu beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Be¬ 
landa berasal Inggris dan Direktur perusahaan yang mengurus . 

234 



kapal-kapal Belanda di pelabuhan tersebyt. Motor-motor boat 
yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan 
sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. Mereka menyerang 
kamar stirman, menarik ke luar petugas-petugasnya, dan mem¬ 
belokkan motor-boat besar itu kejuruan lain. Mr. Blackfield 
bersama-sama polisi yang tidak mempergunakan senjatanya 
berusaha menguasai kembali kamar stirman, tetapi sia-sia saja, 
karena terdepak kembali ke luar. Konsul itu hampir saja diper- 
pukulkan, sekiranya Wakil Syahbandar dan Kepala Polisi tidak 
segera sampai di motor-boat itu. Mr. Blackfield (lapangan hi¬ 
tam) yang benar-benar menjadi sasaran hitatm itu mengancam 
akan mengadukan kepada Pemerintah Belanda supaya memprotes 
penghinaan yang dialaminya dan teriakan-teriakan permusuhan 
yang dihadapkan kepada Belanda. Ia juga mengancam akan ber¬ 
tindak sendiri bersama-sama dua-ribu tentara Belanda yang berada 
dikapal itu, sekiranya yang berkuasa dipelabuhan tidak memulih¬ 
kan keamanan. Mahmud Sabit Bey, Wakil Kepala Polisi Terusan 
Suez yang telah dapat naik kemotor-boat itu berusaha mene¬ 
nangkannya, sambil memberi pengertian kepadanya bahwa kema¬ 
rahan rakyat yang disaksikannya itu adalah sebenarnya manifes¬ 
tasi dari perasaan simpati yang meluap dari mereka terhadap 
saudara-saudara mereka se-Agama. Siang-malam suratkabar-surat- 
kabar dan pemancar-pemancar radio menyiarkan berita-berita 
agresi Belanda terhadap bangsa Indonesia Muslim. Mereka tidak 
bermaksud menghina atau menyakitinya sebagai Konsul. Di 
tegaskannya pula bahwa polisi telah berhasil menyelamatkannya 
dari bahaya yang seharusnya dia sendiri tidak perlu mencucukkan 
diri kedalamnya. Iapun diperingatkan supaya jangan melancarkan 
tuduhan-tuduhan yang bukan-bukan kepada polisi Mesir ..... ” 

Kapal itu meninggalkan Port-Said tengah malam dengan pe¬ 
ngawalan motor-boat polisi, tanpa berhasil mendapatkan makanan 
atau air. Di pelabuhan Ismailia, yang dikuasai Inggris sepenuhnya, 
barulah kapal itu mendapat perbekalannya. Dipelabuhan Suez 
kapal itu yang masih dikawal motorboat-motorboat polisi disam¬ 
but oleh ribuan buruh dan rakyat umum dengan pekikan-pekikan 




'Merdeka’ beserta acungan-acungan bendera-bendera merah-putih 
dan makian-makian permusuhan. Sepanjang tepi Terusan itu, dari 
Port-Said sampai ke Suez, kapal itu diiringkan oleh ratusan pemu¬ 
da beserta Fouad Fakhrruddin dan K.Y. yang mengacung-acung¬ 
kan bendera merah-putih dan pekikan ’ Merdeka 

Semenjak itu, setiap kapal Belanda yang melalui Terusan 
Suez itu mengalami perlakuan yang sama. Mengenai K.Y, sendiri, 
telah teijadi apa yang disesalkan Mr. Pamoncak kepada saya. 
Ia telah menarik keuntungan sendiri dari simpati rakyat yang 
mumi itu dan baru diketahui beberapa hari kemudian, ketika seo¬ 
rang dari pimpinan Panitia (S.M.Nur) pergi ke Suez guna mengirim 
30 ton beras ke Saudi Arabia, sebagaimana biasa tiap-tiap bulan, 
untuk ribuan warga Indonesia di sana yang memerlukan bantuan. 
Demikian marahnya Mr. Pamoncak kepada K.Y., sehingga waktu 
beliau pulang pada bulan Januari 1948, satu-satunya surat yang 
tidak mau beliau membawanya, bahkan dikatakannya, haram, 
adalah surat K.Y. sendiri, sedang itu adalah kesempatan pertama 
bagi kami di Kairo untuk mengirimkan surat kepada keluarga 
masing-masing di Indonesia. 


Rap at Umum 

Puncak manifestasi simpati rakyat Mesir diperlihatkan 
pada rapat umum yang diadakan oleh partai-partai politik dan 
organisasi-organisasi massa pada 30/7/47, di mana ikut juga ber¬ 
bicara wakil-wakil Arab dari Masyrik ke-Maghrib yang di antara 
pembicaranya terdapat (Presiden) Habib Burguiba dari Tunisia 
dan Pemimpin Maroko, Allal Al-Fassi. Rapat umum itu telah me¬ 
nyetujui satu resolusi yang menuntut antara lain : 

1 - pemboikotan barang-barang buatan Belanda, diseluruh nega¬ 

ra-negara Arab; 

2 - pemutusan hubungan-hubungan diplomatik antara negara- 

negara Arab dan Belanda; 

3 - penutupan pelabuhan-pelabuhan dan lapangan-lapangan ter- 


236 



bang diwilayah Arab terhadap kapal-kapal dan pesawat 
udara Belanda, dan 

4 - pembentukan perangkatan-perangkatan kesehatan untuk 
menolong korban-korban agresi Belanda. 

Reaksi Negara-Negara Arab Lainnya 
Liga Arab. 

Menghadapi soal conflik Mesir-Inggris dan soal Palestina 
di Dewan Keamanan PBB, Abdulrahman Azzam Pasya, Sekjen 
Liga Arab, sedang berada di New York ketika Belanda melancar¬ 
kan agresi bersenjata itu. Maka kegiatan Liga tersebut seolah-olah 
pindah ke sana. Menurut wartawan ’ Al-Misri ’ diarena PBB, 
Azzam Pasya telah mengadakan hubungan-hubungan dengan 
diplomat-diplomat Amerika Serikat, diplomat-diplomat asing dan 
wakil-wakil negara di PBB, terutama dengan Duta Besar India, 
Duta Afganistan dan Wakil Pilipina, guna membicarakan agresi 
Belanda'terhadap Indonesia. Azzam Pasya juga telah mengirim 
kawat kepada PM India Jauharlal Nehru dan kepada Raja Afganis¬ 
tan, supaya menyokong Indonesia. Wartawan ’ Al-Balagh ’ di New 
York melaporkan bahwa : ’Pendirian liga Arab adalah istimewa. 
Karena ia adalah satu-satunya badan internasional yang telah me¬ 
ngakui Indonesia. Oleh sebab itu harus mempertahankan Republik 
Indonesia;’ Adapun naskah kawat Azzam Pasya kepada Nehru 
sebagai diberitakan oleh Arab News Agency (K. B. Inggris) pada 
24/7/47 dan disiarkan oleh ’ Al-Ahram ’ adalah sebagai berikut : 

”Saya sesungguhnya selalu mengikuti dengan kekaguman 
dan hormat pekeijaan YM yang besar-besar. Tentu YM mengeta¬ 
hui bahwa simpati kami kepada India tidak berbeda dengan sim¬ 
pati kepada negara-negara Timur lainnya. Kami sangat bergembira 
dengan sikap India di PBB yang selalu memihak kepada kebenaran 
dan keadilan.” 

t 

” Belanda telah melancarkan perang yang tidak mengenal ke¬ 
manusiaan terhadap Indonesia. Maka saya mengharap supaya YM 


237 



menyokong Indonesia dan dengan keberanian YM yang luar biasa 
itu, kiranya YM akan mengadukan soalnya itu ke Perserikatan 
Bangsa-bangsa.” 

'’Sebenarnya Liga Arab sanggup memegang persoalan itu, 
akan tetapi karena ia terikat pula sekarang oleh soal-soal Palestina 
dan Mesir dan mungkin pula dalam waktu yang dekat oleh soal- 
soal Libia dan Maroko yang akan dimajukan ke PBB, maka kami 
menganggap Indialah sekarang yang paling baik menghadapi soal 
Indonesia itu.” 

Yang Mulia terimalah hormat saya terhadap India dan semoga 
Tuhan akan memberinya taufik dan kemakmuran. 

Bertepatan dengan agresi Belanda itu, Dewan Liga Arab 
bersidang di Sofar, satu kota pegunungan Lebanon. Dalam si¬ 
dangnya tanggal 27/7/47 memutuskan mengirimkan nota kepada 
negara-negara Empat Besar, Amerika Serikat, Inggris, Rusia dan 
Perancis, yang menuntut supaya mereka campur-tangan meng¬ 
hentikan agresi Belanda itu dan mengakui hak Indonesia menen¬ 
tukan nasibnya sendiri. 

Menurut ’ Al-Ahram ’ tanggal 7/8/47, Persatuan Indonesia 
yang terdiri dari Charles Tambu, Sujatmoko dan Joyo Hadikusu- 
mo, telah menemui Azzam Pasya di Plaza Hotel. Kepada mereka 
beliau menyatakan bahwa negara-negara Arab yang telah mengakui 
Indonesia akan berusaha sekuat mungkin menyokong Indonesia. 
Setelah soal Indonesia berhasil dimasukkan ke Dewan Keamanan 
PBB, beliau berbicara di Cleveland, Ohio, dihadapan 20.000 warga 
Amerika keturunan Arab dan mengatakan tentang Indonesia: 
”Ini adalah satu kemenangan yang benar-benar bagi PBB . . . . 
Keputusan DK-PBB itu yang mengandung pengakuan terhadap 
Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat 
itu, sesungguhnya telah memperkuat lagi keputusan Liga Arab 
setahun yang lalu .... Sekarang kita menunggu-nunggu dengan 
penuh kepuasan bahwa negara-negara anggota PBB akan mengikuti 
jejak negara-negara Arab dalam menentang penjajahan.” 


238 



S u r i a . Arab News Agency dari Damaskus memberitakan pada 
26/7/47 bahwa : "Pemerintah Suria telah memerintahkan kepada 
wakilnya di Dewan Keamanan, Faris El-Khuri Bey, supaya mem¬ 
protes atas nama Pemerintah Suria kepada PBB atas agresi Belanda 
terhadap Indonesia.” Dikatakannya pula bahwa ”Wakil Suria itu 
telah mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan John Andu 
wakil Indonesia di Amerika Serikat.” (John Andu sebenarnya 
adalah seorang anggota Panitia Pembela kemerdekaan di New York 
semenjak Proklamasi). Demikian pula rakyat Suria mengutuk 
agresi Belanda itu. Di mesjid-mesjid, para khatib selain mengutuk, 
juga mengingatkan persaudaraan Islam yang mengingat rakyat 
Suria dengan rakyat Indonesia, dan mendoakan semoga perjoa- 
ngan bangsa Indonesia mendapat kemenangan. Akhir sembahyang 
Jum’at, mereka mengadakan sembahyang ghaib bagi arwah syuha- 
da yang gugur, sesuai dengan anjuran Jawatan Wakaf. 

Lebanon. Dari Beirut diberitakan (26/7/47) bahwa Pemerin¬ 
tah Lebanon dihujani oleh kawat yang dikirimkan dari kota-kota 
wilayahnya menuntut supaya memprotes agresi Belanda di Indone¬ 
sia. Di mesjid-mesjid diadakan sembahyang ghaib bagi korban yang 
jatuh dan mendoakan supaya perjoangan Indonesia menang. 

Irak. Wartawan ’ Al-Misri ’ di Baghdad memberitakan bahwa 
Abdul Ilah Hafiz, Menlu a.i. Irak menyatakan : ”Meruncingnya 
situasi di Indonesia sangat disesalkan. Pemerintah Irak bersama- 
sama negara-negara Arab lainnya sedang mengadakan permusya¬ 
waratan mengenai tindakan bersama yang akan diambil, terutama 
mengingat bahwa negara-negara Arab telah mengakui Indonesia.” 
Sementara itu Dr. Fadil Jamali, Menlu Irak yang sedang berada 
di Iskandariah, Mesir, mengatakan : "Pemerintah Irak telah 
meminta kepada Sekretariat Liga Arab supaya menyampaikan 
kepada negara-negara Arab anggotanya agar bersama-sama me¬ 
majukan protes kepada Belanda atas agresinya di Indonesia.” 

Saudi Arabia. Dari Jeddah diberitakan : "Raja Abdul Aziz 
Ibnu Saud telah memanggil para Duta Amerika Serikat, Inggris dan 
Belanda. Kepada mereka beliau menyampaikan keprihatinan Ke- 


239 



rajaan Saudi Arabia terhadap agresi Belanda di Indonesia, dan 
harapan supaya keamanan di sana lekas kembali atas dasar penga¬ 
kuan terhadap tuntutan-tuntutan nasional Indonesia.. Haji Agus 
Salim Menlu R.I. telah diberitahu tindakan Raja Ibnu Saud itu,” 

Palestina. Bangsa Arab yang waktu itu masih mayoritas di- 
wilayah itu mengutuk agresi Belanda dan menyokong Indonesia. 
Sami Taha Sekjen Serikat Buruh yang berpusat di Haifa menyata¬ 
kan kepada wartawan ’ Al-Kutlah ’ Agresi Belanda lebih kejam 
dari agresi nazi dan fascis di Eropa. Belanda yang pernah mengala¬ 
mi pahitnya pendudukan dan menjerit-jerit minta tolong supaya 
dibebaskan, sekarang menginjak-injak kemerdekaan satu bangsa.” 
Ia menyerukan supaya ” Buruh seluruh dunia menyokong rakyat 
Indonesia dengan jalan apapun juga, sehingga rakyat Indonesia 
dapat merebut kembali kemerdekaannya.” 

Negara-Negara Islam Luar Arab 

Turki. Reuter memberitakan bahwa Kalangan resmi di An¬ 
kara dan Istanbul mengikuti perkembangan soal Indonesia dengan 
penuh perhatian. Kalangan itu menganggap serangan Belanda itu 
suatu pelanggaran terhadap Piagam Atlantik. Turki akan menyo¬ 
kong Indonesia di Perserikatan Bangsa-bangsa . Sementara itu 
wartawan ’ Al-Ahram ’ di Istanbul memberitakan bahwa ” Semua 
surat kabar Turki mengutuk politik berdarah Belanda di Indone¬ 
sia. Mereka mengecam Pemerintah Belanda dan menganggap Pe¬ 
merintah-Pemerintah London dan Washington dari sudut moral 
bertanggung-jawab atas pertumpahan darah di sana dan meman¬ 
dang perang kolonial yang sedang berkecamuk itu akan memper¬ 
lengkapi propaganda komunis dengan senjata baru.” 

Iran. Asykar Hikmat, Menteri Luar Negeri Iran, menyatakan di 
Teheran pada 30/7/47 : ”Pemerintah Iran merasakan dan menya¬ 
takan kepiluan hatinya disebabkan agresi Belanda di Indonesia. 
Adalah kewajiban negara-negara besar menghentikan pertumpahan 
darah itu.” 


240 



Bung Syahrir di Kairo 

Bung Syahrir yang telah berhasil meloloskan diri dari kepu¬ 
ngan Belanda pada permulaan agresi Belanda di Indonesia telah 
sampai di Kairo pada jam 1.30 pagi tanggal 5/8/47, dalam per¬ 
jalanan ke New York. Dilapangan terbang beliau disambut selain 
oleh H.A. Salinf dan warga Indonesia di Kairo, juga oleh Wakil 
Kementerian Luar Negeri Mesir, para pembesar dan pemimpin- 
pemimpin partai-partai dan organisasi-organisasi rakyat Mesir dan 
Arab, serta puluhan wartawan setempat dan asing. 

Kepada wartawan yang mengerumuninya Bung Syahrir 
menyatakan antara lain : "Keberangkatan saya ke New York ada¬ 
lah atas tunjukan resmi Presiden Republik Indonesia.” Atas per¬ 
tanyaan apakah Indonesia negara yang berdaulat, dijawabnya : 
"Persetujuan Dewan Keamanan memasukkan soal Indonesia da¬ 
lam acaranya, itu saja sudah merupakan pengakuan yang tegas 
bahwa Indonesia mempunyai kedaulatan penuh.” Mengenai soal 
Indonesia itu sendiri, dikatakannya : ” Soal Indonesia seluruhnya 
harus dimajukan kepengadilan internasional, setelah kami melaksa¬ 
nakan perintah gencatan senjata yang dikeluarkan DK—PBB, dan 
setelah saran-saran India dan Australia mengenai persengketaan 
itu disampaikan kepada sidang. Karena gencatan senjata saja ha¬ 
nya akan menguntungkan Belanda, apabila mereka dibiarkan 
bercokol di daerah-daerah yang mereka duduki.” Ketika ditanya 
apakah Indonesia akan memasuki Liga Arab, dijawabnya dengan 
tersenyum : "Tidak mungkin, karena Indonesia bukan negara 
Arab. Tetapi, sebagai negara Islam, adalah penting baginya untuk 
bekeijasama yang erat dengan negara-negaranya." Kemudian 
Bung Syahrir mengucapkan terima kasih kepada dunia Arab dan 
Islam yang telah menyokong Indonesia, terutama Mesir yang telah 
mempelopori sokongan itu. Sampai di sini H. A. Salim menyelang 
dengan mengatakan bahwa beliau menahan Bung Syahrir di Kairo 
sehari-dua adalah untuk menemui pemimpin-peminpin Mesir dan 
Arab, dan jika diberi kesempatan diharapkan akan beraudensi 
dengan Raja Faruk. Mengenai pribadi Bung Syahrir, Muhammad 


241 



Abdulmun’im, Utusan Istimewa Liga Arab ke Indonesia mengata¬ 
kan : ”Sutan Syahrir adalah seorang pemimpin Indonesia terkemu¬ 
ka, meskipun beliau masih muda, yaitu baru berumur tiga-puluh 
tujuh tahun. Beliau seorang yang cakap dan pandai memberi 
pengertian, sehingga Lord Killeam, Komisaris Tinggi Inggris di 
Asia Tenggara, mengakui bahwa ia belum pernah selama pengala¬ 
mannya di bidang diplomasi menemui seorang diplomat yang 
demikian kuat argumentasinya dan pandai memberi pengertian, 
seperti Dr. Syahrir.” 

Selama sehari semalam 5 Agustus 1947 di Kairo, Bung Syah¬ 
rir telah menemui Ibrahim Abdul Hadi Pasya, Kepala Kabinet 
Raja. Selain menyampaikan terima kasih Indonesia kepada Raja 
Faruk, juga menerangkan perkembangan situasi politik dan militer 
di Indonesia. Kemudian mengunjungi Kementerian Luar Negeri dan 
menjumpai Kamil Abdulrahim Bey Sekjennya dan Ibrahim Basuki 
Ibazah Menlu a.i.-nya. Pertemuan yang berlangsung satu setengah 
jam itu telah memberi kesempatan bagi Bung Syahrir untuk mem¬ 
bentangkan persoalan konflik Indonesia-Belanda dengan seluas- 
luasnya. Karena hari itu bersamaan dengan 18 Ramadhan 1366, 
Bung Syahrir bersama para anggota Missi Tetap R.I. pada sorenya 
berbuka di Muhammad Ali Club atas undangan Menlu a.i. Mesir 
itu, beserta para Kepala Perwakilan Arab di Kairo dan pembesar- 
pembesar Mesir dan Arab lainnya. Jamuan buka itu menjadi 
tempat yang sebaik-baiknya bagi pihak Indonesia membentangkan 
lagi persoalan Indonesia kepada pihak Arab yang lengkap diwakili 
itu, serta menyampaikan terima-kasih kepada dunia Arab yang 
telah menunjukkan perhatian dan persahabatannya itu. 

Kesinggahan Bung Syahrir yang tidak direncanakan semula 
itu telah menyebabkan kesulitan bagi beliau dan Pak Salim untuk 
mendapatkan tempat pada pesawat yang ditumpangi ke New 
York. Kesulitan itu diselesaikan oleh Istana Raja sendiri, dengan 
memerintahkan dua penumpang lainnya supaya memberikan 
kursi-kursi'mereka ke Bung Syahrir dan Pak Salim. Menurut Wakil 
Raja yang ikut mengantar ke lapangan terbang itu, perintah itu 


242 



datang langsung dari Raja Faruk sendiri, setelah mengetahui 
kesulitan itu. Sebelum meninggalkan Kairo, Bung Syahrir dan Pak 
Salim mengirimkan ’message’ berikut : 

”Dikala kami meninggalkan negeri yang peramah ini, dalam 
peijalanan ke Amerika Serikat guna mempertahankan persoalan 
negeri kami, kami menyampaikan syukur dan terima-kasih kepada 
Mesir, Pemerintah dan rakyatnya, atas simpati dan sokongan yang 
diperlihatkan terhadap Indonesia pejoang, dan atas penyambutan 
persahabatan yang mengesan dan tidak akan hilang-hilang bekas 
baiknya dalam hati kami. Kami memanjatkan doa kepada Tuhan 
Yang Maha Tinggi, semoga Dia memanjangkan umur Faruk, Raja 
Lembah Sungai Nil.” 


Bung Syahrir sampai di New York 

Kehadiran ex-PM dan Penasehat Pribadi Presiden R.I. Sutan 
Syahrir dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim di New York dan 
kegiatan-kegiatan mereka di arena internasional PBB sudah tidak 
masuk lagi dalam batas jangkauan tulisan saya dalam buku ini. 
Dari itu yang sudah atau akan saya ungkapkan di sini hanya yang 
ada hubungannya dengan hasil peijoangan Panitia-panitia Timur 
Tengah. Pernyataan Bung Syahrir pertama pada 9/8/47 ’ Al- 
Ahram ’ melaporkan : ” Indonesia banyak menyandarkan diri ke¬ 
pada Mesir, Suria dan negara-negara Arab lainnya dan juga India, 
Australia dan Amerika Serikat, dalam usaha menjadikan Dewan 
Keamanan penjamin keselamatan Indonesia.” Dikatakannya 
pula : ” Pembicaraan-pembicaraan mereka di Mesir dengan pembe- 
sar-pembesamya banyak memberi rasa optimis bagi mereka.” 
Dikatakannya lagi : "Hubungan-hubungan kami dengan India 
baik sekali. Dari itu kami percaya bahwa India akan memainkan 
peranan yang baik jika diberi kesempatan oleh Dewan Keamanan.” 
United Press melaporkan dari New York bahwa sesampai di New 
York, Sutan Syahrir dan H,A. Salim pada 10/8/47 telah mengada¬ 
kan pertemuan dengan Abdulrahman Azzam Pasya, Sekjen Liga 


243 



Arab, di tempat hotel penginapan Sekjen itu, bersama-sama Assif 
Ali Khan, Duta India Berkuasa Penuh dan beberapa pembesar- 
pembesar |Arab lainnya, guna membicarakan hal-hal yang ber¬ 
sangkutan dengan soal Indonesia yang akan diperbincangkan di 
Dewan Keamanan PBB. 

Faris El-Khuri, Wakil Suria di DK-PBB memimpin Sidang 

Adalah taufik dari Tuhan Yang Maha Adil bahwa yang men¬ 
jadi Ketua Dewan Keamanan pada bulan Agustus itu adalah 
Faris El-Khuri, Wakil Republik Suria di Dewan tersebut. Beliau 
telah mempergunakan kekuasaannya sebaik-baiknya guna menyo¬ 
kong Indonesia. Wartawan ’ Al-Misri ’ di New York, dalam menilai 
sikap negara-negara besar dan kolonial di Dewan Keamanan, me¬ 
laporkan pada 16/8/47 bahwa : "Setelah Dr. Syahrir menduduki 
kursinya di Dewan Keamanan dan membentangkan di mimbar 
pendapat umum internasional itu sejarah 350 tahun keganasan 
Belanda di Indonesia, orang bertanya-tanya apakah Dewan ter¬ 
sebut benar-benar memperhitungkan akibat yang sebenarnya dari 
seruan yang ditujukannya kepada Republik Indonesia. ’ Pertanya¬ 
an itu dijawabnya sendiri dengan mengatakan bahwa Wakil 
Rusia Gromico hanya memikirkan kemungkinan menyebarkan 
komunisme di tengah-tengah 70 juta Muslimin Indonesia, sedang 
Amerika Serikat berusaha supaya ’keamanan’ pulih kembali di In¬ 
donesia, karena ia lebih percaya kepada kemampuan Inggris dan 
Perancis menghadapi komunisme di Asia Tenggara dari pada 300 
juta penduduk aslinya. Wakil A.S. sendiri, Mr. Johnson dengan 
terang-terang mengatakan bahwa tidak ada tersimpul dalam kepu- 
tusan negaranya suatu pengakuan terhadap kedudukan internasio¬ 
nal dari Republik Indonesia. Maka 'perantaraan’ A.S. itu tidak ber¬ 
tujuan lebih dari pada pulihnya ’keamanan’ di Indonesia, dan tidak 
sekali-kali menghendaki kemerdekaan Indonesia. Dapat dikatakan 
bahwa negara-negara yang sungguh-sungguh campur-tangan (di 
DK-PBB) dalam persoalan Indonesia menurut tujuan dan sesuai 
dengan ssmangat Piagam PBB, hanyalah Suria, Australia, Colombia 


244 



dan Brazil..... Kalangan neutral beranggapan bahwa Dr. Syahrir, 
Wakil Indonesia, berhutang budi kepada Faris El-Khuri, mengenai 
kursi yang diperolehnya di DK—PBB guna membentangkan sikap 
negaranya. Karena ialah ( El-Khuri ) yang telah membendung 
usaha-usaha yang dilakukan negara-negara kolonial guna mengha¬ 
langi ikut Indonesia membicarakan soal negaranya. Faris El-Khuri 
telah berhasil berkali-kali menggagalkan usaha-usaha semacam itu. 
Ketika Wakil Belgia mengusulkan supaya agen-agen Belanda juga 
diundang untuk membentangkan pendapat mereka di dalam si¬ 
dang-sidang Dewan Keamanan, dengan senyum Faris El-Khuri 
mematahkan usaha itu dengan mengatakan : ’Indonesia Timur dan 
Bomeo tidak ada sangkut-pautnya dengan sengketa yang diper¬ 
bincangkan.’ Demikian pula ketika Wakil Belanda menentang hak 
Dewan Keamanan untuk memperbincangkan soal Indoriesia, 
dengan cepat Faris El-Khuri - sebagai Ketua sidang - mengata¬ 
kan bahwa Dewan tersebut berhak meneruskan pembicaraan 
dalam soal itu, dengan alasan bahwa Dewan itu sebelumnya telah 
memutuskannya. Keputusan itu tidak dapat dirobah kecuali jika 
ada seorang anggota mengusulkan pembatalannya dan usul itu 
disetujui oleh mayoritas anggota. Demikianlah dengan mempergu¬ 
nakan kekuasaannya sebagai Ketua Priodik Dewan Keamanan pada 
bulan Agustus itu, Wakil Suria di DK-PBB itu telah banyak ber¬ 
bakti kepada soal Indonesia.” 

Ketika soal Indonesia dibicarakan di DK—PBB itu, ada ke¬ 
inginan dikalangan Vietnam memajukan pula persoalan negerinya 
ke arena arah internasional itu. Keinginan ini mendapat tanggapan 
positif dari pihak Liga Arab. Menurut ’Al-Ahram’ tanggal24/2/48, 
waktu soal itu diperbincangkan dalam Liga tersebut, Sekjen liga 
ini, A. R. Azzam Pasya, mendapat kecaman dari seorang anggota 
karena tidak Liga Arab sendiri yang memajukan soal Indonesia ke 
Dewan Keamanan. Karena ia menganggap bahwa Liga Arab yang 
telah mengakui Indonesia, berkewajiban berbuat demikian, bukan 
negara-negara lain Arab sebagai yang terjadi pada bulan Agustus 
1947 itu. Terhadap kecaman ini Azzam Pasya menjawab bahwa 
memang negara-negara Arablah yang telah mengakui Indonesia dan 


245 




'1 


memang pula merekalah yang seharusnya memajukan soal itu ke 
DK—PBB. Tetapi untuk kepentingan Indonesia sedirilah bila satu 
negara Timur Jauh atau India yang memajukannya, sedang semua 
negara-negara Arab menyarankan kepada India dan Australia supa¬ 
ya memajukannya dan meminta kepada Pemerintah India — seba¬ 
gai negara besar di Timur — supaya bersama-sama Liga Arab men¬ 
dukung soal tersebut. Demikian pula Liga Arab menghubungi Pe¬ 
merintah Australia untuk maksud yang sama. Pada sidang liga 
Arab itu diungkapkan pula bahwa ketika akan berangkat ke New 
York dari Kairo, Delegasi Indonesia menghadapi kesulitan-kesuli¬ 
tan keuangan dan Sekretariat Liga Arab telah memberikan jasa-jasa 
baiknya guna mengatasi kesulitan itu. 


Aksi Militer Belanda Kedua 

Semenjak Proklamasi, salah satu tugas saya sehari-hari adalah 
mengikuti siaran RRI Pusat yang berpindah-pindah dari Jakarta ke 
Bandung dan terakhir ke Yogyakarta, pada tiap-tiap jam 18.30, 
menteijemahkannya dan kemudian meneruskannya kepada Radio- 
Kairo dan harian-harian yang akan terbit besoknya. Pada senja 
19/12/1948, seperti biasa saya mengikuti RRI-Yogya. Alangkah 
terperanjatnya saya, ketika mendengar gelombang yang biasa saya 
ikuti itu telah berobah irama. Saya mulanya tidak mempercayai 
telinga saya. Tetapi setelah beberapa kali digeser-geser dan itu-itu 
juga yang terdengar, yaitu makian-makian terhadap pemimpin- 
pemimpin Republik yang dikatakan ’pengacau’ dan ’penipu rak¬ 
yat’ dan pujian-pujian terhadap pemuka-pemuka federal yang di¬ 
sebut berpandangan ’realistis’ dan ’benar-benar’ membawakan 
aspirasi yang hidup dikalangan rakyat Indonesia, barulah saya 
mencoba mendengarkan pemancar-pemancar dunia lainnya. Keti¬ 
ka itulah baru saya sadar bahwa Yogyakarta, ibukota Republik 
Indonesia, telah diduduki tentara Belanda dan beberapa pemim¬ 
pin-pemimpin Indonesia terkemuka tertawan. 

Pukulan pertama berita itu sungguh-sungguh melemahkan 
sendi-sendi badan. Tetapi setelah teringat bahwa dalam perang 


246 



gerilya pendudukan kota atau ibukota sekalipun oleh musuh be¬ 
lum berarti kekalahan, barulah kepercayaan kembali kepada kesa¬ 
nggupan bangsa Indonesia yang telah tiga tahun bergerilya itu 
akan memenangkan perjoangannya. Kesulitan kami ialah memin¬ 
dahkan kepercayaan atau keyakinan kami itu kepada simpatisan- 
simpatisan Indonesia di luar negeri. Kesulitan ini dapat diatasi sa¬ 
ma sekali setelah terjadi dua kejadian, yaitu pendudukan ibukota 
Yogyakarta oleh (Kolonel) Suharto selama enam jam dan mening¬ 
galnya Jenderal Spoor. Kedua kejadian ini kami gunakan sejauh- 
jauhnya guna membuktikan kekuatan R.I. yang sebenarnya. Pen¬ 
dudukan enam jam yang kami beritakan ’ dua 'hari ’ itu dijadikan 
bukti pertanyaan-pertanyaan kami bahwa tentara Indonesia me¬ 
ngosongkan ibukota adalah suatu ’taktik’ perang gerilya saja yang 
sewaktu-waktu dapat didudukinya kembali. Sedang wafatnya Jen¬ 
deral Spoor Panglima tentara Belanda di Indonesia itu, kami ka¬ 
takan ’membunuh diri’, karena putus asa akan kemenangan meng¬ 
hadapi tekad bangsa Indonesia yang membaja itu. 

Keyakinan kami itu telah diterima oleh para simpatisan, 
sehingga Muhammad Ali Taher, pemimpin Palestina yang men¬ 
cintai Indonesia semenjak lama itu, suatu hari menarik saya ke 
Bank Arabia dan mengeluarkan semua uangnya yang tersimpan 
dalam bank itu dan kemudian memberikannya kepada saya tanpa 
meminta tanda bukti penerimaan dan mengatakan : 'Terimalah 
semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjoangan Indo¬ 
nesia ! Pembentukan Pemerintah Darurat di Sumatera di bawah 
pimpinan Mr. Syafruddin Prawiranegara telah mengokohkan kem¬ 
bali kedudukan R.I. di luar negeri yang diwakili oleh Mr. A.A. Ma- 
ramis, sebagai Menteri Luar Negeri yang berkedudukan di New 
Delhi, India, dan memungkinkan berhasil baik Konferensi Asia di 
New Delhi pada 24/1/1949. 

Reaksi Negara-negara Arab 

Diakui bahwa pengosongan ibukota Yogyakarta oleh tentara 
R.I. dan tertawannya beberapa pemimpin-pemimpin terkemuka 


247 



R.I. itu pada mulanya membingungkan penyokong-penyokong 
kita di Timur Tengah. Tetapi kebingungan itu dapat dihilangkan 
sedikit demi sedikit dan menggantinya dengan keyakinan bahwa 
revolusi Indonesia tetap sanggup menghadapi tentara kolonial 
Belanda, apalagi setelah tersiar luas berita ’ bunuh diri ’ Jenderal 
Spoor, yang memang diselubungi oleh awan tebal syak wasangka. 
Sokongan negara-negara Arab tetap sebagaimana sebelumnya se¬ 
perti terbukti oleh nota Pemerintah Irak kepada Pemerintah Suria 
pada 22/3/49 yang berbunyi : "Pemerintah Irak telah membatal¬ 
kan persetujuannya dengan perusahaan Belanda KLM. Karena se¬ 
telah dilakukan penyelidikan, terbukti bahwa pesawat-pesawat 
perusahaan tersebut dipergunakan untuk membawa senjata bagi 
tentara Belanda di Indonesia. Sesuai dengan keputusan Konferensi 
Asia di New Delhi, Pemerintah Irak juga melarang penggunaan 
lapangan terbangnya bagi penerbangan-penerbangan sipil Belanda. 
Maka Pemerintah Irak mendesak Pemerintah Suria supaya me¬ 
ngambil tindakan yang sama.” Suria yang sebenarnya sedang mem¬ 
pelajari pula soal pelaksanaan keputusan Konferensi New Delhi 
itu, juga mengambil putusan serupa dengan tindakan Irak itu, 
yaitu melarang pesawat-pesawat KLM singgah di pelabuhan uda¬ 
ranya. Demikian juga negara-negara Arab lainnya. 

Reaksi itu dapat juga dilihat dari sikap negara-negara Arab 
itu di Dewan Keamanan, ketika membicarakan soal aksi militer 
Belanda yang kedua ini. Dr. Mahmud Fauzi, Wakil Mesir pada 
sidang Dewan Keamanan, seperti diberitakan oleh United Press 
tanggal 22/3/49 : ”Mengecam dengan keras pembangkangan Be¬ 
landa terhadap wewenang Dewan Keamanan untuk campur ta¬ 
ngan dalam soal Indonesia.” Dikatakannya : "Ketika Dewan Ke¬ 
amanan mengambil keputusan-keputusan, diantaranya putusan 
23 Januari 1949, membuktikan bahwa Dewan ini berhak me¬ 
nyelesaikan soal Indonesia itu.” Kemudian ditambahkannya : 
"Konferensi yang diusulkan Belanda akan diadakan di Den Haag 
telah menganggap sepi keputusan-keputusan Dewan Keamanan 
itu.’ Beliau bertanya-tanya : "Bagaimana akan mungkin bagi 



pemimpin-pemimpin Indonesia ikut dalam Konferensi Meja Bun¬ 
dar itu, jika mereka tidak diizinkan berhubungan terlebih dahulu 
dengan rakyat Indonesia? ”Maka oleh sebab itu” katanya lagi : 
”Mesir mendesak supaya Dewan Keamanan berpegang teguh pada 
syarat-syarat di atas itu, sebelum KMB itu diadakan.” Secara sinis 
beliau menutup pidatonya : ”Jika tidak demikian, Belanda akan 
diwakili sepenuhnya di KMB itu, karena ia akan bebas dan tidak 
ada di Den Haag orang yang akan menghancurkan ibukotanya itu.” 

Berita Jenderal Spoor ’bunuh diri’ itu sungguh-sungguh lak¬ 
sana angin puting beliung yang menyapu bersih semua propa¬ 
ganda busuk Belanda terhadap R.I., sehingga negara-negara Liga 
Arab tidak merasa keragu-raguan lagi akan kemampuan R.I. mem¬ 
pertahankan dirinya dan melanjutkan wujudnya. Dengan demiki¬ 
an pula penerangan kami sampai pembukaan Konferensi Meja 
Bundar di Ridderzaal di Den Haag pada 23/8/49, lebih banyak 
ditekankan pada keharusan pelaksanaan Resolusi Dewan Keama¬ 
nan pada 28/1/49, yang berdasarkan Resolusi Konferensi Asia 
di New Delhi pada 24/1/49, terutama yang mengenai : (1) gence¬ 
tan senjata, (2) pengembalian Pemerintah Pusat R.I. ke Yogya¬ 
karta, (3) penarikan tentara Belanda - sumber kekacauan - dari 
seluruh wilayah Indonesia dan (4) pengakuan kedaulatan R.I. oleh 
Belanda sebelum akhir Desember 1949. 

Para anggota Delegasi R.I. yang pulang-pergi antara Jakarta 
dan Den Haag dan singgah di Kairo, selalu memberi kami infor¬ 
masi-informasi yang sangat berguna bagi bahan-bahan penerangan 
guna mempengaruhi pendapat umum internasional dalam mendu¬ 
kung Delegasi R.I. yang dipimpin Dr. Muhammad Hatta Wakil 
Presiden, yang menghadapi Belanda yang belum dapat dipercayai 
kejujurannya itu. 

Bung Hatta berterima-kasih 

Selesai memimpin Delegasi R.I. ke KMB yang telah mengha¬ 
silkan pengakuan Belanda atas kemerdekaan dan kedaulatan Re- 


249 



publik Indonesia, Bung Hatta beserta Isteri singgah di Kairo. Pada 
kesempatan yang berbahagia itu, telah diadakan resepsi besar di 
Hotel Semiramis di tepi Sungai Nil. Pada kesempatan gembira 
ini, Bung Hatta atas nama Indonesia telah mengucapkan banyak 
terima kasih kepada Mesir dan negara-negara anggota Liga Arab 
yang dari semenjak Proklamasi telah terus-menerus menyokong 
perjoangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdeka¬ 
an dan kedaulatannya, yang telah diakui de facto dan de jure - 
nya, sebelum satupun negara di dunia ini mengakuinya, oleh ne¬ 
gara-negara Arab itu. 

Bung Hatta tidak mencukupkan berterima kasih pada resep¬ 
si yang meriah itu, tetapi juga beliau mengunjungi pembesar- 
pembesar Mesir dan Arab satu persatu guna menyampaikan terima- 
kasih Indonesia itu. 



BULAN MERAH MESIR dan BULAN MERAH INDONESIA 


Missi Kesehatan Mesir 

Semenjak tentara Inggris dan Belanda yang memboncenginya 
mengganas di Indonesia, Panitia-panitia di Timur Tengah telah 
berusaha mengumpulkan obat-obat dan mengirimnya ke Indo¬ 
nesia melalui Singapura. Tetapi setelah perang kolonial itu meluas, 
Panitia Pusat berusaha supaya Bulan Merah Mesir mengirimkan 
missi kesehatan ke sana, guna selain meringankan penderitaan 
para korban, juga dengan sendirinya meningkatkan semangat 
joang, karena mengetahui mempunyai penyokong di luar negeri. 
Surat Panitia tanggal 28/9/46 dan 30/9/46 mendapat jawaban 
positif, tetapi Bulan Merah Pusat itu menyarankan supaya me¬ 
ngirim surat resmi kepada Pemerintah Mesir melalui Kementerian 
Luar Negeri oleh Pemerintah Indonesia. Setelah dijawab tidak 
mungkin dari Pemerintah, mereka mengusulkan dari Panitia Pusat 
saja. Dengan surat No. 158/A/46 tgl. 7/10/46 Panitia menghu¬ 
bungi Kementerian Luar Negeri Mesir. Adalah sangat menggembi¬ 
rakan bahwa permohonan Panitia Pusat itu mendapat perhatian 
penuh oleh Pemerintah Mesir, sehingga dalam waktu singkat 
Kementerian Kesehatannya sudah memerintahkan kepada Bulan 
Merahnya supaya menyiapkan satu missi kesehatan lengkap dengan 
para dokter, obat-obatan dan alat-alat. Tetapi pengiriman missi 
kesehatan itu terlambat Karena halangan-halangan dari pihak 
Sekutu Belanda yang harus dilalui. 

Baru setahun kemudian, yaitu pada tanggal 6/9/47 Missi 
Kesehatan Mesir yang dipimpin oleh Mayor Dr. Muhammad 



Jalaluddin dapat berangkat ke Bukit Tinggi melalui Singapura. 
Penempatan mereka di Sumatera Barat adalah atas petunjuk 
Palang Merah Internasional di sana (Singapura), karena di Sumatera 
sedikit sekali fasilitas kesehatan waktu itu. Missi Kesehatan Mesir 
itu terdiri dari 3 dokter dan semuanya dari angkatan perang 
Mesir. Mereka itu adalah Mayor Dr. Muhammad Jalaluddin, 
Kapten Dr. Mahmud Hamdi dan Kapten Dr. Abdulrahman Junai- 
nah. Mereka berangkat dalam dua rombongan. Yang pertama 
terdiri dari Dr. Jalaluddin dan Dr. Hamdi yang berangkat beserta 
obat-obat dan alat-alat pada 6/9/47 itu, dan rombongan kedua 
sepuluh hari kemudian dengan juga membawa obat-obat, alat-alat 
dan pakaian-pakaian. Sebelum mereka berangkat, oleh M.D.T.R.I. 
(Missi Diplomatik tetap R.I.) diadakan jamuan perpisahan yang 
dihadiri oleh Ketua Bulan Merah Mesir, Dr. Abdulhalim Mahfudh 
Bey, pembesar-pembesar simpatisan Indonesia dan pemimpin- 
pemimpin organisasi-organisasi sosial. Pada 24/9/47 M.D.T.R.I. 
menerima kawat dari warga Indonesia di Singapura dan Malaya, 
meminta supaya disampaikan kepada Raja Faruk terima-kasih 
mereka berkenaan dengan sampainya Missi Bulan Merah Mesir ke 
Indonesia. ,, 

Pada 18/10/47, RRI-Yogya melaporkan bahwa ’Missi Bulan 
Merah Mesir itu telah sampai di Bukittinggi, ibukota Sumatera, 
dengan membawa 2 ton obat-obatan. Sesudah penyambutan rak¬ 
yat yang meriah, mereka mengahdap Dr. Muhammad Hatta, Wakil 
Presiden, mereka menyatakan bahwa’ banyak dokter-dokter Mesir 
yang ingin datang kemari dan juga banyak obat-obat yang akan 
sampai. ’ Ditambahkannya bahwa ’ Mesir, pemerintah dan rakyat¬ 
nya, bersimpati terhadap perjoangan bangsa Indonesia, dan maha¬ 
siswa Indonesia di Kairo mendapat perhatian pemerintah Mesir.’ 
Kemudian pada 20/10/47 harian-harian Mesir menyiarkan laporan 
Missi Bulan Merah itu kepada Raja Faruk antara lain mengatakan: 
”Kami sampai di Bukittinggi pada 15 Oktober 1947.... Sri 
Baginda ! Kami telah menjumpai satu bangsa yang gagah berani, 
telah membulatkan tekad untuk berjoang, tidak peduli bagaima¬ 
napun berat kesulitan-kesulitan dan bahaya yang dihadapinya. 


252 



Perang dahsyat terus-menerus, rumah-rumah hancur-lebur, luka- 
luka yang tidak dapat balutan, tetapi mereka hadapi dengan 
tenang dan ketabahan hati dan percaya penuh kepada hari depan 
mereka. Apa yang kami lihat di rumah sakit Bukittinggi, menjadi¬ 
kan kami menundukkan kepala, sebagai penghormatan kepada 
bangsa Indonesia ini, yang mempunyai semangat tinggi dan 
kebangsaan besar, sehingga tidak memperhitungkan lagi apa yang 
mesti dihadapinya, dalam mempertahankan kemerdekaan dan 
kebebasannya. Tidak ada bukti yang lebih mengesan dari pada 
mereka yang luka-luka berat itu, sedang senyum tidak pernah 
tanggal dari mulutnya. Dengan pekik ’ Merdeka ’ mereka itu 
bergemuruh, penuh dengan tekad dan kesungguhan, setiap kali 
kami melintasi bansal-bansal mereka di rumah sakit itu. Sri 
Baginda ! Indonesia dalam kemelut yang dihadapinya sekarang 
memerlukan bantuan Mesir guna membalut luka-luka perjoang- 
pejoangnya dan pengobati yang sakit-sakit. Kami yang diberi 
tugas suci ini, berjanji dengan Tuhan dan dengan Sri Baginda 
sendiri, akan menjalankan tugas ini sejauh kemampuan kami... 
Kami beruntung telah diterima YM Wakil Presiden dan beliau 
telah memberitahukan kepada kami bahwa Pemerintah Indonesia 
telah memutuskan akan mengirim 200 liter obat suntikan, sebagai 
usaha ikut serta dalam memberantas wabah kolera yang berjangkit 
di Mesir sekarang. Sungguh ini adalah suatu usaha yang harus 
kita balas dengan mengucapkan banyak terima-kasih. "Demikian 
laporan Missi itu menurut ’ Al-Ahram. 

Setelah empat bulan bertugas di Sumatera, pada 29/1/48, 
Mayor Dr. M. Jalaluddin, Ketua Missi, kembali ke Kairo, bersama- 
sama Ny. Titania Dezence dari Palang Merah Indonesia (dalam 
pemberitaan kami sebut ’ Bulan Merah Indonesiauntuk kepen¬ 
tingan propaganda). Kembalinya itu dalam rangka usaha memper- • 
besar bantuan kepada Indonesia, tidak saja dalam bidang kedok¬ 
teran dan obat-obatan, tetapi juga guna mendapatkan bahan-bahan 
untuk pakaian yang sangat dibutuhkan rakyat umum. Dr. Muham¬ 
mad Hatta, Wakil Presiden, telah menyanggupi pula mengirimkan 
bahan-bahan hasil Indonesia sebagai tukaran. Dalam hubungan- 


253 



hubungannya dengan pemerintah Mesir Ny. Dezence ikut mem¬ 
bicarakan hal-hal yang diperlukan Indonesia. Banyak yang telah 
disanggupi Mesir, diantaranya satu juta meter textil, tetapi ke¬ 
sulitan adalah pengirimannya yang dihalang-halangi oleh Belanda 
dan Sekutu-sekutunya yang masih mengepung perairan dan udara 
Indonesia. 

Dalam wawancara dengan ’ Al-Ahram ’ pada 30/1/48, Mayor 
Dr. Jalaluddin setelah memuji keberanian rakyat Indonesia antara 
lain mengatakan : ”Kalau rakyat Indonesia telah memperlihatkan 
ketinggian mutu perang geriliyanya, patut diakui bahwa wanita 
Indonesia memainkan peranan yang tidak kurang kepahlawannya 
dari kaum pria. Mereka membantu tentara sejauh kemampuan 
mereka, baik dalam pengangkutan orang sakit dan memberi per¬ 
tolongan kepada mereka, atau penyampaian bahan-bahan yang 
diperlukan perajurit dan perangsangan semangat tempur mereka. 
Kaum wanita merupakan garis kedua dari front pertempuran.” 
Ditambahkannya : ”Sekalipun wanita Indonesia tidak mengenal 
hijab, mereka sangat mempertahankan tradisi-tradisi ke-Timuran 
dan hidup kekeluargaan.” Beliau juga memuji-muji toleransi 
bangsa Indonesia dan jauhnya dari fanatisme. 

Setelah berada di Mesir kira-kira sebulan, dengan izin khas 
Raja Faruk. Dr. M. Jalaluddin kembali ke Indonesia dengan 
tujuan ibukota R.I.Yogyakarta. Dan sesudah enam bulan bertugas 
di Sumatera Dr. Abdulrahman Junainah juga kembali ke Kairo. 
Kami tidak mengetahui apa kesulitan pribadi yang dihadapinya 
di Indonesia, tetapi semenjak kembali ia tidak pernah menghubu¬ 
ngi kami, bahkan sebagian pernyataannya tidak seirama dengan 
kawan-kawannya. 

Meskipun Dewan Keamanan telah memerintahkan gencatan 
senjata dan satu komisi pencegah telah dibentuk dari Amerika, 
Australia dan Belgia, berita dari Jakarta memberitakan bahwa 
dalam kabinet ada yang mengusulkan supaya Suria dimasukan 
ke dalam komisi itu. Berita-berita kekejaman Belanda masih me¬ 
ngalir ke Timur Tengah, sehingga telah menimbulkan kemarahan 


254 



rakyat setempat. Di Kairo Kedutaan Belanda dua kali berturut- 
turut mendapat ancaman bom (9/9/47 - 13/9/47), sehingga 
penjagaan oleh polisi Mesir dilipat-gandakan. Maka dengan judul 
”Perang Salib” harian ’ Sawtul Ummah ’ mengatakan antara lain: 

”Perang yang dilancarkan Belanda di Indonesia, mempunyai 
selain sifat kolonial juga warna salibiyah. Setiap kali mereka me¬ 
masuki kota atau desa, mereka merampas, membakar, membu¬ 
nuh para wanita, anak-anak dan orang tua, serta mencencangnya 
lumat-lumat dan kemudian menggilasnya dengan tank-tank dan 
mobil-mobil baja. Mereka memasuki mesjid-mesjid dan mengotori- 
rinya, mengoyak-ngoyak Al Qur-an dan menginjak-injaknya de¬ 
ngan sepatu, sebagai tanda penghinaan kepada Islam dan Kaum 
Muslimin.” 

"Keganasan dan keonaran seperti inilah yang dilakukan 
nenek-nenek mereka, Kaum Salibiyin, di Palestina tujuh abad yang 
lalu Kaum Salibiyin itu menulis kepada Paus mengucapkan 
selamat atas kemenangan mereka, sambil bercerita : ’ Jika Tuan 
Paus ingin mengetahui, kuda kami berenang sampai kelutut 
di lautan darah Kaum Muslimin. ’ Sekiranya Drang-orang Belanda 
itu menulis sekarang kepada Wilhelmina tentu mereka akan me¬ 
nulis pemandangan yang serupa, bahkan lebih lagi. Dahulu Kaum 
Salibiyin membunuh manusia dengan pedang dan panah. Tetapi 
cucu-cucunya sekarang menyabit manusia dengan meriam dan 
metraliur. Lebih dari itu, Belanda telah dengan sengaja melancar¬ 
kan agresinya pada bulan suci Ramadhan. Satu panahan lagi yang 
dibidikan Belanda kepada Islam dan Kaum Muslimin.” 

Perutusan ’Bulan Merah’ Indonesia 

Seperti saya katakan di atas, Ny. Titania Dezence datang ke 
Mesir bersama Dr. Jalaluddin, Ketua Missi Bulan Merah Mesir. 
Kedatangannya itu, selain guna soal-soal bantuan yang diperlukan 
Palang Merah Indonesia (kami perkenalkan ’ Bulan Merah Indo¬ 
nesia atau ’Hilah Ahmar Indonesia’) telah kami pergunakan bagi 
menonjolkan kemajuan wanita di Indonesia. Karena ia itu merupa- 


255 




Misi Kesehatan Mesir ke Indonesia. Duduk dari kiri: Dr. Mahfuz, Ketua Bu¬ 
lan Merah Mesir, Dr. Mansur Fahmi dan Dr. Salahhuddin Pasya (Penasehat 
Panitia) dari pimpinannya. Berdiri: di tengah-tengah Dr. Muhammad Jala- 
luddin, Ketua Misi, di kanannya Dr. A. Rahman Junainah dan di kirinya Dr. 
Mahmud Hamdi anggota. Di kiri-kanan Mr. Nazir Pamoncak dan H.M. Rasjidi. 


256 



kan wanita Indonesia pertama yang memperkenalkan langsung 
gerakan wanita Indonesia itu. Ia sendiri mempunyai gaya penarik 
dengan kelincahan dan kelancarannya mempergunakan enam ba¬ 
hasa asing, seperti Inagris, Perancis, Spanyol, Portogal dan Itali,. 
Maka selama ia di Kairo, nama-nama seperti Nyak Din, Kartini, 
Rasuna Said, Rahmah Al-Yunusiah, Mr. Maria Ulfah, Tri Murti 
(kedua terakhir ini waktu itu telah menjabat menteri sosial dan 
yang dua sebelumnya menjadi anggota Koihite Nasional yang 
berfungsi parlemen di Indonesia) dan lain-laio, dengan .keistime¬ 
waan mereka masing-masing, menjadi lebih dikenal rakyat Timur 
Tengah, sebab surat-surat kabar dan majallah-majallah Mesir 
adalah juga menjadi bacaan bangsa Arab diseluruh Timur Tengah. 
Sehingga harian terbesar seperti ’Al-Ahram’ menyiarkan wawanca¬ 
ranya dengan judul ”Hai Wanita Mesir, Wanita Indonesia Lebih Ma¬ 
ju Dari Kamu!” Untunglah dalam arsif kami memang telah tersedia 
bahan-bahan mengenai emansipasi wanita Indonesia yang dengan 
mudah dapat di ’ ecerkan ’ kepada setiap wartawan yang men¬ 
jumpainya. Harian ’ Al-Balagh ’ dalam mengemukakan Maria 
Ulfah dan Tri Murti pada halaman ” Wanita Termasyhur,” 
memulainya dengan ucapan (alm.) Rasuna Said ketika akan me¬ 
masuki bui Medan : ”Jika kaum lelaki takut disiksa atau masuk 
bui, pakailah kain Kaum wanita, dan berikanlah pentalon tuan- 
tuan «itu kepada kami.” 

Demikian irama wawancaranya selama dua bulan di Kairo. 
Tetapi lama seorang jarida muda yang berparas ayu disuatu kota 
besar juga mengkhawatirkan kami. Maka, meskipun kegiatannya 
di lapangan propaganda wanita dapat dipergunakan sebaik-baik¬ 
nya, kami merasa lebih baik mengembalikannya setelah tugasnya 
selesai. Ternyata sekembalinya ke New Delhi ia kawin dengan 
seorang diplomat India. Ketika saya ditempatkan di Ankara, 
Turki, saya berjumpa dengan dia dalam satu resepsi, tetapi-ia 
kelihatan menjauh-jauhkan diri. Mungkin karena malu menukar 
kebangsaannya. Sampai akhir resepsi kami tidak bersapaan. 


257 



,1 


SAUDI ARABIA dan PROKLAMASI 


Saya sediakan halaman khusus bagi ’ Saudi Arabia, ’ karena 
dalam kegiatan-kegiatan kami di Timur Tengah selama revolusi 
fisik, soal mendapatkan pengakuan memang leb*ih digiatkan di 
Kairo, Mesir, sebagai negara Arab terbesar dan berpengaruh serta 
tempat kedudukan Liga Arab, sedang dalam mempertahankan 
Proklamasi, terutama dalam lingkungan warga Indonesia sendiri, 
perhatian kami lebih dipusatkan kepada Saudi Arabia, selain kare¬ 
na di sana terdapat jumlah terbesar warga Indonesia (lebih 4000 
orang), pengaruh Tanah Suci yang terdapat di sana tidak dapat di¬ 
abaikan dalam akibatnya kepada rakyat Indonesia yang 90% lebih 
beragama Islam. Maka Saudi Arabia telah menjadi perebutan 
pengaruh antara Belanda dan Panitia-panitia di Timur Tengah. 
Maka diplomasi revolusi diwilayah ini lebih terpusat pada pere¬ 
butan kekuasaan atas warga Indonesia yang banyak itu. 

Belanda di sini telah lama menanam hubungan-hubungan 
pribadi antara petugas-petugasnya, baik yang pada Kedutaannya 
di Jeddah atau pada kantor cabangnya (konsulat muda) di Mekkah 
yang dilengkapi pula dengan satu poliklinik yang dipimpin oleh 
seorang dokter Indonesia. Pada permulaan konfrontasi di sana itu, 
Belanda telah mengerahkan bekas-bekas petugas-petugasnya di 
Mekkah itu, seperti Mr. Musa, Abdulkadir Joyoatmojo, Tarbidin, 
Dr. Makmun, dan demikian pula petugas-petugas lainnya seperti 
Abdulrahman Musawa (di Timur Tengah dibaca ’ Masawi ’ dengan 
arti ’ kumpulan kejahatan ’) dan lain-lain. Untungnya kami telah 
mulai menyusun barisan dengan diam-diam semenjak pertengahan 


258 



perang dunia kedua dalam rangka perlawanan di bawah-tanah 
yang telah saya ceritakan di atas itu. Sehingga kami dapat mem¬ 
pertahankan keutuhan pendirian warga negara yang beribu-ribu 
itu-selain kira-kira dua-ratus orang saja yang tertipu oleh uang — 
sampai Proklamasi. 

Kesulitan di Saudi Arabia adalah menghadapi dua soal: 
pertama soal agen-agen Belanda vang banyak dalam pemerintahan, 
Saudi Arabia, disebabkan kesulitan keuangan (minyak tanah belum 
berperan lagi) dan kedua soal jaminan kehidupan ribuan warga 
Indonesia yang setia itu. Kerjasama yang lancar antara Panitia 
Pusat dan Panitia Saudi Arabia telah dapat mengatasi kesulitan- 
kesulitan itu. 

Mengenai soal pertama, setelah dilaporkan oleh Panitia ca¬ 
bang Saudi Arabia bahwa pejabat-pejabat Saudi Arabia ada yang 
bertindak terhadap warga Indonesia bertentangan dengan pen¬ 
dirian pemerintahnya, sehingga beberapa rumah mereka digele¬ 
dah, beberapa orang ditahan di kantor polisi, bahkan ada yang 
dipukul (dera) dan bendera Indonesia diturunkan, pimpinan Pa¬ 
nitia Pusat menjumpai Duta Saudi Arabia di Kairo dan menye¬ 
rahkan kepada beliau dua nota, yang satu ditujukan kepada beljau 
sendiri dan yang lain kepada Raja Ibnu Saud. Nota kepada Duta 
itu (29/9/46) setelah menceritakan apa yang terjadi dan bahwa 
beribu-ribu warga Indonesia di sana tidak melakukan politik 
aktif, karena mengetahui bahwa kegiatan politik terlarang di 
Tanah Suci itu, tetapi hanya menunjukkan kepatuhan kepada 
Pemerintah Indonesia hasil Proklamasi, setelah mendapat fatwa 
dari alim-ulama mereka sendiri bahwa patuh kepada Pemerintah 
Indonesia wajib hukumnya, sedang patuh kepada pemerintah 
kafir, seperti Belanda, haram hukumnya, kami katakan antara 
lain : 

"Meskipun kami tidak percaya akan terjadinya hal-hal se¬ 
perti di atas itu, kami mengharap supaya YM akan bermurah 
hati menyampaikan surat yang kami serahkan kepada YM ber¬ 
sama ini, kepada Sri Baginda Raja. Juga kami mengharap supaya 


259 



YM menyampaikan kegelisahan kami itu kepada Pemerintahan 
Sri Baginda . . . . ” 

Adapun surat kepada Raja Ibnu Saud yang juga bertanggal 
29/9/46, setelah menyinggung pula hal-hal di atas itu antara lain 
dikatakan : 

”Kami telah mengumumkan bahwa kami adalah rakyat Re¬ 
publik Indbnesia dan kami telah memutuskan hubungan dengan 
semua Kedutaan Belanda. Untungnya, pendirian kami itu men¬ 
dapat sokongan, tidak saja dari semua bangsa Arab, malahan juga 
dari pemerintah-pemerintahnya dan Liga Arabnya. Tidak ada buk¬ 
ti yang lebih terang dari kenyataan bahwa pemerintah-pemerin¬ 
tah negara-negara itu telah mengizinkan kepada kami semua 
tinggal diwilayah mereka masing-masing tanpa paspor, dan Sekre¬ 
taris Jenderal Liga Arab telah menghubungi negara-negara Arab 
supaya memberi mereka fasilitas bagi kehidupan mereka sehari- 
hari .. . 

"Pendirian kami yang bulat itu telah menakutkan Belanda, 
demikian pula simpati dan sokongan rakyat Arab terhadap ji¬ 
had Muslimin Indonesia telah menggoncangkan lututnya. Bahkan 
mereka seakan-akan disambar petir ketika Dewan Liga Arab me¬ 
mutuskan pada bulan April yang lalu menyokong tuntutan-tuntu¬ 
tan nasional Indonesia Setelah menelanjangi kebohongan 

propaganda Belanda dan agen-agennya di Saudi Arabia, dikata¬ 
kan : 

"Perhatian dan perlindungan yang SBYM berikan itu, mem¬ 
beranikan kami lagi untuk menyampaikan satu permohonan, 
yaitu supaya SBYM bermurah hati untuk menitahkan perintah 
kepada para penguasa agar mereka memberantas fitnahan dan 
komplotan Belanda terhadap saudara-saudara kami warga Indone- 
nesia yang bermukim di bawah perlindungan SBYM itu. Dengan 
demikian besar harapan kami bahwa fitnahan-fitnahan yang 
diada-adakan agen-agen Belanda itu serta surat-surat kaleng yang 
sewaktu-waktu dikirimkan mereka kepada para penguasa di Ta- 


260 




nah Suci itu, tidak lagi akan menyulitkan kedudukan saudara- 
saudara kami itu, baik mental ataupun material.” 


Berbagai usaha digunakan Belanda untuk menguasai warga 
Indonesia di S.A. itu. Mereka merencanakan mengirim missi-missi, 
baik diplomatik ataupun agama, yaitu missi haji, tetapi kedua-dua¬ 
nya itu sudah dapat digagalkan seperti telah saya ceritakan di sini. 
Tetapi yang lebih berat menghadapinya ialah dalam soal materi. 
Kira-kira tiga-perempat warga Indonesia di S.A, itu tidak mem¬ 
punyai sumber hidup sama sekali, setelah mereka melemparkan 
paspor Belanda dan tidak mengakui penguasa di Indonesia selain 
Republik Indonesia. Karena Belanda telah memutuskan bantuan- 
bantuan yang diberikan selama perang sebagai alat penekan. 
Sesuatu keuntungan bagi gerakan perlawanan kami di Timur Te¬ 
ngah adalah bahwa negera-negara Arab meng ’imam’ kan Mesir 
dalam tiap-tiap langkahnya terhadap soal Indonesia seperti penga¬ 
kuan de facto dan pemberian bantuan sekalipun sangat minim 
dan juga pengakuan de jure R.I. 

Untuk menghadapi tekanan dan rayuan-rayuan Belanda da¬ 
lam bidang penghidupan ini, saudara-saudara kita di S. A. itu telah 
menyusun satu organisasi bernama Kopindo (Komite Pertolongan 
Indonesia) yang anggotanya terdiri dari semua suku bangsa Indo¬ 
nesia, Yaitu : 


1 — Abdul KadirTalib Mandiling 

2 - Bakar Abdul Ghafar Palembang 

3 — Abdul Hamid Arabi Aceh 

4 — Kumi Barak Banjarmasin 

5 — Moh. Taib Saman Palembang 

6 — Jamhir Jalai Medan 

7 — Siddik Saleh Banjar 

8 — Syekh Ahmad Alwan 

9 — Abdullah Mahdar Jawa 

10 Saleh Padang 


Ketua, 

Ketua Muda, 

Sekretaris Umum, 
Sekretaris kedua, 
Pembantu Sekretaris I, 
Pembantu SekretarisII, 
Bendahara, 

Pemeriksa Umum, 
Pemeriksa Kedua, dan 
Penasehat. 


Tugas organisasi ini, selain memperkokoh kesatuan dan.persa- 


261 



tuan warga Indonesia di S.A. itu, juga mengumpulkan dana dari 
pedagang-pedagang kecil Indonesia yang bertumbuh selama perang 
itu. Dengan kegiatan Kopindo inilah Panitia di S.A. dapat menam¬ 
pung 30 ton beras yang dimenangkan Panitia Pusat dalam konfron¬ 
tasinya dengan Kedutaan Belanda di Kairo. Seperti telah saya ka¬ 
takan, beras itu 15 ton dijual dan 15 ton lainnya dibagi-bagikan 
kepada warga Indonesia yang beribu-ribu itu. Penjualan beras itu 
sebahagiannya dibagi-bagikan kepada mereka yang sangat keku¬ 
rangan dan lebihnya dipergunakan lagi untuk menampung 30 ton 
beras berikutnya dan begitulah seterusnya. Oleh sebab kekalahan 
di bidang inilah maka Belanda mempergunakan fitnah sebagai sen¬ 
jata menghadapi Panitia di S.A. itu. Fitnah-fitnah inipun akhirnya 
dapat diatasi, sekalipun setelah Ketua Panitia sendiri (alm.) H.M. 
Jaafar Zainuddin dipukul (dera) dan dimasukkan ke dalam bui S.A. 

Panitia Pusat juga melalui Duta S.A. di Kairo dan Sekjen 
Liga Arab juga berusaha mengurangi tekanan hidup itu di samping 
30 ton beras itu. Kami mengemukakan dua alternatif bagi penye¬ 
lesaian kesulitan hidup warga Indonesia di Mekkah itu. Pertama de¬ 
ngan memberi bantuan uang seperti dilakukan Pemerintah Mesir 
atau memulangkan mereka dengan men-carter sebuah kapal seba¬ 
gai yang dilakukan Pemerintah Australia. Usaha bersama antara 
Panitia Pusat dan Panitia cabang di Saudi Arabia, baru mendapat 
balasan pada 4/7/46. Tetapi keragu-raguan S.A. tentang siapa yang 
bertanggung jawab atas hutang-hutang itu nanti, telah melambat¬ 
kan pelaksanaan bantuan itu. Kesulitan dapat di atasi, karena pada 
ketika Missi Suwandi singgah di Kairo, mereka telah kami perte¬ 
mukan dengan Duta S.A. di Kairo dan kepadanya mereka berjanji 
bahwa Pemerintah Indonesia akan membayarnya nanti. 

Konfrontasi terakhir dalam perebutan kekuasaan atas ribuan 
warga Indonesia.di S.A. itu berakhir ketika missi haji Nica yang 
dipimpin Amad Bahamid dari Indonesia Timur dan missi diploma- 
.tik yang dipimpin oleh Sultan Hamid Al-Kadri dapat digerhanakan 
sama sekali, seperti telah saya ceritakan di atas. Sesudah itu 
Belanda tidak berkutik lagi, apalagi Saudi Arabia telah mengikuti 


262 



jejak Mesir dengan melaksanakan putusan Liga Arab, yaitu me¬ 
ngakui R.I. 

Untuk menghadapi propaganda Belanda yang meningkat 
di S.A. itu, kami telah mengusulkan kepada Pemerintah Indonesia 
supaya mengirim pula Missi Haji R.I. ke Tanah Suci. Usul kami 
itu mendapat tanggapan baik, sehingga berturut-turut pada tahun 
1948 dan 1949 R.I. mengirim Missi Haji ke-S.A. Missi Pertama 
terdiri dari (alm) K.H.M. Adnan, Ketua, dan (alm) Ismail Uandg, 
K.H.M. Saleh Suaidi, (alm) H. Awad Syahbal dan H. Syamsir 
anggota. Sedang Missi kedua tersusun dari H. Abdul Hamid,Ketua, 
H. Abdul Kahar Muzakkir, M. Nur Ibfahimi, A. Hasymi dan 
H. Syamsir anggota. Kedatangan Missi-missi itu yang kebetulan 
sesudah konfrontasi dimenangkan sepenuhnya, telah memberi 
semarak yang baik sekali kepada Republik Indonesia Merdeka 
di mata ratusan juta Kaum Muslimin. Inilah pula yang menjadi 
latar belakang maka Saudi Arabia dengan Tanah Sucinya menjadi 
arena konfrontasi yang terpenting di Timur Tengah bahkan di- 
seluruh luar negeri itu, dan itulah pula maka kami dengan sejauh 
tenaga dan kekuasaan kami berjoang mati-matian dalam usaha 
mengalahkan Belanda di arena ini. Alhamdulillah, dengan taufik 
dan hidayah Tuhan dan sokongan negara-negara Arab konfrontasi 
itu dapat dimenangkan, sehingga kedatangan missi-missi di atas 
itu dan kedatangan H.M. Rasyidi, Kuasa Usaha M.D.T.R.I. hanya 
untuk memenuhi formalitasnnya saja dan untuk memuaskan 
hasrat ribuan mujahidin samitin, warga Indonesia di S. A. yang 
dengan sangat meriah telah menyambut kedatangan Utusan R.I. 
pertama itu dipintu kota Jeddah dan Mekkah dengan pekik 
’ Merdeka ’ yang telah diakui negara-negara Timur Tengah itu. 

Hari 8 Muharram 1367 bersamaan dengan 21 Nopember 
1947 dan hari 10 Muharaam 1367 bersamaan dengan 23 Nopem¬ 
ber 1947 adalah hari-hari yang bersejarah bagi warga Indonesia 
di S.A. Karena pada hari 8 Muharaam 1367 itulah mereka ber¬ 
sorak-sorai merayakan kemenangan perjoangan mereka, yang 
berarti pula kemenangan bangsa, dengan pengumuman Saudi 


263 



Arabia akan pengakuannya atas kemerdekaan dan kedaulatan 
Republik Indonesia. Pada tanggal 10 Muharaam 1367 itu pula 
mereka dalam satu jamuan besar dengan penuh khusuk dan tertip 
secara resmi di hadapan petugas resmi R.I. menyatakan kesetian 
dan kepatuhan mereka kepada R.I. Dalam pernyataan patuh dan 
setia itu Ketua Komite Penyambutan Guru Abdul Kadir Talib 
mengatakan antara lain. : 

”Kami, di atas nama Badan Komite Pergabungan dan segenap 
muslimin Indonesia yang berada di seluruh Saudi Arabia (Mekah, 
Jaddah, Mahad Dahab, Madinah, Tait, Riadh, Wajh dan Najran) 
mengucapkan ucapan selamat datang dan selamat sampai kepada 
Bung dan kebesaran hati terhadap pengakuan Saudi Arabia kepada 
Republik Indonesia ... 

Saudara Nari Entik, Sekretaris Panitia cabang Saudi Arabia, 
setelah melaporkan perkembangan gerakan perlawanan dan kon¬ 
frontasi dengan Belanda, berserta suka dan dukanya dan hasil- 
hasil yang diperoleh dalam mempertahankan Proklamasi dan 
mengusahakan pengakuan negara-negara Timur Tengah akan ke¬ 
merdekaan dan kedaulatan R.I., menutup pidatonya dengan 
mengatakan : 

"Bung telah sampai di Saudi Arabia. Sambutlah peijoangan 
kami ini, kalau boleh dikatakan peijoangan, dan kepatuhan kami 
kepada Ibu Pertiwi, kalau kami dikatakan orang lepas dari ikatan 
kewajiban pertama, sebelum mencurahkan darah di Tanah air. 

”Boleh jadi tidak lama lagi akan diadakan perwakilan di 
Saudi Arabia ini. Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia Saudi 
Arabia yang miskin ini ada mempunyai beberapa alat-alat sebagai 
mesin tulis, duplicator, pena, tinta dan lainnya. Terimalah semua¬ 
nya ini akan kami serahkan untuk keperluan negara kita di Saudi 
Arabia, ini. ” 

Terhadap pidato-pidato pimpinan masyarakat dan politik itu 
di Saudi Arabia itu, H.M. Rasyidi menjawabnya dengan panjang 
lebar yang antara lain mengatakan : 


264 



"Ketika kemerdekaan Indonesia diumumkan, kami yang ada 
di Kementerian R.I. dan rakyat umumnya, semua bekerja dengan 
serentak menyelenggarakan segala sesuatu. Dalam pada itti per¬ 
hatian kami selalu dihadapkan kepada jaliat (masyarakat) Indone¬ 
sia di luar negeri. Kami di dalam negeri menunggu-nunggukan 
bantuan dari saudara-saudara yang berada di luar negeri, dengan 
rupa apa saja perjoangan untuk memperkuatkan perhatian dan 
pembangunan negara kita. Sesungguhnya dengan senang hati kami 
mendengar apa yang telah dijalankan oleh saudara-saudara yarg 
di luar negeri, sebagai di Timur Tengah, Australia, India dan di 
luar negeri umumnya, serta pula hal-hal yang penting yang telah 
diselenggarakan itu adalah besar sekali artinya di dalam perjoa¬ 
ngan kita.” 

Pada penutupnya ia berkata : 

"Kepada segenap saudara-saudara di Saudi Arabia dan sete¬ 
lah selesai usaha-usaha saudara-saudara di sini, saya ucapkan 
penghargaan yang tinggi dan tenmakasih. Seterusnya supaya 
keinsyafan kepada kemerdekaan, keinsyafan kepada bernegara 
menjadi pedoman bagi tuan-tuan dan saudara-saudara sekalian.” 




PERKEMBANGAN PERWAKILAN R.I. DI TIMUR TENGAH 


Panitia-Panitia di Timur Tengah d e facto Perwakilan R.I 

Ketika warga Indonesia menyusun barisan .sesudah Prokla¬ 
masi, digariskan dua tujuan utama, atau lebih tegas satu tujuan 
yang bertingkat dua. Yaitu kebebasan warga Indonesia di 
luar negeri dari ’ perwalian ’ Belanda dan pengakuan 
negara-negara luar terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Indo¬ 
nesia. Oleh sebab itulah maka Panitia Pusat-sesudah Dewan liga 
Arab memutuskan supaya negara-negara anggotanya mengakui ke¬ 
merdekaan Indonesia dan kedaulatannya -mengusulkan kepada Se¬ 
kretariat Liga tersebut supaya : 

1. mengirim satu perutusan resmi guna menyampaikan keputu- 
san itu kepada pemerintah R.I. dan 

2. berusaha membawa pembesar-pembesar resmi Indonesia ke 
luar negeri guna menyuarakan R.I. di luar negeri. 

Sebelum keputusan itu, sebagai hasil dari konfrontasi yang 
terjadi antara Panitia Pusat dengan Kedutaan Belanda di Kairo, 
Sekretaris Jendral Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan : 

”Dari saat ini juga Pemerintah Mesir menganggap warga Indo¬ 
nesia di Mesir tidak ada hubungan lagi dengan Perwakil¬ 
an Belanda. Semua urusan yang menyangkut warga Indonesia 
itu, Pemerintah Mesir akan menghubungi Panitia.” 

Dengan pernyataan ini pada 22 Maret 1946 ini, Mesir telah me¬ 
ngakui Panitia Pusat sebagai d e facto perwakilan R.I. Maka 


266 



semenjak itu pula baik Pemerintah Mesir ataupun Liga Arab me¬ 
ngakui Panitia Pusat sebagai perwakilan R.I. sementara. Keputus¬ 
an itu diikuti oleh negara-negara Arab lainnya, sehingga pemerin¬ 
tah Arab mengakui pula de facto perwakilan bagi Panitia-paniti- 
a setempat di Irak dan Saudi Arabia. 

Dari de facto ke de jure 

Keputusan Dewan Liga Arab pada 18 Nopember 1946 yang 
bersejarah itu dan kepergian Utusan Istimewa Liga tersebut ke 
Indonesia dan kemudian kembali dengan membawa beberapa pem¬ 
besar Indonesia telah dapat memastikan wujud Indonesia di luar 
negeri sepenuhnya. Oleh sebab itu pengakuan sepenuhnya de fac¬ 
to dan de jure dari negara-negara Arab itu dapat dihasilkan, 
meskipun dalam mewujudkan perwakilan R.I. masih melalui pen- 
tahapan. , 

Delegasi Diplomasi tetap R.I. 

Kedatangan perutusan Indonesia bersama M.A. Mun’im, Utus¬ 
an Istimewa Liga Arab yang pergi ke Yogyakarta, adalah dengan 
nama delegasi diplomatik R.I. Nama tetap dipakai samphi 
aksi militer Belanda pertama dan H.A. Salim diangkat menjadi 
Meneteri Luar Negeri dan ditugaskan mempertahankan Indone-i 
sia di Dewan Keamanan PBB. Diwaktu itu sudah dirasa perlu me¬ 
nempatkan satu missi tetap di luar negeri, terutama di Timur Te¬ 
ngah, dimana negara-negaranya telah mengakui R.I. Maka dengan 
surat No. 155/L I tanggal 20 Ramadhan 1366 bersamaan 7 Agus¬ 
tus 1947, H. Agus Salim sebagai Menteri Luar Negeri R.I. me¬ 
nyampaikan kepada Kerajaan Mesir keterusan tugas Delegasi Di¬ 
plomatik R.I. untuk negara-negara Liga Arab, sebagai berikut: 

”Yang Mulia, 

”Menteri Luar Negeri Kerajaan Mesir. 

"Assalamualaikum W.W. 

"Setelah mengucapkan salam, saya permaklumkan kepada 


267 



YM bahwa pada 19 April 1947 saya datang ke Mesir, - bersama- 
sama Paduka Tuan Mohammad Abdul Mun’im, Konsul Jenderal 
Mesir di Bombay dan Utusan Istimewa Liga Arab ke Indonesia - 
sebagai Menteri Muda Luar Negeri dan Ketua Delegasi Indonesia. 
Tugas kedatangan Delegasi ke sini telah selesai dengan pengakuan 
Mesir akan Indonesia sebagai negara yang Merdeka dan Berdaulat. 
Kemudian saya berangkat ke Suria, Irak dan Lebanon dan semen¬ 
tara itu suasana di Indonesia berkembang sedemikian rupa sehing¬ 
ga dibentuk Kabinet baru pada 3 Juli 1947 oleh Mr. Amir 
Syarifuddin sebagai Perdana Menteri dan saya sendiri terpilih 
sebagai Menteri Luar Negeri. 

"Sekarang Pemerintah R.I. mengirim saya ke Amerika, 
bersama YM Sutan Syahrir bekas Perdana Menteri R.I., sebagai 
Penasehat Istimewa bagi PYM Presiden Sukarno dan Utusan 
Pemerintah R.I., dengan kewajiban mengadakan perhubungan 
dengan Dewan Keamanan di U.N.O. 

"Maka untuk melaksanakan urusan perhubungan R.I. de¬ 
ngan Kerajaan Mesir saya tentukan : 

"Paduka Tuan Mohammad Rasyidi, Charge’ d’Affaires. 

"Paduka Tuan Mr, M.Nazir Pamoncak, Penasehat. 

"Tuan Mohammad Zein Hassan, Sekretaris I. 

"Tuan Mansur Abu Makarim, Sekretaris II. 

"Ketika saya menyampaikan nama-nama mereka kepada 
YM, saya mengharap mereka akan mendapat perhatian dan per¬ 
tolongan dari YM yang akan memudahkan mereka mengerjakan 
tugas mereka, sehingga mereka menjadi penghubung yang sebaik- 
baiknya antara kedua negara kita. 

( Haji Agus Salim ) 

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. 

Missi Diplomatik R.I. untuk Timur Tengah ini merupakan per¬ 
wakilan R.I. resmi penuh pertama di luar negeri, setelah negara- 


268 



negara Arab mengakui kemerdekaan dan kedaulatan R.I. Kalau 
pengakuan itu telah memperkuat kedudukan R.I. di luar negeri, 
penempatan Missi Tetap itu lebih memperkokoh lagi kedudukan 
itu. 

Kedutaan 

Ketika Sutan Syahrir singgah lagi di Kairo dalam perjalanan 
pulang dari DK-PBB, beliau telah mengadakan pembicaraan de¬ 
ngan Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya PM merangkap Menlu Mesir, 
mengenai hubungan Indonesia-Mesir. Dalam pembicaraan itu telah 
disepakati meningkatakan hubungan diplomasi antara kedua nega¬ 
ra itu pada tingkat Kedutaan. Waktu itu tingkat Kedutaan 
Besar hanya dipunyai oleh negara-negara besar. Persetujuan itu 
telah disiarkan Kemlu Mesir pada 19 Nopember 1947, sebagai 
pelaksanaan perjanjian yang ditandatangani pada 10 Juni 1947 
itu. Pada tanggal 20 Nopember 1947, harian ”A1-Ikhwanul Mus- 
limun menyiarkan sebagai berikut : 

”Sri Baginda Raja Faruk telah berkenan kemarin menanda¬ 
tangani Dekrit Kerajaan mengenai pembukaan Kedutaan-kedutaan 
Mesir di Pakistan, India, Indonesia dan Australia, dan pembukaan 
konsulat di Siprus. 

”Dan telah terdapat persetujuan antara Dr. Syahrir, ex 
Perdana Menteri Indonesia, - ketika beliau berada di Kairo dan 
sebelum meninggalkan kota ini menuju Pakistan, - dan PM Nok¬ 
rasyi Pasya untuk mengadakan pertukaran perwakilan diplomatik 
antara Mesir dan Indonesia, dengan menempatkan dahulu seorang 
Chorge ’d’ Affaires .” 

Kedutaan R.I. pertama 

Maka dengan demikian pula, Perwakilan R.I. di Kairo meru¬ 
pakan Kedutaan R. I. pertama dibuka di luar nege¬ 
ri semenjak Proklamasi. Adapun susunan staf perwakilan R.I. 
adalah tetap menurut surat yang disampaikan H.A. Salim kepada 

269 




Kementerian Luar Negeri Mesir itu, untuk Missi Diplomatik Tetap 
R.I. untuk Negera Arab. Susunan itu diteruskan kembali sesudah 
aksi militer Belanda kedua oleh Mr. A.A. Maramis Menteri Luar 
Negeri ad interim., yang berkedudukan di New Delhi, mewakili 
Pemerintah Darurat R.I. Di bawah ini salinan surat yang dikirim¬ 
kan beliau kepada Menteri Luar Negeri Suria pada tanggal 25 
Pebruari 1949 : 

”His Excellency 

The Minister of Foreign Affaires, 

Government of Syria, Damaskus. 

”Since His Excellency Haji Agus Salim, the Head of the 
Diplomatic Delegation of the Republic of Indonesia, which, in 
April 1947, was sent to the Middle East to seek recognition 
from the Arab States, left the Arab countries in August 1947, 
the work of the Delegation has been performed by His Excellency 
Mohammad Rasyidi in his capacity as Head ad interim of the 
Delegation. This Delegation continues to maintain the relations 
between the Arab couhtries and the Republic of Indonesia. 

”Now, while expressing satisfaction at the existence of 
cordial relations berween Your Excellency’s country and the 
Republic of Indonesia and pending the exchange of the Diploma¬ 
tic Representatives berween our two countries, I, in my capacity 
as the Minister of the Foreign Affaires of the Emergency Govern¬ 
ment of the Republic o f Indonesia, and motivated by sriong 
desire to make our relations closer, have been pleased to appoint 
His Excellency Mohamad Rasyidi as Head of the Diplomatic 
Delegation of the Republic of Indonesia For the Arab countries. 

”In discharge of his duties, His Excellency Mohamad Rasyidi 
is assisted by Mr. Mohamad Zein Hassan as First Secretary and 
Mr. Mansur Abdul Makarim as Second Sedretatary. 

”May it please Your Excellency that His Excellency Muha- 
mad Rasyidi and other members of the Delegation will continue 
to enjoy the full assistance of Your Excellency so that they 


270 



can discharge fully their duties for the good of our two countries. 

”Please accept, Excellency, the assurance of my hight 
consideration.” 


(asd) A.A. Maramis, 

A. A. Maramis, 

Minister of Foreign Affaires a.i. 

Demikianlah Delegasi Diplomatik Tetap R.I. yang ber¬ 
kedudukan di Kairo, sampai Belanda mengakui kemerdekaan 
dan kedaulatan Indonesia pada akhir tahun 1949, memegang 
dua fungsi, yaitu sebagai Kedutaan R.I. pertama buat Mesir dan 
buat seluruh dunia, dan sebagai Delegasi Diplomatik Tetap R.I. 
buat seluruh negara-negara Arab anggota Liga Arab, selain Mesir. 

Demikianlah pula perkembangan Perwakilan R.I. di Timur 
Tengah meningkat dari Perwakilan d e f a c t o oleh Panitia- 
Panitia diwilayah itu, Delegasi R.I., Delegasi Diplomatik Tetap 
R.I. buat Timur Tengah, yaitu suatu perwakilan multilateral 
antara R.I. dengan negara-negara Arab, dan Kedutaan sebagai 
perwakilan bilateral antara R.I. dan Kerajaan Mesir. 

Mukimin Indonesia di Saudi Arabia menjamin Ongkos Pembukaan 
Kedutaan 

Dalam hal pembukaan Perwakilan R.I. di luar negeri, ter¬ 
jadi sesuatu yang patut dicatat dalam perkembangan perwakilan 
kita itu. Ketika Saudi Arabia mengakui R.I. pada 21 Nopember 
1947, telah disepakati pula mengadakan hubungan diplomatik 
antara kedua negara, tetapi pelaksanaannya masih ditangguhkan. 
Mukimin Indonesia di sana mendesak supaya pembukaan perwa¬ 
kilan R.I. di sana dipercepat. Maka ketika Haji Rasyidi, Wakil R.I. 
bagi negara-negara Arab datang ke Saudi Arabia bersama-sama 
Missi Haii R.I. pertama, pada 17 Oktober 1948 telah diadakan 


271 



rapat segi-tiga antara H.Rasyidi sebagai Wakil R.I.,Missi Haji R.I. 
dan para pemimpin masyarakat mukimin Indonesia di sana. Atas 
desakan para pemimpin masyarakat itu, telah disetujui pembu¬ 
kaan Perwakilan R.I. tersendiri di Jeddah, dengan ketentuan : 

1 — Ismail Banda menjadi Kepala Perwakilan R.I. itu, 

2 — Pembelanjaan pembukaan Kedutaan dipikul oleh masyarakat 

mukimin Indonesia di Saudi Arabia, dengan ongkos pertnu- 
laan 10.000,- (sepuluh ribu) rial dan ongkos bulanan 2000 
(dua ribu) rial, dan 

3 - Melaporkan keputusan ini untuk meminta persetujuan kepa¬ 

da Pemerintah R.I. di Yogyakarta. 

Untuk pelaksanaannya, Ismail Banda telah datang ke-Kairo 
buat membeli peralatan Kedutaan itu, tetapi aksi Belanda kedua 
telah melambatkan pelaksanaannya. Dan Ismail Banda sendiri 
telah pergi ke-New Delhi, India. 

Menilai tingginya suhu semangat kebangsaan masyarakat 
Indonesia di Saudi Arabia itu, baik pula dicatat bahwa kesulitan 
keuangan vang dialami Missi Haji R.I. di sana telah dapat diatasi 
dengan gotong-royong masyarakat itu. 


272 



SERBA - SERBI DIPLOMASI REVOLUSI 


’Ahmad’ Sukarno 


Dalam usaha kami menarik simpati penduduk Timur Tengah 
yang mayoritas besar beragama Islam, Panitia-panitia Timur Tengah 
mempergunakan 'ukhuwah Islamiah’ sebagai sarananya. Pada per¬ 
mulaan menjalankan ’diplomasi revolusi’ dengan sarana tersebut 
kami selalu terbentur pada pertanyaan-pertanyaan : ’Sukamo 
muslim ?’ Untuk menghilangkan pertanyaan yang berupa keragu- 
raguan itu, kami teringat bahwa sudah menjadi kebiasaan di In¬ 
donesia menambahkan kata-kata 'Muhammad’ atau ’Ahmad’ ke¬ 
pada nama kecil seseorang. Dalam Panitia Pusat saja terdapat 
beberapa nama — termasuk nama penulis yang mengikuti kebia¬ 
saan tersebut. Dalam pembicaraan-pembicaraan, lahir pertanyaan, 
kenapa tidak kita tambahkan saja ’Ahmad’ kepada nama beliau 
karena 'Muhammad ’ sudah diambil Bung Hatta. Demikianlah 
dalam satu wawancara pertama sesudah pembicaraan-pembicara¬ 
an itu, saya lontarkan jawaban "Bukankah namanya Ahmad 
Sukarno ?,” ketika ditanyakan kepada saya "Apakah Sukarno 
Muslim ?” 

’ D r s ’ Muhammad Hatta 

Titel ’ Drs ’ hanya dijumpai di Holland dan negara-negara 
jajahan atau bekas jajahannya. Majallah ’Knockerbocker’ yang 
Pro-Belanda itu dalam rangka sokongannya terhadap Belanda 


273 



mengejek-ejek pemimpin, proklamator Drs. Muhammad Hatta 
dengan mengatakan bahwa karena beliau mendapat titel ilmi¬ 
ah 'Dr.' dalam berbagai ilmu pengetahuan, Bung Hatta menam¬ 
bahkan * s * diakhir titel-titel doktor yang diperolehnya itu. 
Pemalsuan kenyataan ini kami gunakan untuk mencap propagan¬ 
da Belanda bermutu rendah dan sampai tidak malu-malu berdus¬ 
ta demikian terbuka. 

500.000 Ton beras Indonesia penolong kelaparan di India 

Berita bahwa Indonesia bersedia menolong India dengan 
500.000 ton beras guna menghadapi bahaya kelaparan yang 
mengancamnya, sangat berfaedah dalam menanggapi propaganda 
Belanda bahwa rakyat Indonesia belum matang untuk mengurus 
diri sendiri (perkataan ini juga keluar dari mulut Mr. Musa) dan 
R.I. diliputi oleh kekacauan yang mengancam keamanan di Asia 
Tenggara. Dalam mempergunakan bahan ini, juga kami balikkan 
bahwa di zaman penjajahan Belanda Indonesia selalu mengimpor 
ribuan ton beras tiap-tiap tahun. Karena tanah-tanah persawahan 
dipaksakan Belanda supaya ditanami dengan tanaman yang sesuai 
dengan kepentingan Belanda sendiri. 

Dua jam pendudukan Yogya oleh Jenderal Sudirman 

Dalam rangka menanggulangi propaganda Belanda sesudah 
aksi militernya kedua bahwa kekuatan pertahanan R.I. telah 
hancur-lebur dan Panglima TNI Jenderal Sudirman telah tertawan, 
berita pendudukan Yogya selama enam jam itu, kami besar-besar¬ 
kan dan dibumbu-bumbui. Pendudukan itu kami katakan dua 
hari dan yang memimpin penyerbuan adalah Jenderal Sudirman 
sendiri. Berita yang telah di ’olah’ ini termakan oleh masyarakat 
Timur Tengah, karena 'dasarnya,’ yaitu pendudukan Yogya, 
memang diberitakan juga oleh kantor-kantor berita 'Batavia.' 
Dengan demikian pula teijawablah penerangan kami bahwa 'pe¬ 
ngosongan' ibukota R.I. itu hanya berupa taktik perang gerilya 
belaka, dan setiap kali diperlukan dapat diduduki kembali. Dalam 


274 



berita-berita yang kami terima memang tidak disebutkan pe¬ 
mimpinnya yang sebenarnya Kolonel (Jenderal) Suharto, Presiden 
R.I. sekarang. 

Penganiayaan dan wafatnya Mas Mansur 

Penganiayaan terhadap K.H. Mas Mansur, seorang pemimpin 
Islam terkemuka sampai meninggal dunia di Surabaya itu kami 
jadikan bahan propaganda yang baik sekali untuk merendahkan 
prikemanusiaan Belanda dan Sekutunya Inggris. Penganiayaan 
sampai mati bagi seorang pemuka Islam itu, telah dipergunakan 
oleh mass-media Ikhwanul Muslimin, untuk memuntahkan ma- 
kian-makiannya kepada Belanda dan Sekutu-sekutUnya itu. 

Syahrir dan Islam 

Sarana 'ukhuwah Islamiyah’ yang kami jadikan sarana bagi 
menarik simpati negara-negara Islam umumnya dan negara-negara 
Arab khususnya, kelihatannya mendapat 'pengesahan' dari para 
pembesar Indonesia yang berkunjung ke Kairo sebelum pengakuan 
Belanda, seperti Bung Hatta, Syahrir, Ali Sastroamijoyo, Dr. A.K. 
Gani semuanya memuji-muji persaudaraan Islam dan pentingnya 
hubungan antara Indonesia dan negara-negara Arab. Keluarnya per* 
nyataan itu dari Bung Hatta yang melahirkan bertaqwa adalah 
wajar, tetapi pernyataan dari seorang seperti Bung Syahrir» pe¬ 
mimpin sosialis, adalah menarik perhatian apakah itu suatu 
pengakuan bahwa peijoangan Indonesia di luar negeri hanya 
dapat dimenangkan dengan pengakuan penuh negara-negara Islam 
sebelum R.I. cukup berumur dua tahun itu. (Sekarang sudah 
ada orang yang bertanya-tanya : Kenapa kita mesti menyokong 
Arab melawan Israel ? Dasar 'lemah' ingatan ?) Sebagai contoh, 
pernyataan Bung Syahrir kepada harian "Ikhwanul Muslimin” 
pada 5/10/47 di London sebagai berikut : 

"Saya percaya bahwa sokongan Dunia Arab terhadap Mesir 
(Indonesia ? pen.) mengandung arti lebih dari semata-mata per- 


275 




276 





277 





saudaraan. Gerakan ini membayangkan suatu kekuatan yang akan 
membawa kepada persatuan bulat antara Dunia Islam seluruh¬ 
nya. Adalah satu kenyataan adanya kecenderungan mengem¬ 
bang dalam Ummat Islam di Dunia ke arah persatuan dan pelebur¬ 
an dalam satu persaudaraan Islam yang bertujuan memutuskan 
rantai-rantai penjajahan asing.Indonesia menyokong Pa¬ 

kistan sepenuhnya. Indonesia negeri Islam dan akan berjoang 
dibariSan Kaum Muslimin. 

Menjawab pertanyaan wartawan ”An-Nida” tanggal 18/11/47 
Syahrir menyatakan antara lain : 

” Tidak ragu lagi bahwa Ummat Islam dan bangsa Arab mem¬ 
punyai peranan besar dalam politik dunia, dengan persatuan 
politik dan persamaan pengertian dalam taktik dan strategi 
Yang penting adalah supaya mereka pandai memperankan ke¬ 
kuatan mereka ini, terutama di Timur Tengah, suatu daerah 
penting yang menjadi rebutan pengaruh dan kekuasaan antara 
dua blok. Apabila mereka pandai mempergunakan kekuatan itu, 
mereka dapat menjadi faktor yang effektif dalam perkembangan 
situasi dan dalam menciptakan perimbangan kekuatan internasio¬ 
nal, terutama di timur Laut Putih Tengah.” 

Ketika singgah di Karaci, beliau menyatakan (’Sautul Um- 
mah 22/11/47) : 

” Pembentukan suatu organisasi persaudaraan yang akan me¬ 
liputi seluruh negara-negara Islam, akan banyak menolong me¬ 
ngatasi persoalan-persoalan sekarang. Tidak perlu bahwa organi¬ 
sasi itu bersifat pemerintahan (govemmental), tetapi ia perlu 
menjadi arena umum lagi bagi diskusi bebas guna membica¬ 
rakan cara-cara mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi.” 

Indonesia dan Palestina 

Negara-negara Arab menyokong Indonesia dengan penuh 
semangat. Adalah memuaskan hati kami yang berjoang di negara- 


278 




negara itu bahwa dari pihak Indonesia tidak terjadi bertepuk 
sebelah tangan. Pengulas berita pada RRI-Yogya yang disiarkan 
’Ikhwanul Muslimin’ pada 3/10/47 menyatakan : 

” Indonesia menentang pembagian Palestina antara pendu¬ 
duk asli Arab dan pendatang Yahudi, sebagai disarankan oleh 
komisi internasional PBB, serta mengecam pendirian komisi 
itu yang dikatakan tidak berpedoman kepada kenyataan yang 
hidup di Palestina dan tidak menghiraukan keadilan dan kebe¬ 
naran .Persoalan Palestina pada dasarnya adalah persoa¬ 

lan kebenaran, keadilan dan kemerdekaan. Maka oleh karena itu 
ia menjadi persoalan Arab dan Kaum Muslimin seluruhnya. Bang¬ 
sa Indonesia yang sedang memerangi kelaziman dan penjajahan 
menentang sekuat-kuatnya pembagian Palestina dan berdiri di 
samping saudara-saudaranya negara-negara Arab dan Ummat Is¬ 
lam dan pednta-pecinta kebenaran dan keadilan, sampai Pales¬ 
tina mencapai kemerdekaan penuh dan memperoleh hak-haknya 
seluruhnya.” 

Pernyataan ini yang kami sendiri menangkap dan menyebar¬ 
luaskannya, banyak sekali faedahnya bagi memperkuat sokongan 
Arab terhadap Indonesia. 

Usaha Inftlterasi Komunis 

Seorang komunis belum benar-benar komunis, jika ia di mana 
saja berada tidak berusaha mengomuniskan orang lain. Demikian¬ 
lah yang dikeijakan Setiajit dalam dua kali ia singgah di Kairo. 
Kesempatan terbuka baginya karena ada lima orang manusia 
Indonesia di Kairo itu, yang karena tidak mendapat kedudukan 
dalam kegiatan-kegiatan Panitia Pusat, berusaha mengganggu ke¬ 
lancaran kegiatan itu. Dalam kesinggahannya pertama-tama (1946) 
Setiajit mengetahui adanya lobang yang dapat dimasukinya. Dari 
hari pertama ia di sana ia sudah mulai membina ke-S orang itu, 
yang sebenarnya tidak menyetujui komunisme, tetapi mengha¬ 
rapkan mendapat ’backing’ dikalangan yang berkuasa di Jakarta. 


279 




Setiajit adalah tangga - bagi mereka - kepada tujuan tersebut. 
Dalam kedatangannya kedua, dan waktu itu ia telah menjabat 
Wakil PM dalam Kabinet Syarifuddin, ia lebih berani dan mene¬ 
kan. Usahanya itu kami tentang, karena bertentangan dengan 
ketentuan yang telah kami gariskan, yaitu semua mahasiswa 
dianjurkan mempelajari partai-partai yang ada di Indonesia, teta¬ 
pi dilarang sama sekali melakukan kegiatan politik partai. Kegia¬ 
tan politik harus seluruhnya dibulatkan kepada pertahanan ke¬ 
merdekaan Indonesia dan kedaulatannya. Oleh karena-keberanian- 
nya mempropagankan Partai Buruh dan malah berusaha mendi¬ 
rikan cabang partai itu dikalangan mahasiswa, teijadi tiga kali 
bentrokan dengan Ahmad Hasyim Amak, Sekretaris Urusan Arab 
Panitia Pusat, sehingga dikhawatirkan akan teijadi perkelaian. 
Maka saya seretlah ia kekamar kerja, dan dalam pembicaraan 
empat mata, saya peringatkan supaya ia menghentikan kegiatan¬ 
nya itu, karena membahayakan bagi persatuan peijoangan kami 
diluar negeri. Mulanya — sebagai Wakil PM — ia marah terhadap 
peringatan saya itu, tetapi setelah saya peringatkan lagi kemung¬ 
kinan pukul-memukul akan terjadi dan ia sendiri dipihak yang 
sangat minus, dengan muka yang masih merah ia kelihatannya 
membenarkan dengan angguk-angguk kecilnya. Kemudian dike¬ 
tahui juga bahwa ia berhasil mengadakan rapat dengan kelima 
manusia itu dan kelima orang ini adalah mereka yang memboikot 
Ulang Tahun Pertama Proklamasi, seperti pernah saya katakan 
di atas. 


Penghapusan dualisme pimpinan 

Untuk usaha menanggulangi kemungkinan perpecahan dise¬ 
babkan kegiatan Setiajit waktu kedatangannya pertama tahun 
1946 itu Panitia Pusat memutuskan menyatukan pimpinan masya¬ 
rakat Kairo. Sebelumnya, ada dua organisasi, satu sosial satu 
Perpindom yang bertugas mengurus soal-soal sosial masyarakat. 
Untuk membelokkan kegiatan lima serangkai itu dari perpecahan, 


280 



para mahasiswa kami juruskan kepada memilih mereka itu bagi 
pimpinan organisasi sosial itu. Tetapi mereka — sesudah menda¬ 
pat sokongan Setiajit itu, — dengan ’Serikat Buruh’ — nya beru¬ 
saha menguasai Panitia Pusat yang mengurus soal-soal politik itu. 
Melihat bahaya ini, dengan cara yang pernah kami lakukan se¬ 
masa menjalankan perlawanan di bawah tanah - kami bawa ke- 
rapat umum supaya pimpinan masyarakat disatukan saja, baik 
bagi soal sosial ataupun politik. Hasil pemilihan yang dilaksa¬ 
nakan pada Januari 1947 itu telah menghilangkan dualisme itu, 
karena mereka hanya mendapat lima suara mereka sendiri. Se¬ 
menjak itu hanya satu pimpinan saja yang mengurus masyarakat 
Indonesia di Kairo. Adapun ’Partai Buruh’ yang dikecam pedas 
oleh Mr. Nazir Pamoncak dalam satu rapat umum, sesudah itu 
tidak diketahui lagi di mana pusaranya. 

”Suprapto” di K a i r o 

Usaha infilterasi komunis itu telah dicoba pula oleh ”Su- 
prapto” yang diperkenalkan Suripno dari Praha sebagai ’sekre- 
taris’-nya, ketika saya menjemput mereka di lapangan udara 
Faruk internasional, Kairo. Di dalam mobil ia mulai mengecam 
Sukarno—Hatta dengan kecaman-kecaman yang pedas dan kadang- 
kadang kasar. Saya heran melihat ’keberanian’ seorang sekretaris 
berbicara demikian ’lancang’ di hadapan kepalanya, tanpa yang 
akhir ini menegornya. Sampai di Kairo terjadilah perdebatan 
sengit antara ’Suprapto’ dan para penantinya dan sampai terjadi 
'pertarungan kasar’ antara dia dengan Mansur Abu Makarim. 
Dan dikhawatirkan bahwa ia akan diperpukulkan. Semenjak itu 
’Suprapto’ disembunyikan oleh kepalanya di hotel dan berdiam 
di sana sampai berangkat, sekalipun ia berkesempatan untuk ber¬ 
bicara di hadapan warga Indonesia di Mesin Sesampainya di 
Yogyakarta baru kami ketahui bahwa ’Suprapto’ itu adalah Muso, 
pemimpin komunis kawakkan yang mencoba menikam R.I. dari 
belakang selagi bangsa Indonesia menghadapi agresi Belanda, 
pada bulan Desember 1948. 


281 




282 


"Suprapto” alias Muso hampir diperpukulkan mahasiswa karena lancangnya 
mencaci-caci Sukamo-Hatta. Kemudian terpaksa disembunyikan di hotel oleh 
Suripno. Kelihatan duduk di ujung kiri barisan muka berdekatan dengan Su- 
ripno, dalam satu pertemuan dengan para mahasiswa, di mana ia tidak berku- 


Bendera Pusaka Luar Negeri ? 

Untuk keperluan kunjungan Missi Su wan di dari kawan-kawan 
pada 7 April 1946 dan 26 April 1946 di Kairo, Panitia telah me¬ 
nyewa sebuah mobil. Sebagai Missi R.I. resmi, pada mobil tersebut 
dikibarkan sebuah bendera merah-putih berukuran- kecil. Oleh 
karena Missi itu tidak pernah turun selama perjalanan ke Den Haag 
selain di Kairo, dan oleh karena Missi itu adalah Missi R.I. resmi 
pertama keluar negeri, maka bendera yang dikibarkan pada 
mobil Missi tersebut, adalah pula bendera pertama dipergunakan 
diluar negeri oleh satu missi atau seorang resmi R.I. Oleh sebab 
itu, bendera tersebut yang masih saya simpan sampai sekarang 
kiranya berhak memakai nama BENDERA PUSAKA 
LUAR NEGERI? 


’ Blessing in Disguise ’ 

Kegagalan Presiden Sukamo ”ke luar” negeri sebelum 
agresi Belanda pertama. 1947 adalah ’ blessing in disguise ’ 
bagi kelanjutan kepercayaan luar negeri pada kesanggupan bang¬ 
sa Indonesia menghadapi agresi dan mempertahankan kemer¬ 
dekaannya yang telah diakui negara-negara Arab itu. Karena se¬ 
kiranya ”ke luar” nya itu berhasil, perlawanan didalam negeri 
akan dianggap orang seperti halnya perlawanan-perlawanan bang¬ 
sa-bangsa selama perang dunia kedua, yang para kepala negaranya 
sudah berlarian ke London, Amerika dan Timur Tengah, yaitu 
suatu perlawanan yang putus asa, yang dengan sendirinya akan 
mengendorkan sokongan-sokongan luar negeri yang telah kita 

peroleh itu. Bung Karno memang biasa "keluar” negeri, setiap 
kali situasi dalam negeri kelihatannya gawat. Sekiranya terburu, 
mungkin sekali beliau akan "keluar” negeri juga, ketika G.30 S 
PKI itu, karena pada bulan Oktober 1965 itu memang perjalanan 
beliau ”ke luar” negeri telah diatur menuju Paris, Spayol dan 


283 



s 

Mexico.U Ada pengamatan politik yang mengartikan ke luar ne¬ 
geri itu dengan lari dari tanggung jawab. 

Kejatuhan pesawat udara yang membawa delapan wartawan 
Amerika Serikat di dekat Bombay, sesudah mengunjungi Indonesia 
atas initiatif majalah ’Knockerbocker’ yang menyokong Belanda, 
adalah satu ’Blessing in disguise’ lagi. Karena sekiranya mereka 
selamat kembali, kemungkinan sekali mereka akan dapat mempe¬ 
ngaruhi pendapat umum negara itu -yang waktu itu lebih condong 
kepada aspirasi-aspirasi nasional Indonesia- bagi kepentingan Be¬ 
landa. 

Pada kedua kejadian di atas itu kami bersujud syukur kepada 
Tuhan Yang Maha Kuasa, meskipun dengan bersyukur bagi keja¬ 
dian ke dua ini -tanpa disadari- kami seolah-olah kehilangan ra¬ 
sa kemanusiaan; tetapi demikianlah yang terjadi. 

Warga Indonesia di Luar Negeri dan Persetujuan Indonesia-Belanda 

Berita-berita terarah dari ’Batavia’ mengenai Perjanjian-perjan¬ 
jian yang dicapai dengan Belanda, baik ’Linggarjati atau Ren- 
ville,’ tidak saja menggoncang pandangan luar negeri kepada 
kemerdekaan dan kedaulatan R.I., tetapi juga warga R.I. yang 
berada di luar negeri. Hanya pengakuan de facto dalam ’Linggar- 
jati’ dan ’di bawah mahkota Ratu’ dalam ’Renville ’ telah menyu¬ 
litkan Panitia-panitia Timur Tengah memberi penerangan, meski¬ 
pun sudah diterima ”Di sekitar Usul-usul Pemerintah Kita” yang 
dikeluarkan oleh Kempen R.I. Dalam suatu diskusi yang lama 
hangat dan kadang-kadang kasar telah dibahas naskah perjanjian 
’Renville.’ Memang susah bagi pimpinan menenangkan mereka 


Saya «endiri tidak membaca kawat mengenai kedatangan Sukarno itu, tetapi 
Duta Besar Tamzil memesankan kepada saya supaya menyampaikannya kepada 
Kementerian Luar Negeri Spanyol, ketika saya berpamitan ke Madrid, sebelum 
saya dipindahkan dari Paris tepat pada 30 September 1965 ke Rabat. 


284 



terutama yang berasal dari daerah-daerah yang masih di duduki 
Belanda. Akhirnya saya coba membuat kesimpulan perdebatan 
antara yang menerima dan menolak, meskipun kesimpulan itu 
sebenarnya tidak tepat, tetapi dipakai sebagai usaha penenang 
sebagai berikut : 

l'- Menerima, dengan syarat bahwa R.I. mengumumkan bahwa 
ia tetap bertekad memasukkan pulau-pulau yang masih di 
duduki Belanda ke dalam kedaulatan R.I., dan 

2- Menolak, jika Pemerintah R.I. tidak mengumumkan tekadnya 
dengan resmi akan memasukkan pulau yang masih di luar 
R.I. itu ke dalam kedaulatannya. 

Meskipun kesimpulan itu dipandang oleh sebagian hadirin tidak 
tepat atau itu-itu juga, tetapi telah berhasil dijadikan putusan yang 
dikirimkan kepada pemerintah R.I. 

Peijajian pertama di ratifikasi R.I. 

Kalau Peijanjian Persahabatan Indonesia-Mesir adalah perjanjian 
pertama yang ditandatangani Indonesia Merdeka, Perjanjian itu 
pulalah yang pertama kali diratifikasi Komite Kerja Pusat Parleman 
Indonesia. Dalam ini baik dicatat bahwa Perjanjian Kebudayaan 
Indonesia Mesir adalah pula perjanjian kebudayaan yang pertr ma 
yang ditandatangani R.I. dengan negara luar. 

BUNG HATTA berterima kasih 

Seperti telah saya sebutkan, selesai memimpin Delegasi R.I. 
ke Konfrensi Meja Bundar Bung Hatta singgah di Kairo. Dalam 
satu resepsi besar yang diadakan guna menghormati beliau di 
hotel Semiramis di tepi Sungai Nil, beliau mengambil kesempatan 
untuk mengucapkan terima kasih kepada segala pihak yang telah 
menyokong perjoangan Indonesia sampai menang itu, dan memang 
diundang kepada resepsi itu. Bung Hatta tidak mencukupkan ucap¬ 
an terimakasih di dalam resepsi itu saja, meskipun segala pihak 


285 




286 


Bung Hatta bersama-sama pembesar-pembesar Liga Arab. Di kirinya (baju kepu¬ 
tihan dan bertarbusy) Abdulrahman Azzam Pasya Sekretaris Jenderal Liga terse¬ 
but. 




0 



E * e rt 
.H <u G O 

<g ^ i | .f 5 

i 8S 8 g 

< m g s 
JjSW" 
g 3 'S S 

w S i* -c 

«M “>'h 

>S> >, 


2 -S 

3 I 

E c 

4 ) 5 
«5 .§ 


s a ’a £ as 

3 ’S- O C 

S ^ « c 
■o 2 -£f rt 

js -a 

I B 
w O g 

« 5 •§,«£ 

.s i s’" 

tn g e 
w _1 ’d 

'}w, 

lili, 

8Sl«1 

si 

G ,jQ ^ S e3 

iS| 2 §- 

HjJl 

<|i|l 
s“£l| 
g 1 -s I 'l 

m G &< P.‘-H 


287 





288 







resmi dan tidak resmi, sudah tercakup dalam resepsi itu, tetapi 
beliau mengunjungi pembesar-pembesar Pemerintah Mesir dan Liga 
Arab di rumah atau di kantor mereka masing-masing. 



289 



PENUTUP 


HASIHiASIL TERPENTING DIPLOMASI REVOLUSI 
DI LUAR NEGERI 

t 

I— Timur Tengah 

1 —Pada 18/12/45 pernyataan Liga Arab pertama : sincerest 

sympathy with Indonesia and its caouse of Independence. 

2 — Pada 22 Maret 1946, Kerajaan Mesir mengakui d e f a c t o 

Republik Indonesia dan kebebasan warga Indonesia di luar 
negeri dari ’ perwalian ’ Belanda, dan membantu dengan 
kenangan bagi jaminan kehidupan mereka. Keputusan ini di¬ 
ikuti oleh seluruh negara Arab, yang semenjak itu pula 
mengakui Panitia-panitia di Kairo, Mekkah dan Baghad 
d e f a c t o Perwakilan R.I. (sampai berdiri Perwakilan R.L 
de jure pada pertengahan bulan Juli 1947) dan memberi 
mereka fasilitas-fasilitas diplomatik. 

3— Pada 18 Nopember 1946 Dewan Menteri Luar Negeri Liga 
Arab memutuskan supaya negara-negara anggotanya menga¬ 
kui kemerdekaan Indonesia dan kedaulatannya d e f a c t o 
dan d e jure. Utusan Istimewa Liga Arab menyampaikan 
keputusan itu ke Ibukota R.I. dan kembali dengan membawa 
Delegasi R.I. 

4— Pada pertengahan tahun 1947 semua negara-negara Arab 
telah mengakui d e f a c t o dan d e jure kemerdekaan 
dan kedaulatan Republik Indonesia. 

5— Pada 10 Juni 1947 buat pertama kali R.L menandatangani 
Perjanjian Persahabatan, Hubungan Diplomatik dan Konsuler, 


290 



serta Perniagaan dengan Kerajaan Mesir. Dan diikuti oleh 
Suria pada 2 Juli 1947. 

6- Penggagalan pengiriman missi-missi diplomatik dan haji Nica 
ke Timur Tengah dan Mekkah. 

7- Pengusiran Salim Alatas, yang ditempatkan Belanda di Kedu¬ 
taannya di Kairo guna memburuk-burukkan R.I., sebagai 
persona non grata. 

8— Pembukaan Kedutaan R.I. pertama dengan Kuasa Usaha 
Penuh (Charge d’ Affaires en pied) pada Oktober 1947. 

9— Pengiriman Missi Bulan Merah Mesir ke Indonesia, lengkap 
dengan obat-obatan dan peralatan kesehatan, yang terdiri 
dari tiga dokter. 

10— Pemboikotan kapal-kapal Belanda di pelabuhan-pelabuhan 
Arab, terutama di Terusan Suez. 

II — India dan Ceylon (Sri-Langka) 

1— Berhasil bersama mendesak Pemerintah India Sementara guna 
menekan Inggris supaya menarik tentara asal India dalam 
tentara Inggris yang membantu Belanda di Indonesia, dan 
dengan demikian meringankan tekanan dan korban yang 
diderita kekuatan R.I. 

2— Berhasil mendorong pelangsungan Konferensi Antar-Asia di 

New Delhi, yang keputusan-keputusannya menjadi dasar 
Resolusi Dewan Keamanan guna gencatan senjata di Indone¬ 
sia dan penyelesaian konflik Indonesia-Belanda yang berakhir 
pengakuan Belanda atas kemerdekaan dan kedaulatan Indo¬ 
nesia. _ 

3— Berhasil mendapatkan sokongan buruh pelabuhan-pelabuhan 
laut dan udara untuk memboikot kapal-kapal dan pesawat- 
pesawat udara Belanda yang mengangkut tentara dan per¬ 
senjataan ke Indonesia. 

III— Australia 

1— Berhasil menarik simpati Pemerintah Buruh Australia, se- 


291 



hingga ia menjadi penyokong Indonesia yang gigih di Dewan 
Keamanan. 

2- Berhasil menarik buruh pelabuhan-pelabuhan Australia guna 
menyokong perjoangan Indonesia, sehingga tidak kurang 
20 kapal Belanda dan Sekutu yang penuh tentara dan sen¬ 
jata lumpuh di pelabuhan-pelabuhan itu. 

IV- Di Wilayah-wilayah Dunia Lainnya 

Di lain-lain wilayah di dunia, meskipun hasilnya tidak me- 
nyolok seperti di wilayah di atas itu, telah dapat menarik per¬ 
hatian dunia kepada kebenaran dan keadilan perjoangan rakyat 
Indonesia, Panitia-panitia di New York dan SamEranscisco, demi¬ 
kian pula Panitia London yang telah dapat menggerakkan sayap 
kiri Partai Buruh Inggris guna kepentingan Indonesia dan menarik 
kekompakan rakyat Indonesia, sebagai diperlihatkan oleh demon- 
trasi-demontrasi buruh kapal Indonesia yang meninggalkan kapal- 
kapal Belanda ditengah-tengah kota London. Panitia London yang 
dipimpin ’single fighter’ Muhammad Ali, banyak berbakti ketika 
soal Indonesia buat pertama kali dibicarakan di Dewan Keamanan 
PBB di London. 

V — Penghargaan 

Perjoangan pemuda / mahasiswa Indonesia di luar negeri 
yang saya namakan ’Diplomasi Revolusi’, telah mendapat perha¬ 
tian dan penghargaan dari pemimpin-pemimpin Indonesia yang 
waktu itu bertanggung jawab langsung pada hasil-gagalnya Pro¬ 
klamasi dan mengendalikan diplomasi R.I. di lapangan internasio¬ 
nal, dengan pernyataan-pernyataan sebagai berikut: 

a— Sutan Syahrir, Perdana Menteri, di hadapan sidang Komite 
Pekerja Nasional Pusat yang bersidang pada 1 Maret 1947 
menyatakan : ” SUNGGUHPUN MENGALAMI BANYAK 
KESUKARAN. ORGANISASI-ORGANISASI BANGSA IN¬ 
DONESIA DI LUAR NEGERI SANGAT BESAR JASANYA 
DALAM MENARIK PERHATIAN DUNIA INTERNASIO- 


292 



NAL TERHADAP KEADAAN YANG SEBENARNYA DARI 
PERJOANGAN BANGSA INDONESIA.” 

b— Dalam pertemuan pertama dengan Panitia Pusat Pembela 
Kemerdekaan Indonesia di Kairo pada 15 April 1947, Haji 
Agus Salim, Wakil Menteri Luar Negeri dan Ketua Delegasi 
R.I. ke Timur Tengah mengatakan : 

”USAHA-USAHA PANITIA-PANITIA SAUDARA-SAUDA¬ 
RA TELAH MEMUNGKINKAN REPUBLIK INDONESIA 
DENGAN RESMI KE LUAR NEGERI GUNA MEMULAI 
PERJOANGAN DIPLOMASINYA DI GELANGGANG IN¬ 
TERNASIONAL. KAMI DATANG KEMARI SEOLAH- 
OLAH HANYA UNTUK MENANDATANGANI DOKUMEN- 
DOKUMEN YANG TELAH SELESAI SAUDARA-SAUDA¬ 
RA SIAPKAN.” Kemudian beliau menghadiahkan uang 
sebanyak seribu pound sterling, guna membelanjai kegiatan- 
kegiatan seterusnya. 

c- Dr. Muhammad Hatta, Wakil Presiden dan Ketua Delegasi 
R.I. ke Konferensi Meja Bundar yang telah menghasilkan 
pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan dan kedaulatan 
Indonesia, dalam satu wawancara dengan majallah Kairo ter¬ 
kemuka ’ Akhir Sa’ah ’ tanggal 23/12/1949 menyatakan an¬ 
tara lain : 

"KEMENANGAN DIPLOMASI INDONESIA MULAI DI 
KAIRO. KARENA DENGAN PENGAKUAN MESIR DAN 
NEGARA-NEGARA ARAB LAINNYA TERHADAP INDO¬ 
NESIA SEBAGAI NEGARA YANG MERDEKA DAN BER¬ 
DAULAT PENUH, SEGALA JALAN TERTUTUP BAGI 
BELANDA UNTUK SURUT KEMBALI ATAU MEMUNG¬ 
KIRI JANJI, SEBAGAI SELALU DILAKUKANNYA DI 
MASA-MASA YANG LAMPAU, ” seperti telah saya nukil¬ 
kan pada permulaan buku ini. 

d- Beberapa bekas pejoang luar negeri yang bertugas di Kemen- 
terian Luar Negeri R.I. dan berada di Jakarta pada tahun 
1970, telah dianugerahi oleh Presiden R.I. tanda kehormatan. 


293 



”Setia Lencana Kemerdekaan (S.K. Presiden R.I. No. 013/ 
TK/1969). Mereka itu adalah : 

1) . Muhammad Zein Hassan Lc. Lt., ex-Ketua Panitia Pusat 

Pembela Kemerdekaan Indonesia, berkedudukan di Kairo. 

2) . Imron Rosyadi (S.H), ex-Ketua Panitia Pembela Kemerde¬ 

kaan cabang Baghdad, Irak. 

3) . H.M. Jaafar Zainuddin, ex-Ketua Panitia Pembela Kemerde¬ 

kaan Indonesia cabang, Mekkah, Saudi Arabia. "'j 

4) , Mansur Abu Makarim, Sekretaris Panitia Pusat. Kairo. 

5) . Zaidan Abdul Samad, anggota Panitia Irak. 

6) . B.A. Dbani (S.E.), ex-Ketua Panitia, New Delhi, India, 

7) . H. Hanan Abbas, angota Panitia India. 

8) . Muhammad Muin, anggota Panitia India. 

9) . Haludin Lubis, anggota Panitia India. 

10). A. B. Lubis, anggota Panitia India. 

Jakarta 17 Agustus 1970 




295 


menterian Luar Negeri, beruntung ikut menyiapkan dan menyaksikan penan¬ 
datanganan Perjanjian Kebudayaan pertama antara R.I. dan luar negen, yaitu 
dengan Republik Mesir pada 10/10/55. Sebelah kiri P.M. dan merangkap 
Menlu, Mr. Burhanuddin, Harahap, menandatanganinya dari pihak R.I. dan 
Duta Besar Fahmi El-Umrusyi, dari pihak Mesir.